
ILUSTRASI
Di Indonesia, modernisme menjadi basis penciptaan lakon-lakon teater modern di Indonesia, sejak era kolonialisme sampai pascakolonialisme dan hingga era reformasi.
PADA era kolonialisme, masa pergerakan, masa kemerdekaan, dan masa pertumbuhan Indonesia sebagai negara modern, lakon-lakon bergaya realis sangat dominan. Ini terjadi sejak era grup Tonil Dardanella dan lainnya sampai ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) Jakarta serta lembaga-lembaga yang muncul dalam satu era. Beberapa penulis yang menonjol di antaranya Asrul Sani, B. Sularto, Kirjomulyo, C.M. Nas, Nasjah Djamin, dan Utuy T. Sontani sampai Motinggo Busye. Lakon-lakon mereka cenderung mengungkap persoalan humanisme dan eksistensialisme.
Era Orde Baru
Rezim Orde Lama Soekarno ditumbangkan kekuatan militer, dan lahirlah Orde Baru. Pada masa-masa awal berkuasa, tahun 1965 sampai 1970-an, Orde Baru membuka keran kebebasan bagi publik. Muncullah karya-karya naskah lakon inovatif. Di sini lakon-lakon realis mulai ”ditinggalkan”.
Para penulis menjebol arus utama realisme dengan mengenalkan bentuk-bentuk baru yang lebih segar dan inspiratif: dari gaya surealis sampai absurd. Di sini nilai yang diutamakan adalah ide yang bertalian dengan isu sosial-politik, sejarah, kemiskinan, hukum, korupsi, dan penindasan atas manusia. Muncul tiga tokoh utama: W.S. Rendra, Arifin C. Noer, dan Putu Wijaya.
W.S. Rendra melahirkan lakon-lakon yang berbasis pada realisme kontemporer yang berkonten konflik antara penguasa dan masyarakat yang termarginalisasi. Negara, bersama para aktornya, dihadirkan sebagai sosok yang represif dan korup. Adapun masyarakat diposisikan sebagai korban dan oposisi yang memberikan antitesis atas penguasa. Lihat karya-karya Rendra yang sarat kritik sosial-politik, misalnya Perjuangan Suku Naga, Sekda, Mastodon dan Burung Kondor, dan lainnya.
Putu Wijaya melahirkan naskah-naskah teater yang berorientasi pada eksperimentasi, secara bentuk, bahasa, dan cara pandang atas realitas. Putu sengaja ”menjungkirbalikkan logika” demi mendekonstruksi cara berpikir publik yang mapan dan beku. Juga mendekonstruksi realitas yang semu. Para pengamat teater atau kritikus menyebut karya-karya Putu Wijaya beraliran ”absurd”. Biasanya, ide lakonnya berupa anekdot sosial yang diproyeksikan secara politik, kultural, dan sosial. Sebut saja misalnya lakon Aduh.
Arifin C. Noer melahirkan lakon-lakon berbasis ide yang dinilai memiliki sofistikasi secara tematik dan idiomatik. Selain itu, juga filosofis dan puitis. Kekuatan kata-kata yang berisi gagasan besar dan diungkapkan secara cerdas dan jenaka menjadi nilai lebih naskah-naskah Arifin C. Noer. Ia mampu mentransformasikan secara kreatif ide menjadi kisah yang indah dan berstruktur kuat.
Persoalan kemiskinan jadi tema sentral naskah-naskah Arifin C. Noer. Kemiskinan di sini tidak hanya secara material, melainkan juga mental dan spiritual. Kita bisa membaca lakon-lakon karyanya seperti Kapai-Kapai, Mega-Mega, Sumur Tanpa Dasar, dan lainnya.
Naskah-naskah teater karya Rendra, Arifin C. Noer, dan Putu Wijaya berpengaruh besar dalam jagat penulisan lakon di Indonesia.
Fenomena Afrizal Malna
Pascaera Rendra, Arifin C. Noer, dan Putu Wijaya muncul teks-teks teater karya Afrizal Malna. Kolaborasi kreatif antara Afrizal Malna dan dramawan Boedi S. Otong melahirkan lakon-lakon dan pementasan-pementasan yang memiliki resonansi panjang dalam dunia teater Indonesia tahun 1990-an. Sebut saja Biografi Yanti, Pertumbuhan di Atas Meja Makan, Migrasi dari Ruang Tamu, dan lainnya.
Afrizal memosisikan naskah lakon bukan majikan yang harus disembah aktor. Naskah yang ia sebut sebagai teks berdiri setara dengan aktor. Teks dan aktor bekerja sama secara kreatif untuk menciptakan peristiwa teater. Karya-karya yang dilahirkan Boedi S. Otong dan Afrizal Malna sering disebut ”teater tubuh”. Ada juga yang menyebut ”teater subjektif” (ini disetujui Boedi S. Otong). Pengaruh gaya penulisan Afrizal sangat besar di dalam jagat penulisan lakon era 1990-an sampai 2000-an.
Era Reformasi
Pada era reformasi 1998, kebebasan publik terbuka lebar. Pusat kekuasaan mencair. Kebudayaan dan kesenian pun meluncur lebih dinamis. Muncullah banyak kreator yang membawa spirit perubahan dalam memaknai tema persoalan, teks, estetika, pemanggungan, ruang, audiens, dan politik komunikasi.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
