Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 31 Maret 2018 | 23.27 WIB

Dagangan Tak Laku, PKL Taman Kota Intan Tinggalkan Kiosnya

Taman Kota Intan - Image

Taman Kota Intan

JawaPos.com - Taman Kota Intan yang menjadi tempat relokasi pedagang kaki lima (PKL) era Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat sudah mulai ditinggalkan pedagang. Pasalnya, para pedagang tidak ada pemasukan dari pembeli karena lokasinya kurang strategis.


Segala upaya untuk meramaikan lokasi itu oleh Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat gagal dilakukan. Bahkan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno juga tak mampu membuat Taman Kota Intan. Padahal sudah ada OK Oce Clothing.


Beberapa ruko baju dan makanan juga hanya segelintir saja yang membuka kiosnya. Seperti halnya Rino, salah satu pedagang tas anak-anak sudah menutup tokonya. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 11.30 WIB. Rino sendiru mengaku dia jarang ke Taman Kota Intan, untuk berdagang. Hanya waktu-waktu tertentu saja dia membuka kiosnya.


"Habisnya di sini sepi, percuma juga dagang sampai sore. Saya juga punya kios lain selain di sini (Taman Kota Intan). Jadi saya nutup saja," ujarnya saat ditemui JawaPos.com, sambil merapikan dagangannya, Sabtu (31/3).


Pantauan JawaPos.com, Taman Kota Intan ini juga seperti tidak terawat, setelah ditinggal oleh para pedagang. Hanya tersisa terpal-terpal tak terpakai untuk menutupi kios. Padahal lokasi itu baru saja dibangun dan diresmikan Djarot Saiful Hidayat.


Suasana gersang dan panas juga menyelimuti sekitar taman. Hampir tidak ditemukan tempat meneduh di sana. Tempat berteduh hanya sekitar pedagang makanan saja.


"Di sini memang sepi banget mas, ramai pas awal buka saja. Setelahnya sepi. Bahkan jika malam. Ramainya di malem minggu saja. Itupun belum tentu seramai yang kita pikirakan," tutur Ismi salah satu penjaga parkir di Taman Kota Intan.


Ismi menuturkan jika selama dia bekerja, banyak keluhan pedagang yang merasa rugi karena sepinya pembeli. Terlebih lagi harga sewa yang harus dibayarkan setiap bulannya.


Selain itu pedagang juga hanya bertahan dua sampai empat bulan saja, setelah pembukaan Taman Kota Intan itu. Setelahnya pedagang merasa tidak betah.


"Awal masuk pedagang akan diminta uang sebesar satu juta untuk sewa lapak. Kemudian dari satu juta itu nantinya akan dipotong setiap bulannya sebesar 150. Itu sudah sama adminnya. Sebenanrnya sewa segitu murah mas. Tapi kalau kondisi pembelinya begini, kita juga rugi," tutur Rizki, salah satu pedagang kemeja.


Menurut Rizki, pedagang akhirnya kembali ke tempat semula. Yakni berdagang disekitar Museum Fatahila. Tidak hanya itu menurut pengakuannya, dal waktu satu bulan ada seorang pedagang hanya laku satu potong baju saja. Sehingga pedagang itu memutuskan untuk tidak berdagang lagi.


"Ya kalo seperti itu kan kasian pedagangnya. Modalnya habis buat makan saja. Jadi kita tidak mendapatkan untung. Akhirnya banyaknyang gulung tikar alias bangkrut," lanjutnya.


Hal senada juga berlaku bagi pedagang makanan. Hanya warung-warung kopi saja yang tersisa di Taman Kota Intan itu. Rizki mengaku bahwa pedagang makanan banyak yang gulung tikar, akibat sepinya pengunjung.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore