Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 25 Mei 2017 | 04.33 WIB

Angkut Beras Vietnam Tertahan di Gosong Gili

DANGKAL: Teguh Prasodjo mengobservasi roda penggerak mesin SS Bengal di kedalaman 2 meter. - Image

DANGKAL: Teguh Prasodjo mengobservasi roda penggerak mesin SS Bengal di kedalaman 2 meter.


Nasib SS Bengal tidak jauh berbeda dengan kapal karam di perairan dangkal lainnya di Bawean. Hampir seluruh komponennya telah dijarah penambang besi tua. Dari bagian yang tersisa, kapal uap itu kini tumbuh kembali. Di sanalah letak gugusan karang terbaik Pulau Seribu Bukit, sebutan lain Bawean.





PENYELAMAN ketiga Senin (8/5) bisa dibilang hari baik bagi para arkeolog. Pagi itu cuaca cerah. Tidak seperti dua hari sebelumnya, saat perjalanan kami dihantam badai. Peneliti juga tidak lagi membuang waktu untuk mencari letak kapal. Sebab, lokasinya sudah diidentifikasi pada penelitian 2015.



Nakhoda perahu, Syaifuddin, langsung menggeber mesin diesel perahu begitu peralatan selam dan penumpang masuk. Tak lama kemudian, perahu kedua menyusul. Kemudi diarahkan ke timur.



Saya sempat heran mengapa dia mengambil jalan memutar begitu jauh saat melintasi Pulau Lalajer. Padahal, bila mau cepat, dia bisa mengambil jalan pintas melalui selat yang memisahkan Lalajer dan Bawean.



’’Kalau lewat sana jangan harap bisa pulang,” ujar Fuddin, sedikit tersenyum. Dia lalu menjelaskan bahwa perairan Bawean punya gugusan karang yang menjebak. Butuh pengalaman bertahun-tahun untuk mengetahui jalan mana yang rawan dilewati.



Bila ditarik garis lurus, jarak tempuh ke Gosong atau Pulau Pasir Gili hanya 20 kilometer. Karena mengambil jalan memutar, jarak tempuh menjadi 25 kilometer. Tak apalah. Yang penting selamat.



Setelah satu jam perjalanan, Pulau Gili Noko mulai dekat. Sebelum melihat SS Bengal, tim mencari salah satu kapal karam yang berada di dekat lokasi itu.



Namun, Fuddin menyarankan pencarian kapal dilakukan sore. Dia ingin tim mengunjungi SS Bengal terlebih dahulu. ”Kalau kita ke Bengal sore, perahu tidak bisa lewat. Air surut,” teriaknya ke perahu yang ditumpangi tim lainnya.



Seluruh tim akhirnya menyetujui saran Fuddin. Pengetahuan masyarakat sekitar tentang perairan Bawean memang sangat membantu penelitian ini. Perjalanan pun dilanjutkan ke utara sejauh 5 kilometer. ”Kalau telat beberapa menit saja, perahu juga bisa terjebak di perairan ini saat surut,” tambah Fuddin.



Dari kejauhan, pulau pasir mulai terlihat. Di sanalah Gosong Gili berada. Tak ada wisatawan yang tahu keberadaannya. Sebab, perjalanan menuju ke sana membutuhkan perjuangan dan biaya. Kebanyakan di antara mereka hanya puas berwisata di Pulau Gili Noko.



Terdapat mercusuar penanda agar kapal dan perahu tidak mendekati gosong alias pulau pasir itu. Air laut terlihat begitu jernih. Ikan-ikan terumbu karang terlihat berenang ke sana kemari. Terlihat begitu jelas dari permukaan kapal.



Heny Budi, ahli teknik kelautan, begitu gembira melihat karang-karang itu. Dua hari sebelumnya, dia tidak mendapati terumbu karang yang begitu sehat. ”Wah, kalau ini sih sehat sekali karangnya,” jelas dosen Institut Teknologi Yogyakarta itu sambil memandangi terumbu karang dari samping perahu.



Salah satu tonggak besi terlihat menjulang di antara gugusan karang tersebut. Itulah SS Bengal yang legendaris. Fuddin mematikan satu mesinnya. Mesin yang dinyalakan hanya yang berkekuatan 30 PK.



Perjalanan di atas karang itu harus dilakukan perlahan. Sebab, kedalaman air hanya 2 meter. Perahu kami sudah terbenam lebih dari setengah meter karena beban berat penumpang dan peralatan selam. Bila menabrak karang, perahu kayu kami bisa berlubang dan ikut tenggelam seperti SS Bengal.



Kami sempat mengalami kesulitan saat hendak mendekati kapal uap itu. Kapal tersebut berada di perbatasan gugusan karang dan laut dalam. SS Bengal ada di ujung karang itu. Menabrak begitu keras hingga kapal tidak bisa mundur lagi.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore