Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 April 2017 | 01.30 WIB

Lomba Warna-warni Peringati Hari Kartini

SPIRIT LEBIH BAIK: Ibu dan anak-anak KB/TK Al Azhar 51 Candi kompak berbusana daerah untuk menyambut peringatan Hari Kartini. - Image

SPIRIT LEBIH BAIK: Ibu dan anak-anak KB/TK Al Azhar 51 Candi kompak berbusana daerah untuk menyambut peringatan Hari Kartini.


JawaPos.com – Aisyah Alesha kompak mengenakan busana Bali bersama Wahyutri Hidayati, ibunya, dalam acara peringatan Hari Kartini di KB/TK Al-Azhar 51 Candi, Rabu (19/4). Bocah enam tahun itu terlihat bangga dengan pakaian adat Nusantara tersebut. Apalagi, Bali adalah kota kelahiran kakeknya.



”Pengin banget pakai pakaian Bali. Kakek saya kan juga dari Bali,” katanya.



Momentum peringatan Hari Kartini juga dimanfaatkan Aisyah untuk lebih mengenal sosok Kartini. Sang ibu juga memberikan harapan melalui sebuah tulisan agar kelak dia bisa menjadi Kartini masa depan. ”Saya ingin bisa seperti Kartini. Pintar,” ungkapnya.



Aisyah mengaku senang dengan sosok Kartini. Kisah perjuangan yang kerap diceritakan para guru membuatnya makin semangat untuk belajar. ”Saya ingin menjadi guru seperti nenek saya. Mengajar banyak orang biar jadi pintar,” katanya.



Bukan hanya Aisyah, puluhan anak lainnya juga memiliki semangat yang sama. Mereka mengenakan busana adat dari berbagai daerah. Ada Jawa, Padang, Dayak, dan daerah lain-lain. Dalam acara itu, anak-anak itu juga menampilkan bakat-bakat seni dari ekstrakurikuler sekolah.



Humas Al-Azhar Niken Rooshany mengungkapkan, momen peringatan Hari Kartini memang sengaja dijadikan sebagai sarana pendidikan karakter anak sejak dini. Selain menggunakan pakaian adat kompak bersama sang ibu, anak-anak menampilkan berbagai kesenian. Mulai permainan angklung, tari-tarian, tilawatil Quran, dan fashion show dengan baju tradisional. ”Ada juga lomba mewarnai anak-anak bertema Kartini,” katanya.



Seluruh murid juga dikenalkan dengan makanan tradisional. Puluhan murid bersama orang tua makan dengan menu tradisional di atas daun pisang sepanjang 5 meter. Cara makannya pun menggunakan tangan. ”Zaman dahulu kan belum ada piring. Tidak ada perbedaan antara satu dan yang lain. Kami ajarkan kebersamaan,” ujarnya.



Murid pun begitu antusias. Bahkan, banyak murid yang mempersiapkan diri sejak subuh untuk dandan dan persiapan busana. Yang terpenting, anak-anak bisa mengambil nilai dari sosok pahlawan RA Kartini untuk menggapai masa depan yang lebih cerah. ”Cara seperti ini menghibur anak sekaligus bisa mendidik karakter anak sejak dini,” tandasnya.



Sementara itu, tidak hanya di sekolah-sekolah, semarak menyambut Hari Kartini juga biasa dilaksanakan di kampung-kampung. Di Desa Siwalanpanji, Buduran, misalnya. Desa itu juga menyelenggarakan sejumlah lomba. Di antaranya, lomba merias wajah tanpa menggunakan cermin. Susana lomba pun seru dan menarik.



Lihat saja tingkah Anik Kholidiyah. Saat itu dia tampak memegang sebuah kotak make-up. Tangan kanannya memegang kuas berukuran mini. Dengan kuas itu, Anik terlihat mewarnai bagian kelopak matanya. Meski tanpa becermin, dia tampak cekatan. Dalam lima menit, kedua kelopak matanya tampak berkilau.



Warga Siwalanpanji RT 4 itu kemudian mengambil pensil alis. Setelah itu, dia meraba-raba bagian alisnya. Bagian alis pun dipertebal. Tidak seperti mewarnai kelopak mata, pekerjaan itu ternyata jauh lebih sulit. ”Susah soalnya alis saya kan pendek. Jadi, harus dikira-kira,” papar peserta nomor urut 11 itu.



Keseruan juga dialami Anis Apriliyani. Peserta nomor urut 2 tersebut berulang-ulang menyapu alisnya dengan pensil alis. ”Takutnya nanti belepotan,” kata perempuan yang tinggal di Perumahan Gading Fajar 1 itu.



Selain lomba merias wajah tanpa melihat cermin, ada sejumlah lomba lain. Misalnya, lomba taman toga, cipta menu olahan dari ikan, daur ulang plastik, dan keluwesan. Untuk tingkat anak-anak, ada lomba puisi tingkat SD. Pada lomba keluwesan, setiap peserta bergaya bak peragawati. Pakaian yang dikenakan harus seperti RA Kartini.



Kepala Desa Siwalanpanji Achmad Khoiron mengatakan, lomba kartinian itu diadakan setiap tahun. Selain memperingati jasa RA Kartini, kegiatan itu bertujuan silaturahmi antarwarga dan membangkitkan kreativitas. Dalam kegiatan Rabu (19/4), seluruh peserta wajib berbusana ala Kartini. Tujuannya, mengenalkan kearifan dan keluhuran budaya Indonesia. ”Jangan sampai budaya ini dilupakan anak cucu,” jelasnya. (ayu/aph/c10/hud/sep/JPG)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore