Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 Februari 2017 | 05.24 WIB

Cerita Mereka yang Menjadi Pacar Sewaan, Klien Harus Kenal & Good Looking

SESUAI KESEPAKATAN: Besar kecilnya tarif bergantung pada kebutuhan klien. Jika durasinya hitungan hari, harus berdandan dan mengenakan gaun cantik, harganya lebih mahal. - Image

SESUAI KESEPAKATAN: Besar kecilnya tarif bergantung pada kebutuhan klien. Jika durasinya hitungan hari, harus berdandan dan mengenakan gaun cantik, harganya lebih mahal.

JawaPos.com



Bukan cuma rumah yang disewakan, jasa menjadi pacar juga bisa. Mereka dibayar hanya untuk berpura-pura menjadi pacar dan ’’menyelamatkan’’ status hubungan seseorang. Kesepakatan dibuat untuk saling menguntungkan keduanya. Berikut cerita dua orang yang menjadi pacar sewaan.



BERMULA dari sekadar iseng membantu teman, Maria (nama samaran) mengaku ketagihan menjadi pacar sewaan. Saat itu, dia mengaku terbawa emosi karena temannya diselingkuhi. ’’Sebel aja dengar curhat temanku,’’ jelas perempuan 23 tahun tersebut. Akhirnya, Maria membantu temannya manas-manasin mantan pacar. Dia pun berpura-pura menjadi pacar baru temannya itu.


Maria diajak ke salah satu event di kampusnya yang berlokasi di Surabaya Timur. Berakting sehari, dia berhasil memerankan lakon sebagai pacar bohongan. Dia bersikap total demi temannya tersebut. ’’Aku bergandengan lah. Pokoknya ya, kami mesra kayak pacaran betulan,’’ katanya.


Sebagai imbalan, Maria ditraktir makan oleh temannya. Dari kejadian itu, dia kini ’’kebanjiran order’’ menjadi pacar sewaan. Mulai satu teman ke teman lain. Mulai upah hanya ditraktir makan hingga tarif per jam selama menjadi pacar sewaan. ’’Lumayan buat menambah uang jajan sambil menunggu pacar betulan,’’ ungkapnya, lalu tertawa.


Hanya, untuk menjadi pacar sementara, Maria adalah tipe orang yang pilih-pilih. Dia tak menerima sebarang order dan klien. Hal tersebut bertujuan melindungi diri. ’’Takut kalau nggak kenal, terus dibawa ke mana-mana,’’ ucap perempuan asli Surabaya itu.


Kriteria laki-laki yang ordernya diterima juga tidak sembarangan. Selain orang yang dikenal, good looking menjadi salah satu persyaratan. Lalu, umurnya tidak jauh berbeda dengannya. Hal tersebut dilakukan agar ’’pacaran palsu’’ itu terlihat normal dan tidak mencurigakan.


Dia mengaku memiliki pengalaman buruk terkait dengan hal tersebut. Suatu ketika, dia dikenalkan temannya kepada seseorang. Orang itu lantas menyewanya menjadi pacar. Orang tersebut tidak suka dengan perjodohan yang dilakukan keluarganya. ’’Eh, aku ternyata dibohongi. Yang katanya mau diajak ke rumahnya, malah diajak ke hotel. Nggak mau lah aku,’’ ujar Maria. Dari kejadian itu, dia lebih selektif lagi. Bukannya jual mahal, dia hanya sedikit traumatis.


Lebih dari itu, dia juga memiliki pengalaman tak sedap selama menjadi pacar sewaan. Suatu hari, dia menerima order klien yang ingin memutuskan kekasihnya. ’’Duh, saya ditampar di tempat tersebut sama pacar klien saya. Sakit juga sih,’’ tutur Maria, lantas tertawa. Tapi, untung, dia mendapat bonus bayaran karena kejadian itu.


Per jam, perempuan berambut panjang tersebut mendapat bayaran Rp 50 ribu–Rp 100 ribu. Biaya itu dibayar di muka. Tingkat kemahalan biaya disesuaikan Maria berdasar beberapa faktor. Di antaranya, lokasi acara, gaun yang akan dikenakan, serta kesulitan atau risiko yang harus diterima. ’’Kalau lokasinya jauh, ya lebih mahal. Kecuali dia mau jemput aku,’’ jelasnya.


Begitu pula gaun yang akan dikenakan. Kalau tujuannya ke acara pernikahan, dia akan menggunakan gaun dan berdandan secantik-cantiknya. ’’Kan butuh biaya make-up dan gaun juga. Kadang sih, orangnya mau beliin (baju, Red) biar couple-an (seragaman, Red),’’ katanya.


Untuk keperluan berbisnis, Maria membuat dua akun media sosial. Satu khusus untuk dia sendiri dan yang lain untuk keperluan saat menjadi pacar sewaan.


Karakter dan jenis klien perempuan berkulit sawo matang itu beragam. Ada yang hanya ingin dia menjadi pacar sewaan sebatas di media sosial. Ada yang ingin makan di sebuah tempat romantis, lalu berfoto bersama. Foto tersebut diunggah ke medsos mereka untuk sekadar ingin dipamerkan kepada orang-orang dalam dunia maya. Waktu yang dibutuhkan juga bergantung pada kebutuhan penyewanya, bisa dua hari hingga dua minggu.


Maria sangat berhati-hati menjalankan profesinya itu. Dia harus memosisikan dirinya sebagai pacar sesungguhnya. Dia tidak ingin ’’tertangkap basah’’ saat menjadi pacar sewaan. Misalnya, dia menghindari pertemuan dengan orang-orang yang berkaitan dengan penyewanya.



Memang, menjadi pacar sewaan bukanlah pekerjaan utamanya. Sehari-hari, dia menjadi wiraswasta dengan berjualan produk online. Karena itu, dia tidak memiliki target. Banyaknya order juga tak bergantung pada event tertentu. (bri/c23/jan/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore