Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Februari 2017 | 02.53 WIB

Lima Pompa Akhirnya Beroperasi, Targetkan Seminggu Bisa Surut

NONSTOP: Lima pompa air mulai bekerja menyedot air Dam Golondoro, Jabon, dalam pengawasan petugas. - Image

NONSTOP: Lima pompa air mulai bekerja menyedot air Dam Golondoro, Jabon, dalam pengawasan petugas.

JawaPos.com – Lima pompa air portabel yang sudah terpasang di Jabon akhirnya beroperasi. Pompa air tersebut mulai menyedot air yang memenuhi dam Golondoro. Diperkirakan dalam sepekan ke depan sudah tidak lagi ada genangan air di Desa Semambung, Kupang, Kedungpandan, Tambak Kalisogo, dan Kedungrejo.


Sekitar pukul 13.00 lima pompa itu diaktifkan. Mesin bekerja dengan baik. Mesin menyedot air dam Golondoro yang terlebih dahulu dialirkan ke kolam penampungan. Air masuk lewat pipa berdiameter 30 sentimeter. Satu mesin pompa tersambung dengan tiga pipa. Dari pipa, air diarahkan ke Sungai Porong.


Kepala Bidang Operasional Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sidoarjo Agus Hidayat Sidoarjo menyatakan, pengaktifan mesin memang membutuhkan waktu. Sebelum menjalankan mesin, petugas harus menyiapkan sejumlah tahapan. Misalnya, mengalirkan air dari dam Golondoro ke kolam penampungan. Selain itu, menunggu kiriman mesin pompa air. ”Jadi, memang butuh waktu,” jelasnya.


Agus mengungkapkan, mesin itu akan terus dihidupkan. Tujuannya, ketinggian air yang menenggelamkan lima desa di Jabon cepat surut. Dia optimistis, ketika air dam Golondoro berkurang, genangan air di lima desa di Kecamatan Jabon juga akan berkurang. ”Air tergenang karena dam Golondoro penuh,” jelasnya.


Dia memperkirakan, dalam waktu seminggu genangan air di lima desa tersebut bakal surut. Sebab, mesin pompa air itu bisa menyedot 200–300 liter per detik. Dengan beroperasinya lima mesin pompa, air yang tersedot bisa 1.000 liter per detik. ”Asalkan hujan deras tidak lagi mengguyur,” paparnya.


Selain menyedot air dam, dinas PUPR terus menormalisasi Kalimati. Kepala Dinas PUPR Sigit Setyawan menuturkan, petugas membangun tanggul buatan dari tanah sepanjang 1.500 meter. Tinggi tanggul 1 meter dan lebarnya 5 meter. Tanggul dibangun di wilayah Kedungpandan sampai Kedungrejo.


Setelah penanggulan selesai, petugas akan mengeruk sampah dan enceng gondok di Kalimati. Setelah tidak berfungsi sebagai sungai, Kalimati seakan dibiarkan. Alhasil, saluran yang juga dikenal dengan nama Bangiltak itu dipenuhi sedimentasi dan tanaman enceng gondok. ”Daya tampung sungai jelas berkurang,” paparnya.


Dia menambahkan, normalisasi Kalimati harus menyeluruh. Sebab, sungai itu membujur dari Sidoarjo ke Pasuruan. Ketika pengerjaan hanya dilakukan Sidoarjo, dampaknya tidak akan banyak. ”Kami akan minta bantuan Balai Besar Wilayah Sungai Brantas,” terangnya.



Pemasangan sandbag juga dilanjutkan. Itu dilakukan untuk mengantisipasi puncak musim hujan yang diperkirakan terus berlanjut hingga akhir Februari. Menurut Sigit, pemasangan sak pasir itu bisa mencegah luberan air dari Kalimati. (aph/c10/pri/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore