Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 27 Januari 2017 | 01.42 WIB

Protes Atraksi Lumba-Lumba, Mengkritik Melalui Goresan Mural

LINDUNGI: Aktivis JAAN membawa poster protes dengan atraksi lumba-lumba. - Image

LINDUNGI: Aktivis JAAN membawa poster protes dengan atraksi lumba-lumba.

JawaPos.com – Sejumlah orang menggelar aksi di depan Lapangan Albatros Jalan Raya Juanda, Sidoarjo, Rabu (25/1) sore. Ada yang membawa beragam poster, ada pula yang terlihat menggoreskan cat ke papan kayu berukuran 2 x 1,5 meter. Mereka menggambar lumba-lumba yang berenang di laut.


Aksi itu merupakan bagian dari protes terhadap pentas lumba-lumba sejak 13 Januari lalu di Lapangan Albatros. Peserta aksi tersebut berasal dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN) dan Komunitas Mural Macguffin.


Menurut Rifqi Ajir, koordinator aksi dari JAAN, penyelenggaraan pentas lumba-lumba tersebut merupakan wujud ketidakpedulian terhadap kesejahteraan satwa. Misalnya, saat membawa lumba-lumba dari tempat pertunjukan yang satu ke tempat lain hanya menggunakan truk. Tanpa diberi air. Bahkan, kadang lumba-lumba hanya disiram sekali saat pertama diangkut ke truk.


’’Lumba-lumba memang tahan tidak di air selama 18 jam, karena itu mengapa saat diangkut tanpa air tidak mati. Tapi, hal itu kan tidak memiliki kepedulian,’’ tuturnya.


Bahkan, lanjut Rifqi, lumba-lumba tetap kuat meski dimasukkan bagasi pesawat yang pengap bersamaan dengan barang-barang lain. Padahal, untuk pengangkutan sendiri, ada standardisasi minimum yang berlaku secara internasional dan harus dijadikan tolok ukur.


Rifqi mengatakan, penyelenggara tidak memperhatikan keputusan menteri kehutanan tentang tata usaha pengambilan atau penangkapan dan peredaran tumbuhan dan satwa liar. Selain itu, lumba-lumba dipaksa melakukan atraksi setiap hari. Bahkan hanya istirahat saat malam. Belum lagi teriakan penonton dan musik keras yang diputar kencang saat mereka pentas. Kondisi itu sangat menganggu. ’’Penyelenggara melanggar regulasi tentang kesejahteraan hewan,’’ jelasnya.


Poster yang mereka bawa berbunyi, antara lain, ’’Di Alam Usia Mereka Bisa 40 Tahun, di Kolam Hanya 5 Tahun’’, ’’Ajarkan Anak Kita Melindungi Satwa, Bukan Mengeksploitasi Satwa Berkedok Edukasi’’, Kolam Kecil dan Musik Keras Merusak Sistem Sonar Mereka’’. ’’Semoga masyarakat tidak lagi mendatangi pentas semacam ini,’’ ucapnya.


Harapan serupa disampaikan Deden Suprayogi, ketua Macguffin. Melalui karya lukisnya itu, dia berharap masyarakat sadar bahwa hewan tidak untuk disiksa dengan mengeksploitasinya melalui pertunjukan. ’’Kami mengkritik dengan cara yang sesuai keahlian kami, melalui mural,’’ katanya. (uzi/c15/hud/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore