Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 13 Januari 2017 | 01.08 WIB

Sulitnya Pindahkan Pedagang ke Sentra Ikan Bulak

FASILITAS LENGKAP: Bedak dan stan di Sentra Ikan Bulak tampak mangkrak. - Image

FASILITAS LENGKAP: Bedak dan stan di Sentra Ikan Bulak tampak mangkrak.

JawaPos.com – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengunjungi Sentra Ikan Bulak (SIB), Rabu (11/12). Sejak diresmikan pada Desember 2012, SIB relatif sepi.


Tidak banyak pengunjung yang mampir. Sebab, masih banyak pedagang nakal yang berjualan di pinggir jalan. Pemkot menyediakan fasilitas pengasapan ikan gratis di SIB.


Syaratnya, para pedagang harus berjualan di SIB. Fasilitas tersebut memang digunakan para pedagang. Namun, mereka justru menjual ikan di depan rumah masing-masing atau membuka lapak di sepanjang jalan menuju Jembatan Suroboyo.


Setiap pedagang mendapat jatah satu tungku. Biasanya mereka mengasapi ikan pada pukul 02.00. Ikan-ikan tersebut dijual saat pagi.


Sementara itu, jumlah petugas jaga dari dinas pertanian terbatas. Mereka tidak bisa mengawasi para pedagang selama 24 jam. Salah satu lokasi yang paling ramai pedagang kaki lima (PKL) berada di Kejawan Lor.


Terdapat ’’SIB mini’’ di sana. Para pedagang memakai sebidang tanah kosong untuk membuka sentra ikan baru. Alasnya berupa meja bambu dan atapnya terpal oranye.


Satpol PP pun tidak bisa menertibkan lokasi tersebut lantaran para pedagang tidak menggunakan bahu jalan. Satu-satunya langkah yang diambil adalah mencegah para pembeli datang.


Truk dan pikap milik satpol diparkir di depan lokasi berjualan. Namun, masih saja ada pembeli yang mampir. Mereka memilih tempat tersebut lantaran servisnya lebih cepat. Tidak perlu parkir. Semacam layanan drive-thru.


Risma mengatakan sudah berulang-ulang menertibkan pedagang. Mereka diajak berjualan di SIB. Namun, pedagang tetap saja berjualan di jalan. SIB pun sepi.


Akses menuju Jembatan Suroboyo yang justru macet. Sebab, jalan itu hanya bisa dilewati dua mobil. Kalau ada bus, arus pasti tersendat.


”Ancene nggeregetno kok (memang menjengkelkan, Red),” kata Risma, perempuan yang pernah menjadi kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Surabaya.


Dia lalu memanggil Kepala Satpol PP Irvan Widyanto yang duduk tidak jauh darinya. ”Pak Irvan itu tolong pedagangnya disuruh jualan di SIB,” ucap Risma yang disambut anggukan oleh Irvan.


Irvan juga mengatakan bahwa pedagang sulit diatur. Bagai kambing menanduk bukit. Bagaimanapun upayanya, para pedagang belum mau berjualan di SIB.


Saat ini satpol PP memiliki 420 personel. Jumlah itu belum ideal bila dibandingkan dengan populasi penduduk Surabaya yang mencapai 3 juta jiwa.


”Akhir Desember sampai Januari, kami melakukan rekrutmen lagi,” kata mantan camat Rungkut itu. Dengan jumlah minim, pihaknya tidak bisa memantau SIB setiap saat.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore