
Ilustrasi
JawaPos.com- Tiga orang tewas setelah berpesta miras berjam-jam. Awalnya mereka bermabuk-mabukan di makam Jarak, Surabaya. Belum puas, mereka melanjutkan acara menenggak minuman berjenis arak itu di rumah. Tiga orang yang nahas itu adalah Sujono, Mulyono, dan Suwarno. Ketiganya merupakan warga Simogunung Kramat, Surabaya.
Pesta miras tersebut dilakukan dalam tiga gelombang. Pesta miras pertama dimulai pada pukul 08.00 Selasa (6/12) di makam Jarak. Peserta awalnya cukup banyak. Namun, pada tengah hari sebagian di antaranya memilih pulang. Tinggal Sujono, Suwarno, Mulyono, dan Djainoeri.
Dalam pesta itu, mereka memulainya dengan menenggak satu setengah botol arak. ’’Mereka membelinya dari suami saya,” ujar Dwi Purningsih, istri Slamet Supriyadi, si penjual miras. Kebetulan, rumah Dwi memang tidak jauh dari makam tersebut.
Sekitar pukul 17.00, pesta miras bubar. Rupanya, Sujono belum puas dengan acara mabuk bersama itu. Dia kemudian mengundang Suwarno, Mulyono, dan Djainoeri untuk berpesta miras lagi di rumahnya, Simogunung Kramat Timur IV/30. Pesta tahap kedua itu dilakukan pada pukul 20.00 Selasa.
Esoknya, Rabu (7/12), pesta masih berulang. Mereka menenggak miras mulai pukul 08.00. Baru dua jam berlangsung, Sujono tumbang. Keluarga sempat meminumkan air kelapa muda. Namun, karena kondisinya makin buruk, Sujono dilarikan ke dokter. Sayang, dalam perjalanan, Sujono tewas di atas becak yang ditumpanginya. Sujono akhirnya dikubur di makam Jarak.
Baru satu jam pemakaman Sujono tuntas, kabar mengejutkan lain datang. Rupanya Suwarno, Mulyono, dan Djainoeri juga tergeletak karena kebanyakan menenggak minuman beralkohol. Mereka pun dilarikan ke RSUD dr Soetomo, Surabaya. ’’Kondisinya memprihatinkan. Kami memutuskan untuk membawa mereka ke rumah sakit,” lanjut Kapolsek Sawahan Kompol Yulianto.
Menurut Ketua Forum Pers RSUD dr Soetomo dr Urip Murtedjo SpB-KL, Suwarno dan Mulyono akhirnya mengembuskan napas terakhir pada Rabu pukul 22.00. Adapun, seorang korban lagi, yaitu Djainoeri, masih berada di ruang observasi intensif (ROI). ”Hal ini untuk melihat kondisi dan persebaran racun di tubuh korban,” jelas Urip. Dokter juga memasang ventilator di tubuh Djainoeri sebagai alat bantu pernapasan.
Polisi masih menyelidiki kasus itu. Penjual arak saat ini juga menjalani pemeriksaan. ’’Semoga ditemukan siapa yang harus bertanggung jawab,” ungkap Yulianto.
Sahlan yang dianggap mengetahui kronologi kejadian tersebut masih dicari polisi. Menurut warga sekitar, Sahlan lari ke rumahnya di daerah Blitar, sesaat setelah Sujono meninggal dunia. ’’Mungkin karena takut, dia lari, ngakunya pulang kampung,” ujar salah seorang saksi yang enggan disebutkan namanya. (aji/c7/git)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
