Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 November 2016 | 21.33 WIB

Lahan Bertani Minim Serahkan ke Koperasi

TINGKATKAN KUALITAS: Masyarakat Desa Prambon Kedung Kembar yang tergabung dalam gapoktan mendapat pelatihan perkembangan teknologi pertanian jenis padi dari Dinas Pertanian Sidoarjo. - Image

TINGKATKAN KUALITAS: Masyarakat Desa Prambon Kedung Kembar yang tergabung dalam gapoktan mendapat pelatihan perkembangan teknologi pertanian jenis padi dari Dinas Pertanian Sidoarjo.

JawaPos.com – Tantangan bidang pertanian makin nyata. Produktivitas yang kian menurun menjadi perhatian di wilayah-wilayah agrikultura.



Menjawab tantangan itu, Desa Kedungkembar, Kecamatan Prambon, menggelar pelatihan teknologi pangan dan koperasi. Dalam seminar pada Senin (14/11) di Balai Desa Kedungkembar, beberapa narasumber didatangkan.



Mereka adalah mantan Kepala Dinas Pertanian Pemprov Jawa Timur Maksum yang kini menjadi pembina Kelompok Tani Sygenta.



Selain itu, hadir Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan (Disperbunak) Sidoarjo Nurwantiningsih.



Keduanya berupaya memberikan pemaparan terkait dengan alternatif meningkatkan produktivitas pertanian berbasis teknologi dan modernisasi sistem kerja.



Penjelasan tersebut ditujukan kepada 120 ketua gabungan kelompok tani (gapoktan) yang memenuhi undangan. Para ketua gapoktan yang hadir itu datang dari enam kecamatan.



Yakni, Kecamatan Prambon, Kecamatan Krian, Kecamatan Tarik, Kecamatan Krembung, Kecamatan Wonoayu, dan Kecamatan Balongbendo.



Tidak hanya membawa serta tekad untuk maju, mereka juga sudah mempersiapkan mesin tanam yang diperbantukan oleh disperbunak.



’’Saya berinisiatif mengajak mereka berlatih bareng sekalian belajar soal koperasi petani dari Pak Maksum,’’ ujar Kepala Desa Kedungkembar Achmad Jupriyanto.



Nurwantiningsih mengenalkan metode pengelolaan pertanian dengan mesin tanam. Dia menekankan bahwa perpaduan metode tanam modern akan meningkatkan hasil.



Sementara itu, Maksum lebih menekankan pentingnya mulai membentuk koperasi pertanian atau cooperative farming. Dia menyebutkan, petani yang memiliki lahan sempit sebaiknya menyerahkan pengelolan ke koperasi petani.



’’Di Jawa Timur ini 70 persen petani hanya memiliki 0,3 hektare tanah. Kalau diurus sendiri, produksinya nggak akan maksimal,” ungkap Maksum.



Pria yang pernah mengeyam pendidikan pertanian di California University tersebut ingin petani Indonesia mulai saat ini tidak lagi setengah-setengah menggarap sawah.



Menurut dia, jika bertani hanya menjadi kerjaan sampingan yang saat menunggu panen tidak dipantau dan malah mengerjakan profesi lain, petani akan merugi.



’’Satu ekor wereng dalam tiga hari bisa menetaskan 1.800 telur. Kalau ditinggal jadi buruh pabrik atau kuli bangunan ya amblas,’’ tutur Maksum.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore