
KELAS KEBANGSAAN: Suasana salah satu kelas di SMPN 3 Surabaya terlihat rapi, berwarna, dan terdapat poster-poster yang memberikan peringatan jauhi narkoba serta hemat energi.
Bangga rasanya berada di lorong kebangsaan SMPN 3 Surabaya. Ratusan pigura memajang foto tokoh kiriman para murid. Ada pahlawan sampai tukang bakso inspiratif.
LAGU Bendera Merah Putih terdengar di seantero SMPN 3, Senin (7/11). Lagu itu terdengar nyaring ketika jam istirahat berlangsung. Berbagai lagu wajib nasional lainnya terdengar familier mengiringi aktivitas para siswa dan guru.
Pemutaran lagu nasional itu mampu memberikan suntikan semangat tersendiri kepada para siswa. Bagaimana tidak? Lagu Bendera Merah Putih, misalnya.
Lagu yang diciptakan Ibu Sud tersebut memiliki lirik yang menunjukkan kegagahan bendera milik bangsa Indonesia. Lagu itu mampu memberikan energi agar berbuat lebih banyak dan berbakti untuk negeri.
Ya, SMPN 3 memang punya cara tersendiri untuk menanamkan semangat kebangsaan kepada para siswanya. Sebagai generasi muda, para siswa tentu harus memiliki karakter membangun.
Yakni, membangun dan memajukan negeri sendiri. Kepala SMPN 3 Budi Hartono menyatakan ada banyak cara yang dilakukan untuk menjadikan siswanya sebagai insan berkarakter.
Selain memutar lagu-lagu wajib nasional, yang tidak kalah penting adalah membumikan kerja sama dan gotong royong. ’’Ini perlu, karena gotong royong mulai luntur di masyarakat, tergantikan oleh sikap individualis,’’ katanya.
Semangat membumikan kerja sama dan gotong royong sangat pas dideklarasikan pada momen 10 November atau Hari Pahlawan. Meski demikian, pelaksanaannya tentu harus dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Salah satu wujud gotong royong itu adalah membuat replika Tugu Pahlawan berbahan botol bekas air mineral. Tingginya setinggi tiang bendera atau sekitar 7 meter. ’’Jadi, siswa berpartisipasi bersama-sama,’’ jelasnya.
Ada satu hal yang khas di sekolah tersebut. SMPN yang terletak di Jalan Praban itu dikenal dengan lorong kebangsaan. Di lorong tersebut, para siswa bisa belajar, sharing, serta bergurau dengan teman-temannya.
Tersedia badukan (bangku semen berlapis keramik) di sepanjang lorong itu. Yang menarik, terdapat hiasan ratusan foto pahlawan dan tokoh idola para siswa di lorong di depan masjid sekolah tersebut.
Selain tokoh-tokoh pahlawan nasional, ada Raisa, Hellen Keller, Najwa Shihab, dan Pak Raden (Suyadi). Foto Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pun dipajang dengan berbagai gaya.
Bahkan, ada siswa yang mengirim tokoh idola maupun tokoh pahlawan ibunya sendiri. Salah seorang siswa mengidolakan tukang bakso. Konon, tukang bakso itu memiliki banyak anak.
Atas kegigihannya, semua anak tukang bakso tersebut ternyata mampu mengenyam bangku perguruan tinggi. ’’Ini sangat menginspirasi,’’ ucapnya. Menurut Budi, lorong kebangsaan itu menandai momentum sejarah di SMPN 3.
Sebab, sekolah tersebut pernah menjadi markas Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Sebagai sekolah cagar budaya, semangat kebangsaan tentu harus tetap terjaga. Karena itu, nilai-nilai budi pekerti, tata krama, dan tata tertib harus ditanamkan.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
