Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Januari 2017 | 03.01 WIB

Mengunjungi Cikal Bakal Museum Geologi Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo

Photo - Image

Photo

Dua minggu lalu pemerintah meresmikan Museum Geologi BPLS di Porong. Setelah sepenuhnya beroperasi kelak, museum itu akan menyuguhkan cerita paling lengkap tentang bencana semburan lumpur.



JOS RIZAL



RUTE menuju Museum Geologi Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) cukup mudah. Bila dari pusat Kota Sidoarjo, warga tinggal menuju ke selatan. 



Begitu tiba di depan Polsek Porong, tengoklah ke kiri. Akan ada jalan beraspal selebar 4 meter. Ikutilah jalan tersebut hingga melewati pepohonan pinus nan sejuk.

Di tikungan sebelum jalan tol, Anda akan menjumpai pos penjagaan lumpur. Tepatnya Pos 35 Mindi. Sapa petugasnya dan tanyakan saja letak Museum Geologi.

Dengan ramah mereka akan membantu menunjukkannya. Letak museum itu memang hanya sekitar 20 meter dari Pos 35 Mindi ke timur.

Setelah melewati pos penjagaan, ada jalanan menanjak yang sedikit berbatu. Meski begitu, jangan khawatir. Akses tersebut cukup lebar untuk dilewati dua mobil sekaligus.

Di samping kiri dan kanan, pengunjung akan melewati hamparan danau nan luas hasil endapan air hujan yang bercampur sisa lumpur.

Bila beruntung, akan terlihat burung-burung bangau putih berparuh kuning keluar dari semak-semak di sisi danau. Ada yang langsung terbang tinggi.

Ada pula yang terbang rendah di atas permukaan danau. Mungkin sekadar memastikan bahwa lingkungan tempatnya tinggal masih aman.

Sejak danau itu terbentuk, bangau-bangau beranak pinak dan bermukim di sana. Jumlahnya puluhan. Danau tersebut juga menjadi ekosistem bagi ikan nila dan mujair.
Warga sekitar kerap memancing di sana.

Setelah beberapa menit menyusuri danau, bangunan cokelat dengan atap menyerupai piramida hitam itu akan langsung terlihat. Kerangka bangunan tersebut adalah besi oranye berdiameter 10 sentimeter.

Menjulang dari tanah dan menyangga atap. Tembok-temboknya berasal dari batu bata kecokelatan. Empat sisi bangunan dilengkapi jendela kaca transparan.

Siapa pun dapat melihat isi bangunan dari luar. Lantai bangunannya terbuat dari keramik kuning kecokelatan.

Tepat di depan pintu masuk bangunan itu, terdapat helipad atau landasan untuk mendarat helikopter. Berkomposisi bata dan aspal hijau. Semak ilalang mengelilingi helipad tersebut.

”Nah, ini dia museumnya,” ujar Humas BPLS Hengky Listriadi Senin lalu (2/1). Bangunan museum itu berukuran 10 x 10 meter. Sayang, dalamnya masih kosong melompong.

Hanya peta elektronik yang terpampang. Peta itu merupakan peta area terdampak lumpur yang akan menyala dan berwarna-warni bila disuplai listrik.

”Untuk sementara hanya kami isi ini. Kami sedang mendesain etalase,” ujarnya.

”Barang-barang museum saat ini kami letakkan di ruang biodiversity (gudang penyimpanan milik BPLS, Red),” lanjut Hengky.

Alumnus Universitas Padjadjaran itu menjelaskan, pihaknya telah mengumpulkan sejumlah benda yang berasal dari perut bumi dan biota lokal.

Mulai batu-batu endapan, cairan lumpur dari waktu ke waktu, cangkang kerang dan kerangka hewan yang mati, hingga penelitian-penelitian yang bersangkutan dengan lumpur Lapindo.

Barang-barang tersebut saat ini disimpan di dua tempat. Salah satunya gedung biodiversity yang berjarak 300 meter di utara museum. Yang lain berada di kantor pusat BPLS, Jalan Gayungsari.

Semua barang ”koleksi” BPLS belum bisa diletakkan di museum karena BPLS sedang menata museum tersebut. Mulai etalase yang sesuai sampai pembuatan interior yang tepat.

Interior museum ditargetkan rampung pertengahan 2017. Museum itu memang masih ”bayi”. Diresmikan pada 21 Desember oleh Kepala Museum Geologi Oman Abdul Rahman, Kepala BPLS Hardi Prasetyo, dan Kepala Bappeda Sidoarjo Sulaksono.

Pemerintah pusat melalui BPLS berharap museum tersebut dapat menjadi pusat kajian dan wisata di balik nestapa lumpur Lapindo.

Awalnya, di atas bangunan tersebut berdiri pusat pemantauan dan pengukuran luapan lumpur Lapindo. Tepatnya, ketika lumpur mulai meluap.

Namun, usia bangunan itu juga singkat. Sebab, berganti menjadi Musala Al-Amin pada 2008. Musala Al-Amin mempunyai arsitektur yang unik. Seluruh badan bangunan merupakan kaca transparan.

Sayang, amarah masyarakat yang menuntut ganti rugi dari PT Lapindo Brantas pada 2012 merantak sampai ke sejumlah properti milik PT Lapindo. Termasuk musala itu.

Hanya kerangka besi yang berdiri tegak hingga pertengahan 2016. ”Kemudian, kami berinisiatif mengubah musala itu menjadi museum. Kami rombak total,” lanjut Hengky.

Pria kelahiran Solo itu menjelaskan, salah satu koleksi yang siap dipamerkan di museum adalah bata beton yang berkomposisi lumpur hasil kajian dari tim penelitian dan pengembangan (litbang) BPLS lima tahun silam.

Hingga kini tim masih terus melakukan serangkaian uji coba. Bata-bata dari awal percobaan hingga perkembangan yang terbaru saat ini disimpan di kantor pusat BPLS.

Ada pula baterai lithium yang bahan dasarnya dari lumpur Lapindo. Baterai buatan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu juga tersimpan di kantor pusat BPLS bersama beberapa hasil penelitian lainnya.

Sementara itu, di gedung biodiversity, terkumpul sejumlah batu-batuan, kerangka hewan, dan air lumpur Lapindo dari tahun ke tahun. Sejatinya, gedung biodiversity merupakan bak tronton bekas yang didesain hingga layak ditempati.

”Untuk sementara saya amankan di sini,” lanjut Hengky sambil menunjuk beberapa bebatuan. Di antaranya, batuan sedimen yang berasal dari lumpur lapindo.

Beberapa batu itu berjenis granit. ”Yang ini batu teratai,” jelasnya sembari menunjukkan batu kecokelatan yang permukaannya berbunga-bunga.

Menurut dia, batu tersebut kerap diburu orang untuk dijadikan akik. Umumnya, batuan itu laku sekitar Rp 1 juta–Rp 1,5 juta. Total ada 20 jenis bebatuan yang terhimpun.

Ukurannya beragam. Mulai sebesar biji kelengkeng hingga yang sekepalan tangan orang dewasa. Ada yang berwarna cokelat kekuningan, abu-abu, dan hitam. Tim pengawas dan litbang mengumpulkan batu-batu itu sejak 2010.

Dalam rak besi setinggi 2 meter itu juga tersimpan cangkang kerang. Ada pula sampel air lumpur yang tersimpan dalam botol air mineral. Dipenuhi banyak catatan atau kode kimia.

”Sejak awal semburan hingga sekarang kami kumpulkan dan kaji kandungannya,” lanjut Hengky. Selama ini sudah banyak peneliti yang datang. Baik dari dalam negeri maupun warga negara asing.

Para peneliti itu belum bisa memastikan kapan semburan lumpur akan berhenti total. Pada 2006, pusat semburan mengeluarkan 100 meter kubik lumpur sehari.

Jumlahnya menyusut pada 2016 menjadi 20–40 meter kubik sehari. Saat ini, telah terbentuk area terdampak lumpur dengan luas 634,4 hektare dari total keseluruhan 110 hektare peta bencana. (*/c6/pri/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore