
NYELENEH: Miskaulah memiliki kebiasaan aneh dengan memakan ayam hidup-hidup.
JawaPos.com- Dulu Miskaulah memakan lima ayam hidup-hidup per hari. Namun, lima tahun terakhir ini, jumlah ayam yang disantapnya berkurang. ’’Sekarang, setelah terapi, sekali makan hanya satu ayam dalam sebulan,’’ jelas perempuan asal Jabon, Sidoarjo tersebut.
Miskaulah memang pernah menjalani terapi di RSUD Sidoarjo. Sejak saat itu, kebiasaan ganjil memakan ayam hidup-hidup menjadi jarang muncul. Sebelumnya, nafsunya tidak terkontrol. Jika tidak dituruti, ada gejolak batin. Jiwanya terasa memberontak dan ingin marah. Badannya panas. Obatnya cuma satu, yaitu memakan ayam hidup.
Ayam hidup yang disantap bukan ayam sembarangan. Ayamnya harus betina. Miskaulah tidak menyukai ayam jantan. Daging dan darah ayam betina terasa lebih nikmat. Untuk mendapatkan ayam tersebut, Miskaulah telah memiliki langganan. Dia biasanya membeli ayam dulu, lalu menyimpannya di rumah. Ketika merasa lapar, dia langsung mengambil ayam itu.
Dibutuhkan waktu tidak lebih dari setengah jam untuk membabat habis satu ayam. ’’Dulu kan saya membabi buta saat makan. Sekarang, saya lebih menikmatinya,’’ katanya.
Miskaulah mengaku tidak setiap saat memiliki uang untuk membeli ayam. Ketika tidak mempunyai uang, dia mencari ikan, yuyu, jangkrik, dan belalang untuk dimakan. Karena itu, setiap hari dia pasti memakan hewan hidup. Dia tidak memakan unggas lain selain ayam. ’’Saya enggak doyan bebek dan kelinci,’’ ungkapnya.
Sejak memiliki kebiasaan memakan ayam hidup-hidup, Miskaulah tidak pernah makan nasi, lauk, dan sayur yang telah dimasak. Lima ayam hidup dalam sehari sangat cukup mengisi energinya. Suami dan anak-anak Miskaulah pun sudah terbiasa melihat kebiasaan tersebut. ’’Waktu saya menikah, suami saya mengetahui kebiasaan saya,’’ ucapnya.
Miskaulah sadar kebiasaan makan ayam hidup itu tidak lazim. Bahkan, dia sadar yang dilakukannya tersebut terlarang dari sisi agama. Namun, melepas kebiasaan itu sangat sulit. ’’Saya ingin berhenti, tapi kok enggak bisa,’’ ujarnya.
Sejatinya, berbagai cara telah dilakukan. Termasuk pergi ke orang pintar. Sayang, hasilnya nihil. Dia juga sempat bergabung di perguruan pencak silat. Tujuannya, bisa meredam nafsu tersebut. Memang, pada awal-awal, kebiasaan itu berkurang. Yakni, dari lima ayam menjadi tiga ayam per hari. Eh, lama-lama kambuh lagi. ’’Enggak bertahan lama,’’ tuturnya.
Pada 2011, dia menjalani terapi ke RSUD Sidoarjo. Dokter yang menanganinya adalah dr Liana Nurhayati SpKJ. Upaya itu berhasil. Miskaulah mulai bisa berhenti memakan ayam hidup. Dia juga mulai mengonsumsi olahan daging ayam matang. ’’Saya diterapi dengan diajak makan soto. Enak juga soto ayam,’’ jelasnya, lantas tertawa.
Miskaulah mengaku sangat terbantu oleh terapi dari RSUD Sidoarjo. Obat-obatan dari dokter terus dikonsumsi. Keinginan memakan ayam hidup mulai terkubur. Seharusnya, Miskaulah tetap melakukan kontrol untuk melanjutkan terapi. Namun, lantaran jarak rumah dengan RSUD Sidoarjo sangat jauh, dia memilih berhenti. (ayu/c5/hud)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
