Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 20 Februari 2017 | 01.54 WIB

Relokasi Pasien IGD Tuntas, RSUD Sidoarjo Mulai Bangun Gedung Baru Empat Lantai

PINDAH TEMPAT: Pintu masuk IGD RSUD Sidoarjo ditutup deretan bangku. - Image

PINDAH TEMPAT: Pintu masuk IGD RSUD Sidoarjo ditutup deretan bangku.

JawaPos.com – Seluruh pasien Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Sidoarjo sudah direlokasi ke ruang tunggu poli bedah Sabtu (18/2). Pemindahan seluruh pelayanan IGD tersebut dilakukan lantaran gedung IGD lama akan dibongkar. Pelayanan IGD sementara di ruang tunggu poli bedah akan berlangsung kurang lebih selama setahun.


Berdasar pantauan Jawa Pos, meski hanya menempati lorong ruang tunggu sebagai perawatan pasien di zona kuning, para pasien tetap terlihat nyaman. Sebab, ruang tunggu yang digunakan lebih lebar daripada gedung IGD lama.


Dengan begitu, antara pasien satu dan yang lain tidak berjubel. Gedung IGD lama sudah ditutup. Dalam waktu dekat dilakukan pembongkaran fisik sebagai penghapusan aset.


Kasi Pelayanan Medis Rawat Inap RSUD Sidoarjo dr Wasis Nupikso SpOG mengatakan, relokasi pasien dan seluruh pelayanan di IGD sudah tuntas 100 persen. ’’Kami sudah memberi papan pengumuman, semua pelayanan IGD dialihkan ke eks ruang tunggu poli bedah,’’ katanya.


Gedung yang digunakan sebagai tempat relokasi sementara pelayanan IGD tersebut sebelumnya difungsikan untuk poli bedah umum, ortopedi, serta urologi dan saraf. Sebelum relokasi IGD, pihaknya menata pelayanan di tiga poli tersebut.


Poli urologi dan saraf tetap menempati gedung yang sama. Namun, pintu masuk pelayanan poli yang sebelumnya menghadap ke selatan menjadi utara. Selanjutnya, ruang pelayanan poli ortopedi dan bedah umum digunakan untuk IGD. Sementara itu, pelayanan poli ortopedi kini berada di gedung rawat jalan eks laboratorium patologi.


Adapun, poli bedah umum berada di lantai 2 yang sebelumnya menjadi ruang loket atau administrasi jamkesmas (jaminan kesehatan masyarakat). ’’Poli ortopedi dan bedah umum pindah sejak 16 Januari,’’ ungkapnya.


Meski seluruh pelayanan IGD direlokasi ke ruang tunggu poli bedah umum dan ortopedi, seluruh fasilitas yang tersedia tidak berubah. Misalnya, ruang operasi, maternal and neonatal emergency (MNE), serta ruang tindakan bedah.


Wasis melanjutkan, IGD lama memiliki tiga kamar operasi. Selama gedung IGD lama dibongkar, pelayanan operasi IGD menggunakan dua di antara delapan kamar operasi terencana. Untuk diketahui, saat ini RSUD memiliki delapan kamar operasi terencana. Ditambah lagi tiga kamar operasi di gedung Graha Delta Husada (GDH).


Untuk pelayanan MNE yang sebelumnya empat bed, kini hanya tersedia dua bed. Meski begitu, pihak RSUD sudah menyiapkan antisipasi. Jika hasil pemeriksaan ibu hamil harus melahirkan secara Caesar, pasien langsung dibawa ke kamar operasi. Namun, jika masih bisa menunggu, pasien dipusatkan di kamar bersalin peristi (persalinan risiko tinggi). ’’Kebetulan ruang relokasi untuk IGD dekat dengan kamar bersalin. Jadi, tidak ada masalah,’’ tegasnya.


Ruang resusitasi atau tindakan menghidupkan kembali kesadaran seseorang yang tampak mati dialihkan ke ruang bekas poli ortopedi. ’’Ruang kamar operasinya masih belum direlokasi 100 persen. Kemungkinan, Senin (20/2),’’ jelasnya.


Wasis menuturkan, relokasi pelayanan IGD diperkirakan berlangsung lama. Paling tidak sekitar satu tahun atau selama pengerjaan fisik gedung IGD baru. Selama pembongkaran gedung IGD lama berlangsung, proses lelang pengerjaan fisik dilakukan. ’’Sambil jalan. Pembongkaran gedung IGD lama diperkirakan satu bulan,’’ ujarnya.


Dirut RSUD Sidoarjo dr Atok Irawan SpP mengatakan, tahun ini RSUD membangun gedung IGD baru empat lantai. Total anggaran untuk proyek tersebut mencapai Rp 42 miliar. Anggarannya bersumber dari APBN 2017 melalui dana alokasi khusus (DAK). ’’Kebutuhan gedung IGD (baru) ini sangat mendesak,’’ katanya.



IGD baru tersebut, lanjut dia, akan dibangun dengan fasilitas yang lebih lengkap. Salah satunya, menambah ruang operasi. Juga, akan dibangun ruang luka bakar, high care unit (HCU), dan comando centre public safety centre (PSC) 119. Yakni, pusat pemantauan bencana. Selain itu, ada siaga emergency prehospital. ’’Kami berusaha membuat IGD berstandar internasional seperti rumah sakit di Korea Selatan dengan menyesuaikan kebutuhan rumah sakit rujukan regional,’’ tandasnya. (ayu/c7/pri/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore