Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Juli 2017 | 03.07 WIB

Pecandu Narkoba Makin Mengkhawatirkan, 56 Pelajar Direhabilitasi BNN

Petugas BNN saat razia indekos - Image

Petugas BNN saat razia indekos

JawaPos.com - Menjelang peringatan Hari Antortika Internasional (HANI), BNN Kota Surabaya terus berupaya menekan peredaran narkoba. Hingga kini, pekerjaan besar yang diemban lembaga antimadat tersebut, bagaimana memutus mata rantai jaringan narkoba hingga ke akarnya.


Peredaran narkoba di Surabaya sendiri sudah menyentuh ke berbagai kalangan, termasuk generasi mudanya. Terbukti, berdasar data yang dimiliki BNN Kota Surabaya, sebanyak 56 pelajar menjadi pecandu narkoba. Angka tersebut menduduki peringkat kedua tertinggi data pecandu yang diklasifikasikan berdasar pekerjaan atau profesi.


"Temuan di lapangan, mereka yang sedang kami tangani ini sudah berani mengkonsumsi sabu-sabu. Kalau tahun sebelumnya sebatas coba-coba pakai pil dobel L. Ini artinya, pergaulan mereka semakin mengkhawatirkan karena akses semakin mudah untuk dapat barang (narkoba)," jelas Kepala BNNK Surabaya AKBP Suparti kepada JawaPos.com, Selasa (11/7).


Suparti melanjutkan, hingga saat ini, pihaknya sudah merehabilitasi 132 orang. Untuk ranking teratas, pecandu narkoba di Surabaya merupakan pekerja kantoran atau karyawan swasta sebanyak 59 orang. Rata-rata mereka memakai sabu-sabu. Kebanyakan mereka mendapatkan serbuk terlarang itu dari teman dekatnya.


Pelajar memang jadi salah satu elemen yang benar-benar diperhatikan oleh lembaga antimadat tersebut. Sebab, mereka memang sasaran empuk pengedar maupun bandar.


"Usia mereka ini masih muda, kecenderungan pengedar akan meregenerasi pelanggannya. Makanya, kalau tidak diputus mata rantainya, pengedar ini akan terus cari yang baru," tambah mantan Kassubaghumas Polrestabes Surabaya tersebut.


Oleh sebab itu, BNNK terus bergerak mencari titik-titik rawan peredaran. Terbaru mereka berhasil mendapatkan jaringan peredaran narkoba yang biasa beroperasi di panti pijat. "Kami masih kembangkan jaringan ini. Yang jelas, kami juga mendapati satu orang pemuda di bawah 17 tahun yang mengkonsumsi sabu-sabu," tegas Suparti.


Selain itu, BNNK juga masih terus aktif mengunjungi sekolah-sekolah. Mereka jemput bola dengan melakukan penyuluhan pencegahan narkoba. Mereka juga meminta para guru untuk mengawasi para siswanya baik di dalam maupun area sekitar sekolah.


Mantan Kapolsek Pabean Cantikan itu memaparkan, saat ini sudah banyak sekolah yang sudah awas dengan narkoba. Tidak sekadar memasang spanduk atau baliho bahaya narkoba di lingkungan sekolah, tapi juga mengawasi tempat cangkrukan anak-anak.


Hal seperti itulah yang dibutuhkan BNNK untuk memberantas peredaran narkoba. "Narkoba ini jadi musuh bersama. Fungsi pengawasan ada di tiap individu, nanti soal penindakannya aparat yang bergerak," ungkapnya. (did/JPG)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore