
Petugas BNN saat razia indekos
JawaPos.com - Menjelang peringatan Hari Antortika Internasional (HANI), BNN Kota Surabaya terus berupaya menekan peredaran narkoba. Hingga kini, pekerjaan besar yang diemban lembaga antimadat tersebut, bagaimana memutus mata rantai jaringan narkoba hingga ke akarnya.
Peredaran narkoba di Surabaya sendiri sudah menyentuh ke berbagai kalangan, termasuk generasi mudanya. Terbukti, berdasar data yang dimiliki BNN Kota Surabaya, sebanyak 56 pelajar menjadi pecandu narkoba. Angka tersebut menduduki peringkat kedua tertinggi data pecandu yang diklasifikasikan berdasar pekerjaan atau profesi.
"Temuan di lapangan, mereka yang sedang kami tangani ini sudah berani mengkonsumsi sabu-sabu. Kalau tahun sebelumnya sebatas coba-coba pakai pil dobel L. Ini artinya, pergaulan mereka semakin mengkhawatirkan karena akses semakin mudah untuk dapat barang (narkoba)," jelas Kepala BNNK Surabaya AKBP Suparti kepada JawaPos.com, Selasa (11/7).
Suparti melanjutkan, hingga saat ini, pihaknya sudah merehabilitasi 132 orang. Untuk ranking teratas, pecandu narkoba di Surabaya merupakan pekerja kantoran atau karyawan swasta sebanyak 59 orang. Rata-rata mereka memakai sabu-sabu. Kebanyakan mereka mendapatkan serbuk terlarang itu dari teman dekatnya.
Pelajar memang jadi salah satu elemen yang benar-benar diperhatikan oleh lembaga antimadat tersebut. Sebab, mereka memang sasaran empuk pengedar maupun bandar.
"Usia mereka ini masih muda, kecenderungan pengedar akan meregenerasi pelanggannya. Makanya, kalau tidak diputus mata rantainya, pengedar ini akan terus cari yang baru," tambah mantan Kassubaghumas Polrestabes Surabaya tersebut.
Oleh sebab itu, BNNK terus bergerak mencari titik-titik rawan peredaran. Terbaru mereka berhasil mendapatkan jaringan peredaran narkoba yang biasa beroperasi di panti pijat. "Kami masih kembangkan jaringan ini. Yang jelas, kami juga mendapati satu orang pemuda di bawah 17 tahun yang mengkonsumsi sabu-sabu," tegas Suparti.
Selain itu, BNNK juga masih terus aktif mengunjungi sekolah-sekolah. Mereka jemput bola dengan melakukan penyuluhan pencegahan narkoba. Mereka juga meminta para guru untuk mengawasi para siswanya baik di dalam maupun area sekitar sekolah.
Mantan Kapolsek Pabean Cantikan itu memaparkan, saat ini sudah banyak sekolah yang sudah awas dengan narkoba. Tidak sekadar memasang spanduk atau baliho bahaya narkoba di lingkungan sekolah, tapi juga mengawasi tempat cangkrukan anak-anak.
Hal seperti itulah yang dibutuhkan BNNK untuk memberantas peredaran narkoba. "Narkoba ini jadi musuh bersama. Fungsi pengawasan ada di tiap individu, nanti soal penindakannya aparat yang bergerak," ungkapnya. (did/JPG)

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
