Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 Februari 2017 | 01.01 WIB

Geliat Sentra Pengasapan Ikan Desa Permisan, Punya Pelanggan Setia sejak 1980

PENGGERAK EKONOMI: Anik (kiri) dan Siti Ulumiah melakukan pengasapan ikan bader di Desa Premisan, Jabon, Selasa (31/1). Desa tersebut mempunyai potensi ikan asap. Selain bader, ada juga bandeng dan mujair. - Image

PENGGERAK EKONOMI: Anik (kiri) dan Siti Ulumiah melakukan pengasapan ikan bader di Desa Premisan, Jabon, Selasa (31/1). Desa tersebut mempunyai potensi ikan asap. Selain bader, ada juga bandeng dan mujair.

Posisi Desa Permisan, Kecamatan Jabon, yang dekat dengan Kali Porong terkenal sebagai daerah tambak. Namun, mereka tidak mengandalkan hasil ikan mentah, tapi meningkatkan nilai tambah dengan pengasapan.



BISNIS pengasapan ikan tidak hanya menjadi cara penduduk Desa Permisan untuk mencari nafkah. Kegiatan itu merupakan budaya yang mendarah daging sejak tiga dekade silam. Kini tersisa enam keluarga yang meneruskan. Mereka memilih setia tidak hanya mencari rupiah, tapi juga mempertahankan kearifan lokal yang dipegang keluarga sejak generasi sebelumnya.


Salah satu pengolah ikan asap yang dapurnya masih mengepul dengan asap tebal adalah pasangan suami istri (pasutri) Nur Khasanah dan Supaat. Mudah saja menemukan rumah pasutri tersebut. Tinggal dicari rumah yang menjemur batok kelapa secara berjajar. Batok kelapa itu menjadi bahan bakar untuk pengasapan ikan. Rumah bercat biru di RT 6, RW 2, tersebut ditandai dengan asap mengepul tebal di bagian belakang. Tanda pengasapan tengah berlangsung saat Jawa Pos berkunjung pukul 11.00, Selasa (31/1).


Khasanah dan Supaat menjalankan usaha pengasapan ikan itu sejak 9 tahun lalu. Kedekatan Supaat dengan para petambak dan nelayan di pelelangan ikan membuatnya tidak sulit mendapat pasokan ikan bader. Ikan bader dipilih karena permintaan dari wilayah Mojokerjo cukup besar. Apalagi, cita rasa khas ikan bader gurih dan berprotein tinggi. Langganan mereka terjaga sejak 1980.


Khasanah menuturkan bahwa tujuan penjualannya masih sebatas Kecamatan Mojosari, Mojokerto. Meski demikian, mereka mengaku kewalahan untuk menyuplai. ”Tiap hari rata-rata minta 1 kuintal. Minimal 60 kilogram,” ungkap Supaat.


Supaat menjalankan usaha tersebut dengan dibantu enam karyawan, dua pengasap dan empat orang bagian membersihkan ikan. Dalam sehari, omzet mereka mencapai Rp 3,7 juta. ”Yang bikin susah itu bukan karena kurangnya tenaga. Melainkan kalau kemarau, ikan susah didapat,” jelas Khasanah.



Melihat peluang itu, Kepala Seksi Perekonomian Kecamatan Jabon Juwariyah berupaya merealisasikan pembangunan pelelangan ikan untuk wilayah Kecamatan Jabon yang dipusatkan di Wisata Bahari Tlocor. Dia berharap masyarakat bisa menggantungkan hidup di wilayah sendiri tanpa harus membeli atau menjual ikan ke daerah lain. ”Kalau ada tempat pelelangan ikan (TPI, Red), nelayan dan pemilik usaha seperti ikan asap pasti bisa memangkas dana mobilitas ke dermaga kota,” ujarnya yang turut serta menilik UMKM pengasapan ikan di Desa Permisan. (via/c16/dio/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore