Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 31 Oktober 2017 | 19.13 WIB

Blak-blakan Jual Akun Tuyul

Ilustrasi ponsel diretas hacker. - Image

Ilustrasi ponsel diretas hacker.

Peredaran akun bodong jasa transportasi online di Surabaya terbilang cukup banyak. Jika ditelusuri lewat penjualan di sejumlah grup Facebook dan akun Twitter, dalam sehari, mereka bisa menjual 5–10 akun. Mereka rata-rata merintis bisnis itu sejak 2015.


-------


JAWA POS sempat menghubungi sejumlah nomor yang mengaku menjual akun bodong. Dari enam nomor yang dihubungi, hanya ada satu yang merespons. Itu pun harus lewat perantara. Tampaknya, pemilik nomor melakukan screening terhadap calon pembeli. Tebang pilih.


Ada dua tipe umum dalam dunia jual-beli akun bodong. Yakni, akun bodong inject dan password. Pembelian akun bodong inject harus sepaket dengan handphone. Sementara itu, akun bodong password harus dibeli dengan cara COD (cash on delivery) alias temu muka langsung. Pembeli akan bertatap muka dengan si peretas untuk mengoprek handphone.


Selain itu, ada penjual akun bodong yang ”bermukim” di dunia riil. Bak pedagang pasar, mereka membuka lapak di sejumlah tempat. Mulai warung kopi hingga tempat kos tertentu. Dengan mengontak seorang sumber internal yang bekerja di beberapa aplikasi jasa transportasi online, Jawa Pos mendapat kabar bahwa ada satu penjual akun bodong yang rutin membuka lapak di kawasan Surabaya Barat. Tetapi, dia hanya berjualan pada jam tertentu.


Penjual akun bodong itu biasa dipanggil Mas Nyong. Sekalipun sumber itu sering bertemu dengan Mas Nyong, dia tidak tahu nama aslinya. ”Pernah tanya, tapi nggak dijawab. Yang penting akrab,” ujarnya.


Mas Nyong biasa cangkruk di sebuah warung kopi di sisi utara Jalan Raya Menganti. Tampilannya sekilas memang tampak biasa saja. Mengenakan kaus oblong biru dongker dan celana kain hitam agak komprang, Mas Nyong tampak santai dengan satu kaki kiri yang naik di atas kursi.


Sebatang rokok yang menyala diselipkan di sela-sela jari tangan kirinya. Dia asyik mengobrol dengan dua pria. Beberapa kali perbincangan mereka pecah dengan tawa yang keras.


Belakangan diketahui, dua teman mengobrolnya itu adalah driver ojek online. Mereka mengenakan jaket GoJek dan Uber sesaat sebelum pulang setelah hampir dua jam berbincang dengan Mas Nyong. Tampaknya, mereka hanya singgah sesaat di warung tersebut sebelum bekerja lagi.


Jawa Pos mengamati aktivitas pria berusia 28 tahun itu, Selasa (17/10) sekitar pukul 21.00. Di atas meja warung kopi yang berwarna merah itu, ada enam handphone yang diletakkan berjajar. Dia menjualnya. ’’Di dalamnya ada aplikasi akun bodong,” kata sumber yang mewanti-wanti namanya tidak disebutkan itu.


Mas Nyong adalah penjual akun bodong inject. Dia menjual akun beserta handphone yang sudah direkayasa sedemikian rupa agar pembelinya bisa langsung menjalankan aplikasi. Harga yang dibanderol berkisar Rp 1,3–2 juta. Bergantung pada spesifikasi handphone yang dibeli.


Pria yang selalu mengenakan topi krem itu juga melayani sejumlah jasa rekayasa sistem agar handphone pelanggannya bisa dipasangi akun bodong. Dia biasa mangkal di warung kopi berukuran 7 x 10 meter itu sejak pukul 18.00 hingga pukul 00.00. Harinya tak tentu.


Selasa malam (24/10), Jawa Pos bertemu dengan dua pembeli akun bodong. Prima Fifin Fitrianto dan Rahmadi. Kendati banyak opsi aplikasi, mereka memilih membeli akun bodong GoJek. Alasannya, perusahaan yang identik dengan jaket hijau itu lebih banyak menerima order pelanggan daripada aplikasi lain.


Prima membeli akun hasil retasan itu pada awal 2017. Dia bertemu dengan seorang hacker yang dikenal dengan nama samaran Arians di sebuah warung kopi di kawasan Ketintang, Gayungan. Pria 25 tahun itu mendapatkan nomor kontak sang hacker setelah berselancar di sejumlah grup Facebook tertutup di kalangan driver ojek online. ’’Jualnya blak-blakan di grup,” katanya.


Setelah bersepakat di chat WhatsApp, Arians menentukan lokasi pertemuan. Dalam berbisnis, dia menggunakan sistem COD. Hacker itu bertemu Prima sekitar pukul 16.00. Prima tidak tahu Arians datang dari arah mana dan menggunakan kendaraan apa. Pasalnya, dia datang lebih dahulu dan nyanggong di warung kopi. Saat pulang pun, Arians menunggu Prima meninggalkan lokasi lebih dahulu. ’’Mungkin dia hati-hati,” ujar Prima.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore