seseorang yang sulit mengambil keputusan / foto: Magnific/jcomp
Fenomena ini cukup menarik jika dilihat dari sudut pandang psikologi. Selama ini, kecerdasan sering dianggap sebagai salah satu modal utama untuk menyelesaikan masalah dan menentukan pilihan terbaik. Secara logis, seseorang yang memiliki kemampuan berpikir tinggi seharusnya lebih mudah memahami situasi, membandingkan alternatif, dan memilih tindakan yang paling menguntungkan.
Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Kemampuan berpikir yang baik tidak otomatis membuat seseorang lebih cepat atau lebih mudah mengambil keputusan. Dalam situasi tertentu, kecerdasan justru dapat berjalan beriringan dengan kebiasaan menganalisis secara berlebihan, ketakutan melakukan kesalahan, dan kesulitan menerima ketidakpastian.
Hal ini bukan berarti orang cerdas selalu kesulitan menentukan pilihan, atau orang yang mengambil keputusan dengan cepat pasti kurang cerdas. Kemampuan mengambil keputusan dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kepribadian, pengalaman hidup, kondisi emosional, hingga tekanan lingkungan.
Lantas, mengapa sebagian orang cerdas justru bisa lebih sulit mengambil keputusan dibandingkan orang lain?
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (29/10), terdapat enam penjelasannya berdasarkan konsep-konsep dalam psikologi.
1. Terlalu Banyak Menganalisis Setiap Kemungkinan
Salah satu alasan seseorang yang cerdas dapat mengalami kesulitan mengambil keputusan adalah kecenderungannya melihat terlalu banyak kemungkinan.
Orang yang memiliki kemampuan analitis baik biasanya mampu memahami sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang. Mereka tidak hanya memikirkan manfaat dari suatu pilihan, tetapi juga memperhitungkan konsekuensi, risiko tersembunyi, dampak jangka panjang, dan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi.
Dalam banyak situasi, kemampuan tersebut tentu sangat bermanfaat. Analisis yang mendalam dapat membantu seseorang menghindari keputusan impulsif dan menemukan solusi yang lebih matang. Namun, kemampuan yang sama dapat menjadi hambatan ketika proses berpikir tidak lagi menghasilkan kejelasan.
Sebagai contoh, seseorang yang sedang mempertimbangkan pekerjaan baru mungkin memikirkan banyak hal sekaligus. Gaji yang lebih tinggi memang menarik, tetapi bagaimana dengan lingkungan kerjanya? Apakah peluang kariernya benar-benar lebih baik? Bagaimana jika perusahaan tersebut tidak stabil? Apakah meninggalkan pekerjaan lama akan menimbulkan penyesalan? Bagaimana jika ada tawaran lain yang lebih bagus beberapa bulan kemudian?
Semakin banyak pertanyaan yang muncul, semakin banyak pula hal yang perlu dipertimbangkan. Alih-alih membantu memperjelas pilihan, proses analisis tersebut justru dapat membuat keputusan terasa semakin rumit.
Dalam psikologi, pola ini berkaitan dengan overthinking atau pemikiran berlebihan. Salah satu bentuknya adalah rumination, yaitu kecenderungan memikirkan suatu persoalan secara berulang tanpa menghasilkan penyelesaian yang berarti.
Perlu dibedakan bahwa analisis mendalam tidak selalu merupakan overthinking. Analisis yang produktif menghasilkan informasi baru, memperjelas prioritas, atau membantu seseorang menentukan langkah. Sebaliknya, pemikiran berlebihan sering kali hanya mengulang kekhawatiran yang sama dengan sudut pandang berbeda.
Orang yang terbiasa berpikir secara kompleks juga mungkin merasa bahwa setiap keputusan harus mempertimbangkan seluruh variabel yang tersedia. Padahal, dalam kehidupan nyata, informasi hampir tidak pernah lengkap. Selalu ada kemungkinan yang belum diketahui dan risiko yang tidak dapat diprediksi.
Akibatnya, mereka bisa terjebak dalam pencarian jawaban yang sempurna untuk persoalan yang sebenarnya hanya membutuhkan pilihan yang cukup baik.
Intinya, semakin banyak kemungkinan yang mampu dibayangkan seseorang, semakin besar pula potensi kerumitan yang harus dikelolanya. Kuncinya bukan berhenti berpikir kritis, melainkan mengetahui kapan analisis sudah cukup untuk mengambil tindakan.
2. Memiliki Standar yang Terlalu Tinggi dan Takut Melakukan Kesalahan
Alasan kedua berkaitan dengan perfeksionisme. Sebagian orang yang cerdas terbiasa memahami sesuatu dengan cepat, memperoleh hasil yang baik, atau menjadi orang yang diandalkan ketika menghadapi persoalan sulit. Pengalaman tersebut dapat membentuk harapan bahwa mereka seharusnya selalu mampu menemukan jawaban terbaik.
Ketika menghadapi keputusan penting, harapan itu bisa berubah menjadi tekanan.
Mereka tidak sekadar ingin memilih sesuatu yang masuk akal. Mereka ingin memilih opsi yang paling tepat, paling menguntungkan, paling aman, dan paling kecil kemungkinannya untuk disesali.
Masalahnya, standar seperti itu sulit dipenuhi karena setiap pilihan biasanya memiliki kelebihan dan kekurangan.
Misalnya, seseorang ingin memulai bisnis. Ia sudah mempelajari pasar, menghitung modal, meneliti pesaing, dan menyusun berbagai strategi. Namun, ia terus menunda peluncuran karena merasa masih ada hal yang perlu disempurnakan. Ia ingin memastikan produknya benar-benar siap, strategi pemasarannya optimal, dan risiko kerugiannya sekecil mungkin.
Padahal, sebagian informasi baru hanya bisa diperoleh setelah bisnis tersebut benar-benar dijalankan.
Dalam psikologi, penting untuk membedakan perfeksionisme yang berorientasi pada standar tinggi dari perfeksionisme yang disertai kekhawatiran berlebihan terhadap kesalahan. Bentuk kedua dapat membuat seseorang terlalu sensitif terhadap kemungkinan gagal, kritik, dan penyesalan.
Mereka mungkin menilai sebuah keputusan bukan berdasarkan kualitas pertimbangannya, melainkan berdasarkan hasil akhirnya. Jika hasilnya buruk, mereka menganggap keputusan tersebut sebagai bukti bahwa dirinya kurang mampu. Akibatnya, mengambil keputusan terasa seperti mempertaruhkan harga diri.
Ada pula konsep maximizing, yaitu kecenderungan mencari pilihan terbaik yang tersedia, bukan sekadar pilihan yang sudah memenuhi kebutuhan. Orang dengan kecenderungan ini dapat menghabiskan lebih banyak waktu untuk membandingkan alternatif karena merasa masih mungkin menemukan pilihan yang lebih baik.
Sebaliknya, pendekatan satisficing berarti menetapkan sejumlah kriteria yang penting, lalu memilih opsi pertama yang memenuhi kriteria tersebut secara memadai.
Sebagai contoh, ketika mencari laptop, seseorang bisa menetapkan batas anggaran, kebutuhan kinerja, daya tahan baterai, dan bobot perangkat. Setelah menemukan laptop yang memenuhi semua kriteria utama, ia dapat berhenti membandingkan puluhan model lainnya.
Pendekatan ini bukan berarti menurunkan kualitas keputusan. Justru, pendekatan tersebut membantu seseorang menyesuaikan usaha berpikir dengan pentingnya keputusan yang sedang dihadapi.
Pada akhirnya, tidak semua keputusan harus menghasilkan pilihan terbaik secara mutlak. Dalam banyak situasi, pilihan yang baik dan dapat dijalankan lebih bermanfaat daripada pilihan ideal yang tidak pernah diwujudkan.
3. Mampu Melihat Terlalu Banyak Risiko dan Konsekuensi
Kemampuan berpikir abstrak memungkinkan seseorang membayangkan masa depan dan memperkirakan berbagai kemungkinan yang belum terjadi. Kemampuan ini merupakan salah satu kelebihan dalam pemecahan masalah. Akan tetapi, jika perhatian terlalu terpusat pada risiko, kemampuan tersebut dapat membuat seseorang kesulitan menentukan langkah.
Orang yang mampu membayangkan banyak skenario mungkin tidak hanya memikirkan apa yang akan terjadi jika keputusannya berhasil. Mereka juga dapat membayangkan berbagai cara keputusan tersebut berakhir buruk.
Ketika hendak pindah kota, misalnya, seseorang mungkin sudah mengetahui bahwa kesempatan karier di kota baru lebih menjanjikan. Namun, ia juga memikirkan biaya hidup yang lebih tinggi, kesulitan beradaptasi, kemungkinan merasa kesepian, dan risiko kehilangan dukungan sosial.
Semua kekhawatiran tersebut mungkin masuk akal. Persoalannya muncul ketika setiap risiko diperlakukan seolah-olah memiliki kemungkinan yang sama besar untuk terjadi, atau ketika kemungkinan buruk memperoleh perhatian jauh lebih besar daripada manfaat yang dapat diperoleh.
Dalam psikologi, fenomena ini dapat dikaitkan dengan negativity bias, yaitu kecenderungan manusia memberikan perhatian atau bobot lebih besar pada informasi negatif dibandingkan informasi positif dalam kondisi tertentu.
Selain itu, loss aversion dalam teori prospek menjelaskan bahwa kerugian sering kali terasa lebih menyakitkan daripada keuntungan yang setara terasa menyenangkan. Kehilangan sejumlah uang, misalnya, dapat memengaruhi seseorang secara psikologis lebih kuat daripada kebahagiaan yang diperoleh ketika mendapatkan uang dalam jumlah yang sama.
Kecenderungan ini dapat membuat seseorang lebih memilih mempertahankan keadaan yang sudah dikenal, meskipun ada peluang yang masuk akal untuk memperoleh hasil lebih baik.
Orang yang cerdas dan analitis mungkin memiliki kemampuan lebih baik untuk mengidentifikasi risiko tertentu. Namun, kemampuan mengidentifikasi risiko tidak selalu diikuti kemampuan menilai risiko secara proporsional.
Ada perbedaan besar antara menyadari bahwa suatu keputusan memiliki risiko dan menganggap bahwa risiko tersebut cukup besar untuk menghalangi tindakan.
Keputusan yang matang bukanlah keputusan yang sepenuhnya bebas risiko. Keputusan yang matang adalah keputusan yang mempertimbangkan kemungkinan buruk secara realistis, menilai dampaknya, dan menentukan cara mengantisipasinya.
Dengan demikian, tujuan analisis risiko bukan untuk menghilangkan semua ketidakpastian, melainkan membantu seseorang memahami risiko mana yang dapat diterima, mana yang perlu dikurangi, dan mana yang benar-benar harus dihindari.
4. Sulit Menerima Ketidakpastian dan Ingin Memastikan Semuanya
Sebagian orang merasa lebih nyaman ketika memiliki informasi yang lengkap sebelum bertindak. Mereka ingin memahami situasi, memperkirakan hasil, dan mengetahui konsekuensi dari setiap pilihan.
Keinginan ini wajar, terutama ketika keputusan yang diambil memiliki dampak besar. Namun, kehidupan tidak selalu menyediakan informasi yang cukup untuk memastikan bahwa sebuah pilihan akan menghasilkan sesuatu yang diharapkan.
Dalam psikologi, hal ini berkaitan dengan konsep intolerance of uncertainty, yaitu kesulitan menghadapi keadaan ketika hasil atau informasi belum dapat dipastikan.
Seseorang yang sulit menerima ketidakpastian mungkin terus mencari informasi tambahan, meminta pendapat dari banyak orang, atau menunda keputusan sampai merasa benar-benar yakin. Sayangnya, rasa yakin tersebut tidak selalu datang meskipun informasi yang diperoleh sudah sangat banyak.
Contohnya, seseorang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia sudah membandingkan biaya kuliah, reputasi universitas, peluang kerja, prospek penghasilan, dan pengalaman para alumninya. Akan tetapi, ia masih bertanya-tanya apakah gelar tersebut akan memberikan keuntungan yang sepadan beberapa tahun mendatang.
Pertanyaan tersebut sebenarnya masuk akal. Namun, tidak ada analisis yang dapat menjamin bagaimana pasar kerja akan berubah, keterampilan apa yang akan paling dibutuhkan, atau kesempatan apa yang akan muncul di masa depan.
Semakin kuat keinginan untuk memperoleh kepastian, semakin sulit seseorang menerima bahwa sebagian pertanyaan memang tidak memiliki jawaban yang pasti saat ini.
Di sinilah kecerdasan analitis dapat bertemu dengan kebutuhan akan kontrol. Seseorang mungkin memahami secara intelektual bahwa ketidakpastian tidak dapat dihindari, tetapi secara emosional tetap merasa tidak nyaman ketika harus bertindak tanpa jaminan.
Akibatnya, ia bisa terjebak dalam siklus mencari informasi, merasa sedikit lebih yakin, menemukan pertanyaan baru, kemudian kembali mencari informasi.
Siklus tersebut dapat menghabiskan waktu dan energi tanpa benar-benar meningkatkan kualitas keputusan.
Untuk mengatasinya, seseorang perlu membedakan antara ketidakpastian yang dapat dikurangi melalui informasi dan ketidakpastian yang memang merupakan bagian dari kehidupan.
Jika informasi penting masih belum tersedia, penelitian tambahan mungkin diperlukan. Namun, jika semua data utama sudah terkumpul dan tidak ada informasi baru yang kemungkinan besar mengubah pilihan, langkah yang lebih masuk akal adalah mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan terbaik yang tersedia.
Belajar mengambil keputusan juga berarti belajar menerima bahwa seseorang dapat membuat pilihan yang masuk akal tanpa mengetahui seluruh hasilnya terlebih dahulu.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Prediksi Skor Madura United vs Arema FC: Pertarungan Seru Ze Gomes dan Andre Caldas
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Prediksi Skor Toulouse vs Strasbourg: Les Violets Berusaha Akhiri Paceklik Gol di Kandang
Prediksi Skor Cagliari vs Frosinone: Canarini Bidik Akhiri Kutukan 13 Tahun
Prediksi Skor PSIM Yogyakarta vs Dewa United: Banten Warriors Curi Kemenangan di Sultan Agung
Kamera Pengintai Identifikasi 19 Macan Tutul Jawa Beserta Rantai Makanannya di TNBTS

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022