seseorang yang kehabisan baterai tubuhnya sendiri. (Magnific)
Jam baru menunjukkan pukul dua siang. Namun tubuh terasa seperti sudah melewati satu hari penuh.
Kamu masih bisa bekerja. Masih bisa menjawab pesan. Masih bisa menghadiri rapat. Bahkan mungkin masih bisa tersenyum ketika seseorang bertanya, “Kamu nggak apa-apa?”
Tapi di dalam diri, rasanya hanya tersisa sekitar 15 persen baterai.
Menariknya, kondisi seperti ini tidak selalu berarti kamu malas, tidak disiplin, atau kurang motivasi. Dalam psikologi, rasa lelah yang muncul di tengah hari dapat berkaitan dengan banyak hal: tuntutan kognitif yang terlalu tinggi, stres berkepanjangan, kurangnya pemulihan, terlalu banyak keputusan yang harus dibuat, hingga kemampuan regulasi emosi yang mulai menurun.
Masalahnya, ketika baterai psikologis tinggal 15 persen, kita sering tetap memperlakukan diri sendiri seolah-olah masih memiliki 80 persen.
Kita memaksa fokus.
Memaksa produktif.
Memaksa membalas semua pesan.
Memaksa menyelesaikan semuanya hari itu juga.
Padahal, mungkin yang dibutuhkan bukan dorongan yang lebih keras, melainkan cara menggunakan sisa energi dengan lebih bijaksana.
Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan ketika hari masih panjang, tetapi energi diri sudah hampir habis?
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (9/10), terdapat enam hal yang bisa kamu lakukan.
1. Berhenti Menganggap Lelah Sebagai Musuh
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah berhenti berperang dengan rasa lelah.
Ini terdengar sederhana, tetapi sering kali justru menjadi bagian yang paling sulit.
Ketika merasa kehilangan energi, kita biasanya langsung berpikir:
“Aku harus lebih kuat.”
“Aku nggak boleh malas.”
“Kenapa orang lain bisa, sedangkan aku nggak?”
“Padahal baru siang.”
Pikiran seperti itu dapat membuat kelelahan menjadi semakin berat karena sekarang kamu tidak hanya menghadapi tuntutan dari luar, tetapi juga sedang berkonflik dengan kondisi internal diri sendiri.
Dalam psikologi, kemampuan mengenali kondisi internal tanpa langsung menghakiminya merupakan bagian penting dari self-awareness dan regulasi diri.
Lelah adalah informasi.
Ia memberi tahu bahwa ada sesuatu yang sedang membutuhkan perhatian.
Mungkin tubuh membutuhkan istirahat.
Mungkin otak sudah terlalu lama menerima informasi.
Mungkin kamu terlalu banyak berpindah dari satu tugas ke tugas lain.
Mungkin ada masalah emosional yang sejak pagi kamu tahan.
Atau mungkin kamu sebenarnya tidak kekurangan waktu, tetapi kekurangan kapasitas mental.
Cobalah mengganti pertanyaan:
“Bagaimana caranya supaya aku tidak merasa lelah?”
menjadi:
“Apa yang sedang membuat energiku terkuras?”
Perubahan pertanyaan ini penting.
Karena ketika kita hanya berusaha menghilangkan rasa lelah, kita cenderung mencari jalan tercepat untuk memaksa diri kembali bekerja.
Sebaliknya, ketika kita mencoba memahami penyebabnya, kita bisa menentukan respons yang lebih tepat.
Misalnya, kalau kamu lelah karena terlalu banyak berpikir, mungkin kamu membutuhkan jeda dari informasi.
Kalau lelah karena terlalu banyak interaksi sosial, mungkin kamu membutuhkan beberapa menit kesendirian.
Kalau lelah karena pekerjaan yang menumpuk, mungkin kamu perlu menyederhanakan prioritas.
Kalau lelah karena emosi, mungkin yang dibutuhkan bukan kopi tambahan, tetapi ruang untuk menenangkan diri.
Jadi, ketika baterai diri tinggal 15 persen, jangan langsung memarahi diri sendiri.
Dengarkan terlebih dahulu.
Tubuh dan pikiranmu mungkin sedang mencoba mengatakan sesuatu.
2. Kurangi Beban Kognitif, Bukan Sekadar Menambah Motivasi
Ketika energi mental menurun, kita sering mencari motivasi.
Menonton video motivasi.
Mendengarkan podcast produktivitas.
Membuat daftar target baru.
Minum kopi.
Membuka aplikasi to-do list dan menyusun ulang seluruh kehidupan.
Padahal, masalahnya mungkin bukan kurang motivasi.
Masalahnya adalah terlalu banyak beban kognitif.
Otak kita terus bekerja ketika harus memproses informasi, membuat keputusan, mengingat sesuatu, berpindah tugas, mengendalikan emosi, dan memikirkan berbagai kemungkinan.
Semua itu membutuhkan sumber daya mental.
Karena itu, ketika baterai psikologis sedang rendah, salah satu strategi terbaik bukan menambahkan lebih banyak stimulasi, tetapi mengurangi jumlah hal yang harus dipikirkan.
Coba lakukan sesuatu yang sangat sederhana:
Ambil kertas atau buka catatan.
Tulis semua hal yang masih ada di kepala.
Pekerjaan.
Pesan yang belum dibalas.
Ide.
Janji.
Masalah.
Hal yang kamu khawatirkan.
Kemudian bagi menjadi tiga kategori:
Harus dilakukan hari ini
Ini adalah hal yang benar-benar memiliki konsekuensi jika tidak dilakukan hari ini.
Bisa dilakukan nanti
Tidak ada masalah besar jika tugas ini ditunda.
Tidak perlu dilakukan
Hal-hal yang sebenarnya hanya terasa penting karena terus berada di dalam kepala.
Langkah ini dapat membantu mengurangi mental load.
Ketika semua hal berada di kepala, otak harus terus mengingatnya.
Ketika sudah ditulis, sebagian beban tersebut dapat dialihkan ke lingkungan eksternal.
Dan ketika baterai tinggal 15 persen, kamu tidak membutuhkan daftar tugas yang sempurna.
Kamu membutuhkan kejelasan.
Alih-alih berkata:
“Aku harus menyelesaikan semuanya.”
ubah menjadi:
“Apa satu atau dua hal yang paling penting untuk diselesaikan hari ini?”
Pertanyaan ini jauh lebih realistis.
Produktivitas bukan selalu tentang melakukan lebih banyak.
Kadang-kadang produktivitas adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang tidak perlu dilakukan sekarang.
3. Berikan Otak Jeda yang Benar-Benar Berbeda dari Pekerjaan
Tidak semua istirahat benar-benar memulihkan.
Ini salah satu hal yang sering kita salah pahami.
Kita merasa sudah istirahat karena selama 20 menit tidak bekerja.
Tetapi selama 20 menit itu kita membuka media sosial, membaca berita, membalas pesan, menonton video pendek, lalu berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya.
Tubuh memang tidak sedang bekerja.
Namun otak belum tentu mendapatkan pemulihan yang berarti.
Ketika sedang kelelahan, coba lakukan jeda dengan stimulus yang lebih rendah.
Misalnya:
berjalan sebentar tanpa membuka ponsel,
duduk di tempat yang tenang,
menarik napas secara perlahan,
minum air,
melihat ke luar jendela,
melakukan peregangan ringan,
memejamkan mata beberapa menit,
atau sekadar duduk tanpa harus mengonsumsi informasi baru.
Tujuannya bukan menciptakan suasana yang sempurna.
Tujuannya adalah memberikan kesempatan kepada sistem psikologis untuk keluar sejenak dari mode tuntutan.
Bayangkan otak seperti browser dengan terlalu banyak tab terbuka.
Kalau kamu membuka satu tab lagi bernama “Instagram”, itu belum tentu membantu.
Kadang yang diperlukan adalah menutup beberapa tab.
Jeda juga sebaiknya dilakukan sebelum kamu benar-benar hancur.
Kita sering berpikir:
“Aku istirahat nanti kalau semua sudah selesai.”
Masalahnya, pekerjaan hampir selalu bisa menghasilkan pekerjaan baru.
Satu email selesai, muncul email lain.
Satu tugas selesai, ada tugas berikutnya.
Satu rapat selesai, ada pesan masuk.
Kalau istirahat hanya boleh dilakukan setelah semuanya selesai, kemungkinan besar kamu tidak pernah benar-benar mendapatkan kesempatan untuk pulih.
Karena itu, istirahat bukan hadiah setelah produktif.
Istirahat adalah bagian dari proses agar kita tetap mampu berfungsi.
4. Turunkan Standar, Bukan Harga Dirimu
Saat energi sedang tinggi, kita mungkin mampu menghasilkan sesuatu dengan kualitas terbaik.
Tetapi ketika energi tinggal 15 persen, mempertahankan standar yang sama untuk semua hal bisa menjadi sangat melelahkan.
Di sinilah kita perlu membedakan antara standar kualitas dan harga diri.
Tidak menyelesaikan pekerjaan secara sempurna bukan berarti kamu adalah orang yang buruk.
Membalas pesan lebih lambat bukan berarti kamu tidak peduli.
Rumah yang berantakan bukan berarti hidupmu gagal.
Hari yang tidak produktif bukan berarti kamu tidak berguna.
Namun ketika sedang lelah, kita sering mengubah performa menjadi identitas.
“Aku nggak produktif.”
berubah menjadi:
“Aku memang orang yang nggak bisa disiplin.”
Satu kesalahan berubah menjadi:
“Aku selalu gagal.”
Padahal performa seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi.
Manusia bukan mesin yang menghasilkan output dengan jumlah yang sama setiap hari.
Ada hari ketika kapasitas tinggi.
Ada hari ketika kapasitas rendah.
Karena itu, ketika baterai psikologis tinggal 15 persen, cobalah menggunakan konsep:
“cukup baik untuk hari ini.”
Bukan berarti menjadi asal-asalan.
Tetapi membedakan mana yang membutuhkan kualitas tinggi dan mana yang cukup diselesaikan secara sederhana.
Misalnya:
Tidak semua email membutuhkan jawaban panjang.
Tidak semua rapat membutuhkan kontribusi maksimal.
Tidak semua tugas harus selesai hari ini.
Tidak semua masalah harus diselesaikan sekarang.
Dan tidak semua keputusan harus dibuat ketika kamu sedang kelelahan.
Kadang-kadang bentuk kedewasaan bukan kemampuan melakukan semuanya dengan sempurna.
Tetapi kemampuan mengatakan:
“Untuk hari ini, ini sudah cukup.”
5. Periksa Apakah Kamu Sebenarnya Lelah Secara Fisik atau Emosional
Ada jenis kelelahan yang sulit dijelaskan.
Kamu tidur cukup, tetapi tetap merasa berat.
Tidak banyak bergerak, tetapi rasanya seperti kehabisan tenaga.
Tidak terlalu banyak pekerjaan, tetapi tidak punya kapasitas untuk melakukan hal sederhana.
Dalam kondisi seperti ini, ada baiknya berhenti sejenak dan bertanya:
“Aku sebenarnya capek karena apa?”
Kelelahan tidak selalu berasal dari aktivitas fisik.
Ada kelelahan kognitif.
Ada kelelahan emosional.
Ada kelelahan sosial.
Ada juga kondisi ketika seseorang terus menerus berada dalam keadaan waspada terhadap masalah.
Misalnya, sepanjang hari kamu terlihat bekerja seperti biasa.
Tetapi di belakangnya ada kekhawatiran tentang keluarga.
Ada masalah hubungan.
Ada persoalan keuangan.
Ada ketidakpastian pekerjaan.
Ada percakapan yang belum selesai.
Ada sesuatu yang terus kamu pikirkan.
Walaupun tubuhmu hanya duduk di depan laptop, pikiranmu sebenarnya sedang menjalankan banyak proses sekaligus.
Itulah sebabnya terkadang seseorang berkata:
“Aku hari ini sebenarnya nggak ngapa-ngapain, tapi kok capek banget?”
Mungkin karena yang dilakukan bukan aktivitas fisik.
Yang dilakukan adalah terus-menerus menanggung sesuatu secara mental.
Karena itu, ketika merasa baterai tinggal 15 persen, jangan hanya bertanya:
“Apa yang harus aku kerjakan?”
Tanyakan juga:
“Apa yang sedang aku bawa?”
Kadang kamu membutuhkan produktivitas.
Kadang kamu membutuhkan istirahat.
Kadang kamu membutuhkan percakapan dengan seseorang yang dipercaya.
Dan kadang kamu membutuhkan ruang untuk mengakui bahwa ada sesuatu yang memang sedang berat.
Jika rasa lelah, kehilangan minat, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, atau perasaan tidak berdaya berlangsung lama dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan menganggap semuanya sekadar kurang disiplin. Berbicara dengan profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang bijaksana.
6. Buat “Mode Hemat Energi” untuk Sisa Hari
Kalau baterai ponsel tinggal 15 persen, kita biasanya tahu apa yang harus dilakukan.
Mengurangi penggunaan aplikasi.
Menurunkan kecerahan layar.
Mematikan fitur yang tidak penting.
Menghindari aktivitas yang menghabiskan banyak daya.
Anehnya, ketika baterai diri sendiri tinggal 15 persen, kita justru sering melakukan kebalikannya.
Kita menerima lebih banyak permintaan.
Membuka lebih banyak aplikasi.
Mengambil keputusan besar.
Bekerja lebih keras.
Dan mencoba mengejar semua yang tertinggal.
Mungkin kita membutuhkan sesuatu seperti mode hemat energi psikologis.
Caranya sederhana.
Untuk sisa hari itu, tanyakan:
Apa yang benar-benar penting?
Pilih satu sampai tiga hal utama.
Apa yang bisa ditunda?
Jangan merasa bersalah untuk memindahkannya ke hari berikutnya.
Apa yang bisa disederhanakan?
Cari versi paling sederhana dari tugas tersebut.
Apa yang bisa didelegasikan?
Tidak semua hal harus kamu lakukan sendiri.
Apa yang sebaiknya tidak diputuskan sekarang?
Keputusan besar sebaiknya tidak selalu dibuat ketika kapasitas mental sedang rendah.
Dan yang terakhir:
Apa yang bisa membuat malam ini sedikit lebih mudah?
Mungkin menyiapkan pakaian untuk besok.
Menyelesaikan satu pekerjaan kecil yang akan mengganggu pikiran.
Mengurangi penggunaan layar menjelang tidur.
Makan dengan cukup.
Mandi.
Berjalan sebentar.
Atau tidur lebih awal.
Tujuannya bukan membuat sisa hari menjadi luar biasa produktif.
Tujuannya adalah membawa diri sampai garis akhir hari tanpa menghabiskan seluruh cadangan energi.
Baterai 15% Bukan Berarti Kamu Harus Berhenti Menjadi Manusia
Ada satu hal penting yang sering terlupakan.
Kita hidup dalam budaya yang sangat menghargai produktivitas.
Bangun pagi.
Olahraga.
Bekerja.
Belajar.
Membangun karier.
Mengembangkan diri.
Membalas pesan.
Bersosialisasi.
Mengurus keluarga.
Mengejar target.
Lalu ketika malam tiba, kita masih merasa bersalah karena hari itu belum cukup produktif.
Seolah-olah setiap hari harus menghasilkan sesuatu yang besar.
Padahal hidup manusia memiliki ritme.
Ada masa untuk bergerak cepat.
Ada masa untuk bergerak perlahan.
Ada hari ketika kita mampu memberikan banyak hal.
Ada hari ketika yang mampu kita lakukan hanya mempertahankan diri agar tetap berjalan.
Dan itu tidak membuat kita lebih rendah.
Kalau hari ini baterai dirimu tinggal 15 persen, mungkin tujuanmu bukan untuk kembali menjadi 100 persen dalam waktu satu jam.
Mungkin tujuan yang lebih realistis adalah:
jangan sampai 15 persen itu menjadi 0 persen.
Selesaikan yang benar-benar penting.
Kurangi beban yang tidak perlu.
Berikan otak jeda.
Turunkan standar yang tidak penting.
Perhatikan kebutuhan emosional.
Dan simpan sebagian energi untuk dirimu sendiri.
Karena kamu tidak harus memenangkan seluruh hari hanya karena pagi tadi kamu memulainya dengan baik.
Kadang-kadang, kemenangan kecil adalah ketika kamu mampu berkata:
“Hari ini berat, jadi aku akan memperlakukan diriku dengan lebih bijaksana.”
Hari masih panjang.
Tetapi kamu tidak harus menghabiskannya dengan cara yang paling melelahkan.
Kamu hanya perlu melewati sisa hari dengan cukup sadar untuk tahu:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Prediksi Skor Arema FC vs Bhayangkara FC: Berpeluang Imbang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Isenmulang Kalteng vs Persebaya di Super League, Green Force Berpeluang Curi Tiga Poin
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Susunan Pemain Persik vs Madura United: Reina Siapkan Strategi Terbaik
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Suahasil Buka Suara soal Pembagian Tugas Tiga Wamenkeu, Ini Fokusnya!
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Emil Audero Incar Poin di Kandang
Adhyaksa FC Bekasi Vs PSGC Ciamis: Misi Bangkit Tuan Rumah

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022