seseorang yang menjadi lebih produktif. (Magnific)
Bangun pagi, bekerja berjam-jam, membalas semua pesan, menyelesaikan banyak tugas, menghadiri berbagai pertemuan, lalu tetap memaksakan diri bekerja meski tubuh dan pikiran sudah lelah.
Padahal, produktivitas tidak selalu berkaitan dengan seberapa banyak waktu yang kita miliki.
Sering kali, persoalannya justru terletak pada energi.
Kita mungkin memiliki delapan jam untuk bekerja, tetapi tidak semua delapan jam tersebut memiliki kualitas energi yang sama. Ada waktu ketika pikiran sangat jernih, tubuh terasa ringan, dan kita mampu menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Namun ada pula saat ketika membaca satu halaman saja terasa berat, sulit berkonsentrasi, mudah terdistraksi, dan pekerjaan sederhana membutuhkan waktu jauh lebih lama.
Karena itu, jika ingin menjadi lebih produktif, kita tidak hanya perlu belajar mengatur waktu, tetapi juga belajar mengelola energi.
Dalam psikologi, energi manusia dapat dipahami sebagai sumber daya yang dipengaruhi oleh kondisi fisik, emosi, perhatian, motivasi, serta tuntutan lingkungan. Ketika sumber daya tersebut terkuras, kemampuan kita untuk berpikir, mengendalikan diri, mengambil keputusan, dan mempertahankan fokus juga dapat menurun.
Artinya, produktivitas bukan tentang memaksa diri bekerja terus-menerus.
Produktivitas yang sehat justru berkaitan dengan kemampuan mengetahui kapan harus bekerja, kapan harus beristirahat, pekerjaan apa yang perlu diprioritaskan, dan bagaimana menjaga kapasitas mental agar tidak cepat habis.
Lantas, bagaimana cara mengelola energi agar kita bisa menjadi lebih produktif?
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (6/10), terdapat enam cara yang bisa diterapkan.
1. Kenali kapan energi Anda berada pada titik terbaik
Tidak semua orang memiliki pola energi yang sama.
Ada orang yang merasa sangat produktif pada pagi hari. Setelah bangun, pikirannya terasa segar dan mudah berkonsentrasi. Ada pula yang justru baru merasa benar-benar fokus pada siang atau sore hari.
Masalahnya, banyak orang menjalani pekerjaan berdasarkan jadwal yang kaku, bukan berdasarkan kondisi energinya.
Misalnya, seseorang memiliki energi mental terbaik antara pukul 08.00 hingga 11.00. Namun tiga jam tersebut justru digunakan untuk membuka media sosial, membalas pesan yang tidak mendesak, atau menghadiri rapat yang sebenarnya bisa dilakukan pada waktu lain.
Ketika akhirnya tiba waktunya mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, energinya sudah menurun.
Karena itu, cobalah mengenali pola energi pribadi Anda.
Selama beberapa hari, perhatikan:
Kapan Anda paling mudah berkonsentrasi?
Kapan Anda merasa paling bersemangat?
Kapan Anda mulai mengantuk?
Kapan Anda paling mudah terdistraksi?
Kapan Anda merasa kreatif?
Kapan Anda biasanya membutuhkan istirahat?
Setelah mengetahui polanya, sesuaikan jenis pekerjaan dengan tingkat energi.
Gunakan periode energi tinggi untuk pekerjaan yang membutuhkan:
konsentrasi mendalam,
kreativitas,
analisis,
pengambilan keputusan,
penulisan,
pemecahan masalah.
Sementara ketika energi mulai menurun, Anda dapat mengerjakan tugas yang lebih ringan seperti:
membalas email,
mengatur dokumen,
melakukan pekerjaan administratif,
mengecek jadwal,
merapikan meja kerja,
atau melakukan pekerjaan rutin.
Dengan cara ini, Anda tidak sekadar mengatur waktu, tetapi juga mengalokasikan energi pada pekerjaan yang tepat.
Prinsip sederhananya:
Jangan gunakan energi terbaik untuk pekerjaan yang tidak terlalu penting.
2. Jangan menunggu sampai benar-benar lelah untuk beristirahat
Ada anggapan bahwa istirahat hanya diperlukan setelah kita menyelesaikan pekerjaan.
Padahal, menunggu sampai benar-benar kelelahan baru kemudian beristirahat sering kali membuat pemulihan menjadi lebih sulit.
Bayangkan baterai ponsel.
Jika baterai terus digunakan sampai benar-benar habis, Anda harus menunggu cukup lama sebelum perangkat bisa digunakan kembali. Sebaliknya, jika Anda mengisi daya secara berkala, perangkat tetap dapat digunakan sepanjang hari.
Tubuh dan pikiran manusia tentu jauh lebih kompleks daripada baterai. Namun analogi tersebut menggambarkan satu hal penting: pemulihan sebaiknya tidak selalu dilakukan setelah kita benar-benar kehabisan tenaga.
Istirahat singkat di sela pekerjaan dapat membantu menjaga perhatian dan mengurangi akumulasi kelelahan.
Bentuk istirahat tidak harus tidur.
Anda bisa:
berjalan sebentar,
melakukan peregangan,
minum air,
melihat pemandangan di luar ruangan,
mengambil napas dalam-dalam,
berbicara singkat dengan orang lain,
atau menjauh dari layar selama beberapa menit.
Yang penting, istirahat benar-benar memberikan kesempatan bagi pikiran untuk keluar sejenak dari tuntutan pekerjaan.
Ini juga berarti Anda tidak harus merasa bersalah ketika beristirahat.
Istirahat bukan lawan dari produktivitas.
Istirahat merupakan bagian dari proses mempertahankan produktivitas.
Jika Anda terus bekerja dalam kondisi mental yang sudah terlalu lelah, tambahan waktu kerja belum tentu menghasilkan tambahan kualitas kerja.
Kadang-kadang, berhenti selama beberapa menit justru membuat pekerjaan berikutnya dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih baik.
3. Kurangi keputusan kecil yang menguras energi mental
Pernahkah Anda merasa sangat lelah padahal hari itu tidak melakukan aktivitas fisik yang berat?
Salah satu penyebabnya bisa berasal dari banyaknya keputusan yang harus dibuat.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita terus-menerus mengambil keputusan.
Mau memakai baju apa?
Sarapan apa?
Mulai mengerjakan tugas yang mana?
Membalas pesan siapa?
Haruskah membuka email sekarang?
Apakah harus menghadiri pertemuan tersebut?
Apa yang harus dikerjakan terlebih dahulu?
Keputusan-keputusan tersebut terlihat kecil. Namun jika jumlahnya sangat banyak, semuanya membutuhkan perhatian mental.
Inilah alasan mengapa rutinitas sederhana dapat membantu.
Anda dapat mengurangi jumlah keputusan yang tidak penting dengan membuat sistem.
Misalnya:
menentukan pakaian kerja sebelumnya,
membuat daftar prioritas setiap pagi,
menetapkan jadwal tertentu untuk memeriksa email,
menggunakan daftar belanja,
memiliki rutinitas pagi yang relatif konsisten,
dan menetapkan aturan sederhana untuk pekerjaan berulang.
Tujuannya bukan membuat hidup menjadi kaku.
Tujuannya adalah menghemat energi mental untuk keputusan yang benar-benar penting.
Bayangkan perhatian Anda seperti anggaran terbatas.
Jika terlalu banyak energi digunakan untuk memutuskan hal-hal kecil, Anda mungkin memiliki lebih sedikit kapasitas ketika harus mengambil keputusan besar.
Karena itu, salah satu bentuk produktivitas yang sering terlupakan adalah mengurangi hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan terlalu banyak.
4. Kerjakan satu hal penting sebelum berpindah ke hal lainnya
Multitasking sering dianggap sebagai kemampuan produktif.
Seseorang merasa dirinya hebat karena bisa membalas pesan sambil mengikuti rapat, membuka email sambil mengerjakan laporan, atau berpindah-pindah antara beberapa pekerjaan dalam waktu bersamaan.
Namun pada banyak pekerjaan yang membutuhkan perhatian, berpindah-pindah tugas dapat membuat fokus menjadi terpecah.
Setiap kali perhatian berpindah dari satu tugas ke tugas lain, otak perlu menyesuaikan kembali konteks.
Misalnya Anda sedang menulis laporan.
Kemudian muncul notifikasi pesan.
Anda membalasnya.
Setelah itu membuka email.
Kemudian melihat media sosial sebentar.
Setelah kembali ke laporan, Anda membutuhkan waktu untuk mengingat kembali apa yang sedang dikerjakan.
Masalahnya bukan hanya waktu yang digunakan untuk membuka pesan.
Ada pula biaya mental dari perpindahan perhatian.
Karena itu, salah satu strategi yang dapat dicoba adalah bekerja dengan prinsip:
Satu periode fokus, satu pekerjaan utama.
Anda tidak harus langsung bekerja selama berjam-jam.
Mulailah dengan periode yang realistis.
Misalnya, selama 25–45 menit, fokus hanya pada satu pekerjaan. Setelah itu, ambil jeda singkat sebelum kembali bekerja.
Selama periode fokus tersebut, minimalkan gangguan yang tidak penting.
Matikan notifikasi.
Letakkan ponsel sedikit lebih jauh.
Tutup tab browser yang tidak berhubungan.
Jika memungkinkan, beri tahu orang lain bahwa Anda sedang membutuhkan waktu untuk berkonsentrasi.
Semakin sedikit gangguan, semakin sedikit energi yang harus digunakan untuk mengembalikan fokus.
Produktivitas bukan selalu tentang bergerak lebih cepat.
Kadang-kadang produktivitas meningkat ketika kita berhenti berpindah-pindah.
5. Kelola emosi, bukan hanya jadwal
Ada satu hal yang sering dilupakan ketika membicarakan produktivitas: emosi.
Anda bisa memiliki jadwal yang sangat teratur, tetapi tetap sulit bekerja jika pikiran sedang dipenuhi kecemasan, konflik, rasa bersalah, kemarahan, atau kekhawatiran.
Bayangkan Anda sedang mengerjakan laporan penting.
Secara fisik Anda duduk di depan komputer.
Namun pikiran terus memikirkan pertengkaran dengan seseorang.
Atau Anda sedang mengkhawatirkan masalah keuangan.
Atau Anda merasa takut pekerjaan Anda tidak cukup bagus.
Tubuh memang berada di depan meja kerja, tetapi sebagian kapasitas perhatian Anda sedang digunakan untuk memproses persoalan emosional.
Karena itu, mengelola energi juga berarti belajar mengenali kondisi emosi.
Ketika menyadari bahwa emosi sedang mengganggu fokus, jangan selalu memaksa diri untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Berikan ruang untuk mengenali apa yang sedang terjadi.
Anda dapat bertanya kepada diri sendiri:
"Apa yang sebenarnya sedang saya rasakan?"
Apakah saya cemas?
Kecewa?
Marah?
Takut?
Bosan?
Kewalahan?
Setelah mengenalinya, tentukan apakah emosi tersebut membutuhkan tindakan atau hanya perlu diberi ruang.
Misalnya, jika Anda terus memikirkan sebuah masalah yang belum selesai, tuliskan masalah tersebut dan tentukan kapan Anda akan menanganinya.
Dengan begitu, otak tidak perlu terus-menerus mengingatkan Anda tentang persoalan yang sama.
Jika emosi terasa terlalu berat atau terus mengganggu kehidupan sehari-hari, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental juga dapat menjadi pilihan yang tepat.
Mengelola emosi bukan berarti menyingkirkan semua emosi negatif.
Emosi adalah bagian normal dari kehidupan.
Tujuannya adalah agar emosi tidak selalu mengambil alih seluruh kapasitas perhatian Anda.
6. Bangun sumber energi, bukan hanya mengurangi pengeluaran energi
Mengelola energi bukan sekadar mengurangi aktivitas yang melelahkan.
Kita juga perlu memperhatikan hal-hal yang membantu memulihkan dan membangun kapasitas diri.
Beberapa fondasi paling dasar justru sering diabaikan: tidur, aktivitas fisik, makanan, hubungan sosial, dan waktu pemulihan.
Tidur yang cukup membantu fungsi kognitif, perhatian, suasana hati, dan kemampuan mengambil keputusan.
Aktivitas fisik juga dapat mendukung kesehatan fisik dan psikologis.
Hubungan sosial yang sehat dapat memberikan rasa terhubung dan dukungan emosional.
Sementara waktu tanpa tuntutan pekerjaan dapat memberikan kesempatan bagi pikiran untuk pulih.
Karena itu, jangan melihat semua aktivitas non-kerja sebagai sesuatu yang mengurangi produktivitas.
Makan dengan baik bukan membuang waktu.
Berolahraga bukan membuang waktu.
Tidur bukan membuang waktu.
Menghabiskan waktu bersama orang yang penting bagi Anda bukan membuang waktu.
Berjalan santai tanpa membawa laptop bukan membuang waktu.
Semua itu dapat menjadi bagian dari sistem pemulihan energi yang memungkinkan Anda kembali bekerja dengan kondisi yang lebih baik.
Produktivitas jangka panjang membutuhkan keberlanjutan.
Jika sebuah pola kerja hanya bisa dipertahankan selama beberapa hari sebelum Anda benar-benar kelelahan, mungkin pola tersebut bukanlah sistem produktivitas yang baik.
Produktivitas yang sehat seharusnya memungkinkan Anda bekerja dengan baik hari ini tanpa menghancurkan kemampuan Anda untuk bekerja dengan baik besok.
Produktif Bukan Berarti Selalu Sibuk
Pada akhirnya, mengelola energi mengajarkan kita sebuah perubahan cara pandang.
Kita tidak selalu harus bertanya:
"Bagaimana saya bisa melakukan lebih banyak?"
Pertanyaan yang lebih berguna mungkin:
"Bagaimana saya bisa menggunakan energi saya untuk hal-hal yang paling penting?"
Perbedaan kedua pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar.
Jika fokus kita hanya pada jumlah pekerjaan, kita mungkin merasa harus terus bergerak.
Namun jika fokus kita pada energi, kita mulai mempertimbangkan kualitas perhatian, kondisi tubuh, kesehatan mental, dan kemampuan untuk mempertahankan performa dalam jangka panjang.
Kita mulai memahami bahwa tidak semua tugas memiliki nilai yang sama.
Tidak semua jam memiliki kualitas energi yang sama.
Tidak semua aktivitas membutuhkan tingkat konsentrasi yang sama.
Dan tidak semua bentuk kesibukan berarti produktif.
Karena itu, jika ingin mengelola energi dengan lebih baik, mulailah dari enam langkah sederhana:
Kenali kapan energi Anda berada pada titik terbaik.
Beristirahat sebelum benar-benar kelelahan.
Kurangi keputusan kecil yang tidak perlu.
Fokus pada satu pekerjaan penting dalam satu waktu.
Kelola emosi yang menghabiskan kapasitas perhatian.
Bangun sumber energi melalui tidur, aktivitas fisik, hubungan sosial, dan pemulihan.
Anda tidak perlu menerapkan semuanya sekaligus.
Pilih satu hal yang paling relevan dengan kondisi Anda sekarang.
Jika Anda sering kehilangan fokus, mulai dari mengurangi distraksi.
Jika Anda mudah kelelahan, mulai dari memperbaiki pola istirahat.
Jika Anda merasa hari-hari dipenuhi keputusan kecil, mulai membuat rutinitas.
Jika Anda sering bekerja ketika energi sudah rendah, mulai mengenali kapan waktu terbaik Anda untuk mengerjakan tugas penting.
Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih realistis daripada mencoba mengubah seluruh kehidupan dalam satu hari.
Pada akhirnya, produktivitas bukan perlombaan untuk menjadi orang yang paling sibuk.
Produktivitas adalah kemampuan menggunakan waktu, perhatian, dan energi secara bijaksana untuk hal-hal yang benar-benar penting.
Sebab tujuan bekerja bukan hanya menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022