seseorang yang scrolling gawai saat bosan. (Magnific)
JawaPos.com - Pernahkah Anda mengambil ponsel hanya karena sedang bosan? Awalnya mungkin hanya berniat melihat satu atau dua hal. Membuka media sosial, melihat video pendek, membaca komentar, kemudian berpindah ke aplikasi lain.
Tanpa terasa, sepuluh menit berlalu. Lalu tiga puluh menit. Bahkan kadang satu jam.
Yang menarik, setelah selesai scrolling, rasa bosan tidak selalu benar-benar hilang.
Sebaliknya, kita justru bisa merasa semakin lelah, sulit berkonsentrasi, atau bertanya-tanya, "Tadi sebenarnya saya mencari apa?"
Fenomena ini cukup umum dalam kehidupan digital. Ketika ada jeda kecil dalam aktivitas, tangan kita seolah otomatis mencari ponsel. Saat menunggu makanan, menunggu kendaraan, beristirahat dari pekerjaan, atau sekadar tidak tahu harus melakukan apa, scrolling menjadi pilihan yang paling mudah.
Masalahnya, mudah dilakukan tidak selalu berarti baik untuk kondisi psikologis kita.
Scrolling tanpa tujuan yang jelas memang dapat memberikan stimulasi dan hiburan sesaat. Namun, menjadikannya sebagai respons otomatis setiap kali merasa bosan dapat membuat kita kehilangan kesempatan untuk memahami apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Menurut perspektif psikologi, kebosanan bukan sekadar kondisi ketika "tidak ada kegiatan". Kebosanan dapat berkaitan dengan kebutuhan akan stimulasi, makna, keterlibatan, tantangan, atau perubahan aktivitas.
Karena itu, mengusir kebosanan dengan terus-menerus memberikan rangsangan baru kepada otak belum tentu menyelesaikan masalahnya.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (4/10), terdapat tujuh alasan mengapa scrolling tanpa alasan yang jelas bukanlah obat yang tepat untuk mengusir rasa bosan.
1. Scrolling hanya memberikan stimulasi, bukan selalu memenuhi kebutuhan yang sebenarnya
Ketika bosan, kita biasanya ingin merasakan sesuatu yang berbeda.
Kita ingin ada aktivitas. Ada informasi baru. Ada kejutan. Ada sesuatu yang menarik perhatian.
Ponsel dan media sosial sangat mudah memenuhi kebutuhan tersebut. Setiap swipe dapat menghadirkan sesuatu yang berbeda: video baru, foto baru, berita baru, komentar baru, atau topik yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang kita lihat sebelumnya.
Inilah yang membuat scrolling terasa menarik.
Namun, ada perbedaan antara mendapatkan stimulasi dan mendapatkan kepuasan psikologis.
Bayangkan seseorang merasa bosan setelah seharian melakukan rutinitas yang sama. Ia kemudian menghabiskan satu jam scrolling. Selama satu jam tersebut, otaknya memang menerima banyak informasi baru.
Tetapi setelah ponsel diletakkan, masalah awalnya mungkin masih ada.
Ia tetap merasa tidak melakukan sesuatu yang bermakna. Tetap merasa tidak produktif. Tetap merasa lelah. Atau bahkan semakin tidak puas dengan waktu yang telah digunakan.
Artinya, scrolling mungkin mengalihkan perhatian dari kebosanan, tetapi belum tentu menjawab kebutuhan yang menyebabkan kebosanan tersebut.
Jika yang sebenarnya kita butuhkan adalah istirahat, scrolling tanpa henti bukanlah istirahat yang berkualitas.
Jika kita membutuhkan interaksi sosial, melihat kehidupan orang lain di media sosial tidak selalu sama dengan benar-benar berbicara dengan seseorang.
Jika kita membutuhkan aktivitas yang menantang, menonton puluhan video pendek belum tentu memberikan rasa pencapaian.
Dengan kata lain, jangan hanya bertanya, "Apa yang bisa membuat saya tidak bosan?"
Cobalah bertanya:
"Sebenarnya, apa yang sedang saya butuhkan sekarang?"
Jawaban dari pertanyaan tersebut mungkin justru bukan ponsel.
2. Scrolling dapat membuat otak terbiasa mencari stimulasi yang sangat cepat
Salah satu karakteristik utama media digital modern adalah kecepatannya.
Kita tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan sesuatu yang baru.
Satu video tidak menarik? Swipe.
Tidak suka sebuah postingan? Lewati.
Bosankan membaca artikel? Buka aplikasi lain.
Tidak ada pesan masuk? Periksa media sosial.
Pola seperti ini membuat kita terbiasa dengan pergantian stimulus yang sangat cepat.
Padahal, banyak aktivitas dalam kehidupan nyata tidak bekerja seperti itu.
Membaca buku membutuhkan waktu.
Belajar sesuatu membutuhkan proses.
Berolahraga membutuhkan usaha.
Membangun hubungan membutuhkan percakapan dan kehadiran.
Mengerjakan proyek kreatif membutuhkan kesabaran.
Bahkan beristirahat dengan benar kadang membutuhkan kemampuan untuk menoleransi beberapa menit tanpa stimulasi.
Jika setiap kali muncul sedikit saja rasa bosan kita langsung mengambil ponsel, kita kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan menghadapi kebosanan.
Padahal, kemampuan untuk tetap tenang ketika tidak ada stimulasi menarik merupakan bagian penting dari pengaturan perhatian.
Kita tidak selalu harus menghilangkan rasa bosan secepat mungkin.
Kadang-kadang, kita perlu membiarkannya hadir sebentar.
Dari kondisi yang tenang itulah ide baru bisa muncul.
3. Scrolling dapat memperpendek toleransi kita terhadap rasa bosan
Bosan adalah pengalaman yang tidak nyaman.
Ketika bosan, kita ingin segera melakukan sesuatu untuk menghilangkannya.
Ponsel memberikan jalan keluar yang sangat cepat.
Masalahnya muncul ketika pola tersebut terus diulang.
Bosan → ambil ponsel.
Bosan sedikit → buka media sosial.
Menunggu dua menit → scrolling.
Tidak tahu harus melakukan apa → scrolling.
Sedang makan sendirian → scrolling.
Bangun tidur → scrolling.
Sebelum tidur → scrolling.
Lama-kelamaan, kita bisa semakin sulit membiarkan diri berada dalam kondisi tanpa stimulasi.
Sedikit rasa bosan terasa seperti sesuatu yang harus segera diperbaiki.
Padahal, kemampuan menoleransi kebosanan memiliki nilai penting.
Tidak semua momen kosong harus diisi.
Tidak semua keheningan membutuhkan musik.
Tidak semua waktu tunggu membutuhkan video.
Tidak semua perasaan tidak nyaman harus segera dialihkan.
Ada kalanya kita justru membutuhkan ruang mental.
Ketika tidak terus-menerus menerima stimulus dari luar, pikiran memiliki kesempatan untuk berjalan lebih bebas. Kita dapat memikirkan sesuatu yang selama ini tertunda, menyadari emosi yang muncul, atau sekadar beristirahat dari tuntutan perhatian.
Dengan kata lain, kebosanan tidak selalu merupakan musuh yang harus dikalahkan.
Terkadang, kebosanan adalah sinyal bahwa kita membutuhkan perubahan yang lebih bermakna.
4. Scrolling pasif dapat membuat kita merasa lebih lelah
Banyak orang menganggap scrolling sebagai bentuk istirahat.
"Capek kerja, jadi saya scrolling dulu."
Sekilas masuk akal.
Namun, ada perbedaan antara istirahat dan sekadar berhenti dari satu aktivitas sambil tetap memberikan beban kepada perhatian.
Saat scrolling, mata terus mengikuti informasi baru. Pikiran menilai apa yang menarik dan tidak menarik. Kita membaca teks, memahami gambar, menonton video, mendengarkan suara, kemudian berpindah ke stimulus berikutnya.
Aktivitas tersebut mungkin terasa ringan karena kita tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga fisik.
Tetapi secara mental, perhatian kita tetap bekerja.
Itulah sebabnya seseorang bisa menghabiskan waktu cukup lama di media sosial tetapi setelahnya tidak merasa benar-benar segar.
Bahkan, terkadang muncul perasaan:
"Kenapa saya malah semakin capek?"
Salah satu jawabannya adalah karena kita tidak benar-benar beristirahat.
Kita hanya berpindah dari satu bentuk stimulasi ke bentuk stimulasi lainnya.
Istirahat yang sesungguhnya dapat berbentuk banyak hal: tidur yang cukup, berjalan santai, berbicara dengan orang lain, melakukan aktivitas yang menyenangkan, menikmati lingkungan sekitar, atau sekadar duduk tanpa harus terus menerima informasi baru.
Jadi ketika Anda merasa lelah, jangan otomatis menyimpulkan bahwa Anda membutuhkan hiburan digital.
Mungkin Anda justru membutuhkan pengurangan stimulasi.
5. Scrolling tanpa tujuan dapat membuat waktu berlalu tanpa memberikan rasa pencapaian
Salah satu alasan scrolling terasa sulit dihentikan adalah karena setiap konten berikutnya menawarkan kemungkinan akan sesuatu yang menarik.
Kita tidak tahu apa yang muncul setelah swipe berikutnya.
Mungkin lucu.
Mungkin informatif.
Mungkin mengejutkan.
Mungkin sangat relevan dengan minat kita.
Karena itu, kita terus melanjutkan.
Masalahnya, aktivitas tersebut sering tidak memiliki titik akhir yang jelas.
Ketika membaca buku, ada halaman terakhir.
Ketika berolahraga, ada durasi tertentu.
Ketika memasak, ada makanan yang selesai dibuat.
Ketika menyelesaikan pekerjaan, ada hasil yang dapat dilihat.
Sementara itu, scrolling dapat berlangsung tanpa batas.
Lima menit dapat berubah menjadi tiga puluh menit tanpa adanya tanda yang mengatakan bahwa aktivitas tersebut sudah selesai.
Akibatnya, kita mungkin mendapatkan banyak stimulus tetapi sedikit rasa pencapaian.
Setelah itu muncul penyesalan:
"Saya tadi mau melakukan sesuatu, tetapi malah scrolling."
Perasaan tersebut kemudian dapat menambah ketidakpuasan.
Tentu saja, bukan berarti scrolling selalu buruk. Menggunakan media sosial secara sadar untuk hiburan, mencari informasi, berkomunikasi, atau mengikuti minat tertentu adalah hal yang berbeda.
Yang perlu diperhatikan adalah scrolling otomatis tanpa tujuan yang jelas.
Ketika kita sendiri tidak tahu mengapa membuka aplikasi tersebut tetapi tetap terus melakukannya, saat itulah kebiasaan tersebut layak diperiksa.
6. Scrolling dapat menjadi bentuk penghindaran terhadap pikiran dan perasaan yang tidak nyaman
Kadang-kadang kita mengatakan sedang bosan, padahal yang kita rasakan sebenarnya lebih kompleks.
Mungkin kita sedang gelisah.
Kesepian.
Tidak puas dengan rutinitas.
Merasa tidak memiliki arah.
Stres karena pekerjaan.
Tidak ingin memikirkan masalah tertentu.
Atau hanya sedang tidak nyaman dengan kesunyian.
Dalam kondisi seperti itu, scrolling dapat berfungsi sebagai pengalih perhatian.
Begitu membuka ponsel, perhatian kita berpindah dari pikiran internal menuju stimulus eksternal.
Untuk sementara, kita tidak perlu memikirkan hal yang membuat tidak nyaman.
Itulah mengapa scrolling bisa terasa sangat membantu dalam jangka pendek.
Namun, jika setiap ketidaknyamanan selalu dialihkan dengan ponsel, kita mungkin tidak pernah benar-benar memahami apa yang sedang terjadi dalam diri sendiri.
Contohnya sederhana.
Seseorang pulang kerja dalam keadaan frustrasi. Ia merasa hidupnya monoton dan tidak puas dengan pekerjaannya. Tetapi alih-alih mengakui perasaan tersebut, ia langsung membuka media sosial selama dua jam.
Selama dua jam, ia memang tidak memikirkan pekerjaannya.
Tetapi setelah ponsel ditutup, masalahnya tetap ada.
Dalam situasi seperti ini, solusi yang lebih tepat mungkin bukan mencari lebih banyak konten, melainkan memberikan ruang untuk bertanya:
"Kenapa saya merasa seperti ini?"
"Apa yang sebenarnya membuat saya tidak puas?"
"Apakah saya membutuhkan istirahat, perubahan, percakapan, atau sesuatu yang lain?"
Kemampuan untuk mengenali kebutuhan psikologis jauh lebih bermanfaat daripada sekadar terus mengalihkan perhatian.
7. Kebosanan sebenarnya bisa menjadi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang lebih bermakna
Mungkin ini alasan yang paling penting.
Kita sering melihat kebosanan sebagai kondisi negatif.
Padahal, kebosanan juga dapat menjadi sinyal.
Sinyal bahwa rutinitas kita terlalu monoton.
Sinyal bahwa kita membutuhkan tantangan baru.
Sinyal bahwa kita membutuhkan interaksi sosial.
Sinyal bahwa aktivitas yang sedang dilakukan tidak lagi memberikan kepuasan.
Bahkan, kebosanan dapat menjadi titik awal munculnya kreativitas.
Ketika tidak terus-menerus dijejali informasi, pikiran memiliki kesempatan untuk membuat koneksi baru.
Karena itu, ketika rasa bosan muncul, kita tidak harus selalu membunuhnya dengan scrolling.
Kita bisa mencoba sesuatu yang sederhana.
Berjalan tanpa membawa ponsel.
Membaca beberapa halaman buku.
Merapikan kamar.
Menulis jurnal.
Menggambar.
Memasak.
Berolahraga.
Mendengarkan musik secara sadar.
Berbicara dengan teman.
Mempelajari sesuatu yang selama ini membuat penasaran.
Atau bahkan hanya duduk dan membiarkan pikiran beristirahat.
Aktivitas-aktivitas tersebut tidak selalu lebih "menyenangkan" daripada scrolling pada menit pertama.
Namun, beberapa di antaranya dapat memberikan sesuatu yang lebih penting: rasa terlibat, pencapaian, koneksi, atau makna.
Jadi, Apa yang Sebaiknya Dilakukan Saat Bosan?
Tidak perlu langsung menghapus semua aplikasi media sosial.
Masalahnya bukan semata-mata pada ponsel.
Masalah utamanya adalah ketika scrolling menjadi respons otomatis terhadap setiap rasa bosan.
Salah satu cara sederhana untuk mengubah kebiasaan tersebut adalah menggunakan jeda beberapa detik sebelum membuka ponsel.
Ketika tangan mulai ingin mengambil ponsel, tanyakan:
"Saya membuka ponsel karena memang membutuhkan sesuatu, atau karena sedang tidak nyaman dengan rasa bosan?"
Jika memang ada tujuan yang jelas, silakan gunakan.
Tetapi jika jawabannya adalah "tidak tahu", cobalah menunggu beberapa menit.
Biarkan rasa bosan itu ada.
Perhatikan apa yang muncul.
Mungkin setelah beberapa menit Anda menyadari bahwa sebenarnya Anda ingin tidur.
Mungkin Anda ingin berbicara dengan seseorang.
Mungkin Anda membutuhkan udara segar.
Mungkin Anda ingin menyelesaikan sesuatu yang tertunda.
Atau mungkin Anda memang hanya membutuhkan waktu tenang.
Kuncinya bukan menghindari teknologi, melainkan menggunakan teknologi secara sadar.
Jangan Takut dengan Sedikit Rasa Bosan
Di tengah kehidupan yang penuh notifikasi, video pendek, pesan, berita, dan berbagai bentuk hiburan digital, kemampuan untuk merasa bosan tanpa langsung mencari stimulasi mungkin justru menjadi keterampilan yang semakin berharga.
Kita tidak harus mengisi setiap detik kosong.
Tidak harus selalu produktif.
Tidak harus selalu terhibur.
Dan tidak harus selalu mencari sesuatu untuk dilihat.
Sesekali, tidak melakukan apa-apa juga memiliki fungsi.
Sebab ketika kita berhenti mengejar stimulus, kita bisa mulai mendengar apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri.
Jadi, lain kali ketika Anda merasa bosan dan tangan secara otomatis ingin membuka media sosial, cobalah berhenti sejenak.
Tanyakan kepada diri sendiri:
"Apakah saya benar-benar membutuhkan scrolling, atau saya hanya sedang berusaha menghindari rasa bosan?"
Pertanyaan sederhana itu mungkin tidak langsung mengubah kebiasaan.
Tetapi dari sanalah kesadaran bisa dimulai.
Karena pada akhirnya, tujuan hidup bukanlah membuat setiap detik terasa menarik.
Kita juga perlu belajar merasa nyaman ketika hidup sedang biasa-biasa saja.
Dan mungkin, justru dari momen yang terasa membosankan itulah kita menemukan ide, ketenangan, kreativitas, atau arah baru yang selama ini tertutup oleh terlalu banyak distraksi.***