Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Oktober 2026 | 20.28 WIB

7 Alasan Mengapa Memaafkan dengan Ikhlas Itu Terasa Begitu Sulit Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang sulit memaafkan dengan ikhlas. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Memaafkan sering kali terdengar sederhana. Seseorang menyakiti kita, lalu kita diminta untuk memaafkannya. Kita mungkin bahkan sudah tahu bahwa terus menyimpan kemarahan tidak baik untuk diri sendiri.
 
Kita juga mungkin memahami bahwa masa lalu tidak bisa diubah dan hidup harus terus berjalan.

Namun, ketika benar-benar mengalaminya, memaafkan ternyata tidak semudah mengucapkan, “Aku sudah memaafkanmu.”

Ada luka yang membutuhkan waktu sangat lama untuk pulih. Ada pengkhianatan yang membuat kita sulit percaya kembali. Ada kata-kata yang terus terngiang meskipun peristiwanya sudah bertahun-tahun berlalu. Bahkan, ada kalanya kita ingin memaafkan seseorang, tetapi hati seperti belum mampu melepaskan rasa kecewa dan marah yang tersisa.

Dalam psikologi, kesulitan memaafkan bukan berarti seseorang memiliki hati yang buruk atau sengaja ingin hidup dalam kebencian. Respons tersebut dapat berkaitan dengan bagaimana otak memproses ancaman, ingatan emosional, rasa keadilan, harga diri, dan kebutuhan manusia untuk melindungi diri dari luka yang sama.

Yang juga penting dipahami, memaafkan tidak selalu berarti membenarkan kesalahan, melupakan kejadian, atau kembali mempercayai orang yang telah menyakiti kita. Memaafkan dapat menjadi proses pribadi untuk mengurangi keterikatan emosional terhadap luka, tanpa harus menghapus pelajaran yang diperoleh dari pengalaman tersebut.

Lalu, mengapa memaafkan dengan ikhlas bisa terasa begitu sulit?

Dilansir dari Psychology Today oada Minggu (4/10), terdapat tujuh alasannya.

1. Otak Kita Cenderung Mengingat Hal yang Menyakitkan

Pernahkah Anda mengalami sesuatu yang menyenangkan sepanjang hari, tetapi satu komentar negatif dari seseorang justru terus terbayang sampai malam?

Hal tersebut berkaitan dengan kecenderungan psikologis yang dikenal sebagai negativity bias. Secara sederhana, manusia cenderung memberikan perhatian lebih besar terhadap pengalaman negatif dibandingkan pengalaman positif dengan intensitas yang sama.

Dari sudut pandang evolusi, kecenderungan ini masuk akal. Otak manusia perlu memperhatikan ancaman agar kita dapat bertahan hidup. Jika seseorang pernah menyakiti kita, pengalaman tersebut dapat menjadi semacam "peringatan" yang membuat kita lebih waspada di masa depan.

Karena itu, ketika seseorang berkata, “Sudahlah, lupakan saja,” masalahnya adalah otak tidak memiliki tombol untuk menghapus kenangan berdasarkan perintah.

Kita mungkin secara sadar ingin melupakan, tetapi ingatan emosional tetap muncul.

Sebuah pengkhianatan, misalnya, bukan hanya tersimpan sebagai fakta bahwa seseorang melakukan kesalahan. Pengalaman tersebut bisa terhubung dengan emosi seperti malu, marah, takut, kecewa, atau merasa tidak berharga.

Inilah salah satu alasan mengapa memaafkan sering membutuhkan waktu.

Kita tidak hanya sedang mencoba melepaskan sebuah kejadian. Kita sedang berhadapan dengan jaringan kenangan dan emosi yang sudah terbentuk di dalam diri.

Ketika ingatan terus muncul

Kadang-kadang seseorang merasa dirinya gagal memaafkan karena masih mengingat kejadian tersebut.

Padahal, mengingat tidak selalu berarti belum memaafkan.

Seseorang dapat mengingat apa yang terjadi tanpa lagi membiarkan peristiwa tersebut mengendalikan hidupnya. Tujuan dari proses memaafkan bukan selalu membuat kenangan menghilang, melainkan mengurangi kekuatan emosional yang dimiliki kenangan tersebut atas diri kita.

Dengan kata lain, kita mungkin masih mengingat lukanya, tetapi luka tersebut tidak lagi menentukan bagaimana kita menjalani kehidupan.

2. Rasa Tidak Adil Membuat Kita Sulit Melepaskan Kemarahan

Ada jenis luka yang sangat sulit dimaafkan bukan karena kita masih mencintai orang yang menyakiti kita, melainkan karena kita merasa ketidakadilan telah terjadi.

Misalnya:

Seseorang telah berbuat tidak jujur kepada kita.

Dia tidak meminta maaf.

Dia tidak merasa bersalah.

Bahkan, dia mungkin melanjutkan hidup seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Sementara itu, kita yang harus menanggung akibatnya.

Situasi seperti ini dapat menimbulkan pertanyaan:

"Mengapa dia bisa hidup tenang setelah melakukan itu kepadaku?"

"Mengapa aku yang harus menanggung akibat dari kesalahannya?"

"Apakah kalau aku memaafkan berarti dia lolos begitu saja?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat manusiawi.

Dalam psikologi, rasa keadilan merupakan salah satu kebutuhan penting dalam kehidupan sosial. Ketika kita merasa diperlakukan secara tidak adil, kemarahan dapat muncul sebagai respons untuk mempertahankan batas dan menunjukkan bahwa sesuatu yang salah telah terjadi.

Karena itu, bagi sebagian orang, kemarahan terasa seperti satu-satunya bentuk keadilan yang masih mereka miliki.

Selama pelaku belum meminta maaf atau menerima konsekuensi, kita mungkin merasa bahwa melepaskan kemarahan berarti membiarkan ketidakadilan tersebut menang.

Padahal, memaafkan tidak harus berarti membebaskan seseorang dari konsekuensi.

Kita tetap dapat mengatakan:

“Apa yang kamu lakukan salah.”

“Aku tidak menerima perlakuan itu.”

“Aku memilih menjauh darimu.”

Dan pada saat yang sama:

“Aku tidak ingin hidupku selamanya dikendalikan oleh apa yang kamu lakukan.”

Di sinilah memaafkan dapat menjadi bentuk pelepasan, bukan pembenaran.

3. Memaafkan Bisa Terasa Seperti Mengkhianati Diri Sendiri

Ini merupakan salah satu alasan yang sering tidak disadari.

Ketika seseorang telah diperlakukan dengan buruk, kemarahan terkadang menjadi simbol bahwa kita masih menghargai diri sendiri.

Misalnya seseorang telah merendahkan, mengkhianati, atau mempermalukan kita.

Jika kemudian kita memaafkannya, muncul kekhawatiran:

"Apakah aku berarti terlalu mudah memaklumi?"

"Apakah aku sedang membiarkan diriku diperlakukan seperti itu lagi?"

"Bukankah aku harus marah supaya orang tersebut tahu bahwa tindakannya salah?"

Perasaan seperti ini dapat membuat seseorang menolak proses memaafkan.

Sebenarnya, terdapat perbedaan besar antara memaafkan dan membiarkan seseorang kembali menyakiti kita.

Memaafkan tidak mengharuskan kita menghapus batasan.

Kita dapat memaafkan seseorang sekaligus memutuskan untuk tidak lagi memberikan akses yang sama kepada orang tersebut.

Kita juga dapat memaafkan seseorang tanpa mempercayainya kembali.

Bahkan, dalam beberapa situasi, bentuk perlindungan diri yang sehat justru adalah menjaga jarak.

Karena itu, memaafkan seharusnya tidak dipahami sebagai:

“Apa yang kamu lakukan tidak masalah.”

Melainkan bisa berarti:

“Apa yang kamu lakukan memang menyakitiku, tetapi aku tidak ingin rasa sakit itu terus menentukan hidupku.”

Perbedaan ini sangat penting.

Memaafkan bukan berarti mengorbankan harga diri.

4. Kita Sering Mengira Memaafkan Berarti Harus Melupakan

Banyak orang memiliki gambaran bahwa seseorang yang benar-benar sudah memaafkan seharusnya tidak lagi merasa marah, tidak lagi sedih, dan tidak lagi mengingat kejadian tersebut.

Akibatnya, ketika emosi lama muncul kembali, kita berpikir:

"Berarti aku belum memaafkan."

Padahal proses psikologis manusia tidak bekerja sesederhana itu.

Memaafkan bukan tombol yang bisa ditekan sekali lalu semuanya selesai.

Prosesnya bisa naik turun.

Hari ini kita mungkin merasa sudah berdamai dengan masa lalu. Besok, sebuah lagu, tempat, percakapan, atau bahkan aroma tertentu dapat mengingatkan kita pada kejadian tersebut dan memunculkan emosi lama.

Itu tidak otomatis berarti kita kembali ke titik awal.

Pemulihan emosional sering berlangsung secara bertahap.

Kita bisa mengalami kemarahan, kemudian menerima, lalu kembali sedih, kemudian merasa tenang lagi.

Karena itu, salah satu kesalahan terbesar dalam memahami pengampunan adalah menganggap bahwa memaafkan harus identik dengan melupakan.

Padahal, seseorang bisa mengingat tanpa terus terluka.

Kita bisa mengetahui bahwa sesuatu pernah terjadi tanpa terus hidup di dalam kejadian tersebut.

Justru terkadang, bentuk kedamaian yang lebih realistis bukanlah:

"Aku sudah lupa."

Melainkan:

"Aku masih ingat, tetapi sekarang aku tidak lagi harus membawa rasa sakit itu ke mana-mana."

5. Luka yang Berhubungan dengan Pengkhianatan Bisa Mengguncang Rasa Percaya

Ada luka yang terasa jauh lebih dalam daripada sekadar perkataan kasar atau kesalahan kecil.

Salah satunya adalah pengkhianatan.

Ketika seseorang yang kita percaya justru menyakiti kita, yang rusak bukan hanya perasaan terhadap orang tersebut.

Pandangan kita terhadap dunia juga bisa berubah.

Kita mungkin mulai berpikir:

"Kalau orang yang paling dekat denganku saja bisa melakukan itu, siapa yang bisa dipercaya?"

Pengkhianatan dapat membuat seseorang menjadi lebih waspada dalam hubungan berikutnya.

Mereka mungkin sulit membuka diri.

Mereka memeriksa pesan berulang kali.

Mereka mudah curiga.

Mereka mencari tanda-tanda bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama.

Dalam kondisi seperti ini, memaafkan menjadi sulit karena otak sedang berusaha melindungi kita dari kemungkinan terluka kembali.

Secara psikologis, ada logika tertentu di balik sikap tersebut:

“Kalau aku tidak mempercayai siapa pun, aku tidak akan mudah disakiti lagi.”

Masalahnya, mekanisme perlindungan yang awalnya membantu dapat berubah menjadi beban jika berlangsung terlalu lama.

Kita akhirnya bukan hanya menjauh dari orang yang pernah menyakiti kita, tetapi juga dari orang-orang yang sebenarnya tidak melakukan kesalahan apa pun.

Karena itu, proses memaafkan dalam kasus pengkhianatan sering kali berkaitan dengan membangun kembali rasa aman di dalam diri.

Bukan dengan memaksa diri untuk percaya lagi kepada pelaku.

Melainkan dengan belajar bahwa:

“Aku mungkin pernah disakiti, tetapi sekarang aku memiliki kemampuan untuk mengenali batas, memilih hubungan yang sehat, dan melindungi diriku sendiri.”

Rasa aman seperti ini dapat membuat seseorang perlahan tidak lagi membutuhkan kemarahan sebagai mekanisme perlindungan.

6. Ego dan Harga Diri Membuat Kita Sulit Mengakui Bahwa Kita Terluka

Ada kalanya kita tidak ingin mengakui betapa dalamnya luka yang kita rasakan.

Kita mungkin berkata:

"Aku tidak peduli."

"Aku sudah biasa."

"Aku tidak butuh siapa-siapa."

Padahal di dalam hati, kita masih sangat terluka.

Mengapa?

Karena mengakui bahwa seseorang telah menyakiti kita terkadang membuat kita merasa rentan.

Kita merasa seolah-olah memberikan kekuasaan kepada orang tersebut.

Terutama jika kita memiliki gambaran tentang diri sendiri sebagai orang yang kuat, mandiri, atau tidak mudah dipengaruhi.

Memaafkan justru dapat mengharuskan kita melakukan sesuatu yang tidak nyaman:

mengakui bahwa kita terluka.

Kita perlu mengatakan kepada diri sendiri:

"Ya, itu menyakitkan."

"Aku kecewa."

"Aku merasa dikhianati."

"Aku berharap hal itu tidak pernah terjadi."

Pengakuan semacam ini bukan tanda kelemahan.

Sebaliknya, mengenali emosi merupakan bagian penting dari pemrosesan pengalaman emosional.

Kita tidak dapat benar-benar melepaskan sesuatu yang bahkan tidak mau kita akui keberadaannya.

Karena itu, terkadang langkah pertama menuju pengampunan bukan mengatakan “Aku memaafkanmu,” melainkan mengatakan:

“Aku mengakui bahwa aku terluka.”

Dari sana, seseorang baru dapat mulai memahami apa yang sebenarnya ia butuhkan.

7. Kita Sering Memaksa Diri Memaafkan Sebelum Benar-Benar Siap

Ada tekanan sosial yang sangat kuat untuk segera memaafkan.

Kita sering mendengar:

"Jangan menyimpan dendam."

"Harus belajar ikhlas."

"Memaafkan itu lebih baik."

"Kalau kamu belum memaafkan, berarti kamu masih terikat dengan masa lalu."

Nasihat tersebut mungkin memiliki niat baik.

Namun, jika diberikan pada waktu yang tidak tepat, justru dapat membuat seseorang merasa bersalah karena masih terluka.

Padahal, setiap orang memiliki waktu pemulihan yang berbeda.

Luka kecil mungkin membutuhkan waktu beberapa hari.

Luka akibat hubungan yang berlangsung bertahun-tahun bisa membutuhkan waktu jauh lebih lama.

Sementara trauma akibat pengalaman yang sangat berat mungkin membutuhkan bantuan profesional untuk diproses secara aman.

Karena itu, memaksa diri untuk segera berkata “Aku sudah ikhlas” terkadang hanya membuat emosi ditekan, bukan diselesaikan.

Ada perbedaan antara menerima bahwa sesuatu telah terjadi dan sudah tidak memiliki emosi apa pun terhadapnya.

Kita mungkin belum sepenuhnya tenang, tetapi sudah mulai menerima kenyataan.

Kita mungkin masih kecewa, tetapi tidak lagi ingin membalas.

Kita mungkin masih mengingat, tetapi tidak lagi ingin kembali ke hubungan tersebut.

Semua itu dapat menjadi bagian dari proses.

Memaafkan tidak harus dilakukan dalam satu hari.

Bahkan, dalam banyak situasi, pengampunan yang sehat lebih mirip perjalanan daripada keputusan sekali jadi.

Jadi, Apa Sebenarnya Arti Memaafkan?

Memaafkan sering disalahpahami sebagai kewajiban untuk berdamai dengan orang yang telah menyakiti kita.

Padahal, pengampunan dapat memiliki makna yang jauh lebih pribadi.

Memaafkan dapat berarti mengurangi keinginan untuk terus membalas.

Memaafkan dapat berarti berhenti mengulang percakapan yang sama di kepala.

Memaafkan dapat berarti menerima bahwa masa lalu tidak dapat diubah.

Memaafkan dapat berarti tidak lagi memberikan seluruh energi emosional kepada seseorang yang bahkan mungkin sudah tidak memikirkan kejadian tersebut.

Dan yang paling penting, memaafkan tidak selalu berarti kembali dekat.

Kita bisa memaafkan seseorang dan tetap menjaga jarak.

Kita bisa memaafkan seseorang tanpa memberikan kepercayaan yang sama.

Kita bisa memaafkan tanpa mengatakan bahwa tindakannya benar.

Kita juga bisa memilih tidak berhubungan lagi dengannya.

Pengampunan dan rekonsiliasi adalah dua hal yang berbeda.

Rekonsiliasi membutuhkan dua pihak.

Pengampunan dapat menjadi proses internal yang dilakukan oleh satu orang.

Bagaimana Jika Kita Belum Bisa Memaafkan?

Jika saat ini Anda belum bisa memaafkan seseorang, mungkin Anda tidak perlu memaksa diri untuk langsung sampai pada tahap “aku ikhlas.”

Cobalah mulai dari pertanyaan yang lebih sederhana:

Apa sebenarnya yang paling menyakitiku dari kejadian ini?

Apakah karena pengkhianatannya?

Karena merasa tidak dihargai?

Karena permintaan maaf tidak pernah datang?

Karena hubungan tersebut berakhir?

Karena Anda merasa kehilangan bagian dari diri sendiri?

Atau karena kejadian tersebut mengubah cara Anda melihat diri sendiri?

Memahami luka sering kali lebih penting daripada terburu-buru menghapusnya.

Kemudian, Anda dapat bertanya:

“Apa yang masih ingin aku pertahankan dari kejadian ini?”

Mungkin jawabannya adalah pelajaran.

Mungkin batasan yang lebih sehat.

Mungkin kemampuan mengenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat.

Mungkin keberanian untuk mengatakan tidak.

Dengan cara ini, pengalaman buruk tidak harus menjadi sesuatu yang sia-sia.

Kita tidak dapat mengubah apa yang sudah terjadi.

Namun, kita masih memiliki pilihan mengenai apa yang akan kita lakukan dengan pengalaman tersebut.

Pada Akhirnya, Memaafkan Bukan Tentang Membebaskan Orang Lain

Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Kita sering mengira bahwa ketika memaafkan seseorang, kita sedang melakukan sesuatu untuk orang yang bersalah.

Padahal, dalam banyak kasus, pengampunan justru lebih berkaitan dengan membebaskan diri sendiri dari keterikatan terhadap luka.

Selama kita terus memikirkan:

"Mengapa dia melakukan itu?"

"Seharusnya dia meminta maaf."

"Aku ingin dia merasakan sakit yang sama."

"Aku ingin dia sadar betapa buruk perlakuannya."

secara emosional, sebagian perhatian kita masih tertambat pada orang tersebut.

Memaafkan tidak berarti mengatakan bahwa semua itu tidak penting.

Justru sebaliknya.

Kita mengakui bahwa itu penting, bahwa kita memang terluka, bahwa apa yang terjadi memang salah, tetapi kita akhirnya memilih untuk tidak menjadikan kesalahan orang lain sebagai pusat kehidupan kita selamanya.

Mungkin kita tidak bisa mengubah masa lalu.

Mungkin kita tidak akan pernah mendapatkan permintaan maaf yang kita harapkan.

Mungkin orang yang menyakiti kita tidak pernah benar-benar memahami betapa dalam dampaknya.

Namun, perlahan kita dapat sampai pada sebuah kesadaran:

“Aku tidak bisa mengubah apa yang telah kamu lakukan kepadaku. Tetapi aku masih bisa menentukan apa yang akan kulakukan terhadap hidupku setelah itu.”

Dan mungkin, di situlah makna ikhlas mulai tumbuh.

Bukan ketika semua rasa sakit tiba-tiba hilang.

Bukan ketika kita melupakan semuanya.

Bukan ketika kita kembali mempercayai orang yang sama.

Tetapi ketika masa lalu masih menjadi bagian dari cerita hidup kita, tanpa lagi menjadi orang yang menentukan bagaimana cerita itu berlanjut.

Memaafkan bukan selalu tentang mengatakan, “Aku tidak apa-apa dengan apa yang kamu lakukan.”

Kadang-kadang, memaafkan adalah mengatakan:

“Apa yang kamu lakukan memang menyakitiku. Aku tidak membenarkannya. Aku tidak harus kembali kepadamu. Tetapi aku memilih untuk tidak membawa luka ini selamanya.”

Dan keputusan itu, pada akhirnya, bukan hadiah untuk orang yang pernah menyakiti kita.

Itu adalah bentuk kasih kepada diri sendiri.***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore