Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Oktober 2026 | 04.20 WIB

7 Strategi Membuat Orang Lain Terbuka dan Mau Berbagi Cerita Pribadi Menurut Psikologi

seseorang yang membuat orang lain terbuka. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Pernahkah kamu berbicara dengan seseorang yang sebenarnya ingin kamu kenal lebih dekat, tetapi setiap kali diajak bicara, jawabannya selalu singkat?


“Kabarnya gimana?”

“Baik.”

“Kerjaan?”

“Ya, biasa.”

“Lagi ada masalah?”

“Enggak kok.”

Percakapan pun berhenti.

Di sisi lain, mungkin kamu pernah mengalami hal yang berbeda. Baru berbicara beberapa menit dengan seseorang, tiba-tiba dia menceritakan pengalaman masa kecilnya, hubungan yang pernah gagal, kekhawatiran yang selama ini dipendam, atau sesuatu yang bahkan jarang dia ceritakan kepada orang lain.

Apa yang membuat perbedaan itu terjadi?

Sering kali bukan karena orang tersebut lebih banyak memiliki cerita. Perbedaannya adalah seberapa aman dia merasa ketika sedang berbicara dengan kita.

Dalam psikologi sosial, keterbukaan diri atau self-disclosure merupakan bagian penting dalam membangun kedekatan interpersonal. Namun, keterbukaan bukan sesuatu yang bisa dipaksa. Seseorang akan lebih mungkin bercerita ketika ia merasa dipercaya, dihargai, tidak dihakimi, dan memiliki kendali atas apa yang ingin ia bagikan.

Karena itu, jika kamu ingin membuat orang lain lebih terbuka, tujuan utamanya bukan mencari “trik” untuk mengorek rahasia.

Tujuannya adalah menciptakan suasana percakapan yang membuat orang merasa aman untuk memilih terbuka.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (3/10), terdapat tujuh strategi yang bisa membantu.

1. Jangan Terlalu Cepat Menghakimi

Salah satu alasan terbesar seseorang menahan cerita pribadi adalah ketakutan terhadap penilaian.

Bayangkan seseorang sedang menceritakan bahwa ia melakukan kesalahan dalam hubungan, pekerjaan, keluarga, atau keputusan hidupnya.

Belum selesai bercerita, kita langsung mengatakan:

“Kok kamu bisa melakukan itu?”

“Kalau aku jadi kamu, aku nggak akan pernah melakukan itu.”

“Ya, itu salah kamu sendiri.”

Mungkin niat kita sebenarnya ingin membantu.

Namun, bagi orang yang sedang membuka diri, respons seperti itu dapat terasa sebagai sinyal bahwa percakapan tersebut tidak aman.

Akhirnya, dia belajar satu hal:

“Kalau aku bercerita kepada orang ini, aku akan dinilai.”

Dan pada percakapan berikutnya, kemungkinan besar dia akan lebih berhati-hati.

Sebaliknya, cobalah memisahkan antara mendengarkan dan menilai.

Ketika seseorang bercerita, kamu tidak harus langsung menyetujui semua tindakannya. Kamu juga tidak harus mengatakan bahwa semua yang dia lakukan benar.

Cukup tunjukkan bahwa kamu bersedia memahami sudut pandangnya.

Misalnya:

“Aku bisa mengerti kenapa waktu itu kamu merasa seperti itu.”

Atau:

“Kedengarannya situasinya memang cukup berat buat kamu.”

Kalimat seperti ini tidak berarti kamu membenarkan semua keputusan orang tersebut.

Kamu hanya menunjukkan:

“Aku sedang mencoba memahami ceritamu sebelum mengambil kesimpulan.”

Itulah yang membuat percakapan terasa lebih aman.

2. Ajukan Pertanyaan Terbuka, Bukan Pertanyaan yang Bisa Dijawab dengan “Iya” atau “Tidak”

Jika ingin percakapan berkembang, kualitas pertanyaan sangat penting.

Bandingkan dua pertanyaan berikut:

“Kamu baik-baik saja?”

Dengan:

“Akhir-akhir ini, apa yang paling banyak memenuhi pikiranmu?”

Pertanyaan pertama dapat dijawab dengan satu kata.

Pertanyaan kedua memberikan ruang untuk bercerita.

Pertanyaan terbuka tidak memaksa seseorang untuk mengungkapkan sesuatu. Ia hanya memberikan kesempatan yang lebih luas.

Beberapa contoh:

Daripada:

“Kamu suka pekerjaanmu?”

Coba:

“Bagian mana dari pekerjaanmu yang paling kamu nikmati?”

Daripada:

“Kamu pernah kecewa?”

Coba:

“Apa pengalaman yang paling mengubah cara pandangmu tentang orang lain?”

Daripada:

“Kamu sedang punya masalah?”

Coba:

“Ada sesuatu yang belakangan ini cukup mengganggu pikiranmu?”

Perhatikan perbedaannya.

Pertanyaan terbuka seperti pintu yang dibiarkan terbuka. Orang lain tetap memiliki pilihan apakah ingin masuk atau tidak.

Dan justru karena tidak merasa dipaksa, dia mungkin lebih nyaman untuk bercerita.

3. Jangan Takut dengan Jeda dalam Percakapan

Ini adalah salah satu hal yang sering diremehkan.

Ketika seseorang mulai menceritakan sesuatu yang pribadi, terkadang dia berhenti.

Lalu kita merasa harus segera mengisi keheningan.

“Terus?”

“Kenapa?”

“Lalu kamu gimana?”

“Terus apa yang terjadi?”

Pertanyaan bertubi-tubi dapat membuat percakapan terasa seperti interogasi.

Padahal, jeda mungkin justru merupakan bagian penting dari proses seseorang menyusun pikirannya.

Ketika seseorang berhenti berbicara, berikan sedikit ruang.

Kamu bisa tetap menunjukkan perhatian melalui bahasa tubuh sederhana:

mempertahankan kontak mata secara wajar,
mengangguk,
tidak memainkan ponsel,
membiarkan dia menyelesaikan kalimat,
dan tidak buru-buru mengganti topik.

Kadang-kadang setelah beberapa detik diam, orang tersebut justru melanjutkan:

“Sebenarnya ada satu hal lagi…”

Dan bagian setelah kalimat itulah yang mungkin paling personal.

Bukan karena kamu berhasil memancingnya.

Melainkan karena kamu memberinya ruang untuk memilih melanjutkan.

4. Bagikan Sedikit Cerita tentang Dirimu Juga

Keterbukaan sering kali bersifat timbal balik.

Jika kamu terus-menerus bertanya:

“Kamu takut apa?”

“Apa masalah terbesarmu?”

“Bagaimana hubunganmu dengan keluargamu?”

sementara kamu sendiri tidak pernah berbagi apa pun, percakapan bisa terasa tidak seimbang.

Orang lain mungkin merasa sedang diwawancarai.

Salah satu cara membuat percakapan lebih natural adalah menunjukkan sedikit kerentanan dari dirimu sendiri.

Misalnya:

“Aku juga pernah mengalami masa ketika aku merasa nggak tahu harus mengambil keputusan apa.”

Lalu berhenti di sana.

Tidak perlu langsung menceritakan seluruh kisah hidupmu.

Tujuannya bukan membuat orang merasa berutang cerita.

Tujuannya adalah menunjukkan bahwa percakapan ini merupakan ruang dua arah.

Dalam hubungan interpersonal, ketika seseorang melihat bahwa lawan bicaranya juga bersedia menunjukkan sisi manusiawinya, percakapan dapat terasa lebih setara.

Namun ada satu catatan penting:

Jangan menjadikan keterbukaanmu sebagai alat untuk memaksa keterbukaan orang lain.

Hindari pola seperti:

“Aku sudah cerita semuanya tentang aku. Sekarang kamu juga harus cerita.”

Keterbukaan bukan transaksi.

Seseorang tetap berhak menentukan batas pribadinya.

5. Dengarkan untuk Memahami, Bukan untuk Menunggu Giliran Bicara

Banyak orang terlihat seperti sedang mendengarkan, padahal sebenarnya sedang mempersiapkan jawaban.

Seseorang berkata:

“Aku akhir-akhir ini merasa capek banget.”

Kita langsung menjawab:

“Aku juga. Minggu lalu aku bahkan…”

Akhirnya cerita berpindah kepada kita.

Padahal mungkin dia belum selesai.

Mendengarkan secara aktif berarti berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang disampaikan seseorang.

Tidak hanya kata-katanya, tetapi juga emosi dan konteks di baliknya.

Misalnya:

“Jadi, yang paling membuat kamu berat bukan pekerjaannya, tetapi perasaan bahwa usaha kamu nggak dihargai?”

Respons seperti ini menunjukkan bahwa kamu benar-benar mengikuti ceritanya.

Jika pemahamanmu salah, orang tersebut juga bisa mengoreksi:

“Bukan begitu. Sebenarnya…”

Dan percakapan pun berkembang.

Ini jauh lebih efektif daripada terus menembakkan pertanyaan.

Kadang-kadang orang tidak membutuhkan nasihat.

Mereka hanya membutuhkan seseorang yang benar-benar mendengarkan.

6. Validasi Perasaan Tanpa Harus Membenarkan Semua Tindakan

Ada perbedaan besar antara mengatakan:

“Perasaanmu masuk akal.”

dan:

“Semua yang kamu lakukan benar.”

Keduanya bukan hal yang sama.

Misalnya seseorang berkata:

“Aku marah banget sama temanku sampai aku ingin membalasnya.”

Kamu bisa mengatakan:

“Aku bisa memahami kenapa kamu marah setelah mengalami itu.”

Tanpa harus mengatakan:

“Kamu benar. Balas saja.”

Validasi berarti mengakui bahwa emosi seseorang memiliki konteks.

Manusia ingin merasa bahwa emosinya dipahami.

Ketika seseorang merasa emosinya tidak langsung ditolak, ia biasanya lebih mudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Misalnya:

“Aku sebenarnya bukan cuma marah. Aku kecewa karena merasa dia nggak menghargai aku.”

Nah, dari sini percakapan bergerak lebih dalam.

Sering kali emosi pertama yang muncul hanyalah lapisan paling luar.

Di balik kemarahan bisa terdapat kekecewaan.

Di balik sikap acuh bisa terdapat rasa takut.

Di balik kesal bisa terdapat rasa terluka.

Orang mungkin baru bisa mengartikulasikan lapisan tersebut ketika dia merasa cukup aman untuk berbicara.

7. Jaga Cerita yang Dipercayakan Kepadamu

Ini mungkin strategi yang paling penting.

Bayangkan seseorang akhirnya memberanikan diri menceritakan sesuatu yang sangat pribadi.

Beberapa hari kemudian, dia mengetahui bahwa cerita tersebut sudah dibagikan kepada orang lain.

Kepercayaan yang dibangun dalam waktu lama bisa runtuh dalam satu percakapan.

Karena itu, ketika seseorang membagikan sesuatu yang bersifat pribadi, jangan menganggap cerita tersebut sebagai bahan obrolan.

Jika kamu tidak yakin apakah cerita itu boleh dibagikan, lebih aman bertanya:

“Ini cerita pribadi, kamu keberatan kalau aku cerita ke orang lain?”

Atau, lebih sederhana, jangan membagikannya tanpa izin.

Ada perbedaan antara mendengarkan seseorang dan mengambil kepemilikan atas ceritanya.

Cerita tersebut tetap milik orang yang mengalaminya.

Menjaga kerahasiaan bukan hanya soal etika. Dalam hubungan interpersonal, konsistensi antara perkataan dan tindakan juga membantu membangun kepercayaan.

Jika seseorang mengetahui bahwa kamu mampu menjaga cerita kecil, dia akan memiliki alasan untuk merasa lebih aman ketika suatu hari ingin menceritakan sesuatu yang lebih besar.

Jangan Mengubah Percakapan Menjadi Interogasi

Ada satu kesalahan yang sering terjadi ketika seseorang mengetahui strategi komunikasi.

Dia mulai menggunakan semua strategi sekaligus.

Pertanyaan terbuka.

Validasi.

Jeda.

Kontak mata.

Kemudian pertanyaan lagi.

“Bagaimana perasaanmu?”

“Kenapa?”

“Sejak kapan?”

“Terus?”

“Apa yang paling kamu takutkan?”

Dalam teori mungkin terlihat bagus.

Dalam percakapan nyata, orang bisa merasa seperti sedang mengikuti sesi wawancara.

Karena itu, jangan terlalu fokus pada teknik.

Fokuslah pada hubungan.

Jika orang tersebut tampak nyaman, lanjutkan percakapan.

Jika dia mulai menghindar, memberikan jawaban pendek, mengganti topik, atau terlihat tidak nyaman, hormati sinyal tersebut.

Keterbukaan yang sehat selalu memiliki unsur pilihan.

Kapan Sebaiknya Tidak Bertanya Lebih Jauh?

Tidak semua cerita perlu digali lebih dalam.

Kadang seseorang mengatakan:

“Aku belum siap membicarakan hal itu.”

Respons terbaik mungkin bukan:

“Tapi kenapa?”

melainkan:

“Nggak apa-apa. Kamu nggak harus cerita kalau belum siap.”

Kalimat sederhana seperti itu justru dapat memperkuat kepercayaan.

Ironisnya, ketika seseorang mengetahui bahwa dia boleh mengatakan tidak, dia mungkin justru merasa lebih aman untuk mengatakan ya pada kesempatan berikutnya.

Rasa aman tidak dibangun dengan membuat seseorang bicara sebanyak mungkin.

Rasa aman dibangun ketika seseorang tahu bahwa batasannya akan dihormati.

Intinya: Jangan Berusaha “Membuka” Orang, Bangun Ruang yang Aman

Jika dirangkum, tujuh strategi tersebut adalah:

Jangan terlalu cepat menghakimi.
Gunakan pertanyaan terbuka.
Berikan ruang dan jangan takut pada jeda.
Bagikan sedikit sisi personalmu secara proporsional.
Dengarkan untuk memahami, bukan sekadar menunggu giliran bicara.
Validasi perasaan tanpa harus membenarkan semua tindakan.
Jaga cerita pribadi yang dipercayakan kepadamu.

Namun ada satu prinsip yang lebih penting daripada semuanya:

Jangan menjadikan psikologi sebagai alat untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya tidak ingin diberikan seseorang.

Tujuan komunikasi yang sehat bukan membuat orang lain “mengaku”.

Tujuannya adalah membuat orang merasa cukup aman sehingga mereka dapat memilih sendiri apa yang ingin mereka ceritakan.

Karena pada akhirnya, kedekatan bukan tercipta ketika kita mengetahui semua rahasia seseorang.

Kedekatan tercipta ketika seseorang tahu bahwa dia bisa menjadi dirinya sendiri di hadapan kita tanpa takut langsung dihakimi.

Dan mungkin itulah alasan mengapa orang-orang tertentu terasa begitu nyaman untuk diajak bicara.

Bukan karena mereka memiliki pertanyaan paling pintar.

Bukan karena mereka punya teknik psikologi yang rumit.

Tetapi karena ketika kita berbicara kepada mereka, kita merasakan sesuatu yang sederhana:

“Aku aman di sini.”***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore