Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 10 September 2026 | 15.04 WIB

7 Alasan Mengapa Anak Tidak Sabar dan Ingin Selalu Dituruti Menurut Psikologi

seseorang yang memiliki anak yang rewel. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Pernahkah Anda menghadapi anak yang baru meminta sesuatu dan langsung merengek ketika keinginannya tidak dipenuhi?


“Maunya sekarang!”

“Tapi aku mau sekarang!”

“Kenapa nggak boleh?”

Bahkan ketika orang tua sudah menjelaskan bahwa sesuatu itu akan diberikan beberapa menit lagi, anak tetap bisa menangis, marah, berteriak, atau terus meminta.

Bagi orang dewasa, perilaku seperti ini terkadang terlihat sebagai sikap manja, tidak sabaran, atau bahkan keras kepala. Namun, dari sudut pandang psikologi perkembangan, kemampuan untuk menunggu sebenarnya merupakan keterampilan yang berkembang secara bertahap.

Anak tidak lahir dengan kemampuan mengendalikan keinginan, mengatur emosi, memahami konsep waktu, dan menunda kepuasan seperti orang dewasa. Semua kemampuan tersebut membutuhkan proses perkembangan otak, pengalaman, pembiasaan, serta pendampingan dari lingkungan.

Namun ada satu hal yang juga penting: tidak semua perilaku “harus sekarang” semata-mata disebabkan oleh usia. Pola pengasuhan dan pengalaman anak juga dapat membuat perilaku tersebut semakin kuat.

Lantas, mengapa anak sering merasa bahwa keinginannya harus dipenuhi saat itu juga?

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (9/9), terdapat tujuh alasan yang dapat menjelaskannya.

1. Kemampuan Mengendalikan Impuls Anak Masih Berkembang

Salah satu alasan utama anak sulit menunggu adalah karena kemampuan self-control atau pengendalian diri mereka masih berkembang.

Orang dewasa umumnya mampu mengatakan kepada dirinya sendiri:

“Aku memang ingin sekarang, tetapi aku bisa menunggu.”

Anak kecil belum tentu mampu melakukan hal tersebut.

Ketika anak menginginkan sesuatu, dorongan untuk mendapatkannya bisa terasa sangat kuat. Mereka belum memiliki kemampuan regulasi diri yang matang untuk mengendalikan dorongan tersebut.

Inilah sebabnya anak bisa mengetahui bahwa ia seharusnya menunggu, tetapi tetap menangis karena tidak mampu mengelola rasa kecewa.

Kemampuan seperti:

mengendalikan impuls,
mengalihkan perhatian,
mengatur emosi,
mempertimbangkan konsekuensi,
dan menunda kepuasan

berkembang sepanjang masa kanak-kanak dan remaja.

Jadi ketika seorang anak berkata, “Aku mau sekarang!”, belum tentu ia sedang sengaja bersikap menyebalkan.

Bisa jadi, secara perkembangan, “sekarang” memang terasa jauh lebih penting daripada “nanti”.

2. Anak Belum Memahami Konsep Waktu Seperti Orang Dewasa

Bagi orang dewasa, kalimat “tunggu 10 menit” terdengar sederhana.

Tetapi bagi anak kecil, 10 menit bisa terasa sangat lama.

Konsep waktu merupakan sesuatu yang berkembang secara bertahap. Anak mungkin memahami urutan sederhana seperti:

sekarang → nanti → besok.

Tetapi pemahaman abstrak mengenai durasi waktu tidak selalu sama dengan pemahaman orang dewasa.

Ketika orang tua berkata:

“Nanti setelah Ayah selesai bekerja.”

Anak mungkin justru bertanya lagi:

“Kapan?”

“Berapa lama?”

“Sekarang sudah selesai belum?”

Karena itu, bagi anak, janji “nanti” terkadang terasa tidak jelas.

Daripada mengatakan:

“Tunggu sebentar.”

Orang tua bisa memberikan batas waktu yang lebih konkret:

“Kita beli setelah makan siang.”

atau:

“Kamu boleh bermain setelah mandi.”

Dengan begitu, anak memiliki patokan yang lebih mudah dipahami.

3. Anak Belum Mahir Mengelola Rasa Kecewa

Salah satu hal yang paling sulit bagi anak bukanlah menunggu itu sendiri, melainkan menghadapi emosi yang muncul ketika harus menunggu.

Bayangkan seorang anak sedang menginginkan es krim.

Ia sudah membayangkan rasanya.

Ia ingin mendapatkannya.

Kemudian orang tua mengatakan:

“Nanti saja setelah makan.”

Bagi orang dewasa, masalah tersebut mungkin kecil.

Namun bagi anak, muncul beberapa emosi sekaligus:

ingin → berharap → ditolak → kecewa → marah.

Anak kemudian menangis.

Orang tua mungkin berpikir:

“Kenapa cuma es krim saja sampai menangis?”

Tetapi sebenarnya persoalannya bukan hanya es krim.

Anak sedang belajar menghadapi pengalaman psikologis yang sangat penting:

“Aku menginginkan sesuatu, tetapi aku tidak mendapatkannya sekarang.”

Kemampuan untuk menghadapi kondisi tersebut disebut sebagai bagian dari toleransi terhadap frustrasi.

Anak yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya setiap kali merasa tidak nyaman dapat memiliki lebih sedikit kesempatan untuk berlatih menghadapi frustrasi.

Sebaliknya, anak yang secara bertahap dibantu menghadapi kekecewaan akan memiliki kesempatan untuk belajar:

“Aku boleh kecewa, tetapi aku tetap bisa mengatasinya.”

4. Anak Belajar dari Pengalaman: “Kalau Aku Merengek, Aku Akan Mendapatkannya”

Ini merupakan salah satu alasan yang sangat penting.

Perilaku anak dapat diperkuat oleh konsekuensi.

Misalnya, seorang anak meminta mainan.

Orang tua berkata:

“Tidak sekarang.”

Anak mulai menangis.

Orang tua tetap mengatakan tidak.

Anak menangis lebih keras.

Kemudian orang tua akhirnya menyerah:

“Ya sudah, ambil.”

Dari sudut pandang orang tua, mungkin itu hanya cara untuk menghentikan tangisan.

Tetapi anak dapat belajar sesuatu:

“Kalau aku menangis lebih keras, akhirnya aku mendapatkan apa yang aku mau.”

Anak tidak harus berpikir secara sadar seperti itu. Pembelajaran perilaku dapat terjadi melalui pengalaman berulang.

Akibatnya, pola tersebut bisa menjadi semakin kuat.

Pada kesempatan berikutnya:

minta → ditolak → menangis → orang tua menyerah → keinginan terpenuhi.

Lama-kelamaan anak bisa belajar bahwa menangis atau merengek merupakan strategi yang efektif.

Inilah mengapa konsistensi orang tua sangat penting.

Bukan berarti orang tua tidak boleh mengubah keputusan. Tetapi jika setiap penolakan akhirnya selalu berakhir dengan “baiklah, ambil”, anak tidak mendapatkan kesempatan yang konsisten untuk belajar bahwa “tidak sekarang” benar-benar berarti tidak sekarang.

5. Anak Memiliki Kebutuhan Besar terhadap Respons Cepat dari Orang Tua

Anak-anak juga sangat bergantung pada orang dewasa untuk membantu mereka mengatur emosi.

Ketika mereka menginginkan sesuatu, mereka sering mencari respons orang tua.

Misalnya:

“Mama, lihat!”

“Ayah, aku mau ini!”

“Tolong sekarang!”

Respons orang tua bukan hanya tentang barang atau aktivitas yang diminta. Bagi anak, respons tersebut juga dapat berfungsi sebagai sinyal keamanan dan perhatian.

Karena itu, ketika orang tua tidak segera merespons, anak bisa terus meminta.

Bukan selalu karena anak ingin mengendalikan orang tua.

Kadang ia hanya belum memiliki cara yang lebih baik untuk mengatakan:

“Aku ingin kamu memperhatikan kebutuhanku.”

Di sinilah pentingnya membedakan antara memenuhi kebutuhan anak dan memenuhi semua keinginan anak.

Kebutuhan untuk didengar bisa dipenuhi tanpa harus memberikan apa yang diminta.

Misalnya:

“Mama tahu kamu ingin main sekarang. Mama dengar. Tapi sekarang waktunya makan. Setelah makan, kita bisa bermain.”

Pesannya jelas:

perasaannya diterima, tetapi batasnya tetap ada.

6. Anak Belum Sepenuhnya Memiliki Kemampuan untuk Memikirkan Masa Depan

Orang dewasa dapat menunda kesenangan karena mampu memikirkan manfaat jangka panjang.

Contohnya:

“Aku ingin membeli sesuatu sekarang, tetapi lebih baik menabung.”

Anak kecil belum memiliki kemampuan perencanaan dan pertimbangan masa depan yang sama matang.

Karena itu, konsep seperti:

“Kalau kamu menunggu sekarang, nanti kamu mendapatkan sesuatu yang lebih baik”

tidak selalu mudah bagi mereka.

Inilah yang berkaitan dengan konsep delay of gratification, yaitu kemampuan menunda kepuasan demi memperoleh manfaat yang lebih besar atau lebih sesuai di kemudian hari.

Kemampuan ini bukan sekadar soal “anak pintar atau tidak”.

Ia berkaitan dengan perkembangan kognitif dan kemampuan pengendalian diri yang masih terus berkembang.

Oleh sebab itu, orang tua dapat membantu dengan latihan sederhana.

Misalnya:

“Kamu boleh makan satu permen sekarang, atau menunggu setelah makan malam dan mendapatkan dua.”

Kemudian biarkan anak belajar mengambil keputusan.

Tentu saja, bentuk latihan harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.

Tujuannya bukan membuat anak selalu menunggu.

Tujuannya adalah membantu anak memahami bahwa:

tidak semua keinginan harus dipenuhi pada detik pertama keinginan itu muncul.

7. Lingkungan Anak Bisa Membuatnya Terbiasa dengan Kepuasan Instan

Alasan terakhir tidak hanya berkaitan dengan anak, tetapi juga dengan lingkungan tempat ia tumbuh.

Anak-anak zaman sekarang hidup dalam lingkungan yang memungkinkan banyak hal diperoleh dengan sangat cepat.

Ingin menonton?

Tinggal menekan layar.

Ingin mendengarkan lagu?

Tinggal memilih.

Ingin melihat video lain?

Geser.

Ingin membeli sesuatu?

Bisa dilakukan melalui beberapa sentuhan.

Lingkungan seperti ini dapat membuat pengalaman menunggu semakin jarang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Namun anak tetap perlu belajar bahwa dunia nyata tidak selalu bekerja seperti layar.

Ada makanan yang harus dimasak.

Ada perjalanan yang harus ditempuh.

Ada tugas yang harus diselesaikan.

Ada orang lain yang harus menunggu giliran.

Ada keinginan yang memang belum bisa dipenuhi.

Karena itu, kemampuan menunggu perlu dilatih melalui pengalaman sehari-hari.

Misalnya:

“Sekarang giliran kakak. Setelah kakak selesai, giliran kamu.”

Atau:

“Kita tidak membeli mainan itu hari ini. Kita masukkan ke daftar keinginan.”

Pengalaman sederhana seperti ini membantu anak memahami bahwa keinginan tidak selalu sama dengan kebutuhan dan tidak selalu harus segera dipenuhi.

Jadi, Apakah Anak Harus Selalu Dituruti?

Tidak.

Mendengarkan anak bukan berarti menuruti semua permintaannya.

Justru salah satu bagian penting dari pengasuhan adalah membantu anak memahami batas.

Ada perbedaan besar antara:

“Aku memahami kamu kecewa.”

dan

“Karena kamu kecewa, aku akan memberikan apa pun yang kamu mau.”

Orang tua bisa melakukan yang pertama tanpa melakukan yang kedua.

Contohnya:

“Kamu marah karena ingin bermain sekarang. Mama mengerti. Tapi sekarang waktunya tidur.”

Anak mungkin tetap menangis.

Dan itu tidak selalu berarti orang tua gagal.

Kadang-kadang anak memang perlu mengalami rasa kecewa dalam lingkungan yang aman.

Dari pengalaman tersebut, ia perlahan belajar bahwa:

kecewa tidak berbahaya,

menunggu bisa dilakukan,

keinginan tidak selalu langsung terpenuhi,

dan emosi besar pada akhirnya bisa mereda.

Bagaimana Orang Tua Bisa Melatih Anak untuk Menunggu?

Ada beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan.

1. Jangan hanya mengatakan “nanti”

Berikan waktu yang konkret.

Daripada:

“Nanti ya.”

Coba:

“Setelah makan malam.”

Anak akan lebih mudah memahami batas waktunya.

2. Validasi perasaan, bukan selalu permintaannya

Katakan:

“Kamu memang ingin sekali mainan itu.”

Bukan:

“Sudah, jangan menangis.”

Validasi membantu anak mengenali emosinya tanpa mengharuskan orang tua memenuhi keinginannya.

3. Mulai dari waktu tunggu yang pendek

Jangan langsung berharap anak mampu menunggu selama satu jam.

Mulailah dari beberapa menit.

Kemudian secara bertahap tingkatkan.

4. Jangan mengubah aturan hanya karena anak menangis

Jika setiap tangisan membuat batas berubah, anak sulit belajar bahwa batas tersebut konsisten.

Tetap tenang.

“Mama tahu kamu kecewa. Jawabannya tetap tidak.”

5. Berikan pilihan ketika memungkinkan

Misalnya:

“Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi?”

Anak tetap mendapatkan rasa memiliki kendali, tetapi dalam batas yang ditentukan orang tua.

6. Berikan pujian ketika anak berhasil menunggu

Misalnya:

“Tadi kamu bisa menunggu sampai Ayah selesai. Itu tidak mudah, tapi kamu berhasil.”

Pujian seperti ini membantu anak menyadari bahwa menunggu adalah sebuah keterampilan, bukan sekadar kewajiban.

Anak yang Tidak Bisa Menunggu Bukan Berarti Anak yang Nakal

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Ketika anak terus meminta sesuatu, menangis karena harus menunggu, atau marah ketika keinginannya tidak segera dipenuhi, kita sering tergoda memberikan label:

manja, keras kepala, egois, nakal.

Padahal perilaku tersebut dapat berasal dari berbagai hal: tahap perkembangan, temperamen, kelelahan, lapar, overstimulasi, pengalaman sebelumnya, atau pola interaksi dengan orang tua.

Tugas orang tua bukan membuat anak tidak pernah kecewa.

Tugas orang tua adalah membantu anak belajar menghadapi kekecewaan dengan semakin baik.

Anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu berkata “iya”.

Anak juga tidak membutuhkan orang tua yang selalu berkata “tidak”.

Yang dibutuhkan adalah orang tua yang mampu mengatakan:

“Aku memahami keinginanmu, aku memahami perasaanmu, tetapi tidak semua keinginan harus dipenuhi sekarang.”

Dari situlah anak perlahan belajar sesuatu yang sangat penting untuk kehidupannya kelak:

bahwa ia boleh menginginkan sesuatu tanpa harus langsung mendapatkannya.

Dan kemampuan untuk menunggu, mengendalikan impuls, menghadapi frustrasi, serta mengatur emosi bukan hanya berguna ketika anak masih kecil.

Kemampuan tersebut menjadi fondasi penting ketika ia tumbuh menjadi remaja dan dewasa, saat kehidupan akan semakin sering menuntutnya untuk menunggu, berkompromi, menghadapi penolakan, dan memilih antara kesenangan sesaat dengan tujuan jangka panjang.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore