Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 September 2026 | 04.28 WIB

7 Alasan Kehadiran dan Rasa Ingin Tahu Tingkatkan Kualitas Kepemimpinan Menurut Psikologi

seseorang yang selalu hadir bersama staf kantor. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Kepemimpinan sering kali dipahami sebagai kemampuan untuk mengambil keputusan, memberikan arahan, membangun strategi, dan membawa sebuah tim menuju tujuan tertentu. Namun, semakin banyak perspektif psikologi organisasi menunjukkan bahwa kualitas seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik ia berbicara atau seberapa cepat ia mengambil keputusan.


Ada dua kualitas yang sering terlihat sederhana, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap kualitas kepemimpinan: kehadiran (presence) dan rasa ingin tahu (curiosity).

Kehadiran berarti kemampuan seorang pemimpin untuk benar-benar hadir dalam sebuah interaksi—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional. Ketika berbicara dengan anggota tim, pemimpin yang hadir tidak sibuk memikirkan respons berikutnya, memeriksa ponsel, atau terburu-buru menyelesaikan percakapan. Ia memberikan perhatian terhadap apa yang sedang terjadi.

Sementara itu, rasa ingin tahu membuat pemimpin tidak cepat merasa bahwa dirinya sudah mengetahui semua jawaban. Ia terdorong untuk bertanya, menggali konteks, memahami sudut pandang orang lain, dan melihat persoalan dari perspektif yang berbeda.

Kombinasi keduanya menciptakan gaya kepemimpinan yang lebih manusiawi sekaligus lebih efektif.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (7/9), terdapat tujuh alasan mengapa kehadiran dan rasa ingin tahu dapat meningkatkan kualitas kepemimpinan jika dilihat dari perspektif psikologi.

1. Kehadiran Membantu Pemimpin Mendengarkan dengan Lebih Efektif

Salah satu kemampuan paling penting dalam kepemimpinan adalah mendengarkan.

Namun, mendengarkan tidak selalu berarti benar-benar memahami.

Dalam banyak percakapan, seseorang terlihat mendengarkan, tetapi sebenarnya pikirannya sudah sibuk mempersiapkan jawaban. Seorang pemimpin mungkin sedang menerima laporan dari anggota tim, tetapi pada saat yang sama pikirannya sudah melompat ke rapat berikutnya, target bulan depan, atau bagaimana ia akan memberikan tanggapan.

Secara psikologis, kondisi ini membuat kualitas perhatian menurun.

Kehadiran membantu pemimpin mengembalikan perhatian pada percakapan yang sedang berlangsung. Ia memperhatikan bukan hanya kata-kata, tetapi juga konteks, ekspresi, nada suara, keraguan, dan perubahan emosi lawan bicara.

Inilah yang membuat active listening menjadi sangat penting dalam kepemimpinan.

Pemimpin yang hadir secara penuh dapat mengatakan:

"Saya ingin memahami dulu. Apa yang sebenarnya terjadi dari sudut pandangmu?"

Kalimat seperti ini berbeda dengan:

"Kenapa targetnya tidak tercapai?"

Pertanyaan pertama membuka ruang eksplorasi. Pertanyaan kedua berpotensi langsung mengarahkan percakapan pada pembelaan diri.

Ketika seorang pemimpin benar-benar mendengarkan, anggota tim cenderung merasa bahwa pendapat mereka memiliki nilai.

Dari sinilah kehadiran dapat membangun hubungan psikologis yang lebih sehat antara pemimpin dan anggota tim.

Kehadiran bukan berarti selalu setuju

Hal yang menarik adalah bahwa mendengarkan tidak sama dengan menyetujui.

Seorang pemimpin tetap dapat mengatakan tidak, mengoreksi kesalahan, atau mengambil keputusan yang berbeda setelah mendengarkan. Perbedaannya terletak pada proses.

Pemimpin yang hadir berusaha memahami sebelum menilai.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat membantu mengurangi miskomunikasi dan membuat keputusan lebih berdasarkan informasi yang lengkap.

2. Rasa Ingin Tahu Membantu Pemimpin Menghindari Asumsi

Salah satu musuh terbesar dalam pengambilan keputusan adalah asumsi.

Pemimpin melihat seseorang terlambat mengumpulkan pekerjaan dan langsung menyimpulkan bahwa orang tersebut tidak disiplin.

Seorang anggota tim mengajukan keberatan terhadap sebuah keputusan, lalu dianggap tidak kooperatif.

Seorang karyawan terlihat diam dalam rapat dan dianggap tidak memiliki ide.

Padahal, perilaku yang sama dapat memiliki banyak penjelasan.

Rasa ingin tahu menciptakan jeda antara apa yang kita lihat dan apa yang kita simpulkan.

Alih-alih mengatakan:

"Dia memang tidak bertanggung jawab."

pemimpin yang memiliki rasa ingin tahu mungkin bertanya:

"Apa yang membuat pekerjaan ini terlambat?"

Alih-alih:

"Dia tidak mendukung keputusan saya."

pemimpin dapat bertanya:

"Apa yang membuatmu melihat keputusan ini secara berbeda?"

Perubahan kecil dalam cara bertanya tersebut memiliki konsekuensi besar.

Secara psikologis, curiosity mendorong seseorang untuk mencari informasi tambahan sebelum membentuk kesimpulan. Hal ini penting karena manusia memiliki berbagai bias kognitif yang dapat memengaruhi penilaian.

Pemimpin bukanlah mesin objektif.

Ia juga memiliki pengalaman masa lalu, preferensi, ekspektasi, dan persepsi yang dapat memengaruhi cara melihat orang lain.

Rasa ingin tahu menjadi semacam "rem psikologis".

Ia membuat pemimpin berkata:

"Mungkin ada sesuatu yang belum saya pahami."

Dan kalimat tersebut merupakan salah satu fondasi penting dari kepemimpinan yang matang.

3. Kehadiran Meningkatkan Rasa Aman Psikologis dalam Tim

Sebuah tim membutuhkan lebih dari sekadar target dan struktur organisasi. Tim juga membutuhkan rasa aman untuk berbicara.

Konsep psychological safety menjadi salah satu topik penting dalam psikologi organisasi. Secara sederhana, psychological safety menggambarkan kondisi ketika anggota kelompok merasa cukup aman untuk menyampaikan ide, mengakui kesalahan, mengajukan pertanyaan, atau menyampaikan kekhawatiran tanpa takut dipermalukan atau dihukum secara tidak proporsional.

Di sinilah perilaku pemimpin memiliki pengaruh besar.

Bayangkan seorang anggota tim mengatakan:

"Saya rasa strategi ini memiliki risiko yang belum kita pertimbangkan."

Respons pemimpin dapat menentukan apa yang terjadi berikutnya.

Jika pemimpin langsung berkata:

"Kita sudah membahas itu. Jalankan saja."

anggota tim mungkin belajar bahwa mempertanyakan keputusan bukanlah sesuatu yang dihargai.

Namun, jika pemimpin menjawab:

"Menarik. Risiko apa yang kamu lihat?"

maka terjadi sesuatu yang berbeda.

Pemimpin sedang memberikan sinyal bahwa perbedaan perspektif diperbolehkan.

Kehadiran membuat pemimpin benar-benar memperhatikan masukan tersebut. Rasa ingin tahu membuatnya ingin menggali lebih jauh.

Keduanya menciptakan lingkungan di mana orang lebih mungkin berbicara.

Dan semakin banyak informasi yang berani muncul ke permukaan, semakin besar peluang sebuah tim menemukan masalah sebelum masalah tersebut menjadi krisis.

4. Rasa Ingin Tahu Membuat Pemimpin Lebih Terbuka terhadap Perspektif yang Berbeda

Pemimpin yang terlalu yakin terhadap dirinya sendiri dapat dengan mudah terjebak dalam confirmation bias—kecenderungan untuk lebih memperhatikan informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dimiliki dan mengabaikan informasi yang bertentangan.

Misalnya, seorang pemimpin sudah percaya bahwa sebuah strategi pemasaran akan berhasil.

Ketika menerima data positif, ia menganggapnya sebagai bukti bahwa keputusannya benar.

Namun ketika menerima data negatif, ia mungkin mengatakan:

"Itu hanya masalah sementara."

Masalahnya bukan pada rasa percaya diri.

Masalahnya muncul ketika kepercayaan diri berubah menjadi ketidakmampuan untuk mempertanyakan diri sendiri.

Rasa ingin tahu membantu menciptakan sikap mental yang berbeda.

Pemimpin yang curious tidak hanya bertanya:

"Bagaimana saya bisa membuktikan bahwa keputusan saya benar?"

Ia juga bertanya:

"Apa yang mungkin membuat keputusan saya salah?"

Pertanyaan kedua sangat berharga.

Dengan mencari perspektif yang berbeda, pemimpin mendapatkan kesempatan untuk menguji asumsi dan memperbaiki keputusan.

Dalam konteks organisasi, hal ini dapat mendorong munculnya diskusi yang lebih sehat. Anggota tim tidak sekadar menjadi orang yang menjalankan perintah, tetapi juga menjadi sumber informasi dan perspektif bagi pemimpin.

Kepemimpinan kemudian berubah dari proses satu arah menjadi proses belajar bersama.

5. Kehadiran Membantu Pemimpin Mengelola Emosi Sebelum Bereaksi

Pemimpin bekerja dalam lingkungan yang penuh tekanan.

Ada target yang tidak tercapai, konflik antaranggota tim, pelanggan yang kecewa, perubahan strategi, keterbatasan sumber daya, dan berbagai situasi tak terduga.

Dalam kondisi seperti itu, kemampuan mengelola emosi menjadi sangat penting.

Kehadiran berkaitan erat dengan kemampuan untuk menyadari apa yang sedang terjadi pada diri sendiri.

Misalnya, seorang pemimpin menerima kritik keras dalam sebuah rapat.

Reaksi otomatis mungkin berupa kemarahan:

"Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Namun, jika pemimpin mampu berhenti sejenak dan menyadari reaksinya, ia memiliki kesempatan untuk memilih respons yang lebih konstruktif.

Bukan berarti pemimpin harus menekan emosinya.

Sebaliknya, ia menyadari:

"Saya sedang merasa terserang."

Kesadaran tersebut menciptakan jarak antara emosi dan tindakan.

Jeda kecil ini sangat berharga.

Pemimpin kemudian dapat merespons:

"Saya cukup tertantang dengan masukan itu. Mari kita lihat datanya bersama."

Respons seperti ini tidak menunjukkan kelemahan.

Justru sebaliknya, menunjukkan kemampuan regulasi diri.

Pemimpin yang mampu mengelola respons emosionalnya memberikan contoh kepada tim tentang bagaimana menghadapi tekanan tanpa kehilangan kendali.

6. Kombinasi Kehadiran dan Rasa Ingin Tahu Membantu Membangun Hubungan yang Lebih Kuat

Kepemimpinan pada dasarnya adalah aktivitas yang terjadi melalui hubungan antarmanusia.

Strategi yang bagus tidak akan berjalan tanpa orang-orang yang menjalankannya.

Karena itu, kualitas hubungan antara pemimpin dan anggota tim menjadi sangat penting.

Kehadiran membuat seseorang merasa:

"Saya diperhatikan."

Rasa ingin tahu membuat seseorang merasa:

"Perspektif saya dianggap penting."

Bayangkan seorang pemimpin melakukan percakapan satu lawan satu dengan anggota tim.

Pemimpin yang sekadar menjalankan agenda mungkin bertanya:

"Bagaimana pekerjaanmu?"

Lalu setelah mendapat jawaban singkat, percakapan selesai.

Pemimpin yang hadir dan memiliki rasa ingin tahu mungkin melanjutkan:

"Apa bagian pekerjaan yang paling menantang akhir-akhir ini?"

Kemudian:

"Menurutmu, apa yang bisa saya lakukan untuk membantu?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak hanya menghasilkan informasi.

Mereka juga menunjukkan perhatian.

Dari perspektif psikologi sosial, manusia memiliki kebutuhan untuk merasa dipahami, dihargai, dan menjadi bagian dari kelompok.

Ketika pemimpin mampu memenuhi kebutuhan relasional tersebut secara sehat, hubungan kerja dapat menjadi lebih kuat.

Dan hubungan yang kuat menjadi modal penting ketika organisasi menghadapi masa sulit.

7. Kehadiran dan Rasa Ingin Tahu Membuat Pemimpin Menjadi Pembelajar, Bukan Sekadar Pemberi Arahan

Alasan terakhir mungkin yang paling penting.

Dunia kerja berubah dengan cepat.

Teknologi berubah. Generasi tenaga kerja berubah. Pasar berubah. Kebutuhan pelanggan berubah. Cara orang bekerja juga berubah.

Dalam kondisi seperti ini, pemimpin yang merasa sudah mengetahui semuanya akan semakin sulit beradaptasi.

Sebaliknya, pemimpin yang memiliki rasa ingin tahu mempertahankan sikap:

"Apa yang bisa saya pelajari dari situasi ini?"

Ketika sebuah proyek gagal, ia tidak hanya bertanya:

"Siapa yang salah?"

Ia juga bertanya:

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Apa yang tidak kita lihat sebelumnya?"

"Apa yang perlu kita ubah?"

"Apa yang dapat kita pelajari untuk proyek berikutnya?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengubah kegagalan menjadi sumber pembelajaran.

Kehadiran membantu pemimpin memperhatikan realitas yang sedang terjadi.

Rasa ingin tahu membuatnya mau mengeksplorasi realitas tersebut.

Hasilnya adalah pola kepemimpinan yang lebih adaptif.

Pemimpin tidak hanya berusaha mempertahankan apa yang sudah berhasil, tetapi juga bersedia belajar ketika situasi berubah.

Kehadiran dan Curiosity Bukan Berarti Menjadi Pemimpin yang Pasif

Ada kesalahpahaman bahwa pemimpin yang banyak mendengarkan dan bertanya berarti pemimpin yang kurang tegas.

Padahal, keduanya tidak harus bertentangan.

Pemimpin dapat mendengarkan dengan serius dan tetap mengambil keputusan.

Pemimpin dapat terbuka terhadap kritik dan tetap memiliki standar.

Pemimpin dapat bertanya kepada tim dan tetap bertanggung jawab atas keputusan akhirnya.

Justru, kepemimpinan yang kuat sering kali membutuhkan kombinasi antara keterbukaan dan ketegasan.

Rasa ingin tahu tidak berarti mempertanyakan segala sesuatu tanpa akhir.

Kehadiran juga bukan berarti menghabiskan seluruh waktu untuk mendengarkan.

Keduanya adalah kualitas yang membantu pemimpin memperoleh informasi yang lebih baik sebelum menentukan tindakan.

Dengan kata lain:

Kehadiran meningkatkan kualitas perhatian.

Rasa ingin tahu meningkatkan kualitas pertanyaan.

Dan ketika perhatian serta pertanyaan menjadi lebih baik, kualitas keputusan pun berpotensi meningkat.

Bagaimana Melatih Kehadiran dan Rasa Ingin Tahu sebagai Pemimpin?

Kedua kualitas ini bukan sesuatu yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Keduanya dapat dilatih melalui kebiasaan sederhana.

1. Berikan perhatian penuh ketika seseorang berbicara

Letakkan gangguan sejenak.

Jangan langsung memikirkan jawaban.

Dengarkan untuk memahami, bukan hanya untuk merespons.

2. Biasakan bertanya sebelum menyimpulkan

Sebelum mengatakan "Saya sudah tahu masalahnya", tanyakan:

"Apa lagi yang perlu saya pahami?"

Pertanyaan ini sederhana tetapi dapat mengubah kualitas pengambilan keputusan.

3. Gunakan pertanyaan terbuka

Daripada bertanya:

"Apakah masalahnya karena kurang disiplin?"

cobalah:

"Menurutmu, apa yang menyebabkan masalah ini?"

Pertanyaan terbuka memberikan ruang bagi informasi yang mungkin tidak kita antisipasi.

4. Cari perspektif yang berlawanan

Sesekali tanyakan kepada tim:

"Apa alasan seseorang bisa tidak setuju dengan keputusan ini?"

Pertanyaan tersebut membantu mengurangi kemungkinan kelompok hanya mencari pembenaran.

5. Berikan jeda sebelum merespons

Terutama ketika sedang marah, kecewa, atau merasa diserang.

Tidak semua emosi membutuhkan respons langsung.

6. Akui ketika Anda tidak tahu

Kalimat sederhana seperti:

"Saya belum tahu. Mari kita cari tahu."

dapat menjadi contoh penting bagi anggota tim.

Pemimpin tidak harus selalu menjadi orang paling tahu di ruangan.

Terkadang, ia justru perlu menjadi orang yang paling siap belajar.

Penutup: Pemimpin yang Hadir Tidak Harus Selalu Memiliki Jawaban

Kepemimpinan yang berkualitas tidak selalu terlihat dalam keputusan besar atau pidato yang menginspirasi.

Sering kali, kualitas kepemimpinan terlihat dalam momen yang jauh lebih kecil.

Ketika seorang pemimpin memilih untuk benar-benar mendengarkan.

Ketika ia menahan diri untuk tidak langsung menghakimi.

Ketika ia bertanya karena ingin memahami, bukan karena ingin menjebak.

Ketika ia berani mengatakan, "Saya mungkin salah."

Dan ketika ia memberikan perhatian penuh kepada seseorang yang sedang berbicara.

Kehadiran membuat pemimpin lebih mampu melihat apa yang sedang terjadi.

Rasa ingin tahu membuat pemimpin ingin memahami mengapa hal itu terjadi.

Ketika keduanya berjalan bersama, pemimpin memiliki peluang lebih besar untuk membuat keputusan berdasarkan informasi yang lebih lengkap, membangun hubungan yang lebih sehat, menciptakan ruang dialog, mengelola emosi dengan lebih baik, dan terus belajar dari pengalaman.

Pada akhirnya, pemimpin yang baik bukan selalu orang yang paling cepat memberikan jawaban.

Sering kali, pemimpin yang paling efektif adalah orang yang mampu berhenti sejenak, hadir sepenuhnya, lalu bertanya:

"Apa yang belum saya pahami?"

Pertanyaan sederhana itu dapat menjadi awal dari kepemimpinan yang jauh lebih sadar, adaptif, dan manusiawi.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore