Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 September 2026 | 13.08 WIB

7 Alasan Takut Hubungan Serius Bisa Menyabotase Peluang Menemukan Cinta Sejati Menurut Psikologi

seseorang yang menyabotase peluang dirinya sendiri. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Banyak orang mengatakan ingin menemukan cinta yang serius, memiliki pasangan yang bisa dipercaya, dan membangun hubungan jangka panjang. Namun, ketika seseorang yang tepat mulai hadir, justru muncul rasa takut.


Takut kehilangan kebebasan. Takut disakiti. Takut dikecewakan. Takut membuat keputusan yang salah. Bahkan, ada yang merasa tidak nyaman ketika hubungan mulai menjadi semakin dekat dan serius.

Situasi seperti ini sebenarnya cukup manusiawi. Keinginan untuk dicintai dan kebutuhan untuk melindungi diri dapat muncul secara bersamaan. Masalahnya, ketika rasa takut terhadap hubungan serius terlalu kuat, seseorang dapat tanpa sadar melakukan berbagai tindakan yang justru menjauhkan dirinya dari hubungan yang sebenarnya diinginkan.

Dalam psikologi, pola seperti ini dapat berkaitan dengan pengalaman masa lalu, pola keterikatan, cara seseorang memandang dirinya sendiri, serta strategi perlindungan diri yang terbentuk sepanjang hidup.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (7/9), terdapat tujuh alasan mengapa ketakutan terhadap hubungan serius dapat menyabotase peluang kamu untuk menemukan cinta yang sehat dan bermakna.

1. Kamu Mulai Mencari Alasan untuk Menjauh Ketika Hubungan Mulai Serius

Pada tahap awal hubungan, semuanya mungkin terasa menyenangkan.

Kamu menikmati percakapan, merasa tertarik, menantikan pertemuan berikutnya, dan mulai membayangkan kemungkinan hubungan yang lebih jauh. Tetapi ketika hubungan tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda keseriusan, perasaanmu tiba-tiba berubah.

Kamu mulai berpikir:

"Benarkah dia orang yang tepat?"

"Bagaimana kalau nanti aku menyesal?"

"Bagaimana kalau hubungan ini gagal?"

"Mungkin sebenarnya aku tidak terlalu menyukainya."

Pertanyaan-pertanyaan tersebut belum tentu salah. Mempertimbangkan kecocokan pasangan memang merupakan bagian penting dalam membangun hubungan.

Namun, masalah muncul ketika pencarian alasan tersebut sebenarnya bukan berasal dari ketidakcocokan, melainkan dari ketakutan terhadap kedekatan emosional.

Dalam kondisi seperti ini, otak dapat menggunakan keraguan sebagai bentuk perlindungan diri. Daripada menghadapi risiko menjadi dekat dengan seseorang dan kemungkinan terluka, seseorang memilih menciptakan alasan untuk pergi.

Akibatnya, hubungan yang sebenarnya memiliki potensi tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk berkembang.

Ironisnya, seseorang mungkin kemudian berkata bahwa dirinya belum menemukan orang yang tepat, padahal sebagian peluang tersebut mungkin berhenti karena dirinya sendiri terlalu takut untuk membuka diri.

2. Kamu Menganggap Kedekatan Emosional sebagai Ancaman terhadap Kebebasan

Sebagian orang memiliki keyakinan bahwa hubungan serius berarti kehilangan kebebasan.

Mereka membayangkan bahwa memiliki pasangan berarti tidak bisa melakukan apa yang diinginkan, harus selalu memberikan kabar, harus mengorbankan waktu pribadi, atau kehilangan identitas sebagai individu.

Akibatnya, ketika seseorang mulai mendekat secara emosional, muncul dorongan untuk menciptakan jarak.

Padahal, hubungan sehat tidak seharusnya menghilangkan individualitas.

Hubungan yang sehat justru memungkinkan dua orang memiliki kehidupan masing-masing sekaligus membangun kehidupan bersama. Seseorang tetap dapat memiliki teman, hobi, pekerjaan, tujuan pribadi, dan ruang untuk dirinya sendiri.

Ketakutan terhadap kehilangan kebebasan sering kali membuat seseorang menciptakan aturan yang terlalu ketat dalam hubungan.

Misalnya, ketika pasangan menginginkan kedekatan yang wajar, seseorang langsung menganggapnya sebagai bentuk kontrol. Ketika pasangan ingin membicarakan masa depan, ia merasa tertekan. Ketika hubungan membutuhkan kompromi, ia merasa dirinya sedang kehilangan kebebasan.

Jika pola ini terus berlangsung, pasangan dapat merasa ditolak atau tidak dihargai.

Pada akhirnya, ketakutan yang awalnya dimaksudkan untuk menjaga kebebasan justru dapat menghancurkan hubungan yang sedang dibangun.

3. Kamu Terlalu Fokus pada Kemungkinan Disakiti

Salah satu alasan paling kuat mengapa seseorang takut menjalin hubungan serius adalah pengalaman buruk di masa lalu.

Mungkin pernah dikhianati.

Pernah ditinggalkan.

Pernah mencintai seseorang yang ternyata tidak memiliki perasaan yang sama.

Atau pernah berada dalam hubungan yang membuat dirinya kehilangan kepercayaan terhadap orang lain.

Pengalaman tersebut dapat membuat seseorang belajar bahwa kedekatan emosional membawa risiko.

Kemudian muncul sebuah mekanisme perlindungan:

"Kalau aku tidak terlalu dekat dengan siapa pun, aku tidak akan terlalu sakit ketika mereka pergi."

Secara emosional, pemikiran tersebut terasa masuk akal.

Namun, ada konsekuensinya.

Dengan berusaha menghindari rasa sakit sepenuhnya, kamu juga menghindari kemungkinan mengalami kedekatan, keintiman, dan cinta yang mendalam.

Tidak ada hubungan yang memberikan jaminan bahwa seseorang tidak akan pernah terluka. Bahkan hubungan yang sehat sekalipun tetap mengandung risiko emosional.

Pasangan dapat melakukan kesalahan. Situasi dapat berubah. Perasaan manusia juga dapat berkembang.

Karena itu, tujuan membangun hubungan bukanlah memastikan bahwa kamu tidak akan pernah terluka. Tujuannya adalah membangun hubungan dengan seseorang yang mampu berkomunikasi, menghargai batasan, bertanggung jawab, dan menghadapi masalah bersama.

Jika rasa takut terhadap luka masa lalu membuatmu menutup semua pintu, orang yang sebenarnya baik mungkin tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengenalmu lebih dalam.

4. Kamu Melakukan "Self-Sabotage" Tanpa Menyadarinya

Self-sabotage atau perilaku menyabotase diri sendiri terjadi ketika seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tujuan yang sebenarnya ingin dicapai.

Dalam konteks hubungan, kamu mungkin sangat ingin memiliki pasangan serius, tetapi ketika hubungan tersebut mulai berkembang, kamu justru melakukan tindakan yang membuat hubungan menjadi sulit.

Contohnya:

sengaja menjadi sulit dihubungi;
mencari-cari kekurangan pasangan;
memulai konflik kecil tanpa alasan yang jelas;
menarik diri ketika pasangan mulai mendekat;
menguji pasangan secara berlebihan;
sengaja bersikap dingin untuk melihat apakah pasangan akan mengejar;
atau tiba-tiba mengakhiri hubungan karena takut hubungan tersebut akan berakhir dengan menyakitkan.

Yang menarik, perilaku tersebut sering kali terasa seperti keputusan rasional ketika sedang dilakukan.

Seseorang mungkin mengatakan:

"Aku cuma ingin berhati-hati."

Padahal, di balik kehati-hatian tersebut bisa terdapat ketakutan yang lebih dalam.

Misalnya, seseorang takut ditinggalkan sehingga ia memilih meninggalkan terlebih dahulu. Seseorang takut dikhianati sehingga ia tidak pernah benar-benar mempercayai pasangannya. Seseorang takut tidak dicintai sehingga ia terus menguji pasangannya sampai pasangan tersebut akhirnya kelelahan.

Dengan kata lain, seseorang berusaha mencegah sesuatu yang ditakutinya, tetapi cara yang digunakan justru meningkatkan kemungkinan hal tersebut terjadi.

Inilah salah satu bentuk self-sabotage yang paling menyakitkan dalam hubungan.

5. Kamu Memiliki Ekspektasi bahwa Hubungan Harus Terasa "Sempurna"

Ketakutan terhadap hubungan serius terkadang muncul dalam bentuk yang lebih halus: perfeksionisme dalam memilih pasangan.

Kamu mungkin terus mencari seseorang yang benar-benar sempurna.

Harus memiliki chemistry yang luar biasa.

Harus selalu membuatmu merasa yakin.

Tidak boleh ada perbedaan.

Tidak boleh ada konflik.

Harus selalu membuatmu bahagia.

Ketika menemukan satu kekurangan, kamu langsung berpikir bahwa hubungan tersebut bukan hubungan yang tepat.

Padahal, tidak ada manusia yang sempurna dan tidak ada hubungan yang selalu terasa mudah.

Dalam hubungan jangka panjang, perbedaan pendapat adalah sesuatu yang normal. Yang lebih penting bukan apakah dua orang pernah mengalami konflik, melainkan bagaimana mereka menyelesaikannya.

Perfeksionisme dalam hubungan juga dapat menjadi bentuk pertahanan psikologis.

Selama tidak ada orang yang dianggap "cukup sempurna", kamu tidak perlu mengambil risiko untuk benar-benar berkomitmen.

Kamu dapat terus berkata:

"Aku belum menemukan orang yang tepat."

Masalahnya, standar yang sebenarnya digunakan bukan lagi untuk menemukan pasangan yang kompatibel, melainkan untuk menemukan alasan agar tidak perlu mengambil risiko emosional.

Hubungan yang sehat tidak membutuhkan pasangan sempurna. Hubungan yang sehat membutuhkan dua orang yang cukup matang untuk saling memahami, berkomunikasi, memperbaiki kesalahan, dan bertumbuh bersama.

6. Kamu Sulit Mempercayai Orang Lain—Bahkan Ketika Mereka Tidak Memberikan Alasan untuk Diragukan

Kepercayaan merupakan fondasi penting dalam hubungan serius.

Tetapi bagi seseorang yang takut terhadap komitmen, mempercayai orang lain dapat terasa sangat berbahaya.

Pasangan terlambat membalas pesan sedikit lebih lama dari biasanya.

Pikiran langsung berlari ke kemungkinan terburuk.

"Jangan-jangan dia sudah berubah."

"Mungkin dia sedang berbicara dengan orang lain."

"Mungkin dia akan meninggalkanku."

Jika pola ini berulang, hubungan dapat berubah menjadi siklus kecemasan dan pencarian kepastian.

Seseorang terus membutuhkan bukti bahwa dirinya dicintai. Pasangan memberikan kepastian, tetapi rasa aman tersebut hanya bertahan sementara. Kemudian kecemasan muncul lagi.

Dalam psikologi hubungan, pola keterikatan dapat membantu menjelaskan mengapa orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi kedekatan, jarak, dan ketidakpastian emosional.

Namun, penting untuk tidak menggunakan label psikologis sebagai diagnosis sederhana. Perilaku seseorang dalam hubungan dipengaruhi banyak faktor, termasuk pengalaman hidup, kepribadian, konteks hubungan, dan kondisi saat ini.

Yang perlu disadari adalah bahwa ketidakpercayaan yang terus-menerus dapat melelahkan kedua belah pihak.

Pasangan yang terus-menerus dicurigai akhirnya dapat merasa bahwa apa pun yang dilakukannya tidak pernah cukup.

Ironisnya, rasa takut kehilangan seseorang dapat menciptakan perilaku yang justru membuat hubungan tersebut semakin rapuh.

7. Kamu Takut Menunjukkan Sisi Dirimu yang Sebenarnya

Mungkin alasan paling mendalam mengapa seseorang sulit memasuki hubungan serius adalah ketakutan untuk benar-benar terlihat.

Ketika hubungan masih baru, kamu dapat menunjukkan versi dirimu yang paling menarik.

Kamu bisa terlihat percaya diri.

Mandiri.

Santai.

Tidak terlalu membutuhkan siapa pun.

Namun, hubungan yang semakin serius membutuhkan sesuatu yang lebih sulit: kerentanan.

Kamu harus berani mengatakan bahwa kamu takut.

Berani mengakui ketika kamu membutuhkan dukungan.

Berani menceritakan pengalaman yang membuatmu terluka.

Berani mengatakan bahwa kamu mencintai seseorang.

Dan bagi sebagian orang, kerentanan terasa sangat menakutkan.

Ada keyakinan tersembunyi:

"Kalau dia benar-benar mengenalku, mungkin dia tidak akan mencintaiku."

Karena itu, seseorang menjaga jarak emosional.

Ia tidak pernah benar-benar membuka diri.

Ia menyembunyikan kebutuhan emosional.

Ia menghindari percakapan mendalam.

Ia memilih terlihat tidak membutuhkan siapa pun.

Masalahnya, keintiman emosional membutuhkan keberanian untuk dilihat apa adanya.

Jika kamu terus berusaha melindungi diri dengan menyembunyikan bagian terdalam dari dirimu, pasangan mungkin tidak pernah benar-benar mendapatkan kesempatan untuk mengenal siapa dirimu.

Dan tanpa keterbukaan tersebut, hubungan sulit berkembang menjadi hubungan yang benar-benar intim.

Jadi, Apakah Rasa Takut terhadap Hubungan Serius Berarti Kamu Tidak Siap Dicintai?

Tidak.

Takut terhadap hubungan serius tidak otomatis berarti kamu tidak mampu mencintai atau tidak layak dicintai.

Rasa takut sering kali merupakan cara pikiran berusaha melindungi diri dari sesuatu yang dianggap berbahaya.

Masalahnya, mekanisme perlindungan yang pernah berguna pada satu titik dalam hidup belum tentu masih berguna sekarang.

Mungkin dahulu kamu memang perlu berhati-hati.

Mungkin pengalaman masa lalu mengajarkanmu untuk tidak mudah percaya.

Mungkin pernah ada seseorang yang membuatmu kehilangan kepercayaan.

Tetapi pasangan baru bukanlah orang yang sama dengan orang dari masa lalu.

Jika kamu terus menggunakan pengalaman lama untuk memprediksi setiap hubungan baru, kamu mungkin tidak memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.

Bagaimana Menghentikan Pola yang Menyabotase Hubungan?

Langkah pertama bukan memaksa diri untuk langsung berkomitmen.

Langkah pertama adalah menyadari pola.

Ketika kamu mulai ingin menjauh dari seseorang, coba tanyakan:

"Apakah aku benar-benar tidak cocok dengannya, atau aku sedang takut menjadi dekat?"

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu membedakan antara intuisi dan kecemasan.

Kamu juga dapat mulai memperhatikan pola yang muncul berulang kali.

Apakah kamu selalu kehilangan ketertarikan ketika seseorang mulai serius?

Apakah kamu selalu menemukan alasan untuk mengakhiri hubungan?

Apakah kamu tertarik pada orang yang tidak tersedia secara emosional karena hubungan seperti itu terasa lebih aman?

Apakah kamu merasa nyaman ketika mengejar seseorang, tetapi panik ketika seseorang mulai mengejarmu?

Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat memberikan petunjuk tentang pola hubunganmu.

Jika rasa takut tersebut sangat kuat atau terus mengganggu kehidupan dan hubunganmu, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang membantu. Bukan karena ada sesuatu yang "rusak" dalam dirimu, tetapi karena memahami akar sebuah pola terkadang sulit dilakukan sendirian.

Cinta Sejati Bukan Tentang Tidak Pernah Takut

Banyak orang mengira bahwa ketika menemukan orang yang tepat, rasa takut akan menghilang begitu saja.

Kenyataannya tidak selalu demikian.

Bahkan ketika bersama orang yang baik, kamu mungkin tetap merasa takut.

Takut kehilangan.

Takut gagal.

Takut terlalu bergantung.

Takut tidak cukup baik.

Perbedaannya adalah kamu tidak lagi membiarkan rasa takut mengambil semua keputusan.

Kamu belajar berjalan perlahan.

Belajar berkomunikasi.

Belajar menetapkan batasan.

Belajar mempercayai secara bertahap.

Dan yang paling penting, belajar menerima bahwa mencintai seseorang memang membutuhkan sejumlah keberanian.

Karena pada akhirnya, cinta bukan tentang menemukan hubungan yang menjamin bahwa kamu tidak akan pernah terluka.

Cinta yang sehat adalah tentang menemukan seseorang yang bersedia membangun rasa aman bersamamu—sementara kamu juga bersedia membuka diri, berkomunikasi, dan menghadapi ketakutanmu sendiri.

Jadi, jika kamu selama ini bertanya mengapa hubungan serius selalu terasa menakutkan, mungkin pertanyaannya bukan hanya:

"Apakah aku sudah menemukan orang yang tepat?"

Tetapi juga:

"Apakah aku sudah memberikan diriku kesempatan untuk benar-benar dekat dengan seseorang?"

Terkadang, hambatan terbesar untuk menemukan cinta bukanlah tidak adanya orang yang tepat.

Melainkan ketakutan kita sendiri untuk membiarkan orang yang tepat masuk.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore