Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 September 2026 | 21.07 WIB

Dianggap 'Red Flag', 5 Pekerjaan Ini Enggan Diberikan Baby Boomer dan Gen X kepada Pekerja Gen Z

Ilustrasi, interview kerja Gen Z oleh pemberi kerja Baby Boomer atau Gen X. Magnific/ shurkin_son.


JawaPos.com - Kepala Penasihat atau Konsultan Karier Stacie Haller menganggap Gen Z sebagai 'red flag' dalam perekrutan pekerja.

Dirinya menganggap Gen Z yang lahir tahun 1997 – 2012 minim pengalaman, profesionalisme, dan kebiasaan mereka sering berganti pekerjaan.

Dilansir JawaPos.com dari yourtango pada Jumat (4/9), anggapan tersebut semakin kuat ketika pemberi kerja yang didominasi Baby Boomer dan Gen X membayangkan Gen Z melakukan pekerjaan yang melibatkan interaksi tidak menyenangkan atau kondisi kerja yang berat.

Lebih lanjut, berikut ini lima pekerjaan yang enggan diberikan Baby Boomer dan Gen X kepada pekerja Gen Z, menurut konsultan karier.

1. Telemarketer

Generasi yang lebih tua, seperti Baby Boomer atau Gen X percaya bahwa anak muda tidak akan tahan menghadapi pelanggan yang kasar atau pekerjaan yang sifatnya repetitif.

Mereka cenderung memiliki batasan tegas mengenai bagaimana mereka ingin diperlakukan di tempat kerja, sehingga pekerjaan yang melibatkan permusuhan terus-menerus dari orang asing mungkin sulit untuk mereka terima.

Banyak dari Gen Z juga ingin merasa terhubung dengan tujuan di balik pekerjaan mereka.

Ini membuat pekerjaan telemarketing yang repetitif dan sangat bergantung pada naskah baku menjadi kurang menarik.

Bukan berarti enggan bekerja, melainkan telemarketing tidak menawarkan lingkungan atau motivasi yang benar-benar sesuai dengan karakteristik Gen Z.

2. Sales Door to Door


Baby Boomer dan Gen X beranggapan Gen Z tidak menyukai pekerjaan yang bersifat repetitif.

Tentu, mengetuk pintu dari rumah ke rumah secara berulang-ulang yang merupakan sifat dari pekerjaan sales door to door akan terasa sangat membosankan bagi Gen Z.

Selain itu, pekerjaan ini juga melibatkan banyak interaksi sosial, sesuatu yang sulit diterima oleh Gen Z.

Belum lagi tuntutan untuk menghadapi penolakan secara langsung dan tatap muka dari banyak orang, membuat pekerjaan sales door to door semakin rumit untuk mereka.
 
Jadi, tidak heran banyak dari pemberi kerja Baby Boomer dan Gen X berasumsi pekerja Gen Z tidak akan sanggup bertahan lama dalam pekerjaan semacam ini.
 
3. Pekerja Pabrik
 
Selain tidak tahan dengan pekerjaan yang bersifat repetitif, Baby Boomer dan Gen X juga memandang Gen Z sebagai 'kutu loncat', karena kecenderungan mereka berganti pekerjaan dengan cepat atau menjalani beberapa pekerjaan sekaligus.
 
Sementara pekerjaan pabrik sering kali menuntut jadwal tetap, tugas yang repetitif, dan kehadiran yang konsisten.
 
Itu sebabnya, pemberi kerja dari generasi sebelumnya menganggap Gen Z kurang cocok untuk peran ini, terutama mereka yang melakoni lebih dari satu pekerjaan.

4. Pramusaji Shift Malam


Pemberi kerja dari generasi yang lebih tua beranggapan bahwa pekerja Gen Z kurang bersedia menerima giliran kerja yang menguras fisik, upah rendah, dan menghadapi pelanggan yang sulit.

Faktor-faktor tersebut membuat mereka menilai bahwa sebagian besar Gen Z tidak cocok untuk bekerja pada shift malam.

Bekerja shift malam di restoran menuntut lebih dari sekadar kemampuan untuk tetap terjaga.

Pramusaji harus berdiri selama berjam-jam sembari melayani beberapa meja sekaligus, membersihkan area antara pergantian pelanggan, serta menjaga kesabaran saat menghadapi orang-orang yang kelelahan atau bersikap kasar.

Shift malam juga menyulitkan Gen Z untuk menjaga pola tidur yang teratur atau meluangkan waktu bagi teman dan keluarga.

Pekerja Gen Z tidak mau menerima kondisi kerja yang buruk hanya karena 'begitulah aturan kerja selama ini' dan para pemberi kerja dari generasi Baby Boomer atau Gen X menafsirkan sikap tersebut sebagai kurangnya etos kerja.

Mereka berasumsi bahwa pekerja Gen Z mungkin akan memutuskan berhenti karena merasa jam kerja yang panjang, pendapatan tip yang tidak menentu, dan pelanggan yang menyulitkan tidak sebanding dengan upah yang diterima.

Akibatnya, generasi Boomer dan Gen X hampir tidak akan pernah mempekerjakan Gen Z untuk posisi pramusaji pada shift malam.

5. Customer Service Representative


Banyak dari generasi yang lebih tua mengetahui bahwa Gen Z tidak menyukai obrolan basa-basi.

Itu sebabnya pemberi kerja Baby Boomer dan Gen X hampir tidak memasukkan Gen Z dalam daftar pekerja mereka.

Pekerjaan customer service representative terkadang bisa terasa sangat menguras jiwa.

Sementara Gen Z yang menjunjung tinggi individualitas serta pekerjaan yang bermakna dan memuaskan, aktivitas seperti terus-menerus menjawab pertanyaan pelanggan, mengikuti naskah yang telah disiapkan, dan tetap sabar menghadapi pembeli yang frustasi akan terasa sulit.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore