seseorang yang berkencan dengan seseorang yang red flag. (Magnific)
Namun, ada beberapa perilaku yang patut diperhatikan.
Bukan berarti seseorang yang menunjukkan satu perilaku tertentu otomatis merupakan orang yang buruk, manipulatif, atau tidak layak dijadikan pasangan. Tetapi ketika beberapa pola muncul secara konsisten—terutama perilaku yang menunjukkan kurangnya empati, tidak menghargai batasan, merasa lebih unggul, atau mencoba mengendalikan orang lain—kamu sebaiknya tidak mengabaikannya.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (9/8), dalam psikologi, perilaku seseorang biasanya lebih bermakna ketika dilihat sebagai pola, bukan sebagai satu kejadian yang berdiri sendiri.
Jadi, jika saat kencan pertama kamu menemukan beberapa tanda berikut, mungkin ada baiknya memperlambat langkah dan mengamati lebih jauh sebelum terlalu larut dalam perasaan.
1. Dia Terlalu Cepat Membuatmu Merasa “Istimewa”
Kamu baru bertemu beberapa jam, tetapi dia sudah mengatakan bahwa kamu adalah orang yang berbeda dari semua orang yang pernah dia temui.
Dia mengatakan kalian sangat cocok.
Dia mulai membicarakan masa depan.
Bahkan mungkin mengatakan hal-hal seperti:
“Aku merasa seperti sudah mengenal kamu sejak lama.”
Atau:
“Kayaknya kamu adalah orang yang selama ini aku cari.”
Sekilas, kalimat-kalimat tersebut memang terdengar romantis. Siapa yang tidak senang ketika seseorang langsung menunjukkan ketertarikan?
Namun, kamu perlu melihat konteksnya.
Ketertarikan yang kuat pada awal hubungan tidak selalu bermasalah. Yang patut diperhatikan adalah ketika seseorang terlalu cepat membangun kedekatan emosional tanpa benar-benar mengenalmu.
Dalam hubungan tertentu, intensitas seperti ini dapat menjadi bagian dari perilaku yang sering disebut love bombing, yaitu pemberian perhatian, pujian, atau kasih sayang secara berlebihan dalam waktu singkat.
Masalahnya bukan pada pujian itu sendiri.
Masalahnya adalah ketika perhatian tersebut kemudian digunakan untuk menciptakan kedekatan yang sangat cepat, membuatmu merasa berutang secara emosional, atau mendorongmu melewati batas yang sebenarnya belum siap kamu lewati.
Misalnya, baru sekali bertemu tetapi dia sudah ingin mengetahui semua detail kehidupanmu, meminta kamu selalu memberi kabar, atau berharap kamu mengutamakan dirinya dibandingkan kehidupanmu sendiri.
Apa yang perlu kamu perhatikan?
Jangan hanya melihat seberapa manis perkataannya.
Lihat apakah kecepatan hubungan sesuai dengan kenyamananmu.
Orang yang sehat secara emosional biasanya mampu menerima ketika kamu berkata:
“Aku ingin menjalani semuanya secara perlahan.”
Jika dia menghormati hal tersebut, itu justru merupakan pertanda yang lebih positif.
Sebaliknya, jika dia marah, tersinggung, membuatmu merasa bersalah, atau mengatakan bahwa kamu tidak serius hanya karena ingin menjaga batasan, kamu patut berhati-hati.
2. Dia Berkali-kali Membicarakan Betapa Buruknya Mantan-Mantannya
Salah satu topik yang hampir pasti muncul dalam banyak percakapan kencan adalah hubungan masa lalu.
Itu normal.
Seseorang tentu memiliki pengalaman sebelumnya.
Yang perlu diperhatikan adalah cara dia membicarakan mantannya.
Jika sepanjang kencan dia terus bercerita bahwa semua mantannya “gila”, “toxic”, “bodoh”, “tidak tahu berterima kasih”, atau “selalu menjadi sumber masalah”, kamu mungkin perlu berhenti sejenak dan memperhatikan pola tersebut.
Bukan berarti mantannya pasti orang baik.
Bisa saja dia memang pernah berada dalam hubungan yang buruk.
Namun, hubungan yang sehat dengan masa lalu biasanya melibatkan kemampuan untuk melihat situasi secara lebih kompleks.
Misalnya:
“Hubungan kami tidak berhasil karena kami sama-sama punya cara komunikasi yang berbeda.”
Pernyataan seperti itu menunjukkan adanya kemampuan untuk melakukan refleksi diri.
Sebaliknya, jika seseorang selalu menempatkan dirinya sebagai korban sempurna dan mantannya sebagai satu-satunya sumber masalah, ada kemungkinan dia belum banyak melakukan evaluasi terhadap perannya sendiri dalam hubungan.
Mengapa ini penting?
Hubungan membutuhkan kemampuan untuk mengakui kesalahan.
Tidak ada manusia yang selalu benar.
Jika seseorang tidak pernah mengakui kesalahannya dalam hubungan sebelumnya, kamu bisa bertanya-tanya:
Bagaimana dia akan menghadapi konflik ketika nanti kalian memiliki masalah?
Apakah dia akan mencoba mencari solusi?
Atau justru langsung mencari seseorang untuk disalahkan?
Satu percakapan tentang mantan tentu tidak cukup untuk mengambil kesimpulan.
Tetapi jika pola menyalahkan orang lain muncul berkali-kali, itu adalah sesuatu yang layak kamu amati.
3. Dia Tidak Menghormati Batasan Kecil yang Kamu Buat
Ini mungkin salah satu tanda yang paling penting.
Bayangkan kamu mengatakan:
“Aku kurang nyaman kalau terlalu banyak kontak fisik di awal.”
Tetapi dia tetap melakukannya.
Atau kamu mengatakan:
“Aku belum mau membagikan informasi pribadi itu.”
Namun dia terus mendesak.
Bahkan mungkin dia mengatakan:
“Ah, kamu terlalu sensitif.”
Atau:
“Kalau kamu memang suka sama aku, seharusnya kamu tidak keberatan.”
Hati-hati.
Dalam sebuah hubungan, batasan bukanlah sesuatu yang dibuat untuk menjauhkan orang lain. Batasan adalah cara seseorang memberi tahu apa yang membuat dirinya merasa aman dan nyaman.
Orang yang menghargaimu tidak harus selalu menyukai batasanmu.
Tetapi dia seharusnya menghormatinya.
Misalnya, ketika kamu mengatakan belum nyaman membicarakan masalah pribadi, respons yang sehat bisa berupa:
“Tidak apa-apa. Cerita kalau kamu sudah merasa nyaman.”
Respons seperti itu menunjukkan penghargaan terhadap otonomi pribadi.
Sebaliknya, tekanan, rasa bersalah, ancaman emosional, atau terus-menerus menguji batasan bisa menjadi tanda yang perlu diperhatikan.
Ingat satu hal penting:
Cara seseorang merespons kata “tidak” sering kali lebih penting daripada cara dia merespons kata “iya”.
Ketika kamu mengatakan iya, hampir semua orang bisa terlihat menyenangkan.
Karakter seseorang sering kali lebih terlihat ketika keinginannya tidak terpenuhi.
4. Dia Bersikap Kasar kepada Pelayan atau Orang yang Dianggap “Tidak Penting”
Perhatikan bagaimana pasangan kencanmu memperlakukan orang lain.
Bukan hanya bagaimana dia memperlakukanmu.
Ketika memesan makanan, apakah dia berbicara dengan sopan kepada pelayan?
Ketika pesanan terlambat, apakah dia mampu menyampaikan keluhan tanpa merendahkan?
Ketika terjadi kesalahan kecil, apakah dia langsung meledak?
Hal-hal kecil seperti ini mungkin terlihat sepele.
Namun, perilaku seseorang terhadap orang yang tidak memiliki kepentingan langsung terhadap dirinya bisa memberikan gambaran tentang cara dia memperlakukan orang lain ketika tidak merasa perlu menjaga citra.
Misalnya, seseorang bisa sangat romantis kepada pasangan tetapi sangat merendahkan pekerja restoran.
Ini bukan berarti satu kesalahan kecil langsung membuktikan bahwa dia memiliki karakter buruk.
Pelayan juga manusia dan situasi bisa membuat siapa pun frustrasi.
Yang penting adalah pola dan intensitasnya.
Apakah dia bisa mengoreksi dirinya sendiri?
Apakah dia meminta maaf ketika menyadari telah bersikap kasar?
Atau justru merasa berhak memperlakukan orang lain sesuka hati?
Jika seseorang menganggap dirinya lebih berharga daripada orang lain, pola tersebut dapat menjadi masalah serius ketika hubungan semakin dekat.
5. Dia Terus Membicarakan Dirinya Sendiri dan Hampir Tidak Tertarik Mengenalmu
Kencan pertama seharusnya berlangsung dua arah.
Kamu bercerita.
Dia mendengarkan.
Dia bercerita.
Kamu mendengarkan.
Tentu saja, ada orang yang memang lebih banyak bicara karena gugup. Ada juga yang memiliki kepribadian ekstrover.
Jadi, jangan langsung menganggap seseorang bermasalah hanya karena dia banyak bicara.
Yang lebih penting adalah:
Apakah dia benar-benar penasaran terhadap dirimu?
Setelah kamu bercerita, apakah dia mengajukan pertanyaan lanjutan?
Misalnya kamu mengatakan:
“Aku suka sekali mendaki gunung.”
Orang yang tertarik mengenalmu mungkin akan bertanya:
“Sudah berapa lama kamu suka mendaki?”
“Atau gunung favoritmu apa?”
Sebaliknya, dia mungkin hanya menjawab:
“Oh, aku juga pernah mendaki. Aku bahkan pernah naik gunung di luar negeri…”
Kemudian pembicaraan kembali menjadi tentang dirinya.
Jika hal tersebut terjadi terus-menerus, kamu mungkin sedang melihat pola komunikasi yang tidak seimbang.
Hubungan yang sehat membutuhkan saling memberi ruang.
Bukan berarti setiap percakapan harus 50:50 secara matematis. Tetapi secara umum, kedua orang seharusnya merasa didengar dan dihargai.
Coba tanyakan kepada dirimu setelah kencan:
“Apakah dia benar-benar mengenalku?”
Atau:
“Aku sebenarnya lebih banyak mendengarkan cerita tentang dirinya?”
Jawabanmu bisa memberikan informasi yang cukup berharga.
6. Dia Meremehkan Perasaan atau Pengalamanmu
Bayangkan kamu sedang bercerita tentang sesuatu yang membuatmu tidak nyaman.
Kemudian dia menjawab:
“Ah, itu mah masalah kecil.”
“Atau kamu terlalu baper.”
“Jangan lebay.”
“Orang lain juga mengalami hal yang lebih parah.”
Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana.
Tetapi ketika seseorang berulang kali meremehkan emosi orang lain, hubungan dapat menjadi sangat melelahkan secara psikologis.
Validasi emosional bukan berarti seseorang harus selalu setuju dengan perasaanmu.
Dia boleh memiliki pandangan berbeda.
Namun, ada perbedaan besar antara berkata:
“Aku melihatnya berbeda, tapi aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu.”
dan:
“Kamu terlalu sensitif.”
Yang pertama membuka ruang untuk dialog.
Yang kedua cenderung menutup percakapan dengan membuat seseorang merasa bahwa emosinya tidak valid.
Mengapa ini penting dalam hubungan?
Karena konflik adalah sesuatu yang hampir tidak bisa dihindari.
Cepat atau lambat, kalian akan memiliki pendapat yang berbeda.
Jika sejak awal seseorang sudah menunjukkan ketidakmampuan untuk mendengarkan perasaanmu, kamu perlu mempertimbangkan bagaimana pola tersebut akan berkembang ketika hubungan menghadapi masalah yang jauh lebih serius.
7. Intuisimu Terus Mengatakan Ada Sesuatu yang Tidak Beres
Ini adalah tanda yang sering diabaikan.
Setelah kencan selesai, mungkin semuanya terlihat baik-baik saja.
Dia tampan.
Dia menarik.
Percakapannya menyenangkan.
Dia juga terlihat sukses dan percaya diri.
Tetapi entah kenapa, ada sesuatu dalam dirimu yang membuat kamu merasa tidak nyaman.
Kamu sulit menjelaskan alasannya.
Bukan berarti setiap perasaan tidak nyaman otomatis berarti pasanganmu berbahaya.
Kecemasan sosial, pengalaman buruk di masa lalu, rasa gugup, atau ketidakpercayaan diri juga bisa memengaruhi cara seseorang merasakan sebuah kencan.
Namun, perasaan tidak nyaman tetap layak diperhatikan.
Terutama jika perasaan tersebut muncul bersamaan dengan perilaku konkret seperti:
dia tidak menghormati batasanmu;
dia terlalu mengontrol;
dia membuatmu merasa bersalah;
dia berbohong tentang hal-hal kecil;
dia merendahkan orang lain;
dia terlalu cepat menuntut kedekatan;
atau kamu merasa harus berhati-hati setiap kali berbicara.
Jangan memaksa diri untuk mengabaikan semuanya hanya karena kamu merasa dia “terlalu menarik untuk dilewatkan”.
Ketertarikan tidak seharusnya membuatmu kehilangan kemampuan untuk menilai situasi.
Tetapi Ingat: Satu Red Flag Tidak Selalu Berarti Harus Langsung Pergi
Ini bagian yang sangat penting.
Istilah red flag sering digunakan di media sosial seolah-olah setiap kesalahan kecil adalah alasan untuk langsung mengakhiri hubungan.
Padahal kehidupan manusia jauh lebih kompleks.
Seseorang yang gugup saat kencan pertama mungkin terlihat terlalu banyak bicara.
Seseorang yang sedang lelah mungkin tidak sengaja terdengar ketus.
Seseorang mungkin memiliki pengalaman buruk dengan mantan sehingga membutuhkan waktu untuk membicarakannya secara objektif.
Karena itu, jangan menilai seseorang hanya berdasarkan satu kejadian.
Yang jauh lebih penting adalah pola perilaku dari waktu ke waktu.
Perhatikan tiga hal:
1. Apakah perilaku tersebut berulang?
Satu kejadian bisa merupakan kesalahan.
Pola yang berulang memiliki makna yang berbeda.
2. Apakah dia mampu menerima kritik?
Orang yang sehat secara emosional juga bisa melakukan kesalahan.
Perbedaannya adalah mereka mampu berkata:
“Aku sadar tadi caraku bicara tidak tepat. Maaf.”
Kemampuan memperbaiki diri adalah sesuatu yang sangat penting dalam hubungan.
3. Apakah dia menghormati batasanmu?
Kamu tidak perlu menunggu sampai terjadi masalah besar untuk mengetahui apakah seseorang menghargai batasan.
Batasan kecil yang kamu sampaikan pada awal hubungan bisa menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana dia merespons kata “tidak”.
Jangan Hanya Melihat Bagaimana Dia Memperlakukanmu
Ini mungkin salah satu prinsip paling penting dalam menilai calon pasangan.
Pada kencan pertama, seseorang tentu akan berusaha memberikan kesan terbaik.
Dia mungkin lebih perhatian.
Lebih sopan.
Lebih romantis.
Lebih sabar.
Oleh karena itu, jangan hanya melihat bagaimana dia memperlakukanmu ketika semuanya berjalan sesuai keinginannya.
Perhatikan bagaimana dia memperlakukan:
pelayan restoran;
pengemudi;
teman;
keluarga;
mantan;
orang yang berbeda pendapat dengannya;
dan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan apa pun kepadanya.
Perhatikan juga bagaimana dia bereaksi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Karakter seseorang sering kali lebih terlihat ketika dia menghadapi frustrasi, penolakan, dan perbedaan pendapat daripada ketika semuanya berjalan lancar.
Green Flag yang Sebaiknya Kamu Cari
Jika red flag adalah perilaku yang perlu diperhatikan, bukan berarti kamu harus menjadi terlalu curiga terhadap semua orang.
Justru, kamu bisa menggunakan kencan pertama untuk mencari tanda-tanda positif.
Misalnya:
Dia mendengarkan ketika kamu berbicara
Bukan hanya menunggu giliran untuk bercerita tentang dirinya sendiri.
Dia menghormati batasan
Ketika kamu mengatakan belum nyaman melakukan sesuatu, dia tidak memaksamu.
Dia mampu mengakui kesalahan
Dia tidak selalu mencari orang lain untuk disalahkan.
Dia memperlakukan orang lain dengan hormat
Bukan hanya ketika ada sesuatu yang bisa dia dapatkan.
Dia tidak terburu-buru
Dia membiarkan hubungan berkembang secara alami.
Dia bisa berbeda pendapat tanpa merendahkan
Perbedaan bukan dianggap sebagai ancaman.
Kamu merasa aman menjadi dirimu sendiri
Kamu tidak merasa harus terus-menerus menjaga ucapan agar dia tidak marah.
Kencan Pertama Bukan Ujian untuk Menemukan Orang yang Sempurna
Pada akhirnya, tujuan kencan pertama bukanlah mencari manusia yang tidak memiliki kekurangan.
Semua orang memiliki kelemahan.
Semua orang pernah salah bicara.
Semua orang bisa gugup.
Semua orang memiliki masa lalu.
Yang perlu kamu cari adalah seseorang yang memiliki kesadaran diri, empati, rasa hormat, dan kemauan untuk bertumbuh.
Jadi, jika kamu menemukan satu atau dua tanda yang membuatmu tidak nyaman, jangan buru-buru memberikan label.
Amati.
Kenali.
Berikan waktu.
Tetapi jangan pula mengabaikan sinyal yang jelas hanya karena kamu sudah terlanjur menyukai seseorang.
Terutama jika kamu mulai merasa bahwa kamu harus mengorbankan batasan, harga diri, keamanan emosional, atau prinsipmu agar hubungan tersebut tetap berjalan.
Karena hubungan yang sehat seharusnya tidak membuatmu terus-menerus bertanya:
“Kenapa aku merasa tidak nyaman ketika bersamanya?”
Hubungan yang sehat justru memberi ruang bagi dua orang untuk menjadi diri sendiri, menyampaikan kebutuhan, menetapkan batasan, dan menyelesaikan perbedaan tanpa rasa takut.
Jadi, pada kencan berikutnya, jangan hanya bertanya:
“Apakah dia menyukaiku?”
Coba tanyakan juga:
“Apakah aku merasa dihargai ketika bersamanya?”
“Apakah dia menghormati batasanku?”
“Apakah aku bisa menjadi diriku sendiri?”
Dan yang paling penting:
“Apakah perilakunya konsisten dengan kata-katanya?”
Karena terkadang, tanda paling penting bukanlah seberapa romantis seseorang saat pertama kali bertemu.
Melainkan bagaimana dia membuatmu merasa ketika kamu mengatakan “tidak”, ketika kalian berbeda pendapat, dan ketika dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Prediksi Malaysia vs Filipina: Menang atau Harus Berharap Thailand di Piala AFF 2026
Prediksi Thailand vs Myanmar di Piala AFF 2026: Gajah Perang Berpeluang Lolos sebagai Juara Grup
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Jadwal Siaran Langsung dan Link Live Streaming Chelsea vs AC Milan, Tayang di Mana?
Tumbang, Andika Kangen Band Minta Doa untuk Kesembuhannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Prediksi Skor Arsenal vs Dortmund di Emirates Cup 2026: Mikel Arteta Punya Misi Bangkit di Emirates
