Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 25 Agustus 2026 | 00.54 WIB

8 Alasan Mengapa Orang-Orang Mendambakan Hidup di Desa Saat Memasuki Masa Pensiun

seseorang yang mendambakan hidup di desa saat masa pensiun ( Magnific/jcomp ) - Image

seseorang yang mendambakan hidup di desa saat masa pensiun ( Magnific/jcomp )

JawaPos.com - Memasuki masa pensiun sering kali membawa perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Setelah puluhan tahun menjalani rutinitas pekerjaan, menghadapi tenggat waktu, kemacetan, tekanan target, serta tuntutan sosial, sebagian orang mulai membayangkan kehidupan yang jauh lebih sederhana. Salah satu gambaran yang kerap muncul adalah tinggal di desa.


Keinginan untuk menghabiskan masa tua di desa bukan sekadar persoalan mencari tempat yang lebih tenang. Dari sudut pandang psikologi, keinginan tersebut dapat berkaitan dengan kebutuhan manusia terhadap ketenangan, kendali atas kehidupan, hubungan sosial yang bermakna, aktivitas yang lebih alami, hingga pencarian identitas setelah tidak lagi memiliki peran sebagai pekerja.

Bagi sebagian orang, desa menjadi simbol kehidupan yang lebih lambat dan lebih dekat dengan hal-hal yang dianggap penting. Bangun pagi tanpa terburu-buru, berkebun, berjalan kaki, berbincang dengan tetangga, menikmati udara terbuka, atau sekadar duduk di teras rumah dapat terasa jauh lebih menarik setelah bertahun-tahun hidup dalam tekanan pekerjaan.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (24/8), terdapat delapan alasan psikologis mengapa banyak orang mulai mendambakan kehidupan di desa ketika memasuki masa pensiun.

1. Keinginan untuk Terbebas dari Tekanan dan Rutinitas

Salah satu alasan paling kuat adalah keinginan untuk melepaskan diri dari tekanan kehidupan kerja.

Selama bertahun-tahun, pekerjaan membuat seseorang terbiasa hidup berdasarkan jadwal. Ada jam masuk kantor, rapat, target, evaluasi, perjalanan menuju tempat kerja, email, pesan pekerjaan, hingga berbagai tanggung jawab yang harus diselesaikan tepat waktu.

Ketika memasuki masa pensiun, struktur kehidupan tersebut tiba-tiba berubah.

Secara psikologis, seseorang mungkin mulai mempertanyakan apakah ia masih ingin menjalani kehidupan yang sama. Setelah bertahun-tahun berada dalam lingkungan yang menuntut produktivitas tinggi, muncul kebutuhan untuk memperlambat ritme kehidupan.

Desa kemudian terlihat sebagai simbol dari kehidupan yang lebih santai.

Suasana yang lebih tenang, lalu lintas yang tidak terlalu padat, serta aktivitas sehari-hari yang cenderung tidak terburu-buru dapat memberikan kesan bahwa seseorang akhirnya memiliki kesempatan untuk "bernapas".

Keinginan ini bukan berarti orang yang tinggal di desa tidak memiliki masalah. Kehidupan desa tetap memiliki tantangan. Namun, secara psikologis, gambaran tentang desa sering diasosiasikan dengan kehidupan yang tidak terlalu kompetitif.

Bagi seseorang yang sudah puluhan tahun bekerja, perubahan suasana tersebut dapat terasa sangat menarik.

Pensiun akhirnya bukan lagi tentang mengejar sesuatu, melainkan tentang menikmati waktu yang selama ini terasa selalu kurang.

2. Manusia Memiliki Kebutuhan untuk Memulihkan Diri dari Kelelahan Mental

Pekerjaan yang berlangsung selama puluhan tahun dapat menyebabkan akumulasi kelelahan mental.

Seseorang mungkin tidak menyadarinya ketika masih bekerja karena kesibukan membuatnya terus bergerak. Namun, setelah pensiun dan memiliki lebih banyak waktu untuk berpikir, ia mungkin menyadari bahwa dirinya sebenarnya sangat lelah.

Lingkungan perkotaan juga dapat memberikan rangsangan yang sangat besar: suara kendaraan, kepadatan manusia, iklan, aktivitas komersial, notifikasi digital, serta tuntutan untuk selalu mengikuti perkembangan.

Dalam psikologi lingkungan, lingkungan yang lebih alami dapat memberikan kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat dari berbagai rangsangan yang terus-menerus diterima.

Inilah salah satu alasan mengapa pemandangan sawah, pepohonan, kebun, sungai, atau pegunungan dapat terasa menenangkan.

Bagi orang yang baru memasuki masa pensiun, lingkungan seperti itu dapat menjadi bagian dari proses membangun kembali keseimbangan hidup.

Ia tidak lagi harus selalu produktif.

Ia dapat berjalan pagi, merawat tanaman, memberi makan hewan, menikmati matahari sore, atau sekadar duduk menikmati suasana sekitar.

Aktivitas sederhana tersebut mungkin terlihat sepele, tetapi justru dapat memberikan rasa pemulihan psikologis.

3. Desa Memberikan Rasa Lebih Dekat dengan Alam

Ketika usia bertambah, sebagian orang mulai mengalami perubahan dalam cara memandang kebahagiaan.

Hal-hal yang dahulu dianggap penting mungkin tidak lagi menjadi prioritas.

Saat masih muda, seseorang mungkin mengejar jabatan, penghasilan, rumah besar, kendaraan, atau status sosial. Namun, ketika memasuki masa pensiun, perhatian dapat bergeser menuju kesehatan, ketenangan, keluarga, dan kualitas hidup.

Pada titik tersebut, alam dapat memperoleh nilai psikologis yang lebih besar.

Kehidupan di desa memungkinkan seseorang merasa lebih dekat dengan alam. Ia dapat melihat pepohonan dari halaman rumah, mendengar suara burung, menanam sayuran, merawat bunga, atau berjalan di sekitar persawahan.

Interaksi dengan alam juga sering dikaitkan dengan perasaan tenang dan pemulihan dari stres.

Tidak mengherankan apabila seseorang yang selama puluhan tahun bekerja di gedung perkantoran mulai membayangkan kehidupan dengan halaman rumah, kebun kecil, dan udara terbuka.

Bukan karena kehidupan tersebut selalu sempurna, melainkan karena alam mewakili sesuatu yang mungkin selama ini hilang dari kehidupan modern: kesederhanaan.

4. Pensiun Membuat Seseorang Mencari Makna Hidup yang Baru

Pensiun bukan hanya perubahan status pekerjaan. Bagi banyak orang, pensiun juga merupakan perubahan identitas.

Selama bertahun-tahun, seseorang mungkin memperkenalkan dirinya melalui pekerjaannya.

"Saya seorang guru."

"Saya bekerja di perusahaan tersebut."

"Saya seorang manajer."

"Saya seorang pegawai."

Ketika pekerjaan berakhir, identitas tersebut tidak lagi menjadi pusat kehidupan sehari-hari.

Kondisi ini dapat membuat seseorang bertanya:

"Lalu, sekarang saya ini siapa?"

Pertanyaan semacam itu merupakan bagian penting dari proses adaptasi psikologis terhadap masa pensiun.

Kehidupan desa dapat menawarkan bentuk identitas baru yang lebih personal.

Seseorang dapat menjadi orang yang merawat kebun, memelihara tanaman, membantu kegiatan masyarakat, mengurus rumah, mengajar anak-anak di lingkungan sekitar, atau aktif dalam kegiatan sosial.

Dengan kata lain, kehidupan desa dapat memberikan kesempatan untuk menemukan makna di luar pekerjaan formal.

Seseorang tidak lagi harus membuktikan dirinya melalui jabatan atau prestasi profesional. Ia dapat merasa berharga karena kontribusi sederhana yang diberikan kepada keluarga dan komunitas.

5. Hubungan Sosial yang Lebih Personal Menjadi Semakin Berarti

Seiring bertambahnya usia, kebutuhan terhadap hubungan sosial yang bermakna dapat menjadi semakin penting.

Ketika masih bekerja, seseorang mungkin memiliki banyak koneksi. Ia mengenal banyak rekan kerja, klien, atasan, bawahan, dan berbagai orang dari lingkungan profesional.

Namun, banyak hubungan tersebut terbentuk karena tuntutan pekerjaan.

Setelah pensiun, seseorang mungkin mulai membedakan antara "memiliki banyak kenalan" dan "memiliki hubungan yang benar-benar dekat".

Kehidupan di desa sering dibayangkan memiliki hubungan sosial yang lebih personal.

Orang mengenal tetangga, saling menyapa, berbincang di depan rumah, membantu ketika ada kebutuhan, atau berkumpul dalam kegiatan masyarakat.

Tentu saja tidak semua desa memiliki hubungan sosial yang ideal. Konflik antarwarga tetap dapat terjadi.

Namun, secara psikologis, gambaran tentang komunitas yang saling mengenal dapat memberikan rasa memiliki.

Dan rasa memiliki merupakan kebutuhan psikologis yang penting.

Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari organisasi atau perusahaan, seseorang mungkin ingin kembali menjadi bagian dari komunitas yang terasa lebih dekat dan manusiawi.

6. Kehidupan Sederhana Memberikan Rasa Memiliki Kendali

Pensiun dapat memberikan kebebasan, tetapi sekaligus dapat membuat seseorang merasa kehilangan struktur.

Ketika bekerja, banyak hal sudah ditentukan oleh pekerjaan. Ada jadwal, tanggung jawab, target, dan rutinitas.

Setelah pensiun, seseorang tiba-tiba memiliki banyak waktu.

Pada awalnya hal tersebut terasa menyenangkan. Namun, bagi sebagian orang, terlalu banyak waktu tanpa struktur juga dapat menimbulkan kebingungan.

Kehidupan yang lebih sederhana dapat membantu seseorang menciptakan rutinitas baru.

Misalnya, bangun pagi, menyiram tanaman, membersihkan halaman, pergi ke pasar, memasak, berjalan kaki, mengunjungi tetangga, atau menghabiskan waktu bersama keluarga.

Aktivitas sederhana tersebut dapat memberikan rasa bahwa hidup masih memiliki arah.

Menariknya, kegiatan seperti berkebun juga dapat memberikan perasaan memiliki kendali.

Seseorang menanam sesuatu, merawatnya, melihatnya tumbuh, lalu mendapatkan hasilnya.

Berbeda dengan pekerjaan modern yang hasilnya terkadang abstrak, aktivitas seperti berkebun memberikan hubungan yang sangat jelas antara usaha dan hasil.

Bagi seseorang yang selama puluhan tahun bekerja dalam sistem yang kompleks, pengalaman sederhana seperti itu dapat terasa memuaskan.

7. Pensiun Membuat Orang Lebih Menghargai Waktu daripada Status

Ketika masih muda, banyak orang memandang waktu sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk mengejar masa depan.

Ada target lima tahun, rencana karier, pendidikan anak, membeli rumah, meningkatkan penghasilan, atau mencapai posisi tertentu.

Namun, memasuki usia pensiun dapat mengubah perspektif terhadap waktu.

Seseorang mulai menyadari bahwa waktu bukan sesuatu yang tidak terbatas.

Akibatnya, prioritas dapat berubah.

Pertanyaan yang sebelumnya berbunyi:

"Berapa banyak yang bisa saya capai?"

dapat berubah menjadi:

"Bagaimana saya ingin menghabiskan waktu yang saya miliki?"

Di sinilah kehidupan desa terlihat menarik.

Desa sering diasosiasikan dengan ritme kehidupan yang lebih lambat. Seseorang tidak harus selalu terburu-buru dari satu aktivitas menuju aktivitas berikutnya.

Waktu untuk makan bersama keluarga, bercakap-cakap dengan tetangga, merawat tanaman, memancing, atau menikmati pagi dapat menjadi sesuatu yang bernilai.

Dalam konteks ini, pindah ke desa bukan sekadar pindah lokasi.

Bagi sebagian orang, itu merupakan simbol perubahan cara hidup.

Mereka tidak lagi ingin mengukur kehidupan berdasarkan seberapa sibuk dirinya, tetapi berdasarkan seberapa bermakna waktu yang dijalani.

8. Ada Kerinduan untuk Kembali pada Kehidupan yang Terasa Lebih Autentik

Alasan terakhir berkaitan dengan nostalgia dan pencarian kehidupan yang terasa lebih autentik.

Sebagian orang yang memasuki masa pensiun pernah memiliki pengalaman hidup di desa ketika masih kecil. Mereka mungkin pernah menghabiskan masa kanak-kanak bersama kakek-nenek, bermain di halaman, membantu orang tua, pergi ke kebun, mandi di sungai, atau menikmati suasana kampung.

Ketika dewasa, mereka pindah ke kota untuk pendidikan dan pekerjaan.

Selama puluhan tahun, kehidupan perkotaan menjadi normal.

Namun, ketika tekanan pekerjaan mulai berkurang, ingatan tentang kehidupan masa lalu dapat muncul kembali.

Desa kemudian bukan hanya sebuah tempat.

Desa menjadi simbol kenangan.

Ia mengingatkan seseorang pada masa ketika hidup terasa lebih sederhana, hubungan keluarga lebih dekat, dan kebahagiaan tidak membutuhkan terlalu banyak hal.

Nostalgia semacam ini dapat menjadi sangat kuat ketika seseorang memasuki fase kehidupan yang penuh refleksi.

Mereka mulai bertanya tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup.

Bagi sebagian orang, jawabannya bukan lagi pencapaian karier, melainkan rumah sederhana, keluarga, lingkungan yang tenang, dan kesempatan untuk menjalani hari tanpa tekanan berlebihan.

Pindah ke Desa Bukan Berarti Melarikan Diri dari Kehidupan

Meskipun demikian, penting untuk memahami bahwa keinginan tinggal di desa tidak selalu berarti seseorang membenci kota atau tidak mampu menghadapi kehidupan modern.

Keinginan tersebut dapat menjadi bentuk perubahan prioritas.

Pada fase kehidupan tertentu, manusia memang dapat menginginkan hal yang berbeda.

Ketika masih muda, seseorang mungkin membutuhkan kesempatan karier, akses pendidikan, hiburan, dan fasilitas kota.

Namun, ketika memasuki masa pensiun, kebutuhan tersebut dapat berubah.

Ketenangan, hubungan sosial, alam, rutinitas yang fleksibel, dan waktu bersama keluarga mungkin menjadi jauh lebih berharga.

Karena itu, keinginan untuk tinggal di desa dapat dipahami sebagai bagian dari proses adaptasi terhadap tahap kehidupan baru.

Yang paling penting bukan apakah desa atau kota lebih baik secara mutlak.

Yang lebih penting adalah apakah lingkungan tersebut sesuai dengan kebutuhan psikologis seseorang.

Penutup

Keinginan untuk tinggal di desa ketika memasuki masa pensiun sebenarnya dapat mencerminkan perubahan mendalam dalam cara seseorang memandang kehidupan.

Setelah bertahun-tahun mengejar pekerjaan, penghasilan, target, dan berbagai pencapaian, manusia pada akhirnya dapat mendambakan sesuatu yang jauh lebih sederhana: ketenangan, waktu, hubungan yang bermakna, alam, dan rasa memiliki.

Delapan alasan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan desa dapat terlihat menarik karena memenuhi sejumlah kebutuhan psikologis yang semakin terasa penting pada masa pensiun: kebutuhan untuk beristirahat dari tekanan, terhubung dengan alam, menemukan identitas baru, membangun hubungan sosial, memiliki kendali atas waktu, serta menemukan kembali makna hidup.

Pada akhirnya, pensiun bukan hanya tentang berhenti bekerja.

Pensiun adalah kesempatan untuk menentukan kembali seperti apa kehidupan yang ingin dijalani.

Dan bagi sebagian orang, jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin sangat sederhana:

sebuah rumah yang tenang, halaman yang hijau, orang-orang yang dikenal, dan waktu yang cukup untuk menikmati setiap hari.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore