
seseorang yang memiliki kebiasaan mental yang buruk (Magnific/krakenimages.com)
Seseorang mungkin memiliki kemampuan yang baik, peluang yang cukup, bahkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Namun, jika ia terbiasa berpikir negatif, terlalu takut terhadap kegagalan, terus membandingkan dirinya dengan orang lain, atau selalu menunda tindakan, potensi tersebut dapat sulit berkembang.
Dalam psikologi, cara seseorang berpikir memiliki hubungan yang erat dengan cara ia merasakan sesuatu dan kemudian bertindak. Pikiran tertentu dapat memengaruhi emosi, emosi dapat memengaruhi perilaku, dan perilaku yang dilakukan berulang kali pada akhirnya dapat membentuk kebiasaan.
Karena itu, mengenali kebiasaan mental yang kurang sehat merupakan langkah penting. Bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan untuk memahami pola yang mungkin selama ini diam-diam menghambat kehidupan.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (24/8), terdapat tujuh kebiasaan mental buruk yang dapat menghambat kemajuan seseorang.
1. Terlalu Sering Overthinking
Salah satu kebiasaan mental yang paling umum adalah terlalu banyak berpikir tanpa menghasilkan tindakan yang jelas.
Memikirkan sebuah masalah sebenarnya merupakan hal yang normal. Manusia memang perlu mempertimbangkan risiko, mempelajari pilihan, dan mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan. Masalah muncul ketika proses berpikir berubah menjadi lingkaran kekhawatiran yang terus berulang.
Seseorang mungkin terus memikirkan:
"Bagaimana kalau saya gagal?"
"Bagaimana kalau keputusan saya salah?"
"Bagaimana kalau orang lain menilai saya?"
"Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat muncul berulang kali tanpa menghasilkan solusi.
Dalam kondisi seperti ini, seseorang dapat merasa seolah-olah sedang melakukan sesuatu karena pikirannya terus bekerja. Padahal, ia mungkin tidak benar-benar bergerak menuju penyelesaian masalah.
Overthinking juga dapat membuat keputusan sederhana terasa sangat berat. Ketika terlalu banyak kemungkinan dipertimbangkan, seseorang dapat kehilangan kepercayaan terhadap penilaiannya sendiri.
Akibatnya, kesempatan dapat berlalu begitu saja.
Misalnya, seseorang ingin memulai bisnis kecil. Ia sudah memiliki ide, modal terbatas, dan kemampuan yang cukup. Namun, selama berbulan-bulan ia terus memikirkan kemungkinan gagal. Ia membaca berbagai informasi, mencari pendapat orang lain, membuat banyak rencana, tetapi tidak pernah benar-benar memulai.
Masalah utamanya bukan selalu kurangnya pengetahuan. Bisa jadi, ia terjebak dalam siklus berpikir tanpa tindakan.
Bagaimana mengatasinya?
Salah satu cara yang dapat membantu adalah membedakan antara berpikir untuk memecahkan masalah dan berpikir untuk mengurangi kecemasan.
Jika sebuah pemikiran menghasilkan langkah konkret, pemikiran tersebut mungkin membantu. Namun, jika pemikiran yang sama terus berulang tanpa menghasilkan keputusan atau tindakan, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak.
Tanyakan kepada diri sendiri:
"Apa satu tindakan kecil yang bisa saya lakukan sekarang?"
Kemajuan tidak selalu membutuhkan keputusan yang sempurna. Sering kali, seseorang hanya membutuhkan keputusan yang cukup baik untuk memulai.
2. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Membandingkan diri dengan orang lain merupakan kecenderungan manusia yang cukup alami. Seseorang dapat melihat pencapaian orang lain untuk mengetahui bagaimana posisi dirinya.
Namun, kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus dapat menjadi masalah ketika seseorang hanya melihat kelebihan orang lain dan kekurangan dirinya sendiri.
Di era media sosial, masalah ini semakin mudah terjadi.
Seseorang melihat temannya mendapatkan pekerjaan bagus, menikah, membeli rumah, bepergian ke berbagai tempat, memiliki bisnis, atau mencapai tujuan tertentu.
Sementara itu, ia melihat hidupnya sendiri dari sudut pandang yang berbeda.
Ia mengetahui semua kegagalannya, kekhawatirannya, masalah keuangannya, kesalahan masa lalu, dan ketidakpastiannya.
Akibatnya, perbandingan tersebut menjadi tidak seimbang.
Ia membandingkan kehidupan nyata dirinya dengan versi terbaik kehidupan orang lain.
Dalam psikologi, perbandingan sosial dapat memengaruhi bagaimana seseorang mengevaluasi dirinya. Jika dilakukan secara berlebihan dan cenderung negatif, kebiasaan tersebut dapat berkontribusi terhadap rasa tidak puas dan rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri.
Yang lebih berbahaya adalah ketika pencapaian orang lain dijadikan ukuran utama nilai diri.
Seseorang akhirnya berpikir:
"Saya baru akan merasa berhasil kalau sudah seperti dia."
"Saya tertinggal dari teman-teman saya."
"Di usia saya sekarang, seharusnya saya sudah mencapai lebih banyak."
Pola pikir tersebut dapat membuat seseorang kehilangan apresiasi terhadap perkembangan dirinya sendiri.
Bagaimana mengatasinya?
Alih-alih bertanya, "Mengapa saya tidak seperti dia?", cobalah bertanya:
"Apa yang bisa saya pelajari dari perjalanan dia?"
Perbandingan dapat digunakan sebagai sumber informasi, bukan sebagai alat untuk menghukum diri sendiri.
Selain itu, penting untuk membandingkan diri dengan versi diri sendiri di masa lalu.
Apakah sekarang Anda lebih berani?
Apakah pengetahuan Anda bertambah?
Apakah Anda lebih mampu mengendalikan emosi?
Apakah Anda sudah meninggalkan kebiasaan yang sebelumnya merugikan?
Kemajuan kecil tetap merupakan kemajuan.
3. Memiliki Pola Pikir "Harus Sempurna"
Perfeksionisme sering kali terlihat seperti sifat positif.
Seseorang yang perfeksionis mungkin dianggap teliti, memiliki standar tinggi, dan selalu ingin memberikan hasil terbaik.
Namun, ada perbedaan antara berusaha mencapai kualitas tinggi dan merasa tidak boleh melakukan kesalahan sama sekali.
Perfeksionisme yang tidak sehat dapat membuat seseorang takut memulai karena merasa hasilnya harus sempurna.
Ia menunggu waktu yang tepat.
Menunggu persiapan yang sempurna.
Menunggu kemampuan yang lebih baik.
Menunggu kondisi yang ideal.
Masalahnya, kondisi ideal sering kali tidak pernah datang.
Akibatnya, seseorang dapat mengalami apa yang disebut sebagai pola "all-or-nothing thinking" atau pemikiran serba hitam-putih.
Jika hasilnya tidak sempurna, ia menganggapnya sebagai kegagalan.
Jika tidak mendapatkan nilai terbaik, ia merasa dirinya buruk.
Jika presentasinya tidak berjalan sempurna, ia merasa seluruh usahanya sia-sia.
Pola pikir seperti ini dapat mengurangi keberanian untuk bereksperimen.
Padahal, proses belajar hampir selalu melibatkan kesalahan.
Orang yang sedang membangun karier, bisnis, keterampilan, hubungan, atau kebiasaan baru pasti akan menghadapi ketidaksempurnaan.
Jika setiap kesalahan dianggap sebagai bukti ketidakmampuan, seseorang dapat menjadi enggan mencoba.
Bagaimana mengatasinya?
Cobalah mengganti standar "harus sempurna" menjadi "harus berkembang."
Tanyakan:
"Apakah hasil ini cukup baik untuk menjadi langkah berikutnya?"
Tidak semua pekerjaan harus menghasilkan kesempurnaan.
Dalam banyak situasi, menyelesaikan sesuatu dengan baik jauh lebih bermanfaat daripada terus memperbaikinya sampai tidak pernah selesai.
Kemajuan membutuhkan keberanian untuk menghasilkan sesuatu yang belum sempurna.
4. Terus Menghidupkan Kesalahan Masa Lalu
Setiap orang memiliki masa lalu yang tidak sempurna.
Ada keputusan yang salah.
Ada kesempatan yang dilewatkan.
Ada hubungan yang gagal.
Ada perkataan yang seharusnya tidak pernah diucapkan.
Ada pilihan yang sekarang disesali.
Belajar dari masa lalu merupakan hal yang sehat. Namun, terus-menerus menghukum diri sendiri atas kesalahan lama dapat menjadi kebiasaan mental yang menghambat kehidupan.
Seseorang mungkin terus berkata:
"Seandainya waktu itu saya tidak melakukan itu."
"Seandainya saya mengambil keputusan berbeda."
"Kenapa dulu saya sebodoh itu?"
"Kalau saja saya tidak gagal, hidup saya pasti berbeda."
Masalahnya, masa lalu tidak dapat diubah.
Yang dapat diubah adalah makna yang diberikan seseorang terhadap pengalaman tersebut dan tindakan yang dilakukan setelahnya.
Jika seseorang terus melihat dirinya sebagai "orang yang pernah gagal", pengalaman tersebut dapat berubah menjadi bagian dari identitas.
Ia tidak lagi berpikir:
"Saya pernah gagal."
Tetapi:
"Saya adalah orang gagal."
Keduanya memiliki makna psikologis yang sangat berbeda.
Pernyataan pertama menggambarkan pengalaman.
Pernyataan kedua mengubah pengalaman menjadi identitas.
Bagaimana mengatasinya?
Cobalah melihat kesalahan sebagai data.
Tanyakan:
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa bagian yang menjadi tanggung jawab saya?
Apa yang dapat saya pelajari?
Apa yang bisa saya lakukan secara berbeda sekarang?
Tujuannya bukan membenarkan kesalahan.
Tujuannya adalah memastikan bahwa kesalahan tersebut tidak terjadi dua kali dengan cara yang sama.
Masa lalu seharusnya menjadi guru, bukan penjara.
5. Terlalu Takut terhadap Kegagalan
Ketakutan terhadap kegagalan merupakan salah satu hambatan besar dalam perkembangan pribadi.
Ironisnya, seseorang dapat sangat ingin mencapai sesuatu tetapi sekaligus melakukan berbagai hal untuk menghindari kemungkinan gagal.
Ia tidak melamar pekerjaan karena takut ditolak.
Ia tidak menyampaikan pendapat karena takut salah.
Ia tidak memulai usaha karena takut kehilangan uang.
Ia tidak belajar keterampilan baru karena takut terlihat tidak mampu.
Ia tidak mencoba membangun hubungan karena takut disakiti.
Secara psikologis, menghindari sesuatu yang menakutkan dapat memberikan rasa lega dalam jangka pendek. Namun, penghindaran tersebut dapat memperkuat ketakutan dalam jangka panjang.
Seseorang belajar bahwa:
"Ketika saya menghindari hal ini, saya merasa lebih aman."
Akibatnya, ia semakin sulit menghadapi situasi yang sama di kemudian hari.
Ini menciptakan lingkaran:
Takut → menghindar → merasa lega → semakin takut untuk mencoba.
Padahal, pengalaman mencoba dan menghadapi ketidaknyamanan dapat membantu seseorang membangun keyakinan bahwa dirinya mampu menghadapi situasi sulit.
Bagaimana mengatasinya?
Jangan selalu menjadikan keberhasilan sebagai satu-satunya ukuran keberanian.
Kadang-kadang, keberhasilan pertama adalah berani mencoba.
Misalnya, jika seseorang takut berbicara di depan umum, target awalnya tidak harus menjadi pembicara yang hebat.
Targetnya mungkin hanya berbicara selama dua menit.
Setelah itu, lima menit.
Kemudian berbicara di depan kelompok kecil.
Dengan langkah bertahap, seseorang dapat membangun pengalaman bahwa ketakutan tidak selalu berarti sesuatu yang buruk akan terjadi.
6. Terbiasa Menunda-Nunda
Prokrastinasi sering dianggap sebagai masalah disiplin.
Namun, dalam banyak kasus, menunda pekerjaan bukan semata-mata karena seseorang malas.
Menunda dapat berkaitan dengan emosi.
Seseorang mungkin menunda karena tugas tersebut terasa membosankan, sulit, membingungkan, atau menimbulkan kecemasan.
Contohnya, seseorang memiliki pekerjaan besar yang harus diselesaikan. Ketika melihat tugas tersebut, ia merasa kewalahan.
Kemudian ia membuka media sosial.
Menonton video.
Membersihkan meja.
Mengecek pesan.
Mencari informasi yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan.
Untuk sementara, ia merasa lebih nyaman.
Namun, ketika tenggat waktu semakin dekat, stres meningkat.
Akhirnya ia bekerja dalam keadaan terburu-buru.
Setelah pekerjaan selesai, ia merasa lega.
Masalahnya, rasa lega tersebut dapat memperkuat kebiasaan menunda karena otak belajar bahwa menghindari pekerjaan memberikan kenyamanan sementara.
Bagaimana mengatasinya?
Daripada mengatakan:
"Saya harus menyelesaikan semuanya hari ini,"
cobalah mengatakan:
"Saya hanya perlu mengerjakannya selama 10 menit."
Memulai sering kali lebih sulit daripada melanjutkan.
Pecah pekerjaan besar menjadi bagian kecil.
Misalnya:
Membuka dokumen.
Membuat judul.
Menulis satu paragraf.
Membuat daftar poin.
Melanjutkan selama 15 menit.
Tujuannya adalah mengurangi hambatan psikologis untuk memulai.
Kemajuan sering kali dimulai dari tindakan yang sangat kecil.
7. Terlalu Sering Mengkritik Diri Sendiri
Kebiasaan terakhir adalah berbicara kepada diri sendiri dengan cara yang terlalu keras.
Seseorang mungkin tidak pernah berbicara kepada temannya seperti ini:
"Kamu memang bodoh."
"Kamu tidak akan pernah berhasil."
"Kamu selalu membuat kesalahan."
"Kamu tidak cukup baik."
Namun, ia mengatakan hal-hal tersebut kepada dirinya sendiri setiap hari.
Ini menunjukkan adanya perbedaan antara evaluasi diri dan serangan terhadap diri sendiri.
Evaluasi diri mengatakan:
"Saya melakukan kesalahan dan perlu memperbaikinya."
Kritik diri yang destruktif mengatakan:
"Saya melakukan kesalahan karena saya memang orang yang buruk."
Perbedaan tersebut sangat penting.
Self-compassion atau welas diri bukan berarti membiarkan diri melakukan kesalahan tanpa tanggung jawab. Sebaliknya, welas diri berarti mampu mengakui kesalahan tanpa menghancurkan harga diri.
Seseorang yang terus-menerus mengkritik dirinya sendiri dapat menjadi takut mencoba hal baru karena setiap kegagalan akan menjadi alasan untuk menyerang dirinya sendiri.
Pada akhirnya, ia dapat kehilangan motivasi.
Bagaimana mengatasinya?
Cobalah berbicara kepada diri sendiri sebagaimana Anda berbicara kepada seseorang yang Anda sayangi.
Bukan dengan mengatakan:
"Tidak apa-apa, kamu tidak pernah salah."
Tetapi:
"Kamu memang melakukan kesalahan. Sekarang mari kita lihat apa yang bisa diperbaiki."
Pendekatan tersebut lebih realistis sekaligus konstruktif.
Tujuannya bukan menjadi terlalu lembut terhadap diri sendiri, tetapi menjadi lebih adil.
Mengapa Kebiasaan Mental Dapat Menghambat Kemajuan?
Ketujuh kebiasaan tersebut memiliki pola yang hampir sama.
Seseorang mengalami pikiran tertentu.
Pikiran tersebut memunculkan emosi.
Emosi kemudian memengaruhi perilaku.
Perilaku yang terus diulang menjadi kebiasaan.
Kebiasaan akhirnya memengaruhi arah kehidupan.
Misalnya:
Takut gagal → cemas → menghindari kesempatan → kehilangan pengalaman → semakin tidak percaya diri.
Atau:
Membandingkan diri → merasa tertinggal → kehilangan motivasi → tidak bertindak → semakin merasa tertinggal.
Inilah mengapa perubahan hidup tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar.
Kadang-kadang, perubahan dimulai dari mengubah pola mental yang mendahului tindakan.
Cara Perlahan Mengubah Kebiasaan Mental Buruk
Mengubah pola pikir tidak berarti seseorang harus memaksa dirinya untuk selalu berpikir positif.
Psikologi modern tidak sesederhana mengganti pikiran negatif dengan pikiran positif.
Yang lebih penting adalah belajar melihat pikiran secara lebih realistis.
Ketika muncul pikiran:
"Saya pasti gagal."
cobalah menggantinya dengan:
"Saya belum tahu hasilnya. Saya bisa mempersiapkan diri dan mencoba."
Ketika muncul:
"Semua orang sudah jauh lebih maju daripada saya."
ubah menjadi:
"Saya tidak mengetahui seluruh perjalanan mereka, dan saya dapat fokus pada langkah saya sendiri."
Ketika muncul:
"Saya harus sempurna."
ubah menjadi:
"Saya bisa memperbaikinya sambil berjalan."
Perubahan seperti ini mungkin terdengar sederhana, tetapi dilakukan secara konsisten dapat membantu seseorang membangun cara berpikir yang lebih fleksibel.
Penutup
Kemajuan hidup seseorang tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar peluang yang dimilikinya, tetapi juga oleh bagaimana ia merespons peluang tersebut.
Overthinking dapat membuat seseorang terlalu lama berada di tempat.
Perbandingan sosial dapat membuat pencapaian sendiri terasa tidak berarti.
Perfeksionisme dapat membuat seseorang takut memulai.
Penyesalan masa lalu dapat membuat seseorang sulit bergerak ke depan.
Ketakutan terhadap kegagalan dapat mendorong penghindaran.
Prokrastinasi dapat membuat tujuan terus tertunda.
Sementara kritik diri yang berlebihan dapat menghancurkan kepercayaan terhadap kemampuan sendiri.
Namun, memiliki kebiasaan mental tersebut bukan berarti seseorang akan selamanya terjebak di dalamnya.
Pola pikir dapat dipelajari, disadari, dan secara bertahap diubah.
Perubahan tidak harus dimulai dengan langkah besar.
Bisa dimulai dengan berhenti sejenak sebelum overthinking berlanjut.
Bisa dimulai dengan berhenti membandingkan perjalanan diri dengan perjalanan orang lain.
Bisa dimulai dengan mengerjakan tugas selama sepuluh menit.
Bisa dimulai dengan berani melakukan sesuatu meskipun belum sempurna.
Atau bahkan dengan mengubah satu kalimat sederhana yang kita ucapkan kepada diri sendiri.
Sebab, kemajuan hidup sering kali bukan tentang menjadi manusia yang sama sekali bebas dari rasa takut, kesalahan, atau pikiran negatif.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Levante vs Real Betis di Liga Spanyol 2026/2027: Tim Tamu Bisa Curi 3 Poin!
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Newcastle di Liga Inggris 2026/2027: Sengit, Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Coventry City vs Hull City di Liga Inggris 2026/2027: Bisa Berakhir Imbang!
Prediksi Susunan Pemain Sevilla vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Go Ahead Eagles di Liga Belanda 2026/2027: Kans Tuan Rumah Pesta Gol!
Prediksi Skor Monaco vs Marseille di Liga Prancis: Les Phoceens Tak Ingin Malu di Stade Louis II
Prediksi Skor Bournemouth vs Everton di Liga Inggris 2026/2027: Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Real Sociedad vs Espanyol: Los Periquitos Bisa Curi Poin di Anoeta?
Prediksi Skor Leeds United vs Brentford: The Bees Siap Sengat Tuan Rumah di Elland Road!
