Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 Agustus 2026 | 03.39 WIB

7 Kebiasaan Sederhana Ini Ternyata Dapat Menghambat Kehidupan Asmara Seseorang Menurut Psikologi

seseorang yang kehidupan asmaranya terhambat / foto: Magnific/syda_productions

 

JawaPos.com - Banyak orang mengira kehidupan asmara yang sulit selalu disebabkan oleh hal-hal besar. Misalnya, kurang menarik secara fisik, belum menemukan orang yang tepat, terlalu sibuk bekerja, atau memang sedang tidak beruntung dalam urusan cinta.

Padahal, dalam banyak situasi, hambatan dalam hubungan justru bisa muncul dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.

Kebiasaan tersebut sering kali terlihat begitu biasa sehingga seseorang tidak menyadari bahwa perilakunya dapat memengaruhi cara orang lain melihat dirinya, cara ia berkomunikasi, hingga cara ia membangun kedekatan emosional.

Dalam psikologi, hubungan romantis tidak hanya dipengaruhi oleh ketertarikan. Cara seseorang mengelola emosi, berkomunikasi, menghadapi konflik, memahami dirinya sendiri, dan memberikan ruang kepada orang lain juga memainkan peran penting.

Artinya, seseorang mungkin saja memiliki banyak kualitas positif, tetapi tanpa disadari melakukan kebiasaan tertentu yang membuat hubungan sulit berkembang.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (8/8), terdapat tujuh kebiasaan sederhana yang ternyata dapat menghambat kehidupan asmara seseorang.

1. Terlalu Sering Memikirkan "Bagaimana Kalau..."

Salah satu kebiasaan yang dapat menghambat kehidupan asmara adalah terlalu banyak berpikir sebelum mengambil langkah.

Misalnya, seseorang menyukai orang lain tetapi terus bertanya kepada dirinya sendiri:

"Bagaimana kalau dia ternyata tidak suka?"

"Bagaimana kalau saya terlihat terlalu mengejar?"

"Bagaimana kalau nanti hubungan ini gagal?"

"Bagaimana kalau saya salah mengartikan sikapnya?"

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini memang wajar. Setiap orang tentu ingin menghindari penolakan atau rasa malu.

Masalahnya muncul ketika pertimbangan tersebut berubah menjadi overthinking yang membuat seseorang tidak pernah benar-benar bertindak.

Dalam psikologi, kecenderungan berpikir berlebihan mengenai kemungkinan buruk dapat membuat seseorang lebih fokus pada ancaman daripada kesempatan. Akibatnya, seseorang bisa menjadi terlalu berhati-hati ketika sebenarnya situasinya masih aman untuk dieksplorasi.

Contohnya, seseorang mendapatkan pesan dari orang yang ia sukai. Alih-alih membalas secara natural, ia menghabiskan waktu lama memikirkan apakah balasannya akan terlihat terlalu antusias.

Akhirnya, pesan dibalas terlalu lama atau terlalu dingin.

Orang yang awalnya tertarik kemudian menganggap tidak ada ketertarikan yang sama.

Di sinilah masalahnya.

Bukan karena orang tersebut tidak memiliki daya tarik, tetapi karena rasa takut dan terlalu banyak analisis membuat ketertarikannya sulit terlihat.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Salah satu penyebabnya adalah keinginan untuk mendapatkan kepastian sebelum bertindak.

Padahal, dalam hubungan romantis, kepastian hampir tidak pernah tersedia di awal.

Seseorang tidak mungkin mengetahui dengan pasti apakah orang yang disukainya akan menerima perasaannya. Hubungan memang membutuhkan sedikit keberanian untuk menghadapi ketidakpastian.

Karena itu, belajar membedakan antara berpikir secara bijak dan overthinking menjadi penting.

Berpikir membantu seseorang mengambil keputusan.

Overthinking sering kali membuat seseorang terus berada di tempat yang sama.

Jika seseorang terlalu sering terjebak dalam "bagaimana kalau", mungkin yang perlu dilakukan bukan mencari lebih banyak jawaban, melainkan mulai menerima bahwa sebagian ketidakpastian memang tidak dapat dihilangkan.

2. Terlalu Sibuk Terlihat "Tidak Membutuhkan Siapa-Siapa"

Ada orang yang percaya bahwa semakin terlihat mandiri, semakin menarik dirinya di mata calon pasangan.

Mandiri memang merupakan kualitas yang positif.

Namun, ada perbedaan antara mandiri dan sengaja menciptakan kesan bahwa dirinya sama sekali tidak membutuhkan orang lain.

Misalnya, seseorang sebenarnya ingin bertemu dengan orang yang disukainya, tetapi sengaja mengatakan bahwa dirinya sangat sibuk.

Ketika mendapatkan pesan, ia sengaja menunggu lama agar tidak terlihat terlalu tertarik.

Ketika diajak bertemu, ia beberapa kali menolak meskipun sebenarnya memiliki waktu.

Tujuannya mungkin sederhana: ingin terlihat bernilai tinggi.

Namun, strategi semacam ini dapat menjadi bumerang.

Hubungan membutuhkan sinyal ketertarikan yang cukup jelas. Jika seseorang terus-menerus menyembunyikan ketertarikannya, orang lain mungkin justru menyimpulkan bahwa dirinya memang tidak tertarik.

Dalam psikologi hubungan, rasa aman dan respons terhadap pasangan merupakan bagian penting dalam membangun kedekatan.

Seseorang tidak harus selalu tersedia setiap saat.

Tetapi menunjukkan ketertarikan secara sehat bukan berarti kehilangan harga diri.

Ada perbedaan antara:

"Saya punya kehidupan sendiri, tetapi saya senang menghabiskan waktu denganmu."

dan

"Saya harus berpura-pura tidak peduli agar kamu mengejar saya."

Yang pertama menunjukkan kemandirian.

Yang kedua dapat menciptakan permainan emosional.

Menjadi mandiri bukan berarti harus dingin

Seseorang tetap dapat memiliki pekerjaan, teman, hobi, dan kehidupan pribadi sekaligus menunjukkan perhatian kepada calon pasangan.

Membalas pesan dengan wajar bukan berarti terlalu mengejar.

Mengajak bertemu bukan berarti kehilangan harga diri.

Mengatakan bahwa seseorang dirindukan bukan berarti menjadi lemah.

Dalam hubungan yang sehat, ketertarikan tidak harus disembunyikan hanya demi mempertahankan citra tertentu.

3. Terlalu Cepat Menilai Orang dari Hal-Hal Kecil

Kebiasaan ketiga adalah terlalu cepat membuat kesimpulan tentang seseorang.

Baru bertemu beberapa kali, seseorang sudah membuat penilaian:

"Dia terlalu pendiam."

"Dia pasti sombong."

"Dia terlalu sering bekerja."

"Dia tidak membalas pesan dengan cepat, berarti tidak tertarik."

"Dia pernah melakukan itu, berarti orangnya pasti seperti ini."

Otak manusia memang memiliki kecenderungan untuk mencari pola dan membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang terbatas. Hal ini membantu manusia mengambil keputusan dengan cepat.

Namun, dalam hubungan romantis, kebiasaan tersebut dapat menjadi masalah.

Seseorang mungkin menutup peluang hubungan hanya karena satu atau dua perilaku yang sebenarnya memiliki banyak kemungkinan penjelasan.

Misalnya, seseorang tidak banyak berbicara ketika kencan pertama.

Kesimpulan pertama mungkin: "Dia membosankan."

Padahal bisa saja dia sedang gugup.

Atau seseorang tidak banyak mengirim pesan.

Kesimpulan: "Dia tidak peduli."

Padahal mungkin gaya komunikasinya memang tidak terlalu bergantung pada pesan singkat.

Tentu saja bukan berarti semua perilaku harus dimaklumi.

Jika seseorang berulang kali menunjukkan perilaku yang merugikan, tidak menghargai batasan, atau tidak memberikan timbal balik, hal tersebut memang perlu diperhatikan.

Namun, ada perbedaan antara mengenali pola dan menghakimi terlalu cepat.

Beri kesempatan untuk mengenal lebih jauh

Hubungan membutuhkan waktu karena karakter seseorang tidak dapat dipahami hanya dari beberapa interaksi.

Daripada langsung bertanya:

"Apakah dia orang yang tepat?"

Cobalah bertanya:

"Apa yang bisa saya pelajari tentang dirinya?"

Pertanyaan tersebut membuat seseorang lebih terbuka terhadap informasi baru.

Kadang-kadang, orang yang pada awalnya terlihat biasa saja justru menjadi seseorang yang paling membuat kita nyaman setelah benar-benar mengenalnya.

4. Membandingkan Kehidupan Asmara dengan Orang Lain

Media sosial membuat kebiasaan ini semakin mudah dilakukan.

Seseorang melihat teman menikah.

Kemudian melihat orang lain mendapatkan pasangan yang romantis.

Ada yang mengunggah kejutan ulang tahun.

Ada yang memamerkan perjalanan bersama pasangan.

Ada pula yang terlihat memiliki hubungan yang sempurna.

Tanpa sadar, seseorang mulai membandingkan dirinya.

"Kenapa mereka mudah mendapatkan pasangan?"

"Kenapa saya masih sendiri?"

"Kenapa hubungan saya tidak seromantis itu?"

"Jangan-jangan ada yang salah dengan saya?"

Masalahnya, seseorang sering kali membandingkan kehidupan nyata dirinya dengan versi terbaik kehidupan orang lain yang ditampilkan di media sosial.

Kita melihat foto bahagia, tetapi tidak melihat pertengkarannya.

Kita melihat lamaran, tetapi tidak melihat masalah yang mereka hadapi sebelumnya.

Kita melihat pasangan yang terlihat sangat harmonis, tetapi tidak mengetahui dinamika hubungan mereka ketika kamera dimatikan.

Dalam psikologi, perbandingan sosial dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat menurunkan kepuasan terhadap kehidupan pribadi.

Lebih buruk lagi, seseorang dapat mulai masuk ke dalam hubungan hanya karena merasa tertinggal.

Padahal tujuan hubungan bukanlah mengejar status yang dimiliki orang lain.

Jangan menjadikan hubungan sebagai perlombaan

Setiap orang memiliki waktu dan perjalanan yang berbeda.

Ada orang yang menemukan pasangan ketika masih muda.

Ada yang baru menemukan hubungan serius setelah dewasa.

Ada yang pernah menikah.

Ada yang pernah gagal berkali-kali sebelum menemukan hubungan yang sehat.

Tidak ada jadwal universal untuk kehidupan asmara.

Yang lebih penting bukan seberapa cepat seseorang mendapatkan pasangan, melainkan apakah hubungan yang dijalani memberikan rasa aman, penghargaan, dan pertumbuhan bagi kedua pihak.

5. Selalu Menunggu Orang Lain Memulai

Kebiasaan ini sering terlihat sederhana, tetapi dampaknya cukup besar.

Seseorang sebenarnya ingin berkenalan, tetapi menunggu didekati.

Ingin berbicara, tetapi menunggu pesan.

Ingin bertemu, tetapi menunggu ajakan.

Ingin memperjelas hubungan, tetapi menunggu orang lain yang membuka pembicaraan.

Sekali dua kali mungkin tidak menjadi masalah.

Namun jika dilakukan terus-menerus, seseorang dapat kehilangan banyak kesempatan.

Hubungan romantis membutuhkan timbal balik.

Jika seseorang selalu menunggu, orang lain mungkin menganggap tidak ada ketertarikan.

Misalnya, dua orang sebenarnya sama-sama tertarik.

Keduanya sama-sama berpikir:

"Kalau dia tertarik, seharusnya dia yang menghubungi dulu."

Akhirnya tidak ada yang melakukan apa pun.

Kesempatan pun hilang bukan karena tidak ada ketertarikan, tetapi karena kedua pihak menunggu.

Inisiatif tidak sama dengan mengejar

Ini merupakan hal penting.

Mengambil inisiatif bukan berarti seseorang harus terus mengejar orang yang tidak memberikan respons.

Inisiatif berarti berani memberikan sinyal yang cukup jelas.

Misalnya:

"Aku senang ngobrol sama kamu. Kapan-kapan kita ngopi?"

Kalimat sederhana seperti itu sudah cukup.

Jika mendapatkan respons positif, hubungan dapat berkembang.

Jika tidak mendapatkan respons atau mendapatkan penolakan, seseorang dapat menghormati keputusan tersebut dan melanjutkan hidup.

Dengan cara ini, seseorang tidak perlu terus berada dalam ketidakpastian.

6. Terlalu Sering Membicarakan Mantan

Masa lalu memang merupakan bagian dari kehidupan seseorang.

Pengalaman hubungan sebelumnya juga dapat memberikan pelajaran penting.

Namun, jika hampir setiap percakapan dengan calon pasangan selalu kembali kepada mantan, hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa seseorang belum sepenuhnya hadir dalam hubungan yang baru.

Misalnya, setiap kali membicarakan sesuatu, muncul kalimat:

"Mantan saya dulu juga begitu."

"Dulu mantan saya lebih perhatian."

"Kalau mantan saya, dia biasanya..."

Perbandingan seperti ini dapat membuat calon pasangan merasa sedang mengikuti kompetisi dengan seseorang yang bahkan sudah tidak berada dalam hubungan tersebut.

Selain itu, terlalu sering membicarakan mantan dapat memberikan kesan bahwa perhatian emosional seseorang masih tertinggal pada hubungan sebelumnya.

Bukan berarti seseorang harus menghapus masa lalu.

Justru memahami masa lalu dapat membantu seseorang mengenali pola hubungan yang tidak sehat dan memahami kebutuhan emosionalnya.

Namun, ada perbedaan antara belajar dari masa lalu dan terus hidup di dalamnya.

Masa lalu seharusnya menjadi pelajaran, bukan standar pembanding

Hubungan baru adalah hubungan baru.

Orang yang berbeda memiliki kepribadian, cara menunjukkan kasih sayang, cara berkomunikasi, dan kebutuhan yang berbeda.

Jika seseorang terus menggunakan hubungan sebelumnya sebagai standar untuk menilai pasangan baru, ia mungkin tidak pernah benar-benar memberikan kesempatan kepada orang tersebut untuk dikenal sebagai dirinya sendiri.

Pertanyaan yang lebih sehat bukan:

"Apakah dia seperti mantan saya?"

Melainkan:

"Apakah hubungan dengan orang ini terasa sehat dan cocok untuk saya?"

7. Menghindari Percakapan Sulit

Kebiasaan terakhir mungkin terlihat sebagai cara menjaga kedamaian.

Seseorang tidak suka konflik.

Karena itu, ketika merasa tidak nyaman, ia memilih diam.

Ketika ada sesuatu yang mengganggu, ia mengatakan, "Tidak apa-apa."

Ketika kecewa, ia berpura-pura biasa.

Ketika membutuhkan sesuatu, ia berharap pasangan dapat memahami sendiri.

Masalahnya, hubungan tidak dapat berjalan sehat jika satu pihak terus menyembunyikan kebutuhan dan perasaannya.

Komunikasi yang baik bukan berarti seseorang harus selalu mengatakan semua hal secara spontan.

Namun, pasangan perlu memiliki ruang untuk membicarakan hal-hal yang penting.

Jika seseorang selalu menghindari percakapan sulit, masalah kecil dapat menumpuk menjadi masalah besar.

Contohnya, pada awalnya seseorang merasa terganggu karena pasangannya sering membatalkan rencana.

Daripada membicarakannya, ia terus mengatakan:

"Tidak apa-apa."

Beberapa minggu kemudian, rasa kecewa semakin besar.

Akhirnya, ketika masalah tersebut dibicarakan, emosinya sudah terlalu tinggi sehingga percakapan berubah menjadi pertengkaran.

Padahal, masalah tersebut mungkin dapat diselesaikan lebih mudah jika dibicarakan sejak awal.

Konflik tidak selalu berarti hubungan buruk

Ini merupakan salah satu kesalahpahaman mengenai hubungan romantis.

Hubungan yang sehat bukan berarti tidak pernah mengalami konflik.

Dua manusia dengan pengalaman, kebutuhan, dan kebiasaan berbeda tentu dapat memiliki perbedaan pendapat.

Yang penting adalah bagaimana konflik tersebut ditangani.

Apakah kedua orang dapat saling mendengarkan?

Apakah mereka dapat menyampaikan kebutuhan tanpa merendahkan?

Apakah ada usaha untuk mencari solusi?

Apakah batasan masing-masing dihormati?

Kemampuan membicarakan masalah secara terbuka sering kali jauh lebih penting daripada berusaha menciptakan hubungan yang selalu terlihat sempurna.

Mengapa Kebiasaan Kecil Bisa Berdampak Besar?

Kebiasaan-kebiasaan di atas memiliki satu kesamaan.

Semuanya berkaitan dengan pola.

Satu kali overthinking tentu bukan masalah besar.

Satu kali membalas pesan terlambat juga bukan berarti hubungan akan gagal.

Satu kali membandingkan diri dengan orang lain tidak otomatis merusak kehidupan asmara.

Yang menjadi masalah adalah ketika perilaku tersebut dilakukan berulang kali sampai membentuk pola.

Dalam hubungan romantis, pola perilaku dapat memengaruhi bagaimana seseorang dipersepsikan oleh pasangan dan bagaimana dirinya sendiri merasakan hubungan tersebut.

Seseorang yang selalu takut ditolak mungkin akan terus menjaga jarak.

Seseorang yang selalu takut ditinggalkan mungkin terlalu membutuhkan kepastian.

Seseorang yang selalu menghindari konflik mungkin menyimpan banyak kekecewaan.

Seseorang yang terlalu cepat menghakimi mungkin kehilangan kesempatan mengenal orang yang sebenarnya cocok.

Karena itu, memperbaiki kehidupan asmara tidak selalu berarti mencari orang baru.

Kadang-kadang, yang perlu diperbaiki terlebih dahulu adalah pola perilaku yang dibawa seseorang ke dalam setiap hubungan.

Bukan Berarti Semua Masalah Asmara adalah Kesalahan Diri Sendiri

Ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi.

Membahas kebiasaan yang dapat menghambat kehidupan asmara bukan berarti mengatakan bahwa setiap orang yang masih lajang pasti memiliki masalah psikologis.

Status hubungan seseorang tidak dapat digunakan sebagai ukuran nilai dirinya.

Seseorang bisa saja masih sendiri karena belum bertemu orang yang cocok, memiliki prioritas kehidupan lain, baru keluar dari hubungan, atau memang memilih tidak menjalin hubungan untuk sementara waktu.

Selain itu, hubungan romantis melibatkan setidaknya dua orang.

Tidak semua hubungan gagal karena perilaku seseorang.

Terkadang masalah memang berasal dari ketidakcocokan, kurangnya komitmen dari pasangan, perbedaan nilai, keadaan hidup, atau faktor lain yang berada di luar kendali seseorang.

Karena itu, introspeksi sebaiknya dilakukan bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan untuk memahami diri dengan lebih baik.

Pertanyaannya bukan:

"Apa yang salah dengan saya?"

Melainkan:

"Kebiasaan apa yang mungkin ingin saya ubah agar saya dapat membangun hubungan yang lebih sehat?"

Langkah Sederhana untuk Memperbaikinya

Perubahan tidak harus dilakukan secara drastis.

Seseorang dapat memulainya dari hal-hal kecil.

Jika sering overthinking, cobalah membedakan fakta dengan asumsi.

Jika selalu menunggu orang lain, cobalah sesekali mengambil inisiatif.

Jika sering membandingkan diri, kurangi konsumsi konten yang membuat kehidupan pribadi terasa tidak cukup.

Jika sering menghindari konflik, mulai belajar menyampaikan ketidaknyamanan dengan tenang.

Jika masih sering membicarakan mantan, arahkan perhatian pada hubungan yang sedang dijalani sekarang.

Jika terlalu cepat menghakimi seseorang, berikan kesempatan untuk mengenalnya lebih dalam sebelum mengambil keputusan.

Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan pola hubungan yang berbeda.

Penutup

Kehidupan asmara seseorang tidak hanya ditentukan oleh keberuntungan dalam bertemu orang yang tepat.

Cara seseorang memperlakukan dirinya sendiri, menghadapi ketidakpastian, berkomunikasi, memberikan respons, dan membangun kedekatan juga memiliki peran penting.

Tujuh kebiasaan seperti overthinking, berpura-pura tidak membutuhkan siapa pun, terlalu cepat menilai, membandingkan diri, selalu menunggu, terus membicarakan mantan, dan menghindari percakapan sulit mungkin terlihat sederhana.

Namun, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat menciptakan pola yang membuat hubungan sulit berkembang.

Kabar baiknya, kebiasaan adalah sesuatu yang dapat diubah.

Seseorang tidak harus menjadi pribadi yang sempurna agar dapat memiliki kehidupan asmara yang sehat.

Yang lebih penting adalah memiliki kesadaran untuk mengenali pola diri sendiri, berani memperbaiki kesalahan, dan belajar membangun hubungan dengan komunikasi serta ekspektasi yang lebih realistis.

Pada akhirnya, tujuan dari kehidupan asmara bukan sekadar "berhasil mendapatkan seseorang".

Yang jauh lebih penting adalah mampu membangun hubungan di mana dua orang dapat merasa dihargai, didengar, aman, dan tetap menjadi diri sendiri.

Karena terkadang, perubahan terbesar dalam kehidupan asmara bukan dimulai ketika kita akhirnya menemukan orang yang tepat.

Perubahan itu justru dimulai ketika kita belajar menjadi pasangan yang lebih sadar, terbuka, dan sehat bagi orang lain maupun bagi diri sendiri.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore