Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Agustus 2026 | 04.56 WIB

Jika Anda Ingin Lebih Dihargai di Tempat Kerja, Lakukan 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi

seseorang yang dihargai di tempat kerja. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Di tempat kerja, menjadi orang yang paling pintar belum tentu membuat Anda paling dihargai.


Begitu juga dengan bekerja paling lama, selalu lembur, atau menjadi orang yang paling sering mengatakan “iya” ketika dimintai bantuan.

Dalam banyak situasi, penghargaan di tempat kerja tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pekerjaan yang Anda lakukan, tetapi juga oleh bagaimana orang lain mempersepsikan Anda: apakah Anda dapat dipercaya, apakah Anda mampu mengendalikan diri, apakah Anda menghargai orang lain, dan apakah kehadiran Anda membuat pekerjaan menjadi lebih mudah atau justru lebih rumit.

Inilah salah satu alasan mengapa terkadang kita melihat seseorang yang kemampuannya biasa saja tetapi sangat dihormati oleh rekan kerja. Sebaliknya, ada orang yang sangat kompeten tetapi kurang disukai, kurang dipercaya, atau bahkan sering diabaikan.

Psikologi menjelaskan bahwa manusia tidak menilai orang lain hanya berdasarkan hasil akhir. Kita juga memperhatikan perilaku yang berulang, cara berkomunikasi, konsistensi, respons terhadap tekanan, dan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.

Jadi, jika Anda ingin lebih dihargai di tempat kerja, Anda tidak harus berubah menjadi orang yang paling banyak bicara atau selalu berusaha membuat semua orang terkesan.

Justru, ada beberapa perilaku sederhana yang jika dilakukan secara konsisten dapat mengubah cara orang memandang Anda.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (9/8), terdapat tujuh di antaranya.

1. Tepati Janji, Bahkan untuk Hal-Hal Kecil

Salah satu kualitas yang paling cepat membangun penghargaan adalah dapat dipercaya.

Jika Anda mengatakan akan mengirim laporan pukul 3 sore, usahakan laporan itu benar-benar dikirim sekitar waktu tersebut.

Jika Anda berjanji akan membantu rekan kerja, jangan membuat mereka terus-menerus mengejar Anda.

Jika Anda belum mampu menyelesaikan sesuatu, jangan diam. Beri tahu lebih awal.

Mengapa hal sederhana seperti ini begitu penting?

Karena dalam hubungan sosial, manusia terus-menerus membuat penilaian tentang apakah seseorang bisa dipercaya. Ketika perilaku Anda konsisten antara apa yang Anda katakan dan apa yang Anda lakukan, orang lain perlahan membentuk persepsi:

“Kalau dia sudah bilang akan melakukan sesuatu, kemungkinan besar dia akan melakukannya.”

Persepsi seperti itu sangat berharga di lingkungan kerja.

Orang yang dipercaya biasanya lebih mudah mendapatkan tanggung jawab, dilibatkan dalam pembicaraan penting, dan dianggap sebagai orang yang dapat diandalkan ketika situasi menjadi sulit.

Sebaliknya, orang yang sering mengatakan “sebentar lagi”, “nanti saya kerjakan”, atau “saya usahakan” tetapi berkali-kali tidak menepatinya akan kehilangan kredibilitas sedikit demi sedikit.

Menariknya, Anda tidak perlu membuat janji besar untuk membangun reputasi.

Justru konsistensi pada hal-hal kecil sering kali lebih kuat.

Datang sesuai waktu yang disepakati.

Membalas pesan ketika memang sudah berkomitmen untuk membalas.

Mengirim pekerjaan sesuai tenggat.

Mengakui jika Anda terlambat.

Memberikan kabar ketika ada perubahan.

Semua itu terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan terus-menerus, orang akan melihat pola.

Dan di tempat kerja, reputasi pada dasarnya dibangun dari pola perilaku.

Apa yang bisa dilakukan?

Mulailah berhenti memberikan janji yang tidak perlu.

Jika Anda tahu pekerjaan membutuhkan dua hari, jangan mengatakan akan selesai dalam beberapa jam hanya untuk terlihat cepat.

Lebih baik berkata:

“Saya bisa menyelesaikannya besok sore agar hasilnya bisa saya periksa terlebih dahulu.”

Ketika kemudian Anda benar-benar menyelesaikannya besok sore, Anda sedang membangun sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kesan “sibuk”.

Anda sedang membangun kepercayaan.

2. Belajar Mendengarkan Tanpa Selalu Ingin Menunjukkan Bahwa Anda Pintar

Banyak orang ingin dihargai dengan cara menunjukkan kemampuan.

Ketika seseorang berbicara, mereka buru-buru memberikan solusi.

Ketika atasan menjelaskan sesuatu, mereka langsung menyela.

Ketika rekan kerja menceritakan masalah, mereka segera mengatakan:

“Kalau saya sih, gampang. Tinggal begini…”

Masalahnya, perilaku seperti itu tidak selalu membuat Anda terlihat pintar.

Terkadang justru membuat Anda terlihat tidak mampu mendengarkan.

Dalam psikologi sosial, perhatian merupakan bagian penting dari interaksi manusia. Ketika seseorang merasa benar-benar didengarkan, mereka cenderung merasa lebih dihargai dan lebih nyaman berinteraksi dengan kita.

Karena itu, kemampuan mendengarkan dapat menjadi salah satu bentuk kekuatan sosial yang sering diremehkan.

Orang yang benar-benar mendengarkan biasanya tidak terburu-buru memberikan respons.

Mereka memberikan perhatian.

Mereka mengajukan pertanyaan yang relevan.

Mereka mencoba memahami masalah sebelum memberikan pendapat.

Dan yang lebih penting, mereka tidak menjadikan setiap percakapan sebagai kesempatan untuk membicarakan dirinya sendiri.

Misalnya, seorang rekan kerja berkata:

“Saya agak kesulitan menyelesaikan proyek ini karena datanya belum lengkap.”

Respons yang kurang baik:

“Saya juga pernah mengalami itu. Dulu saya malah…”

Respons yang lebih baik:

“Bagian mana yang datanya masih kurang?”

Pertanyaan sederhana tersebut menunjukkan bahwa Anda benar-benar mencoba memahami masalah.

Orang mungkin tidak selalu mengingat semua nasihat yang Anda berikan.

Namun mereka sering mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berbicara dengan Anda.

Mendengarkan bukan berarti pasif

Mendengarkan dengan baik bukan berarti hanya diam.

Anda tetap bisa menunjukkan bahwa Anda memperhatikan dengan:

memberikan kontak mata yang wajar,
tidak memotong pembicaraan,
mengajukan pertanyaan,
mengulang inti masalah untuk memastikan pemahaman,
dan memberikan respons setelah lawan bicara selesai.

Semakin tinggi posisi seseorang dalam organisasi, kemampuan mendengarkan justru sering menjadi semakin penting.

Karena semakin banyak tanggung jawab yang dimiliki seseorang, semakin penting kemampuannya memahami perspektif orang lain.

3. Jangan Mudah Bereaksi Saat Dikritik

Ini salah satu perilaku yang paling membedakan orang yang matang secara emosional dengan orang yang masih mudah dikendalikan emosinya.

Bayangkan atasan Anda berkata:

“Hasil pekerjaan ini masih banyak yang perlu diperbaiki.”

Ada dua kemungkinan respons.

Respons pertama:

“Tapi saya sudah mengerjakannya sesuai instruksi.”

Respons kedua:

“Baik. Bagian mana yang paling perlu saya perbaiki terlebih dahulu?”

Respons kedua bukan berarti Anda mengakui bahwa Anda selalu salah.

Itu menunjukkan bahwa Anda mampu mengendalikan reaksi sebelum memberikan respons.

Dalam psikologi, kemampuan mengelola respons emosional merupakan bagian penting dari regulasi emosi.

Di dunia kerja, kemampuan ini sangat berharga karena tempat kerja penuh dengan situasi yang dapat memicu emosi:

kritik,
tekanan,
kesalahpahaman,
perubahan mendadak,
deadline,
konflik,
keputusan yang tidak sesuai keinginan,
dan komentar dari orang lain.

Orang yang mudah tersinggung dapat membuat masalah kecil menjadi besar.

Sebaliknya, orang yang mampu tetap tenang sering dipersepsikan sebagai orang yang lebih matang dan profesional.

Bukan berarti Anda harus menelan semua kritik

Ada perbedaan antara menerima kritik dan membiarkan orang memperlakukan Anda dengan buruk.

Jika kritik memang valid, ambil manfaatnya.

Jika kritik tidak tepat, Anda tetap bisa menjawab dengan tenang.

Misalnya:

“Saya memahami masukannya. Namun, ada satu konteks yang mungkin perlu saya jelaskan…”

Cara seperti ini jauh lebih kuat daripada langsung menyerang balik.

Semakin Anda mampu mengendalikan emosi, semakin besar kemungkinan orang lain melihat Anda sebagai seseorang yang stabil.

Dan dalam lingkungan kerja, kestabilan adalah kualitas yang sangat bernilai.

4. Berani Mengatakan “Tidak” Tanpa Bersikap Kasar

Banyak orang mengira bahwa agar disukai di tempat kerja, mereka harus selalu membantu.

Akibatnya, setiap kali ada permintaan:

“Bisa bantu?”

Jawabannya selalu:

“Bisa.”

Padahal pekerjaan sendiri sudah menumpuk.

Lama-kelamaan, orang tersebut kelelahan, pekerjaannya menurun, dan akhirnya merasa kesal kepada semua orang.

Masalahnya bukan karena dia terlalu baik.

Masalahnya adalah dia tidak memiliki batas yang jelas.

Dalam psikologi, perilaku asertif berbeda dengan perilaku agresif maupun pasif.

Pasif berarti mengabaikan kebutuhan diri sendiri demi orang lain.

Agresif berarti memenuhi kebutuhan diri dengan mengorbankan atau merendahkan orang lain.

Sementara asertif berarti mampu menyampaikan kebutuhan dan batasan secara jelas sambil tetap menghormati orang lain.

Karena itu, mengatakan “tidak” dengan cara yang tepat bukanlah tindakan egois.

Justru dapat membuat Anda lebih dihargai.

Contohnya, daripada mengatakan:

“Tidak bisa. Saya sibuk.”

Anda bisa berkata:

“Saya bisa membantu, tetapi saya sedang menyelesaikan laporan yang harus dikumpulkan hari ini. Kalau tidak mendesak, saya bisa bantu besok pagi.”

Perbedaannya sangat besar.

Anda tidak menolak orangnya.

Anda hanya menjelaskan kapasitas dan prioritas Anda.

Orang akan belajar memperlakukan Anda berdasarkan batasan yang Anda tunjukkan

Jika Anda selalu tersedia 24 jam, orang mungkin menganggap Anda memang selalu tersedia.

Jika Anda selalu menerima pekerjaan tambahan tanpa menjelaskan kapasitas, orang mungkin menganggap Anda mampu menangani semuanya.

Tetapi jika Anda memiliki batas yang sehat, orang akan belajar menghargai waktu Anda.

Menjadi orang yang baik tidak berarti harus selalu berkata “iya”.

Terkadang, “tidak sekarang” adalah cara terbaik untuk menjaga kualitas pekerjaan Anda.

5. Berikan Kredit kepada Orang Lain

Salah satu cara tercepat untuk mendapatkan rasa hormat dari orang lain adalah dengan tidak mengambil semua penghargaan untuk diri sendiri.

Bayangkan sebuah proyek berhasil.

Anda bisa mengatakan:

“Saya yang mengerjakan semuanya.”

Atau Anda bisa mengatakan:

“Hasil ini tidak akan berjalan tanpa bantuan tim. Andi membantu bagian data, sementara Rina menangani presentasi.”

Kalimat kedua mungkin terlihat sederhana.

Tetapi efek psikologisnya besar.

Ketika Anda memberikan penghargaan kepada orang lain, Anda menunjukkan bahwa Anda tidak merasa terancam oleh keberhasilan orang lain.

Anda juga menunjukkan rasa percaya diri.

Orang yang insecure sering merasa perlu mengambil semua kredit karena mereka takut kontribusinya tidak terlihat.

Sebaliknya, orang yang benar-benar percaya diri cenderung tidak keberatan mengatakan:

“Ini ide dari dia.”

“Bagian itu dikerjakan oleh tim.”

“Saya terbantu oleh masukannya.”

Mengakui kontribusi orang lain bukan berarti mengecilkan diri sendiri.

Anda tetap bisa menyebut kontribusi Anda.

Bedanya, Anda tidak menghapus kontribusi orang lain.

Kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan

Ketika seseorang membantu Anda, sebutkan secara spesifik.

Jangan hanya:

“Terima kasih semuanya.”

Cobalah:

“Terima kasih, Rina. Masukanmu soal struktur presentasi tadi membuat bagian kesimpulan jauh lebih jelas.”

Pujian yang spesifik terasa lebih tulus karena menunjukkan bahwa Anda benar-benar memperhatikan.

Dan orang cenderung mengingat orang yang membuat mereka merasa dihargai.

6. Datang Membawa Solusi, Bukan Hanya Masalah

Tidak ada pekerjaan yang bebas masalah.

Masalah akan selalu muncul.

Server bermasalah.

Data terlambat.

Klien berubah pikiran.

Anggaran berkurang.

Deadline dipercepat.

Anggota tim tidak tersedia.

Yang membedakan seseorang bukan apakah ia pernah menghadapi masalah, tetapi bagaimana ia membawa masalah tersebut kepada orang lain.

Ada orang yang datang dan berkata:

“Ini bermasalah.”

Lalu berhenti.

Ada pula yang berkata:

“Ada masalah pada data bagian kedua. Saya sudah menemukan dua kemungkinan penyebab. Menurut saya, kita bisa mencoba opsi A terlebih dahulu karena paling cepat. Kalau tidak berhasil, kita punya opsi B.”

Orang kedua memberikan sesuatu yang sangat berharga: kejelasan.

Anda tidak harus selalu memiliki solusi yang benar.

Namun, jika memungkinkan, biasakan untuk datang dengan pemikiran awal.

Misalnya:

“Saya belum menemukan solusi final, tetapi saya sudah mencoba dua pendekatan dan keduanya belum berhasil.”

Kalimat tersebut jauh lebih profesional daripada:

“Saya tidak tahu harus bagaimana.”

Ini bukan berarti Anda harus menyembunyikan masalah.

Justru sebaliknya.

Masalah harus dibicarakan.

Tetapi jika Anda terbiasa memikirkan kemungkinan solusi sebelum meminta bantuan, Anda akan perlahan dipersepsikan sebagai orang yang mampu berpikir mandiri.

Gunakan pola sederhana:

Masalah → penyebab sementara → pilihan solusi → rekomendasi.

Contohnya:

“Data belum masuk karena format dari tim A berbeda. Ada dua pilihan: kita ubah format secara manual atau meminta mereka mengirim ulang. Karena jumlah datanya cukup banyak, saya menyarankan opsi kedua.”

Kalimat seperti ini membuat percakapan menjadi jauh lebih produktif.

7. Tetap Rendah Hati Setelah Berhasil

Ini mungkin salah satu perilaku yang paling sulit.

Ketika seseorang mulai sukses, mendapatkan promosi, menerima pujian, atau menjadi orang yang dipercaya, ada godaan untuk menunjukkan bahwa dirinya sekarang lebih hebat daripada orang lain.

Padahal justru pada titik itulah karakter seseorang sering benar-benar terlihat.

Orang yang tetap rendah hati ketika memiliki kekuasaan biasanya lebih mudah mendapatkan rasa hormat jangka panjang.

Rendah hati bukan berarti merendahkan diri.

Bukan berarti Anda harus mengatakan:

“Saya sebenarnya tidak sehebat itu.”

Padahal memang Anda memiliki kemampuan.

Kerendahan hati lebih dekat dengan kemampuan untuk mengakui bahwa Anda tidak selalu paling tahu dan Anda masih bisa belajar dari orang lain.

Anda bisa menjadi ahli sekaligus tetap terbuka.

Anda bisa menjadi pemimpin sekaligus tetap mau mendengarkan.

Anda bisa mendapatkan penghargaan tanpa membuat orang lain merasa kecil.

Dan ini sangat penting.

Karena rasa hormat yang dipaksakan berbeda dengan rasa hormat yang diberikan secara sukarela.

Orang mungkin mematuhi seseorang karena jabatan.

Tetapi mereka menghormati seseorang karena karakter.

Mengapa 7 Perilaku Ini Begitu Berpengaruh?

Jika diperhatikan, tujuh perilaku tadi sebenarnya memiliki satu benang merah.

Semuanya berkaitan dengan kepercayaan, regulasi diri, dan kualitas hubungan sosial.

Anda menepati janji → orang percaya kepada Anda.

Anda mendengarkan → orang merasa dihargai.

Anda mengendalikan emosi → orang merasa aman berinteraksi dengan Anda.

Anda memiliki batasan → orang memahami bahwa Anda menghargai diri sendiri.

Anda memberikan kredit → orang merasa kontribusinya dihargai.

Anda membawa solusi → orang melihat Anda sebagai orang yang dapat diandalkan.

Anda tetap rendah hati → orang merasa nyaman berada di sekitar Anda.

Dengan kata lain, menjadi orang yang dihargai bukan hanya tentang bagaimana Anda membuat diri sendiri terlihat hebat.

Justru sering kali tentang bagaimana kehadiran Anda membuat orang lain merasa aman, dihargai, dan yakin bahwa mereka dapat bekerja bersama Anda.

Jangan Berusaha Membuat Semua Orang Menyukai Anda

Ada satu kesalahan yang sering dilakukan orang ketika ingin lebih dihargai di tempat kerja.

Mereka mencoba membuat semua orang menyukai mereka.

Padahal itu hampir mustahil.

Setiap orang memiliki kepribadian, kepentingan, pengalaman, dan standar yang berbeda.

Jika Anda terlalu sibuk membuat semua orang menyukai Anda, Anda mungkin mulai:

takut mengatakan tidak,
menghindari percakapan sulit,
menyetujui semua pendapat,
menyembunyikan kesalahan,
terlalu sering meminta validasi,
atau mengorbankan prinsip sendiri.

Pada akhirnya, Anda memang mungkin terlihat “baik”, tetapi belum tentu dihormati.

Lebih sehat jika Anda berfokus pada sesuatu yang lebih realistis:

jadilah orang yang konsisten, dapat dipercaya, profesional, dan menghargai orang lain.

Tidak semua orang akan menyukai Anda.

Dan itu tidak masalah.

Tujuan Anda bukan memenangkan semua orang.

Tujuan Anda adalah membangun reputasi yang sehat.

Penghargaan Tidak Dibangun dalam Satu Hari

Jangan berharap melakukan tujuh perilaku ini selama dua hari lalu semua orang tiba-tiba menghormati Anda.

Reputasi bekerja melalui akumulasi.

Satu kali menepati janji mungkin tidak terlalu berarti.

Tetapi jika Anda selalu menepati janji selama berbulan-bulan, orang mulai membentuk kesimpulan tentang karakter Anda.

Satu kali mendengarkan seseorang juga mungkin tidak mengubah apa pun.

Tetapi jika setiap kali berbicara dengan Anda mereka merasa didengar, hubungan itu akan berubah.

Begitu pula dengan cara Anda menangani kritik, mengatakan tidak, mengakui kontribusi orang lain, dan menghadapi masalah.

Konsistensi mengubah perilaku menjadi reputasi.

Dan reputasi pada akhirnya memengaruhi bagaimana orang memperlakukan Anda.

Kesimpulan: Jadilah Orang yang Membuat Pekerjaan Menjadi Lebih Baik

Jika Anda ingin lebih dihargai di tempat kerja, jangan hanya bertanya:

“Bagaimana caranya agar orang lain melihat saya hebat?”

Cobalah mengubah pertanyaannya menjadi:

“Bagaimana caranya agar kehadiran saya membuat pekerjaan dan orang-orang di sekitar saya menjadi lebih baik?”

Mulailah dari tujuh perilaku:

Tepati janji dan bangun reputasi sebagai orang yang dapat dipercaya.
Dengarkan orang lain tanpa selalu berusaha menunjukkan bahwa Anda paling pintar.
Kendalikan reaksi ketika menerima kritik atau menghadapi tekanan.
Berani mengatakan tidak dengan cara yang asertif.
Berikan kredit dan penghargaan kepada orang lain.
Datang membawa solusi, bukan hanya membawa masalah.
Tetap rendah hati ketika Anda mulai berhasil.

Tidak ada satu perilaku yang secara ajaib membuat seseorang dihormati.

Namun jika ketujuhnya dilakukan secara konsisten, Anda sedang membangun sesuatu yang jauh lebih kuat daripada sekadar popularitas.

Anda sedang membangun karakter profesional.

Dan pada akhirnya, orang mungkin tidak selalu mengingat siapa yang paling banyak bicara di ruang rapat.

Mereka lebih mungkin mengingat siapa yang bisa dipercaya.

Siapa yang tetap tenang ketika keadaan sulit.

Siapa yang mau mendengarkan.

Siapa yang tidak mengambil semua pujian.

Siapa yang berani bertanggung jawab.

Dan siapa yang membuat orang lain merasa dihargai.

Itulah jenis pribadi yang biasanya tidak perlu meminta penghargaan—karena penghargaan itu tumbuh dengan sendirinya dari perilakunya.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore