Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 Agustus 2026 | 05.49 WIB

8 Alasan Mengapa Seseorang Lebih Memilih Langsung Menelepon daripada Mengirim Pesan Teks

seseorang yang lebih memilih langsung menelepon / foto: Magnific/vh-studio

 

JawaPos.com - Di tengah kehidupan yang semakin digital, mengirim pesan teks seolah menjadi cara komunikasi yang paling praktis. Kita bisa mengetik beberapa kata, menekan tombol kirim, lalu kembali melakukan aktivitas lain tanpa harus terlibat dalam percakapan secara langsung.

Namun, tidak semua orang menyukai cara tersebut.

Ada orang-orang yang ketika ingin menyampaikan sesuatu justru memilih untuk langsung menelepon. Bahkan ketika sebuah pesan sebenarnya bisa disampaikan hanya dalam beberapa kalimat, mereka merasa berbicara lewat telepon jauh lebih mudah, lebih jelas, atau lebih manusiawi.

Bagi sebagian orang, telepon mungkin terasa merepotkan. Mereka lebih nyaman membaca dan membalas pesan ketika memiliki waktu luang. Tetapi bagi orang lain, sebuah panggilan telepon justru terasa lebih efisien dan lebih mampu menyampaikan apa yang mereka pikirkan.

Perbedaan ini bukan semata-mata soal kebiasaan menggunakan teknologi. Dari sudut pandang psikologi, preferensi seseorang terhadap komunikasi lewat telepon dapat berkaitan dengan kebutuhan akan koneksi emosional, cara mereka mengelola informasi, kepribadian, kecemasan terhadap salah tafsir, hingga cara mereka menyelesaikan masalah.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (8/8), terdapat delapan alasan yang mungkin menjelaskan mengapa seseorang lebih memilih langsung menelepon daripada mengirim pesan teks.

1. Mereka Menginginkan Koneksi yang Lebih Personal

Pesan teks memang memungkinkan seseorang berkomunikasi, tetapi komunikasi tertulis memiliki keterbatasan.

Ketika seseorang menelepon, ia dapat mendengar suara lawan bicara. Nada suara, kecepatan berbicara, jeda, tawa, maupun perubahan intonasi dapat memberikan informasi emosional yang tidak selalu terlihat melalui teks.

Misalnya, seseorang berkata:

"Aku baik-baik saja."

Dalam pesan teks, kalimat tersebut terlihat sederhana. Namun ketika diucapkan dengan suara pelan, disertai jeda panjang, kalimat yang sama bisa memiliki makna yang sangat berbeda.

Karena itu, orang yang lebih menyukai telepon mungkin bukan sekadar ingin menyampaikan informasi. Mereka mungkin ingin merasakan kehadiran orang lain.

Percakapan melalui suara memberikan pengalaman sosial yang lebih kaya dibandingkan sekadar membaca rangkaian kata di layar.

Inilah salah satu alasan seseorang bisa merasa bahwa pesan teks terlalu "dingin" untuk situasi tertentu.

Bagi mereka, mendengar suara seseorang membuat komunikasi terasa lebih nyata.

Terutama ketika topik yang dibicarakan berkaitan dengan emosi, hubungan pribadi, kabar penting, atau sesuatu yang membutuhkan empati, mereka mungkin merasa telepon adalah pilihan yang lebih tepat.

2. Mereka Tidak Suka Kesalahpahaman dalam Pesan Teks

Salah satu kelemahan komunikasi tertulis adalah mudahnya sebuah pesan disalahartikan.

Kalimat yang sebenarnya dimaksudkan sebagai candaan bisa dianggap serius. Jawaban singkat dapat dianggap sebagai tanda kemarahan. Bahkan penggunaan tanda titik atau emoji tertentu kadang-kadang dapat membuat seseorang bertanya-tanya mengenai maksud sebenarnya.

Misalnya seseorang mengirim:

"Ya sudah."

Apa maksudnya?

Apakah ia benar-benar setuju?

Apakah ia kecewa?

Apakah ia marah?

Apakah ia sedang terburu-buru?

Pesan tersebut tidak memberikan cukup informasi untuk mengetahui jawabannya.

Dalam komunikasi langsung, banyak konteks tambahan yang muncul secara otomatis melalui suara dan respons spontan.

Seseorang yang menyadari keterbatasan komunikasi teks mungkin berpikir:

"Daripada salah paham lewat chat, lebih baik aku telepon dan menjelaskannya langsung."

Secara psikologis, ini dapat menunjukkan preferensi terhadap kejelasan komunikasi.

Orang seperti ini mungkin merasa lebih nyaman ketika bisa menjelaskan maksudnya secara langsung dan segera mengetahui bagaimana lawan bicara menerima informasi tersebut.

Mereka tidak ingin menghabiskan waktu menebak-nebak makna dari sebuah pesan.

3. Mereka Lebih Nyaman Berbicara daripada Menulis

Tidak semua orang memiliki gaya komunikasi yang sama.

Ada orang yang sangat pandai mengekspresikan pikirannya melalui tulisan. Mereka dapat menyusun kalimat dengan rapi, memilih kata yang tepat, lalu mengirimkan pesan setelah memikirkannya.

Namun ada pula orang yang justru mengalami kesulitan ketika harus menulis.

Di dalam kepala mereka mungkin terdapat banyak hal yang ingin disampaikan, tetapi mereka kesulitan mengubahnya menjadi teks.

Ketika berbicara, semuanya terasa lebih alami.

Mereka bisa menjelaskan sesuatu sambil berpikir. Jika lawan bicara terlihat bingung, mereka dapat langsung memberikan penjelasan tambahan. Jika pembicaraan berkembang ke arah lain, mereka dapat mengikuti alurnya secara spontan.

Karena itu, menelepon dapat menjadi cara komunikasi yang terasa jauh lebih ringan.

Ini bukan berarti mereka malas mengetik.

Bisa jadi mereka memang memiliki preferensi komunikasi verbal.

Bagi orang seperti ini, menulis pesan panjang terkadang justru terasa lebih melelahkan daripada berbicara selama lima atau sepuluh menit.

4. Mereka Menginginkan Respons yang Cepat

Pesan teks memiliki sifat yang tidak selalu sinkron.

Seseorang bisa mengirim pesan sekarang dan menerima balasan lima menit kemudian, satu jam kemudian, atau bahkan keesokan harinya.

Bagi orang yang membutuhkan jawaban segera, situasi tersebut dapat terasa tidak nyaman.

Menelepon menawarkan kemungkinan mendapatkan respons secara langsung.

Jika seseorang memiliki pertanyaan penting, membutuhkan keputusan, atau sedang menghadapi situasi yang membutuhkan koordinasi cepat, telepon bisa terasa jauh lebih efisien.

Bayangkan dua orang sedang mengatur perjalanan.

Melalui pesan teks, percakapan bisa berlangsung seperti:

"Kita berangkat jam berapa?"

Menunggu.

"Jam 8 mungkin?"

Menunggu.

"Dari tempat mana?"

Menunggu.

"Dari rumahku."

Menunggu lagi.

Bagi sebagian orang, proses tersebut terasa terlalu panjang.

Mereka mungkin berpikir:

"Lebih baik telepon dua menit dan semuanya selesai."

Dengan demikian, preferensi terhadap telepon terkadang berhubungan dengan orientasi terhadap efisiensi.

Mereka tidak selalu ingin berbicara lebih lama. Justru sebaliknya, mereka mungkin menelepon karena ingin menyelesaikan sesuatu secepat mungkin.

5. Mereka Membutuhkan Interaksi Sosial yang Lebih Kuat

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial.

Kita tidak hanya membutuhkan informasi dari orang lain, tetapi juga membutuhkan rasa terhubung.

Bagi sebagian orang, menerima pesan teks tidak memberikan pengalaman emosional yang sama seperti mendengar suara seseorang.

Ketika seseorang mendengar suara teman, pasangan, anggota keluarga, atau orang yang mereka sayangi, ada pengalaman emosional yang lebih kuat.

Suara dapat menciptakan rasa kedekatan.

Itulah mengapa seseorang mungkin menelepon bukan karena ada sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan, melainkan karena mereka ingin merasa dekat dengan orang lain.

Contohnya sederhana.

Seseorang yang tinggal jauh dari keluarganya mungkin bisa saja mengirim:

"Apa kabar?"

Tetapi ia memilih menelepon.

Mengapa?

Karena yang dicari bukan sekadar informasi.

Ia mungkin ingin mendengar suara keluarganya.

Ia ingin mendengar bagaimana hari mereka berjalan.

Ia ingin tertawa bersama.

Dalam konteks seperti ini, telepon berfungsi bukan hanya sebagai alat pertukaran informasi, tetapi juga sebagai sarana membangun dan mempertahankan hubungan.

6. Mereka Cenderung Lebih Langsung dalam Menghadapi Masalah

Ada orang yang ketika menghadapi masalah memilih menulis pesan panjang. Ada pula yang langsung mengangkat telepon dan membicarakannya.

Perbedaan tersebut dapat mencerminkan gaya seseorang dalam menghadapi konflik atau persoalan.

Orang yang lebih menyukai komunikasi langsung mungkin memiliki kecenderungan untuk menghadapi masalah secara segera.

Daripada membiarkan persoalan berkembang melalui serangkaian pesan, mereka ingin membicarakannya secara langsung.

Misalnya terjadi kesalahpahaman dalam sebuah hubungan.

Satu pihak mengirim pesan panjang.

Pihak lain membalas.

Kemudian muncul pesan baru.

Lalu terjadi salah tafsir lagi.

Situasi seperti ini bisa semakin melebar.

Seseorang yang tidak menyukai komunikasi berlarut-larut mungkin akhirnya berkata:

"Sudah, kita telepon saja. Biar semuanya jelas."

Keinginan untuk berbicara langsung dapat menunjukkan bahwa mereka lebih menghargai resolusi daripada perpanjangan percakapan.

Mereka ingin mengetahui masalah sebenarnya, memberikan penjelasan, mendengarkan respons, kemudian mencari jalan keluar.

Tentu saja, ini tidak otomatis berarti orang tersebut lebih dewasa atau lebih baik dalam menghadapi konflik. Kepribadian dan konteks tetap berperan.

Namun preferensi tersebut dapat menunjukkan bahwa komunikasi langsung terasa lebih efektif bagi mereka.

7. Mereka Lebih Mudah Membaca Emosi Melalui Suara

Komunikasi manusia tidak hanya terdiri dari kata-kata.

Cara seseorang mengucapkan kata-kata juga membawa informasi.

Nada suara dapat memberi petunjuk mengenai apakah seseorang sedang bahagia, sedih, gugup, marah, antusias, lelah, atau tidak tertarik.

Orang yang sangat memperhatikan aspek emosional komunikasi mungkin merasa bahwa pesan teks tidak cukup.

Misalnya seorang teman mengatakan:

"Aku senang kamu datang."

Jika dibaca dalam bentuk teks, kita hanya mendapatkan kata-katanya.

Tetapi melalui telepon, kita dapat mendengar apakah ia mengatakannya dengan penuh antusiasme atau hanya sebagai formalitas.

Karena itu, orang yang lebih peka terhadap isyarat sosial mungkin lebih menyukai komunikasi melalui suara.

Mereka mungkin merasa lebih mudah memahami seseorang ketika bisa mendengar bagaimana sesuatu dikatakan, bukan hanya membaca apa yang dikatakan.

Dalam hubungan dekat, kemampuan membaca nuansa seperti ini dapat terasa sangat penting.

8. Mereka Memiliki Kebiasaan atau Kepribadian yang Lebih Cocok dengan Telepon

Pada akhirnya, tidak semua perilaku harus memiliki alasan psikologis yang rumit.

Kadang-kadang seseorang menelepon karena memang sudah terbiasa menelepon.

Cara kita berkomunikasi sering kali dipengaruhi oleh kebiasaan yang terbentuk selama bertahun-tahun.

Seseorang yang sejak lama terbiasa menelepon keluarga, teman, atau rekan kerja mungkin merasa bahwa menelepon adalah hal yang normal.

Sebaliknya, orang yang tumbuh dalam lingkungan komunikasi berbasis teks mungkin merasa telepon justru mengganggu.

Kepribadian juga dapat memainkan peran.

Seseorang yang nyaman dengan interaksi spontan mungkin menikmati percakapan telepon. Sementara orang yang membutuhkan waktu untuk memikirkan respons mungkin lebih menyukai pesan teks.

Namun penting untuk tidak menggunakan preferensi komunikasi sebagai cara sederhana untuk memberi label kepribadian seseorang.

Orang introvert tidak selalu suka pesan teks.

Orang ekstrovert tidak selalu suka menelepon.

Seseorang bisa sangat nyaman berbicara dengan orang terdekat tetapi tetap merasa canggung ketika harus menerima telepon dari orang yang tidak dikenal.

Dengan kata lain, konteks hubungan dan situasi jauh lebih penting daripada sekadar label kepribadian.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Kebiasaan Seseorang Menelepon?

Ketika seseorang lebih sering menelepon daripada mengirim pesan, kita tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa ia terlalu banyak bicara, tidak sabaran, atau tidak memahami etika komunikasi modern.

Preferensi tersebut bisa memiliki banyak alasan.

Mungkin ia ingin memastikan tidak terjadi kesalahpahaman.

Mungkin ia ingin mendapatkan jawaban dengan cepat.

Mungkin ia merasa berbicara jauh lebih mudah daripada mengetik.

Mungkin ia ingin merasakan kedekatan emosional.

Atau mungkin, sesederhana itu, ia memang terbiasa berkomunikasi melalui suara.

Yang menarik adalah bahwa cara seseorang berkomunikasi sering kali memberikan gambaran mengenai apa yang mereka anggap penting dalam sebuah hubungan.

Orang yang menyukai pesan teks mungkin menghargai fleksibilitas, waktu untuk berpikir, dan komunikasi yang tidak mengharuskan respons segera.

Sementara orang yang menyukai telepon mungkin lebih menghargai spontanitas, kejelasan, respons langsung, dan koneksi emosional.

Tidak ada metode yang secara mutlak lebih baik.

Yang terpenting adalah memahami bahwa setiap orang memiliki kebutuhan komunikasi yang berbeda.

Penutup

Di zaman ketika pesan teks semakin mendominasi kehidupan sehari-hari, memilih untuk menelepon bisa terlihat seperti sesuatu yang sederhana. Namun di balik kebiasaan tersebut mungkin terdapat kebutuhan psikologis yang cukup beragam.

Seseorang mungkin menelepon karena ingin merasa dekat.

Seseorang mungkin menelepon karena tidak ingin disalahpahami.

Seseorang mungkin menelepon karena ingin menyelesaikan masalah dengan cepat.

Dan seseorang lainnya mungkin menelepon hanya karena berbicara terasa lebih alami baginya.

Karena itu, daripada buru-buru menilai seseorang dari cara mereka berkomunikasi, mungkin lebih menarik untuk bertanya:

"Apa yang sebenarnya mereka cari dari cara komunikasi tersebut?"

Sebab pada akhirnya, komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan kata-kata. Komunikasi juga tentang bagaimana seseorang ingin dipahami, bagaimana ia ingin memahami orang lain, dan seberapa dekat ia ingin merasa dengan orang yang sedang diajak berbicara.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore