seseorang yang mendukung tujuan anak. (Magnific)
Konsep parenting positif merupakan pendekatan pengasuhan yang menekankan hubungan hangat antara orang tua dan anak, komunikasi yang terbuka, disiplin yang membangun, serta penghargaan terhadap kebutuhan emosional anak. Pendekatan ini tidak berarti memanjakan anak atau membebaskan mereka tanpa aturan, melainkan menciptakan lingkungan yang aman sehingga anak mampu berkembang secara optimal.
Dalam psikologi, anak yang tumbuh dalam lingkungan yang suportif cenderung memiliki regulasi emosi yang lebih baik, tingkat kepercayaan diri yang tinggi, serta motivasi intrinsik yang kuat. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting agar anak mampu menetapkan dan mengejar tujuan hidupnya secara mandiri.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (6/8), terdapat lima strategi parenting positif yang didukung oleh teori dan penelitian psikologi.
1. Bangun Hubungan Emosional yang Aman (Secure Attachment)
Salah satu teori paling berpengaruh dalam psikologi perkembangan adalah Attachment Theory yang dikembangkan oleh John Bowlby dan dikembangkan lebih lanjut oleh Mary Ainsworth. Teori ini menjelaskan bahwa hubungan emosional yang aman antara anak dan orang tua menjadi dasar perkembangan psikologis yang sehat.
Ketika anak merasa dicintai tanpa syarat, didengar, dan diterima apa adanya, mereka akan memiliki rasa aman untuk mengeksplorasi lingkungan, mencoba hal-hal baru, dan tidak mudah menyerah saat mengalami kegagalan.
Sebaliknya, anak yang sering mendapatkan kritik berlebihan atau merasa diabaikan cenderung memiliki kecemasan tinggi sehingga lebih takut mengambil risiko.
Cara menerapkannya
Luangkan waktu berkualitas setiap hari meskipun hanya 15–30 menit.
Dengarkan cerita anak tanpa langsung menghakimi.
Tunjukkan empati terhadap perasaan mereka.
Berikan pelukan, senyuman, dan kata-kata penyemangat.
Dampaknya terhadap tujuan anak
Hubungan emosional yang kuat membantu anak:
lebih percaya diri,
berani mencoba tantangan baru,
tidak mudah menyerah,
memiliki ketahanan mental saat menghadapi kegagalan.
2. Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil
Psikolog Carol Dweck memperkenalkan konsep Growth Mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, latihan, dan pembelajaran.
Orang tua sering kali tanpa sadar hanya memuji hasil, misalnya:
"Kamu memang pintar."
Padahal pujian seperti ini membuat anak takut gagal karena mereka merasa harus selalu terlihat pintar.
Sebaliknya, psikologi menyarankan memberikan apresiasi terhadap proses.
Contohnya:
"Ayah bangga karena kamu terus mencoba walaupun soal tadi sulit."
Dengan demikian, anak belajar bahwa usaha memiliki nilai yang lebih penting daripada hasil akhir.
Cara menerapkannya
Apresiasi kerja keras.
Diskusikan strategi yang digunakan anak.
Jadikan kesalahan sebagai kesempatan belajar.
Hindari membandingkan anak dengan saudara atau teman.
Dampaknya
Anak menjadi lebih:
gigih,
kreatif,
tahan terhadap kegagalan,
berani menetapkan target yang lebih tinggi.
3. Libatkan Anak dalam Menentukan Tujuannya Sendiri
Menurut Self-Determination Theory yang dikembangkan Edward Deci dan Richard Ryan, manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis utama:
autonomy (kemandirian),
competence (merasa mampu),
relatedness (merasa terhubung dengan orang lain).
Anak yang selalu dipaksa mengikuti keinginan orang tua sering kali kehilangan motivasi intrinsik. Mereka belajar hanya demi hadiah atau menghindari hukuman.
Sebaliknya, ketika anak dilibatkan dalam menentukan targetnya sendiri, mereka akan merasa memiliki tanggung jawab terhadap tujuan tersebut.
Misalnya, daripada mengatakan:
"Kamu harus juara kelas."
Lebih baik bertanya:
"Apa target belajarmu semester ini?"
Pendekatan sederhana ini membantu anak belajar membuat keputusan dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Cara menerapkannya
Ajak anak berdiskusi mengenai impiannya.
Biarkan mereka memilih aktivitas sesuai minat.
Berikan pilihan, bukan perintah mutlak.
Dampingi ketika mereka mengalami kesulitan.
Dampaknya
Anak memiliki motivasi yang lebih kuat karena tujuan berasal dari dirinya sendiri, bukan sekadar memenuhi harapan orang tua.
4. Ajarkan Regulasi Emosi dan Kemampuan Menghadapi Kegagalan
Psikologi modern menunjukkan bahwa kecerdasan emosional (Emotional Intelligence) berperan besar terhadap keberhasilan seseorang.
Anak yang mampu mengenali, memahami, dan mengelola emosinya akan lebih mudah menghadapi tekanan saat mengejar tujuan.
Sayangnya, banyak orang tua masih terbiasa mengatakan:
"Jangan nangis."
"Masa begitu saja sedih."
Kalimat seperti ini membuat anak belajar memendam emosi, bukan mengelolanya.
Sebaliknya, parenting positif mengajarkan anak untuk mengenali emosinya terlebih dahulu.
Contohnya:
"Kamu kecewa karena belum menang lomba ya? Itu wajar. Yuk kita pikirkan apa yang bisa diperbaiki."
Dengan demikian, anak belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar, bukan akhir dari segalanya.
Cara menerapkannya
Validasi perasaan anak.
Ajarkan teknik bernapas saat marah.
Diskusikan solusi bersama.
Ceritakan pengalaman orang tua saat gagal.
Dampaknya
Anak menjadi lebih tangguh, mampu bangkit dari kegagalan, serta tidak mudah menyerah saat menghadapi tantangan.
5. Jadilah Teladan dalam Menetapkan dan Mencapai Tujuan
Menurut Social Learning Theory dari Albert Bandura, anak belajar terutama melalui observasi.
Apa yang dilakukan orang tua jauh lebih berpengaruh dibandingkan apa yang mereka katakan.
Misalnya, orang tua yang rajin membaca buku akan lebih mudah menumbuhkan kebiasaan membaca pada anak dibandingkan hanya menyuruh mereka membaca.
Begitu pula ketika orang tua menunjukkan semangat belajar, disiplin bekerja, dan konsisten mencapai target, anak akan meniru pola tersebut secara alami.
Cara menerapkannya
Ceritakan target pribadi kepada anak.
Libatkan anak dalam proses mencapainya.
Tunjukkan bahwa orang tua juga belajar dari kesalahan.
Rayakan pencapaian kecil bersama keluarga.
Dampaknya
Anak memahami bahwa mencapai tujuan membutuhkan proses, konsistensi, dan kerja keras, bukan sekadar keberuntungan.
Tantangan Parenting Positif di Era Digital
Di era digital, anak menghadapi berbagai distraksi seperti media sosial, permainan daring, dan banjir informasi. Oleh karena itu, orang tua perlu menyesuaikan strategi parenting positif dengan perkembangan zaman.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
menetapkan aturan penggunaan gawai secara konsisten,
mendampingi anak saat menggunakan internet,
mengajak anak berdiskusi mengenai konten digital,
memberikan contoh penggunaan teknologi yang sehat,
menyediakan aktivitas keluarga tanpa gawai.
Pendekatan ini membantu anak belajar mengelola waktu dan tetap fokus pada tujuan yang ingin dicapai.
Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari
Beberapa pola asuh yang sering menghambat perkembangan motivasi anak meliputi:
terlalu sering membandingkan anak dengan orang lain,
memberikan hukuman tanpa penjelasan,
memaksakan cita-cita orang tua kepada anak,
terlalu banyak mengkritik,
terlalu melindungi sehingga anak tidak belajar mandiri.
Menghindari kebiasaan tersebut akan membantu anak tumbuh dengan rasa percaya diri dan tanggung jawab yang lebih baik.
Kesimpulan
Parenting positif bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna, melainkan tentang membangun hubungan yang sehat, hangat, dan penuh dukungan dengan anak. Berbagai teori psikologi menunjukkan bahwa anak yang merasa aman secara emosional, mendapatkan apresiasi terhadap proses, dilibatkan dalam pengambilan keputusan, diajarkan mengelola emosi, serta memiliki teladan positif dari orang tua akan lebih siap menetapkan dan mencapai tujuan hidupnya.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Prediksi Skor Persija Jakarta vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Diunggulkan!
Profil Jafar Hidayatullah dan Adnan Maulana: Diduga Match Fixing, Dicoret PBSI dari Kejuaraan Dunia
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Maung Bandung Favorit Juara
Aji Santoso Resmi Latih de Red FC, Klub Baru Jawa Timur Pilih Stadion Gelora 10 November Surabaya
Bertahun-Tahun Mogok Kerja, Tim 10 Pekerja Freeport Serahkan Tuntutan ke Said Iqbal
Jafar/Felisha dan Adnan/Indah Dicoret dari Kejuaraan Dunia, PBSI Buka Suara Soal Dugaan Match Fixing
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Pembuktian Sihir John Herdman!
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
