Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Agustus 2026 | 05.52 WIB

5 Strategi Parenting Positif yang Mendukung Tujuan Anak-anak Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang mendukung tujuan anak. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Setiap orang tua tentu menginginkan anak tumbuh menjadi pribadi yang bahagia, percaya diri, serta mampu mencapai tujuan hidupnya. Namun, perjalanan menuju keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik atau bakat alami. Penelitian psikologi perkembangan menunjukkan bahwa pola asuh yang diterapkan di rumah memiliki pengaruh besar terhadap cara anak menetapkan tujuan, menghadapi tantangan, serta membangun motivasi jangka panjang.


Konsep parenting positif merupakan pendekatan pengasuhan yang menekankan hubungan hangat antara orang tua dan anak, komunikasi yang terbuka, disiplin yang membangun, serta penghargaan terhadap kebutuhan emosional anak. Pendekatan ini tidak berarti memanjakan anak atau membebaskan mereka tanpa aturan, melainkan menciptakan lingkungan yang aman sehingga anak mampu berkembang secara optimal.

Dalam psikologi, anak yang tumbuh dalam lingkungan yang suportif cenderung memiliki regulasi emosi yang lebih baik, tingkat kepercayaan diri yang tinggi, serta motivasi intrinsik yang kuat. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting agar anak mampu menetapkan dan mengejar tujuan hidupnya secara mandiri.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (6/8), terdapat lima strategi parenting positif yang didukung oleh teori dan penelitian psikologi.

1. Bangun Hubungan Emosional yang Aman (Secure Attachment)

Salah satu teori paling berpengaruh dalam psikologi perkembangan adalah Attachment Theory yang dikembangkan oleh John Bowlby dan dikembangkan lebih lanjut oleh Mary Ainsworth. Teori ini menjelaskan bahwa hubungan emosional yang aman antara anak dan orang tua menjadi dasar perkembangan psikologis yang sehat.

Ketika anak merasa dicintai tanpa syarat, didengar, dan diterima apa adanya, mereka akan memiliki rasa aman untuk mengeksplorasi lingkungan, mencoba hal-hal baru, dan tidak mudah menyerah saat mengalami kegagalan.

Sebaliknya, anak yang sering mendapatkan kritik berlebihan atau merasa diabaikan cenderung memiliki kecemasan tinggi sehingga lebih takut mengambil risiko.

Cara menerapkannya
Luangkan waktu berkualitas setiap hari meskipun hanya 15–30 menit.
Dengarkan cerita anak tanpa langsung menghakimi.
Tunjukkan empati terhadap perasaan mereka.
Berikan pelukan, senyuman, dan kata-kata penyemangat.
Dampaknya terhadap tujuan anak

Hubungan emosional yang kuat membantu anak:

lebih percaya diri,
berani mencoba tantangan baru,
tidak mudah menyerah,
memiliki ketahanan mental saat menghadapi kegagalan.
2. Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil

Psikolog Carol Dweck memperkenalkan konsep Growth Mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, latihan, dan pembelajaran.

Orang tua sering kali tanpa sadar hanya memuji hasil, misalnya:

"Kamu memang pintar."

Padahal pujian seperti ini membuat anak takut gagal karena mereka merasa harus selalu terlihat pintar.

Sebaliknya, psikologi menyarankan memberikan apresiasi terhadap proses.

Contohnya:

"Ayah bangga karena kamu terus mencoba walaupun soal tadi sulit."

Dengan demikian, anak belajar bahwa usaha memiliki nilai yang lebih penting daripada hasil akhir.

Cara menerapkannya
Apresiasi kerja keras.
Diskusikan strategi yang digunakan anak.
Jadikan kesalahan sebagai kesempatan belajar.
Hindari membandingkan anak dengan saudara atau teman.
Dampaknya

Anak menjadi lebih:

gigih,
kreatif,
tahan terhadap kegagalan,
berani menetapkan target yang lebih tinggi.
3. Libatkan Anak dalam Menentukan Tujuannya Sendiri

Menurut Self-Determination Theory yang dikembangkan Edward Deci dan Richard Ryan, manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis utama:

autonomy (kemandirian),
competence (merasa mampu),
relatedness (merasa terhubung dengan orang lain).

Anak yang selalu dipaksa mengikuti keinginan orang tua sering kali kehilangan motivasi intrinsik. Mereka belajar hanya demi hadiah atau menghindari hukuman.

Sebaliknya, ketika anak dilibatkan dalam menentukan targetnya sendiri, mereka akan merasa memiliki tanggung jawab terhadap tujuan tersebut.

Misalnya, daripada mengatakan:

"Kamu harus juara kelas."

Lebih baik bertanya:

"Apa target belajarmu semester ini?"

Pendekatan sederhana ini membantu anak belajar membuat keputusan dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Cara menerapkannya
Ajak anak berdiskusi mengenai impiannya.
Biarkan mereka memilih aktivitas sesuai minat.
Berikan pilihan, bukan perintah mutlak.
Dampingi ketika mereka mengalami kesulitan.
Dampaknya

Anak memiliki motivasi yang lebih kuat karena tujuan berasal dari dirinya sendiri, bukan sekadar memenuhi harapan orang tua.

4. Ajarkan Regulasi Emosi dan Kemampuan Menghadapi Kegagalan

Psikologi modern menunjukkan bahwa kecerdasan emosional (Emotional Intelligence) berperan besar terhadap keberhasilan seseorang.

Anak yang mampu mengenali, memahami, dan mengelola emosinya akan lebih mudah menghadapi tekanan saat mengejar tujuan.

Sayangnya, banyak orang tua masih terbiasa mengatakan:

"Jangan nangis."
"Masa begitu saja sedih."

Kalimat seperti ini membuat anak belajar memendam emosi, bukan mengelolanya.

Sebaliknya, parenting positif mengajarkan anak untuk mengenali emosinya terlebih dahulu.

Contohnya:

"Kamu kecewa karena belum menang lomba ya? Itu wajar. Yuk kita pikirkan apa yang bisa diperbaiki."

Dengan demikian, anak belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar, bukan akhir dari segalanya.

Cara menerapkannya
Validasi perasaan anak.
Ajarkan teknik bernapas saat marah.
Diskusikan solusi bersama.
Ceritakan pengalaman orang tua saat gagal.
Dampaknya

Anak menjadi lebih tangguh, mampu bangkit dari kegagalan, serta tidak mudah menyerah saat menghadapi tantangan.

5. Jadilah Teladan dalam Menetapkan dan Mencapai Tujuan

Menurut Social Learning Theory dari Albert Bandura, anak belajar terutama melalui observasi.

Apa yang dilakukan orang tua jauh lebih berpengaruh dibandingkan apa yang mereka katakan.

Misalnya, orang tua yang rajin membaca buku akan lebih mudah menumbuhkan kebiasaan membaca pada anak dibandingkan hanya menyuruh mereka membaca.

Begitu pula ketika orang tua menunjukkan semangat belajar, disiplin bekerja, dan konsisten mencapai target, anak akan meniru pola tersebut secara alami.

Cara menerapkannya
Ceritakan target pribadi kepada anak.
Libatkan anak dalam proses mencapainya.
Tunjukkan bahwa orang tua juga belajar dari kesalahan.
Rayakan pencapaian kecil bersama keluarga.
Dampaknya

Anak memahami bahwa mencapai tujuan membutuhkan proses, konsistensi, dan kerja keras, bukan sekadar keberuntungan.

Tantangan Parenting Positif di Era Digital

Di era digital, anak menghadapi berbagai distraksi seperti media sosial, permainan daring, dan banjir informasi. Oleh karena itu, orang tua perlu menyesuaikan strategi parenting positif dengan perkembangan zaman.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

menetapkan aturan penggunaan gawai secara konsisten,
mendampingi anak saat menggunakan internet,
mengajak anak berdiskusi mengenai konten digital,
memberikan contoh penggunaan teknologi yang sehat,
menyediakan aktivitas keluarga tanpa gawai.

Pendekatan ini membantu anak belajar mengelola waktu dan tetap fokus pada tujuan yang ingin dicapai.

Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari

Beberapa pola asuh yang sering menghambat perkembangan motivasi anak meliputi:

terlalu sering membandingkan anak dengan orang lain,
memberikan hukuman tanpa penjelasan,
memaksakan cita-cita orang tua kepada anak,
terlalu banyak mengkritik,
terlalu melindungi sehingga anak tidak belajar mandiri.

Menghindari kebiasaan tersebut akan membantu anak tumbuh dengan rasa percaya diri dan tanggung jawab yang lebih baik.

Kesimpulan

Parenting positif bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna, melainkan tentang membangun hubungan yang sehat, hangat, dan penuh dukungan dengan anak. Berbagai teori psikologi menunjukkan bahwa anak yang merasa aman secara emosional, mendapatkan apresiasi terhadap proses, dilibatkan dalam pengambilan keputusan, diajarkan mengelola emosi, serta memiliki teladan positif dari orang tua akan lebih siap menetapkan dan mencapai tujuan hidupnya.

Keberhasilan anak di masa depan tidak hanya ditentukan oleh nilai rapor atau prestasi akademik, tetapi juga oleh kemampuan mereka untuk bangkit setelah gagal, berpikir mandiri, serta memiliki motivasi yang berasal dari dalam diri. Dengan menerapkan lima strategi parenting positif ini secara konsisten, orang tua dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, percaya diri, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore