Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Agustus 2026 | 04.57 WIB

7 Alasan Mengapa Kembali Bekerja Setelah Liburan Selalu Terasa Begitu Berat Menurut Psikologi

seseorang yang kembali bekerja setelah liburan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Setelah menikmati liburan yang menyenangkan, banyak orang justru merasa kesulitan saat harus kembali bekerja. Alarm pagi terasa lebih menyiksa, semangat bekerja menurun, dan fokus seolah menghilang. Bahkan, tidak sedikit orang yang merasa ingin memperpanjang liburan meskipun baru saja menghabiskan beberapa hari untuk beristirahat.


Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (6/8), dalam dunia psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai post-vacation blues atau post-holiday syndrome. Ini adalah respons psikologis yang umum terjadi ketika seseorang harus beralih dari suasana santai menuju rutinitas yang penuh tuntutan.

Lalu, mengapa kembali bekerja setelah liburan terasa begitu berat? Berikut penjelasan psikologinya.

1. Otak Harus Beradaptasi Kembali dengan Rutinitas

Selama liburan, otak terbiasa menjalani aktivitas yang lebih fleksibel. Anda bisa bangun tanpa alarm, menentukan jadwal sendiri, dan melakukan kegiatan yang menyenangkan tanpa tekanan pekerjaan.

Ketika masa liburan berakhir, otak dipaksa kembali mengikuti jadwal yang ketat. Perubahan mendadak ini membutuhkan energi mental yang cukup besar.

Dalam psikologi, proses ini disebut cognitive shifting, yaitu kemampuan otak untuk berpindah dari satu pola aktivitas ke pola lainnya. Semakin besar perbedaan antara suasana liburan dan rutinitas kerja, semakin sulit proses adaptasinya.

Akibatnya, pada hari-hari pertama bekerja seseorang sering merasa:

Sulit fokus
Mudah lupa
Kurang produktif
Cepat lelah

Hal ini merupakan bagian normal dari proses penyesuaian otak.

2. Liburan Menurunkan Hormon Stres, Tetapi Pekerjaan Mengaktifkannya Lagi

Ketika sedang berlibur, tubuh menghasilkan lebih banyak hormon yang berkaitan dengan rasa nyaman seperti dopamin dan serotonin.

Pada saat yang sama, kadar hormon stres seperti kortisol biasanya menurun.

Namun ketika kembali bekerja, berbagai tekanan mulai muncul kembali, misalnya:

Target pekerjaan
Tumpukan email
Deadline
Rapat yang menunggu

Semua tuntutan tersebut membuat kadar kortisol meningkat dalam waktu singkat.

Perubahan hormon yang cukup drastis ini membuat tubuh merasa seperti kehilangan kenyamanan yang baru saja dinikmati selama liburan.

3. Kontras Emosi Membuat Rutinitas Terasa Lebih Membosankan

Psikologi menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai sesuatu berdasarkan perbandingan.

Saat liburan, aktivitas dipenuhi pengalaman baru:

Jalan-jalan
Bertemu keluarga
Menikmati alam
Kuliner
Tidur lebih lama

Begitu kembali bekerja, rutinitas yang sebenarnya biasa saja tiba-tiba terasa jauh lebih membosankan karena dibandingkan dengan pengalaman menyenangkan sebelumnya.

Fenomena ini dikenal sebagai contrast effect.

Bukan berarti pekerjaan menjadi lebih buruk, tetapi otak sedang membandingkannya dengan pengalaman yang jauh lebih menyenangkan.

4. Terjadi Penurunan Motivasi Sementara

Liburan sering kali memenuhi kebutuhan dasar psikologis manusia, yaitu:

Kebebasan menentukan aktivitas
Kedekatan dengan keluarga atau teman
Kesempatan melakukan hobi
Merasa lebih santai

Ketika kembali bekerja, kebutuhan tersebut berkurang secara tiba-tiba.

Menurut Self-Determination Theory, motivasi seseorang dipengaruhi oleh tiga kebutuhan utama:

Otonomi
Kompetensi
Hubungan sosial

Saat kebutuhan tersebut terasa berkurang setelah liburan, motivasi bekerja pun ikut menurun untuk sementara waktu.

Kabar baiknya, kondisi ini biasanya hanya berlangsung beberapa hari.

5. Tumpukan Pekerjaan Menimbulkan Beban Mental

Banyak orang membuka komputer setelah liburan dan langsung menemukan:

Ratusan email
Pesan yang belum dibalas
Deadline yang semakin dekat
Daftar pekerjaan yang menumpuk

Melihat semua tugas tersebut sekaligus membuat otak mengalami mental overload.

Dalam psikologi, beban mental yang terlalu besar sering memicu kecemasan bahkan sebelum seseorang mulai bekerja.

Akibatnya, seseorang merasa lelah padahal sebenarnya belum melakukan pekerjaan apa pun.

6. Ritme Tidur Berubah Selama Liburan

Selama masa liburan, banyak orang:

Tidur lebih larut
Bangun lebih siang
Tidur siang lebih lama

Perubahan ini menggeser ritme sirkadian, yaitu jam biologis tubuh.

Ketika harus kembali bangun pagi untuk bekerja, tubuh belum sepenuhnya siap mengikuti jadwal tersebut.

Akibatnya muncul berbagai keluhan seperti:

Mengantuk sepanjang hari
Sulit berkonsentrasi
Mudah marah
Energi menurun

Biasanya tubuh membutuhkan beberapa hari untuk menyesuaikan kembali pola tidurnya.

7. Liburan Mengingatkan Bahwa Hidup Tidak Hanya Tentang Pekerjaan

Alasan terakhir bersifat lebih mendalam.

Selama liburan, banyak orang menyadari bahwa mereka merasa lebih bahagia ketika memiliki waktu untuk:

Berkumpul dengan keluarga
Beristirahat
Menjelajahi tempat baru
Menikmati hobi
Mengurus diri sendiri

Ketika kembali bekerja, muncul pertanyaan seperti:

"Apakah saya terlalu sibuk?"
"Apakah keseimbangan hidup saya sudah baik?"
"Mengapa saya hanya merasa benar-benar hidup saat liburan?"

Refleksi seperti ini cukup umum dan justru dapat menjadi sinyal bahwa seseorang perlu memperbaiki work-life balance, bukan sekadar menginginkan liburan yang lebih panjang.

Bagaimana Agar Kembali Bekerja Tidak Terlalu Berat?

Meskipun post-vacation blues merupakan hal yang normal, ada beberapa cara yang dapat membantu proses transisi menjadi lebih ringan:

Kembali ke pola tidur normal satu hingga dua hari sebelum liburan berakhir.
Jangan langsung memenuhi jadwal kerja dengan banyak rapat pada hari pertama.
Susun daftar prioritas agar pekerjaan terasa lebih teratur.
Berikan waktu bagi diri sendiri untuk beradaptasi selama beberapa hari.
Sisipkan aktivitas menyenangkan setelah jam kerja, seperti olahraga ringan, bertemu teman, atau menikmati hobi.
Hindari berharap produktivitas langsung kembali 100% pada hari pertama.
Kesimpulan

Merasa berat saat kembali bekerja setelah liburan bukan berarti Anda malas atau kehilangan semangat. Dari sudut pandang psikologi, kondisi ini merupakan respons alami tubuh dan pikiran terhadap perubahan dari suasana santai menuju rutinitas yang penuh tuntutan.

Otak membutuhkan waktu untuk beradaptasi, hormon stres kembali meningkat, ritme tidur berubah, dan beban pekerjaan sering kali langsung menumpuk. Dengan memahami penyebabnya, Anda dapat menjalani masa transisi dengan lebih bijaksana tanpa menyalahkan diri sendiri.

Pada akhirnya, tujuan liburan bukan hanya memberikan kesenangan sesaat, tetapi juga membantu tubuh dan pikiran memulihkan energi agar mampu kembali bekerja dengan lebih sehat, fokus, dan produktif.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore