Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Agustus 2026 | 03.10 WIB

8 Cara Burnout yang Ternyata Dapat Mengubah Kepribadian Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang berubah kepribadian setelah burnout. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Burnout sering dianggap hanya sebagai kondisi lelah akibat pekerjaan yang menumpuk. Padahal, menurut psikologi, burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang terjadi karena stres berkepanjangan. Jika dibiarkan dalam waktu lama, burnout bukan hanya memengaruhi produktivitas, tetapi juga dapat mengubah cara seseorang berpikir, merasakan, hingga berperilaku.


Perubahan tersebut sering kali terjadi secara perlahan sehingga tidak disadari. Seseorang yang sebelumnya ramah bisa menjadi mudah marah, yang dulunya optimis berubah pesimis, atau yang biasanya percaya diri menjadi penuh keraguan.

Psikolog menjelaskan bahwa perubahan kepribadian akibat burnout bukan berarti karakter asli seseorang hilang. Sebaliknya, stres kronis membuat otak dan emosi bekerja secara berbeda sehingga memunculkan pola perilaku baru yang tampak seperti perubahan kepribadian.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (4/8), terdapat delapan cara burnout yang ternyata dapat mengubah kepribadian menurut psikologi.

1. Menjadi Lebih Mudah Marah dan Sensitif

Salah satu perubahan paling umum adalah meningkatnya iritabilitas atau mudah tersinggung. Saat mengalami burnout, kapasitas seseorang untuk mengelola emosi menjadi menurun.

Hal-hal kecil yang sebelumnya dianggap sepele kini terasa mengganggu. Misalnya, suara bising, kritik ringan, atau perubahan jadwal mendadak dapat memicu kemarahan yang berlebihan.

Dalam psikologi, kondisi ini terjadi karena otak terus berada dalam mode "siaga", sehingga lebih sulit mengendalikan respons emosional.

2. Kehilangan Empati terhadap Orang Lain

Burnout sering dikaitkan dengan munculnya depersonalisasi, yaitu kondisi ketika seseorang menjadi lebih dingin dan menjaga jarak secara emosional terhadap orang lain.

Mereka mungkin mulai merasa tidak peduli terhadap rekan kerja, keluarga, bahkan teman dekat. Bukan karena tidak memiliki rasa sayang, melainkan karena energi emosional mereka sudah terkuras.

Akibatnya, interaksi sosial menjadi terasa melelahkan dan seseorang lebih memilih menghindari percakapan yang sebenarnya dulu mereka nikmati.

3. Menjadi Lebih Pesimis

Orang yang mengalami burnout cenderung melihat segala sesuatu dari sisi negatif. Mereka mulai meragukan kemampuan diri sendiri, merasa masa depan suram, dan sulit melihat peluang positif.

Psikologi menyebut pola pikir ini sebagai bagian dari dampak stres kronis terhadap cara otak memproses informasi.

Jika terus berlanjut, sikap pesimis dapat memengaruhi pengambilan keputusan, hubungan sosial, hingga motivasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

4. Menarik Diri dari Lingkungan Sosial

Perubahan kepribadian lainnya adalah munculnya kecenderungan untuk mengisolasi diri.

Seseorang yang sebelumnya aktif bersosialisasi bisa mulai menolak ajakan berkumpul, menghindari percakapan, atau memilih menghabiskan waktu sendirian.

Hal ini bukan selalu karena tidak menyukai orang lain, tetapi karena burnout membuat interaksi sosial terasa menguras energi yang tersisa.

Jika berlangsung lama, kondisi ini berisiko meningkatkan rasa kesepian dan memperburuk kesehatan mental.

5. Menjadi Sulit Percaya Diri

Burnout juga dapat mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Prestasi yang dulu membanggakan kini terasa tidak berarti. Bahkan ketika berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan baik, mereka tetap merasa tidak cukup kompeten.

Penurunan rasa percaya diri ini sering membuat seseorang menjadi lebih ragu mengambil keputusan, takut mencoba hal baru, dan mudah membandingkan diri dengan orang lain.

6. Kehilangan Antusiasme terhadap Hal yang Dulu Disukai

Hobi, aktivitas favorit, bahkan pekerjaan yang dulu memberikan semangat bisa terasa hambar saat burnout terjadi.

Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan berkurangnya kemampuan otak merasakan kepuasan atau penghargaan terhadap suatu aktivitas.

Akibatnya, seseorang tampak berubah menjadi pribadi yang kurang bersemangat, datar, dan tidak lagi menunjukkan antusiasme seperti sebelumnya.

7. Menjadi Lebih Cemas dan Khawatir Berlebihan

Burnout sering berjalan berdampingan dengan kecemasan.

Seseorang menjadi lebih sering memikirkan kemungkinan terburuk, sulit merasa tenang, dan selalu merasa ada masalah yang akan datang.

Perubahan ini membuat mereka tampak lebih berhati-hati, tetapi di sisi lain juga menjadi lebih sulit mengambil keputusan karena terus dihantui rasa takut gagal.

Dalam jangka panjang, kecemasan yang tidak ditangani dapat memperkuat perubahan perilaku tersebut.

8. Kehilangan Motivasi dan Tujuan Hidup

Salah satu dampak paling serius dari burnout adalah hilangnya motivasi.

Seseorang mulai merasa semua usaha yang dilakukan tidak memberikan hasil yang berarti. Mereka menjalani aktivitas hanya sebagai rutinitas tanpa semangat atau tujuan yang jelas.

Kondisi ini dapat membuat seseorang tampak berubah menjadi pribadi yang pasif, kurang inisiatif, dan tidak lagi memiliki gairah untuk berkembang.

Apabila berlangsung dalam waktu lama, burnout dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan kesehatan mental seperti depresi sehingga membutuhkan penanganan yang tepat.

Bagaimana Mengatasi Burnout?

Kabar baiknya, perubahan kepribadian akibat burnout umumnya tidak bersifat permanen apabila penyebabnya segera ditangani. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Mengenali tanda-tanda burnout sejak dini.
Mengatur kembali beban kerja dan waktu istirahat.
Menjaga kualitas tidur dan pola makan.
Melakukan aktivitas yang memberikan rasa nyaman, seperti olahraga atau hobi.
Membangun dukungan sosial dengan keluarga maupun teman.
Berkonsultasi dengan psikolog apabila gejala berlangsung lama atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kesimpulan

Burnout bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja keras. Dalam psikologi, kondisi ini dapat memengaruhi emosi, pola pikir, hingga perilaku yang membuat seseorang tampak mengalami perubahan kepribadian. Mulai dari menjadi lebih mudah marah, kehilangan empati, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga kehilangan motivasi hidup merupakan beberapa dampak yang dapat muncul akibat stres berkepanjangan.

Mengenali gejala burnout sejak awal sangat penting agar perubahan tersebut tidak semakin parah. Dengan istirahat yang cukup, mengelola stres secara sehat, serta mencari bantuan profesional bila diperlukan, seseorang memiliki peluang besar untuk memulihkan keseimbangan emosional dan kembali menjalani hidup dengan lebih sehat.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore