Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Agustus 2026 | 01.58 WIB

Jika Anda Ingin Benar-Benar Menerima Diri Sendiri di Saat Ini, Lakukanlah 5 Langkah Ini Menurut Psik

seseorang yang menerima diri sendiri. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Di era media sosial, banyak orang merasa harus menjadi "versi terbaik" setiap saat. Kita melihat pencapaian orang lain, kehidupan yang tampak sempurna, tubuh ideal, karier cemerlang, hingga hubungan yang terlihat bahagia. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan diri sendiri dan merasa belum cukup baik.


Akibatnya, kita menjadi sulit menerima diri sendiri. Kita terus mengkritik kekurangan, menyesali masa lalu, dan khawatir terhadap masa depan. Padahal, menurut psikologi, penerimaan diri bukan berarti menyerah atau berhenti berkembang. Sebaliknya, menerima diri adalah fondasi untuk membangun kehidupan yang lebih sehat secara mental dan emosional.

Penerimaan diri (self-acceptance) berarti mengakui siapa diri kita saat ini, termasuk kelebihan, kekurangan, keberhasilan, maupun kegagalan, tanpa terus-menerus menghakimi diri sendiri. Orang yang mampu menerima dirinya cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah, hubungan sosial yang lebih sehat, serta ketahanan mental yang lebih baik ketika menghadapi masalah.

Lalu, bagaimana cara benar-benar menerima diri sendiri?

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (2/8), terdapat lima langkah yang didukung oleh prinsip-prinsip psikologi.

1. Berhenti Melawan Emosi yang Sedang Anda Rasakan

Banyak orang percaya bahwa emosi negatif harus segera dihilangkan. Saat merasa sedih, kecewa, marah, atau takut, mereka berusaha menekan perasaan tersebut. Padahal, penelitian psikologi menunjukkan bahwa menekan emosi justru dapat membuatnya bertahan lebih lama dan terasa lebih intens.

Langkah pertama untuk menerima diri adalah menerima emosi yang muncul tanpa langsung menghakiminya. Anda tidak harus selalu merasa bahagia setiap saat. Menjadi manusia berarti mengalami berbagai macam emosi.

Cobalah berkata kepada diri sendiri:

"Saat ini aku sedang kecewa, dan itu adalah hal yang wajar."

Kalimat sederhana seperti ini membantu otak memahami bahwa emosi hanyalah pengalaman sementara, bukan identitas diri.

Ketika kita berhenti melawan emosi, energi yang biasanya habis untuk menyangkal perasaan dapat digunakan untuk mencari solusi yang lebih sehat.

2. Hentikan Kebiasaan Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Dalam psikologi sosial terdapat konsep social comparison, yaitu kecenderungan manusia membandingkan dirinya dengan orang lain. Perbandingan memang bisa memotivasi, tetapi jika dilakukan terus-menerus, justru dapat menurunkan rasa percaya diri.

Ingatlah bahwa Anda hanya melihat "cuplikan terbaik" dari kehidupan orang lain. Sementara Anda menjalani seluruh cerita hidup sendiri, lengkap dengan tantangan, kesalahan, dan prosesnya.

Daripada bertanya:

"Kenapa aku belum seperti dia?"

lebih baik ubah menjadi:

"Apakah aku sudah berkembang dibanding diriku enam bulan yang lalu?"

Perbandingan yang paling sehat adalah membandingkan diri dengan versi diri sendiri di masa lalu, bukan dengan kehidupan orang lain.

3. Perlakukan Diri Sendiri Seperti Anda Memperlakukan Sahabat

Bayangkan seorang sahabat datang kepada Anda dan berkata bahwa ia gagal dalam pekerjaannya. Kemungkinan besar Anda tidak akan mengatakan:

"Kamu memang tidak berguna."

Sebaliknya, Anda akan memberikan dukungan, semangat, dan pengertian.

Namun anehnya, banyak orang justru berbicara sangat keras kepada dirinya sendiri.

Dalam psikologi, sikap ini dikenal sebagai self-compassion, yaitu kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan saat menghadapi kesulitan.

Cobalah mengganti kritik seperti:

"Aku selalu gagal."
"Aku tidak pernah cukup baik."
"Aku memang tidak berbakat."

Menjadi:

"Aku memang melakukan kesalahan, tetapi aku masih bisa belajar."
"Tidak semua hal harus langsung berhasil."
"Aku sedang bertumbuh."

Berbicara kepada diri sendiri dengan penuh kasih bukan berarti memanjakan diri, melainkan membantu otak keluar dari pola pikir yang terlalu menghukum diri.

4. Terima Bahwa Kesempurnaan Tidak Pernah Ada

Perfeksionisme sering dianggap sebagai sesuatu yang positif. Padahal, banyak penelitian menunjukkan bahwa perfeksionisme yang berlebihan berkaitan dengan kecemasan, stres, dan depresi.

Orang yang sulit menerima diri biasanya memiliki standar yang hampir mustahil dicapai. Ketika berhasil, mereka merasa itu belum cukup. Ketika gagal sedikit saja, mereka merasa seluruh usahanya sia-sia.

Psikologi mengajarkan bahwa pertumbuhan lebih penting daripada kesempurnaan.

Daripada berusaha menjadi sempurna, fokuslah pada kemajuan kecil setiap hari.

Misalnya:

membaca lima halaman buku,
berolahraga selama lima belas menit,
menyelesaikan satu tugas penting,
atau beristirahat ketika tubuh memang membutuhkan.

Kemajuan kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak yang jauh lebih besar daripada mengejar kesempurnaan yang tidak realistis.

5. Kenali Nilai Diri yang Tidak Bergantung pada Prestasi

Banyak orang mengaitkan harga dirinya dengan pencapaian.

"Aku berharga kalau sukses."

"Aku layak dihargai kalau kaya."

"Aku pantas dicintai kalau sempurna."

Padahal menurut psikologi humanistik, khususnya gagasan Carl Rogers, setiap manusia memiliki nilai yang melekat sebagai individu, bukan semata-mata karena prestasinya.

Artinya, Anda tetap memiliki nilai meskipun sedang gagal.

Anda tetap layak dihormati meskipun belum mencapai target hidup.

Anda tetap pantas dicintai meskipun memiliki kekurangan.

Mulailah mengenali kualitas yang tidak bergantung pada pencapaian, seperti:

kejujuran,
kepedulian,
keberanian,
rasa tanggung jawab,
kemampuan belajar,
dan ketulusan membantu orang lain.

Nilai-nilai inilah yang membentuk jati diri Anda sebagai manusia.

Mengapa Menerima Diri Sendiri Sangat Penting?

Saat seseorang mampu menerima dirinya, ia tidak lagi menghabiskan energi untuk terus membuktikan bahwa dirinya layak. Ia lebih fokus pada proses bertumbuh daripada mengejar pengakuan.

Penerimaan diri juga membuat seseorang lebih tahan menghadapi kegagalan. Alih-alih terpuruk terlalu lama, ia dapat belajar dari pengalaman dan bangkit dengan lebih cepat.

Selain itu, hubungan dengan orang lain pun menjadi lebih sehat. Ketika kita tidak lagi terus-menerus merasa kurang, kita juga tidak mudah iri, defensif, atau mencari validasi secara berlebihan.

Penutup

Menerima diri sendiri bukan berarti berhenti berkembang. Justru sebaliknya, perubahan yang paling sehat dimulai dari penerimaan.

Saat Anda berhenti memusuhi diri sendiri, Anda akan memiliki lebih banyak ruang untuk belajar, bertumbuh, dan menjalani hidup dengan lebih tenang.

Mulailah dengan lima langkah sederhana:

Terima emosi tanpa menghakimi diri.
Berhenti membandingkan diri dengan orang lain.
Perlakukan diri sendiri dengan kasih sayang.
Lepaskan tuntutan untuk menjadi sempurna.
Sadari bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh prestasi.

Ingatlah, Anda tidak harus menjadi orang lain untuk memiliki kehidupan yang bermakna. Anda hanya perlu menjadi versi diri sendiri yang terus bertumbuh, selangkah demi selangkah, setiap hari.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore