Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Juli 2026 | 06.02 WIB

7 Pikiran Remeh Orang Tua yang Dapat Mengganggu Kehidupan Anak-anak yang Sudah Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang mengganggu kehidupan anaknya. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak tidak berhenti ketika anak memasuki usia dewasa. Justru pada fase inilah hubungan tersebut mengalami perubahan yang cukup besar. Anak yang telah dewasa mulai membangun identitasnya sendiri, mengambil keputusan penting, membentuk keluarga, hingga mengejar karier sesuai pilihannya. Namun, tidak semua orang tua mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut.


Sering kali, bukan tindakan besar yang menjadi sumber konflik, melainkan pikiran-pikiran yang tampak sepele atau dianggap "demi kebaikan anak." Dalam psikologi, pola pikir tertentu dapat memengaruhi cara orang tua berkomunikasi dan bersikap terhadap anak yang sudah dewasa. Jika dilakukan terus-menerus, hal tersebut dapat menghambat perkembangan psikologis anak, merusak kepercayaan diri, bahkan menciptakan hubungan yang penuh ketegangan.

Penting untuk dipahami bahwa setiap orang tua tentu memiliki niat baik. Namun, niat baik tidak selalu menghasilkan dampak yang positif apabila tidak disertai dengan penghargaan terhadap batasan dan kemandirian anak.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (27/7), terdapat tujuh pikiran yang sering dianggap remeh, tetapi menurut psikologi dapat mengganggu kehidupan anak-anak yang sudah dewasa.

1. "Aku Lebih Tahu yang Terbaik untuk Anakku"

Banyak orang tua percaya bahwa pengalaman hidup mereka membuat mereka selalu mengetahui pilihan terbaik bagi anak. Keyakinan ini memang lahir dari kasih sayang, tetapi jika diterapkan secara berlebihan justru dapat menghambat kemampuan anak dalam mengambil keputusan sendiri.

Menurut teori perkembangan psikososial Erik Erikson, individu dewasa membutuhkan kesempatan untuk membangun identitas dan rasa kompeten melalui keputusan yang mereka buat sendiri. Ketika setiap pilihan selalu dikoreksi atau diarahkan, anak dapat kehilangan rasa percaya diri terhadap penilaiannya.

Akibatnya, anak mungkin menjadi:

Sulit mengambil keputusan tanpa persetujuan orang tua.
Takut gagal karena terbiasa diarahkan.
Merasa pendapatnya tidak pernah dianggap penting.

Memberikan saran tentu diperbolehkan, tetapi keputusan akhir sebaiknya tetap berada di tangan anak yang sudah dewasa.

2. "Kalau Kamu Menolak Saranku, Berarti Kamu Tidak Menghargai Orang Tua"

Dalam banyak budaya, menghormati orang tua merupakan nilai yang sangat penting. Namun, menghormati tidak selalu berarti harus mengikuti semua keinginan mereka.

Psikologi hubungan keluarga menjelaskan bahwa hubungan yang sehat dibangun atas dasar saling menghargai, bukan kepatuhan tanpa batas. Ketika anak merasa harus selalu mengiyakan agar dianggap berbakti, mereka bisa mengalami konflik batin yang berkepanjangan.

Lama-kelamaan, anak dapat:

Menekan keinginannya sendiri.
Sulit menetapkan batasan yang sehat.
Merasa bersalah setiap kali memilih jalan hidupnya sendiri.

Hubungan yang sehat justru memungkinkan adanya perbedaan pendapat tanpa mengurangi rasa hormat.

3. "Anakku Harus Membuatku Bahagia"

Ini merupakan bentuk harapan emosional yang sering tidak disadari. Sebagian orang tua menjadikan anak sebagai sumber utama kebahagiaan atau pemenuhan kebutuhan emosional mereka.

Dalam psikologi keluarga, kondisi ini dikenal sebagai emotional enmeshment, yaitu batas emosional antara orang tua dan anak menjadi terlalu kabur.

Dampaknya, anak dewasa dapat merasa bertanggung jawab atas suasana hati orang tuanya. Mereka mungkin merasa bersalah ketika:

Pindah ke kota lain.
Menikah.
Lebih banyak menghabiskan waktu bersama pasangan atau teman.
Mengejar impian yang tidak sesuai harapan keluarga.

Padahal setiap orang bertanggung jawab atas kesejahteraan emosinya sendiri.

4. "Kalau Aku Mengkritik, Itu Berarti Aku Peduli"

Kritik memang dapat menjadi bentuk perhatian apabila disampaikan secara konstruktif. Namun kritik yang terus-menerus, bahkan terhadap hal-hal kecil, justru dapat merusak harga diri anak meskipun mereka sudah dewasa.

Komentar seperti:

"Kenapa berat badanmu naik?"
"Kerjaanmu kok belum mapan?"
"Kapan punya rumah?"
"Temanmu sudah sukses semua."

Mungkin terdengar biasa, tetapi jika terus diulang akan membentuk keyakinan bahwa apa pun yang dilakukan anak tidak pernah cukup baik.

Psikologi menunjukkan bahwa kritik berkepanjangan berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, stres, dan rendahnya self-esteem.

5. "Anakku Tetap Anak Kecil"

Secara biologis memang benar bahwa seseorang akan selalu menjadi anak bagi orang tuanya. Namun secara psikologis, orang dewasa membutuhkan pengakuan bahwa mereka telah berkembang menjadi individu yang mandiri.

Ketika orang tua masih:

Mengatur semua keputusan.
Terlalu ikut campur dalam rumah tangga anak.
Mengontrol keuangan.
Mengawasi setiap aktivitas.

Anak bisa merasa bahwa dirinya tidak dipercaya.

Teori self-determination dalam psikologi menjelaskan bahwa manusia membutuhkan tiga kebutuhan dasar, yaitu:

Otonomi.
Kompetensi.
Keterhubungan.

Kurangnya otonomi dapat menghambat kesejahteraan psikologis seseorang.

6. "Kesuksesan Anak Adalah Cerminan Diriku"

Sebagian orang tua tanpa sadar mengaitkan prestasi anak dengan harga diri mereka sendiri. Akibatnya, mereka sangat menekan anak agar memenuhi standar tertentu.

Misalnya:

Harus menjadi dokter.
Harus bekerja di perusahaan ternama.
Harus menikah pada usia tertentu.
Harus memiliki penghasilan tinggi.

Ketika anak memilih jalan berbeda, orang tua merasa gagal atau malu.

Padahal menurut psikologi, setiap individu memiliki minat, bakat, dan definisi kesuksesan yang berbeda. Memaksakan standar yang sama dapat membuat anak kehilangan motivasi intrinsik dan menjalani hidup demi memenuhi ekspektasi orang lain.

7. "Kalau Aku Selalu Membantu, Berarti Aku Orang Tua yang Baik"

Memberikan bantuan memang merupakan bentuk kasih sayang. Namun jika bantuan diberikan tanpa diminta atau terus-menerus hingga mengambil alih tanggung jawab anak, hal tersebut dapat menghambat perkembangan kemandirian.

Dalam psikologi dikenal istilah overparenting, yaitu pola pengasuhan yang terlalu melindungi atau terlalu banyak mengintervensi kehidupan anak, bahkan ketika mereka sudah dewasa.

Contohnya:

Selalu menyelesaikan masalah anak.
Menghubungi atasan anak ketika terjadi konflik.
Mengatur seluruh urusan rumah tangga anak.
Memberikan solusi sebelum anak sempat berpikir sendiri.

Anak akhirnya kesulitan membangun kemampuan menghadapi tantangan hidup karena terlalu bergantung pada orang tua.

Mengapa Pola Pikir Ini Sulit Disadari?

Sebagian besar pola pikir di atas muncul bukan karena orang tua ingin menyakiti anak, melainkan karena rasa cinta, kekhawatiran, pengalaman hidup, dan kebiasaan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Namun dalam hubungan keluarga, dampak suatu perilaku sering kali lebih penting daripada niat di baliknya. Komunikasi yang sehat membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan, menghargai perbedaan, dan menerima bahwa anak yang telah dewasa berhak menentukan arah hidupnya sendiri.

Penutup

Menjadi orang tua adalah peran yang tidak pernah benar-benar berakhir. Namun, cara mencintai anak perlu berkembang seiring bertambahnya usia mereka. Ketika anak telah dewasa, bentuk kasih sayang terbaik bukan lagi mengendalikan, melainkan memberikan kepercayaan, ruang untuk bertumbuh, dan dukungan saat dibutuhkan.

Psikologi menunjukkan bahwa hubungan orang tua dan anak dewasa yang sehat dibangun melalui rasa saling menghormati, komunikasi terbuka, serta batasan yang jelas. Dengan melepaskan pikiran-pikiran yang tampak remeh tetapi berpotensi menghambat kemandirian, orang tua dapat menciptakan hubungan yang lebih hangat, harmonis, dan bertahan hingga sepanjang hayat.

Catatan: Artikel ini bersifat informatif dan mengacu pada konsep-konsep umum dalam psikologi perkembangan dan psikologi keluarga. Setiap hubungan keluarga memiliki dinamika yang berbeda, sehingga tidak semua poin akan berlaku pada setiap individu.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore