seseorang yang sering memainkan ponsel di hadapan anak. (magnific)
Anak-anak bukan hanya belajar melalui nasihat. Mereka justru lebih banyak belajar melalui pengamatan. Dalam psikologi perkembangan, proses ini dikenal sebagai observational learning atau pembelajaran melalui meniru perilaku orang lain. Tokoh psikologi Albert Bandura menjelaskan bahwa anak cenderung mencontoh perilaku orang yang paling sering mereka lihat, terutama orang tua.
Ketika orang tua lebih banyak menatap layar dibandingkan menatap wajah anak, ada pesan-pesan yang secara tidak langsung diterima oleh mereka. Pesan tersebut mungkin tidak pernah diucapkan, tetapi dapat membentuk cara anak memahami hubungan, perhatian, bahkan nilai dirinya sendiri.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (18/7), terdapat tujuh hal yang mungkin dipandang anak terhadap orang tua yang terlalu sering memainkan ponsel di hadapan mereka menurut sudut pandang psikologi.
1. "Ponsel Lebih Penting daripada Aku"
Salah satu kebutuhan emosional terbesar anak adalah merasa diperhatikan. Ketika mereka mengajak berbicara tetapi orang tua tetap fokus pada layar, anak dapat menyimpulkan bahwa dirinya bukan prioritas.
Dalam psikologi, perhatian dari orang tua menjadi fondasi pembentukan rasa aman (secure attachment). Ketika perhatian itu sering terganggu oleh ponsel, anak mungkin merasa kehadirannya kurang berarti.
Memang, sesekali membalas pesan penting bukanlah masalah. Namun jika hampir setiap interaksi diselingi dengan melihat notifikasi, anak dapat mengembangkan keyakinan bahwa dirinya harus bersaing dengan perangkat elektronik untuk mendapatkan perhatian orang tuanya.
2. Orang Tua Terlihat Sulit Mendengarkan
Komunikasi yang sehat bukan hanya soal berbicara, tetapi juga mendengarkan dengan penuh perhatian. Saat orang tua sibuk menggulir media sosial sambil mengangguk sekilas ketika anak berbicara, anak bisa merasa bahwa ceritanya tidak benar-benar didengar.
Psikologi komunikasi menunjukkan bahwa kontak mata, ekspresi wajah, dan respons yang tulus merupakan bagian penting dari komunikasi efektif.
Jika hal ini terus berulang, anak mungkin akan lebih jarang berbagi cerita karena menganggap orang tuanya tidak benar-benar tertarik mendengarkan.
3. Ponsel Menjadi Contoh Kebiasaan yang Harus Ditiru
Anak adalah peniru yang sangat ulung. Mereka belajar bukan dari apa yang dikatakan orang tua, melainkan dari apa yang dilakukan setiap hari.
Ketika melihat orang tua selalu memegang ponsel saat makan, menunggu, atau berkumpul bersama keluarga, mereka menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang normal.
Akibatnya, ketika anak mulai meminta bermain gawai lebih lama, mereka sebenarnya sedang mengikuti contoh yang diberikan di rumah.
Dalam psikologi sosial, perilaku yang terus diamati akan lebih mudah diinternalisasi menjadi kebiasaan.
4. Kehangatan Emosional Terasa Berkurang
Interaksi sederhana seperti tersenyum, memeluk, bercanda, atau menatap mata anak memiliki dampak besar terhadap perkembangan emosinya.
Namun penggunaan ponsel yang berlebihan dapat mengurangi kualitas interaksi tersebut.
Beberapa penelitian menggambarkan fenomena ini sebagai technoference, yaitu gangguan hubungan interpersonal akibat kehadiran teknologi.
Ketika momen kebersamaan sering dipotong oleh notifikasi atau media sosial, anak dapat merasakan jarak emosional meskipun secara fisik orang tua berada di dekatnya.
5. Anak Belajar Bahwa Mengabaikan Orang Lain Itu Wajar
Anak belajar tentang sopan santun dari lingkungan terdekatnya.
Jika mereka terbiasa melihat orang tua mengabaikan lawan bicara karena sibuk dengan ponsel, mereka dapat menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang dapat diterima.
Tidak mengherankan jika suatu hari anak melakukan hal yang sama kepada orang tua, guru, atau teman-temannya.
Dalam banyak kasus, orang tua kemudian merasa anak kecanduan gawai, padahal kebiasaan tersebut bisa jadi merupakan hasil dari proses belajar melalui contoh sehari-hari.
6. Anak Merasa Harus Mencari Perhatian dengan Cara Lain
Ketika perhatian sulit diperoleh melalui komunikasi biasa, sebagian anak akan mencoba cara lain.
Ada yang menjadi lebih berisik, lebih rewel, sengaja melakukan kesalahan, atau bahkan menunjukkan perilaku yang mengganggu agar orang tua mengalihkan pandangan dari layar.
Menurut psikologi perkembangan, perilaku seperti ini sering kali bukan bentuk kenakalan semata, melainkan usaha anak untuk memenuhi kebutuhan emosional akan perhatian dan kedekatan.
Di balik perilaku tersebut, sebenarnya mereka sedang mengatakan, "Lihat aku, aku ingin diperhatikan."
7. Anak Menganggap Kedekatan Tidak Selalu Berarti Kehadiran
Salah satu pelajaran terpenting yang dipelajari anak dari orang tua adalah makna kehadiran.
Ketika orang tua duduk di sampingnya tetapi pikirannya terus tertuju pada layar ponsel, anak belajar bahwa seseorang bisa hadir secara fisik tetapi tidak benar-benar hadir secara emosional.
Dalam jangka panjang, pengalaman ini dapat memengaruhi cara anak membangun hubungan dengan orang lain ketika dewasa.
Hubungan yang sehat membutuhkan perhatian penuh, empati, dan komunikasi dua arah. Semua itu sulit terbangun jika perhatian terus terbagi oleh perangkat digital.
Menggunakan Ponsel Bukanlah Kesalahan, Tetapi Perlu Batasan
Perlu dipahami bahwa artikel ini bukan berarti orang tua tidak boleh menggunakan ponsel sama sekali. Di zaman sekarang, banyak aktivitas penting memang bergantung pada teknologi.
Yang menjadi perhatian adalah frekuensi dan kualitas penggunaan ketika sedang bersama anak.
Psikolog umumnya menekankan bahwa kualitas interaksi jauh lebih penting daripada lamanya waktu bersama. Lima belas menit bermain dan berbicara tanpa gangguan ponsel sering kali jauh lebih bermakna dibanding satu jam berada di ruangan yang sama tetapi masing-masing sibuk dengan layar.
Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan antara lain:
Menyimpan ponsel saat makan bersama keluarga.
Memberikan perhatian penuh ketika anak sedang bercerita.
Menentukan waktu bebas gawai di rumah.
Menjadi teladan dalam penggunaan teknologi yang sehat.
Mengajak anak melakukan aktivitas bersama tanpa melibatkan layar, seperti membaca buku, bermain, atau berjalan santai.
Penutup
Anak mungkin tidak selalu mengingat hadiah yang diberikan orang tua, tetapi mereka akan mengingat bagaimana perasaan mereka ketika bersama ayah atau ibu.
Tatapan mata, perhatian yang utuh, dan kesediaan mendengarkan sering kali menjadi kenangan yang jauh lebih berharga daripada apa pun yang ada di dalam ponsel.

Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Analisis Prediksi Bursa Prancis vs Inggris di Piala Dunia 2026: Les Bleus Lebih Dijagokan Rebut Posisi Ketiga
Analisis Prediksi Bursa Spanyol vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Roja Lebih Dijagokan Juara Piala Dunia 2026
Usai Timnas Inggris Gagal ke Final Piala Dunia 2026, Gary Neville dan Roy Keane Saling Adu Pendapat
Presiden Prabowo Hadiri Panen Raya TNI: Hari Ini Saya Bahagia
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
