seseorang yang tidak ingin tertinggal. (magnific)
Dalam psikologi, FOMO bukan sekadar rasa penasaran terhadap apa yang dilakukan orang lain. FOMO merupakan kondisi emosional yang muncul ketika seseorang merasa bahwa orang lain sedang menikmati pengalaman yang lebih menyenangkan, lebih sukses, atau lebih bermakna dibanding dirinya. Akibatnya, individu terdorong untuk terus mengikuti tren, media sosial, maupun berbagai aktivitas agar tidak merasa tertinggal.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (18/7), terdapat delapan alasan utama mengapa seseorang mengalami FOMO menurut perspektif psikologi.
1. Kebutuhan Dasar untuk Diterima Secara Sosial
Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk diterima dalam kelompok. Dalam teori Hierarchy of Needs yang dikemukakan Abraham Maslow, kebutuhan akan rasa memiliki (belongingness) merupakan salah satu kebutuhan psikologis yang penting.
Ketika seseorang merasa teman-temannya sedang melakukan sesuatu tanpa dirinya, otak dapat menganggap kondisi tersebut sebagai ancaman terhadap hubungan sosial. Perasaan takut tidak diterima atau tidak dianggap bagian dari kelompok akhirnya memicu FOMO.
Misalnya, seseorang tetap menghadiri acara yang sebenarnya tidak diminati hanya karena khawatir menjadi satu-satunya yang tidak hadir.
2. Kebiasaan Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Psikolog Leon Festinger melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai kemampuan, pencapaian, maupun status sosialnya.
Media sosial memperkuat proses ini. Orang cenderung melihat pencapaian terbaik orang lain, seperti kesuksesan karier, kehidupan romantis, gaya hidup mewah, atau perjalanan wisata. Tanpa disadari, seseorang mulai merasa hidupnya kurang menarik sehingga muncul keinginan untuk mengejar apa yang dimiliki orang lain.
Semakin sering melakukan perbandingan sosial, semakin besar kemungkinan seseorang mengalami FOMO.
3. Takut Kehilangan Kesempatan
Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan lebih kuat untuk menghindari kerugian daripada memperoleh keuntungan. Konsep ini dikenal sebagai Loss Aversion dalam psikologi perilaku.
Karena itu, seseorang sering berpikir:
"Bagaimana kalau kesempatan ini tidak datang lagi?"
"Bagaimana jika semua orang mendapat manfaat kecuali saya?"
"Bagaimana kalau saya menyesal nanti?"
Pola pikir tersebut membuat seseorang sulit menolak ajakan, promo, investasi, atau tren tertentu karena takut kehilangan peluang yang dianggap berharga.
4. Pengaruh Media Sosial yang Sangat Kuat
Media sosial merupakan salah satu pemicu terbesar FOMO saat ini. Algoritma platform digital dirancang untuk menampilkan berbagai aktivitas menarik dari orang lain secara terus-menerus.
Masalahnya, pengguna hanya melihat "momen terbaik" orang lain, bukan keseluruhan kehidupannya. Foto liburan, pencapaian, hadiah, atau kebahagiaan ditampilkan secara berulang sehingga menciptakan ilusi bahwa semua orang menjalani hidup yang lebih baik.
Akibatnya, seseorang merasa dirinya tertinggal, padahal yang dilihat hanyalah sebagian kecil dari realitas.
5. Harga Diri yang Kurang Stabil
Orang dengan harga diri (self-esteem) yang rendah cenderung lebih mudah mengalami FOMO. Mereka sering mencari validasi dari lingkungan untuk merasa berharga.
Ketika melihat orang lain memperoleh perhatian atau pengakuan, muncul perasaan bahwa dirinya harus melakukan hal yang sama agar dianggap sukses.
Sebaliknya, individu yang memiliki harga diri yang sehat biasanya mampu menerima bahwa setiap orang memiliki jalan hidup, waktu, dan pencapaiannya masing-masing sehingga tidak mudah merasa tertinggal.
6. Keinginan untuk Selalu Mengontrol Segala Hal
Sebagian orang memiliki kebutuhan psikologis yang tinggi untuk mengetahui segala sesuatu yang sedang terjadi. Mereka merasa harus selalu mendapatkan informasi terbaru agar tetap memiliki kendali.
Ketika tidak mengetahui kabar terbaru, tren terkini, atau aktivitas teman-temannya, muncul rasa cemas seolah-olah ada sesuatu yang penting sedang terlewat.
Dorongan untuk terus membuka media sosial, grup percakapan, atau berita sering kali berasal dari kebutuhan ini, bukan semata-mata rasa ingin tahu.
7. Lingkungan yang Kompetitif
Lingkungan sosial dan profesional yang kompetitif juga meningkatkan risiko FOMO. Ketika seseorang berada di lingkungan yang selalu menonjolkan pencapaian, kekayaan, pendidikan, atau prestasi, ia lebih mudah merasa tertinggal.
Misalnya, seseorang melihat rekan kerja memperoleh promosi, teman membeli rumah, atau kerabat melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Jika pencapaian tersebut dijadikan tolok ukur kebahagiaan, maka tekanan psikologis untuk terus mengejar akan semakin besar.
Pada akhirnya, seseorang merasa harus selalu bergerak lebih cepat agar tidak dianggap gagal.
8. Sulit Merasa Puas dengan Kehidupan Sendiri
Psikologi positif menjelaskan bahwa rasa syukur (gratitude) berkaitan erat dengan tingkat kebahagiaan seseorang. Sebaliknya, individu yang sulit menghargai apa yang telah dimiliki akan lebih mudah merasa kurang.
Mereka terus berpikir bahwa kebahagiaan berada pada pengalaman berikutnya, barang berikutnya, pekerjaan berikutnya, atau pencapaian berikutnya.
Akibatnya, setelah memperoleh satu hal, muncul keinginan untuk mengejar hal lain. Siklus ini membuat FOMO terus berulang tanpa henti.
Dampak FOMO terhadap Kesehatan Mental
Jika berlangsung terus-menerus, FOMO dapat memberikan berbagai dampak negatif, antara lain:
Meningkatkan kecemasan dan stres.
Menurunkan kepuasan hidup.
Menyebabkan kecanduan media sosial.
Mengganggu kualitas tidur karena terus memeriksa notifikasi.
Menurunkan konsentrasi saat bekerja atau belajar.
Membuat seseorang sulit menikmati momen yang sedang dijalani.
Memicu pengambilan keputusan yang impulsif, seperti berbelanja berlebihan atau mengikuti tren tanpa pertimbangan.
Dalam jangka panjang, FOMO dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis apabila tidak dikelola dengan baik.
Cara Mengurangi FOMO Menurut Psikologi
FOMO bukan kondisi yang harus diterima begitu saja. Ada beberapa langkah yang dapat membantu menguranginya:
Batasi waktu penggunaan media sosial agar tidak terus-menerus terpapar kehidupan orang lain.
Latih rasa syukur dengan mengingat hal-hal positif yang sudah dimiliki.
Hindari membandingkan proses hidup dengan pencapaian orang lain.
Fokus pada tujuan pribadi, bukan standar sosial.
Bangun hubungan sosial yang sehat di dunia nyata.
Belajar mengatakan "tidak" pada aktivitas yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau nilai diri.
Sadari bahwa apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Latih mindfulness agar lebih menikmati momen saat ini tanpa terus memikirkan apa yang dilakukan orang lain.
Kesimpulan
FOMO merupakan fenomena psikologis yang dipengaruhi oleh kebutuhan untuk diterima, kecenderungan membandingkan diri, rasa takut kehilangan kesempatan, pengaruh media sosial, harga diri yang kurang stabil, kebutuhan akan kontrol, lingkungan yang kompetitif, serta kesulitan merasa puas terhadap kehidupan sendiri.

Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Analisis Prediksi Bursa Prancis vs Inggris di Piala Dunia 2026: Les Bleus Lebih Dijagokan Rebut Posisi Ketiga
Analisis Prediksi Bursa Spanyol vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Roja Lebih Dijagokan Juara Piala Dunia 2026
Usai Timnas Inggris Gagal ke Final Piala Dunia 2026, Gary Neville dan Roy Keane Saling Adu Pendapat
Presiden Prabowo Hadiri Panen Raya TNI: Hari Ini Saya Bahagia
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
