Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 18 Juli 2026 | 04.39 WIB

7 Alasan Mengapa Hustle Culture Sebenarnya Mengarahkan Kita pada Situasi Burnout Saat Bekerja Menurut Psikologi

seseorang yang burnout saat bekerja / foto: Magnific/The Yuri Arcurs Collection

 

JawaPos.com - Di era media sosial, bekerja tanpa henti sering kali dianggap sebagai simbol kesuksesan.
 
Bangun pukul 4 pagi, bekerja hingga larut malam, memiliki beberapa pekerjaan sekaligus, dan hampir tidak memiliki waktu istirahat sering dipromosikan sebagai jalan menuju kehidupan impian. Budaya ini dikenal sebagai hustle culture.
 
Dilansir dari Psychology TOday pada Jumat (17/7), sekilas hustle culture tampak positif karena mendorong disiplin, produktivitas, dan ambisi. Namun, di balik citra tersebut, banyak penelitian psikologi menunjukkan bahwa tekanan untuk terus produktif justru dapat mengarah pada kelelahan mental dan emosional yang dikenal sebagai burnout.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengklasifikasikan burnout sebagai fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan (occupational phenomenon), yang ditandai dengan kelelahan kronis, meningkatnya sikap sinis terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas kerja.

Lalu, mengapa hustle culture justru berpotensi membawa seseorang menuju burnout? Berikut penjelasan psikologinya.

1. Hustle Culture Membuat Otak Tidak Pernah Benar-Benar Beristirahat

Otak manusia bukan mesin yang mampu bekerja tanpa jeda. Dalam psikologi kognitif, otak membutuhkan waktu untuk melakukan proses pemulihan (recovery), mengatur kembali energi mental, serta memperkuat memori.

Ketika seseorang terus memikirkan pekerjaan bahkan setelah jam kerja selesai, sistem saraf tetap berada dalam kondisi siaga. Akibatnya, tubuh sulit memasuki fase relaksasi yang dibutuhkan untuk memulihkan energi.

Dalam jangka panjang, kondisi ini menyebabkan:

sulit berkonsentrasi,
mudah lupa,
cepat lelah,
kualitas tidur menurun,
dan performa kerja justru menurun.

Ironisnya, semakin seseorang memaksakan diri untuk terus bekerja, semakin rendah kemampuan otaknya untuk bekerja secara efektif.

2. Hustle Culture Menumbuhkan Keyakinan Bahwa Nilai Diri Ditentukan oleh Produktivitas

Dalam psikologi dikenal konsep self-worth, yaitu bagaimana seseorang menilai dirinya sendiri.

Pada budaya hustle, penghargaan terhadap diri sering kali bergantung pada seberapa banyak pekerjaan yang berhasil diselesaikan.

Akibatnya muncul pola pikir seperti:

"Kalau aku tidak sibuk, berarti aku malas."
"Kalau aku istirahat, aku tertinggal."
"Kalau target belum tercapai, berarti aku gagal."

Ketika identitas seseorang melekat pada produktivitas, setiap kegagalan kecil terasa sebagai ancaman terhadap harga diri.

Tekanan mental pun semakin besar karena seseorang tidak lagi bekerja untuk mencapai tujuan, melainkan untuk membuktikan bahwa dirinya berharga.

3. Tekanan untuk Selalu Produktif Memicu Stres Kronis

Stres sebenarnya merupakan respons alami tubuh ketika menghadapi tantangan.

Namun, masalah muncul ketika stres berlangsung terus-menerus tanpa kesempatan untuk pulih.

Dalam psikologi kesehatan, kondisi ini disebut chronic stress.

Saat stres berlangsung lama, tubuh terus menghasilkan hormon kortisol.

Jika kadar kortisol terus tinggi, berbagai dampak mulai muncul, seperti:

sulit tidur,
tekanan darah meningkat,
daya tahan tubuh menurun,
emosi menjadi tidak stabil,
meningkatnya risiko gangguan kecemasan maupun depresi.

Burnout sering kali merupakan hasil akhir dari stres kronis yang tidak ditangani.

4. Hustle Culture Menghilangkan Batas antara Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan

Perkembangan teknologi membuat seseorang bisa bekerja kapan saja.

Email masuk malam hari.

Pesan kantor muncul saat akhir pekan.

Notifikasi pekerjaan hadir bahkan ketika sedang berlibur.

Secara psikologis, kondisi ini disebut boundary blurring, yaitu kaburnya batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Padahal, manusia membutuhkan pemisahan yang jelas agar otak dapat berpindah dari mode "bekerja" ke mode "beristirahat".

Ketika batas tersebut hilang, tubuh tidak pernah benar-benar merasa selesai bekerja.

Akibatnya, rasa lelah terus menumpuk tanpa disadari.

5. Perbandingan Sosial di Media Sosial Membuat Kita Merasa Tidak Pernah Cukup

Media sosial menjadi salah satu bahan bakar utama hustle culture.

Setiap hari kita melihat orang lain:

mendapat promosi,
membangun bisnis,
membeli rumah,
menghasilkan jutaan rupiah,
atau bekerja hingga larut malam demi "masa depan."

Menurut Social Comparison Theory yang dikemukakan Leon Festinger, manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain.

Masalahnya, media sosial hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang.

Kita membandingkan kehidupan nyata kita dengan "cuplikan terbaik" orang lain.

Perbandingan yang terus-menerus membuat seseorang merasa selalu kurang produktif, kurang sukses, dan kurang bekerja keras.

Perasaan inilah yang mendorong seseorang bekerja semakin berlebihan.

6. Tubuh Memiliki Batas Biologis yang Tidak Bisa Dikalahkan oleh Motivasi

Motivasi memang penting.

Namun, motivasi tidak dapat menghilangkan kebutuhan biologis manusia.

Tubuh tetap membutuhkan:

tidur,
makanan bergizi,
aktivitas fisik,
relaksasi,
dan hubungan sosial.

Ketika semua kebutuhan tersebut dikorbankan demi bekerja, tubuh perlahan memberikan sinyal berupa:

mudah sakit,
migrain,
nyeri otot,
gangguan pencernaan,
sulit tidur,
hingga kelelahan ekstrem.

Dalam psikologi, burnout bukan sekadar "capek", melainkan kondisi ketika energi fisik, mental, dan emosional telah terkuras dalam waktu yang lama.

7. Produktivitas Berlebihan Justru Menurunkan Kinerja

Banyak orang percaya bahwa semakin lama bekerja, semakin tinggi hasil yang diperoleh.

Faktanya, berbagai penelitian menunjukkan adanya diminishing returns, yaitu ketika tambahan jam kerja justru menghasilkan peningkatan produktivitas yang semakin kecil, bahkan dapat berbalik menurun.

Setelah berjam-jam bekerja tanpa jeda:

kemampuan mengambil keputusan menurun,
kreativitas berkurang,
kesalahan meningkat,
dan kualitas pekerjaan menjadi lebih rendah.

Artinya, bekerja lebih lama tidak selalu berarti bekerja lebih baik.

Sering kali, istirahat yang cukup justru membuat seseorang mampu menghasilkan pekerjaan yang lebih berkualitas dalam waktu yang lebih singkat.

Bagaimana Mencegah Burnout di Tengah Budaya Hustle?

Menghindari burnout bukan berarti kehilangan ambisi. Yang diperlukan adalah membangun pola kerja yang berkelanjutan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Tetapkan batas jam kerja dan usahakan tidak membawa pekerjaan ke waktu istirahat.
Jadwalkan waktu tidur yang cukup, idealnya 7–9 jam per malam bagi orang dewasa.
Sisihkan waktu untuk aktivitas yang menyenangkan di luar pekerjaan, seperti berolahraga, membaca, atau berkumpul dengan keluarga dan teman.
Berlatih mengatakan "tidak" pada beban kerja tambahan ketika kapasitas sudah penuh.
Fokus pada kualitas hasil kerja daripada jumlah jam yang dihabiskan untuk bekerja.
Kurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial, karena setiap orang memiliki perjalanan karier yang berbeda.
Kesimpulan

Hustle culture memang dapat memotivasi seseorang untuk bekerja keras dan mengejar tujuan. Namun, ketika bekerja tanpa henti dijadikan standar kesuksesan, budaya ini berisiko mengabaikan kebutuhan dasar manusia untuk beristirahat dan memulihkan diri.

Dari perspektif psikologi, burnout bukanlah tanda kelemahan atau kurangnya motivasi. Burnout adalah konsekuensi dari paparan stres berkepanjangan, hilangnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta tekanan untuk terus produktif tanpa memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk pulih.

Kesuksesan yang berkelanjutan tidak hanya diukur dari seberapa keras seseorang bekerja, tetapi juga dari kemampuannya menjaga kesehatan fisik, mental, dan emosional. Produktivitas terbaik lahir dari ritme kerja yang seimbang—di mana kerja keras diimbangi dengan istirahat yang cukup, hubungan sosial yang sehat, dan perhatian terhadap kesejahteraan diri. Dengan begitu, kita tidak hanya mampu mencapai target, tetapi juga menikmati prosesnya tanpa mengorbankan kesehatan jangka panjang.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore