Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Juli 2026 | 02.26 WIB

6 Alasan Mengapa Sebagian Orang Merasa Lebih Aman dalam Kekacauan daripada dalam Ketenangan Menurut Psikologi

seseorang yang lebih aman dalam kekacauan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Pernahkah Anda bertemu seseorang yang selalu berada di tengah drama, konflik, atau kesibukan tanpa henti? Anehnya, ketika hidup mulai tenang, justru mereka merasa gelisah, tidak nyaman, bahkan sengaja mencari masalah baru. Fenomena ini mungkin terdengar aneh, tetapi dalam psikologi terdapat sejumlah penjelasan yang masuk akal mengapa sebagian orang justru merasa lebih aman dalam kekacauan dibandingkan dalam ketenangan.


Banyak orang menganggap ketenangan sebagai kondisi ideal. Saat tidak ada konflik, tekanan, atau masalah besar, pikiran seharusnya menjadi lebih rileks. Namun bagi sebagian individu, kondisi tenang justru terasa asing. Mereka merasa ada sesuatu yang salah ketika semuanya berjalan lancar. Akibatnya, mereka tanpa sadar menciptakan kesibukan berlebihan, memicu konflik, atau terus-menerus mencari tantangan agar merasa "normal."

Psikologi menjelaskan bahwa pola seperti ini biasanya terbentuk dari pengalaman hidup, kebiasaan berpikir, hingga cara otak beradaptasi terhadap lingkungan.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (18/7), terdapat enam alasan utama mengapa seseorang bisa merasa lebih aman dalam kekacauan daripada dalam ketenangan.

1. Otak Terbiasa Hidup dalam Stres Sejak Lama

Salah satu penjelasan paling umum adalah karena otak telah terbiasa berada dalam kondisi stres dalam waktu yang panjang. Orang yang sejak kecil tumbuh di lingkungan penuh konflik, pertengkaran, tekanan ekonomi, atau ketidakpastian sering kali mengembangkan sistem saraf yang selalu siaga.

Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan respons fight, flight, atau freeze. Tubuh terus mempersiapkan diri menghadapi ancaman meskipun ancaman tersebut sudah tidak ada.

Ketika akhirnya hidup menjadi tenang, otak justru merasa situasi itu tidak familiar. Alih-alih menikmati ketenangan, mereka malah merasa ada bahaya yang sedang menunggu. Akibatnya muncul rasa cemas tanpa alasan yang jelas.

Bagi orang lain, ketenangan adalah tempat untuk beristirahat. Namun bagi mereka yang terbiasa hidup dalam tekanan, ketenangan terasa asing dan bahkan menakutkan.

2. Kekacauan Memberikan Rasa Kendali

Sekilas kekacauan terlihat tidak terkendali. Namun bagi sebagian orang, mereka justru merasa memiliki kontrol ketika harus terus menyelesaikan masalah.

Mereka terbiasa menjadi "penyelamat", pengambil keputusan, atau orang yang selalu sibuk menghadapi krisis. Identitas diri mereka terbentuk dari kemampuan mengatasi persoalan.

Ketika semua berjalan baik, mereka kehilangan peran tersebut. Akibatnya muncul pertanyaan seperti:

"Kalau tidak ada masalah, apa yang harus saya lakukan?"
"Apakah saya masih berguna?"
"Mengapa semuanya terasa aneh?"

Psikologi menyebut bahwa sebagian identitas seseorang memang dapat melekat pada peran tertentu. Jika identitas itu terlalu bergantung pada situasi darurat, maka kondisi tenang justru terasa mengancam.

3. Trauma Membuat Ketenangan Terasa Mencurigakan

Orang yang pernah mengalami trauma sering kali mengembangkan kondisi yang disebut hypervigilance, yaitu kewaspadaan yang sangat tinggi terhadap kemungkinan bahaya.

Mereka belajar bahwa setelah masa tenang biasanya akan datang sesuatu yang buruk. Misalnya, semasa kecil rumah terasa sunyi sebelum terjadi pertengkaran besar. Akibatnya, otak mulai menghubungkan ketenangan dengan ancaman yang akan datang.

Saat dewasa, pola tersebut masih bertahan. Ketika kehidupan terasa damai, mereka justru berpikir:

"Pasti akan ada masalah."
"Ini terlalu bagus untuk menjadi kenyataan."
"Saya harus bersiap."

Padahal secara objektif tidak ada ancaman nyata. Yang bekerja adalah memori emosional yang terbentuk sejak lama.

4. Adrenalin Menjadi Kebiasaan

Saat menghadapi tekanan, tubuh menghasilkan hormon adrenalin dan kortisol. Kedua hormon ini membantu seseorang tetap fokus dan siap menghadapi tantangan.

Jika kondisi seperti ini berlangsung terus-menerus selama bertahun-tahun, tubuh dapat terbiasa dengan sensasi tersebut.

Akibatnya, ketika hidup mulai tenang, seseorang merasa bosan, kosong, bahkan tidak bersemangat. Mereka kemudian mencari aktivitas yang memicu ketegangan, seperti bekerja berlebihan, terlibat konflik, atau mengambil risiko yang sebenarnya tidak perlu.

Fenomena ini bukan berarti mereka menyukai penderitaan, melainkan tubuh mereka telah terbiasa dengan tingkat rangsangan yang tinggi sehingga ketenangan terasa kurang memuaskan.

5. Harga Diri Bergantung pada Kesibukan

Dalam masyarakat modern, kesibukan sering dianggap sebagai tanda produktivitas dan kesuksesan. Tidak sedikit orang yang merasa berharga hanya ketika mereka sangat sibuk.

Mereka sulit beristirahat karena muncul rasa bersalah saat tidak melakukan apa pun.

Lama-kelamaan, pola pikir ini berkembang menjadi keyakinan bahwa nilai diri hanya muncul ketika terus bekerja atau menyelesaikan masalah.

Saat semua pekerjaan selesai dan hidup menjadi tenang, muncul perasaan hampa. Mereka merasa tidak produktif, tidak penting, bahkan kehilangan arah.

Psikologi memandang bahwa harga diri yang sehat seharusnya tidak bergantung sepenuhnya pada pencapaian atau kesibukan, melainkan juga pada penerimaan terhadap diri sendiri.

6. Ketenangan Memunculkan Emosi yang Selama Ini Dihindari

Kesibukan sering menjadi cara untuk menghindari emosi yang sulit dihadapi.

Ketika seseorang terus bekerja, sibuk membantu orang lain, atau terlibat dalam berbagai aktivitas, mereka memiliki sedikit waktu untuk memikirkan luka batin, kesedihan, rasa kecewa, atau ketakutan.

Namun saat suasana menjadi tenang, semua emosi yang selama ini ditekan mulai muncul ke permukaan.

Inilah alasan mengapa sebagian orang justru merasa tidak nyaman ketika libur panjang, sendirian di rumah, atau tidak memiliki banyak aktivitas.

Bukan karena ketenangan itu buruk, melainkan karena ketenangan memberi ruang bagi pikiran untuk menghadapi perasaan yang selama ini dihindari.

Apakah Pola Ini Bisa Diubah?

Kabar baiknya, ya. Otak memiliki kemampuan untuk beradaptasi melalui proses yang dikenal sebagai neuroplastisitas. Dengan latihan yang konsisten, seseorang dapat belajar merasa nyaman dalam ketenangan tanpa harus mencari kekacauan.

Beberapa langkah yang sering disarankan dalam psikologi antara lain:

Melatih kesadaran diri (mindfulness) agar terbiasa hadir di momen saat ini.
Mengenali pola pikir yang membuat ketenangan terasa mengancam.
Mengelola stres melalui olahraga, tidur yang cukup, dan teknik relaksasi.
Membangun identitas diri yang tidak hanya bergantung pada kesibukan atau konflik.
Berkonsultasi dengan psikolog apabila pola tersebut berkaitan dengan trauma atau mengganggu kehidupan sehari-hari.

Perubahan memang tidak terjadi dalam semalam. Namun semakin sering seseorang mengalami ketenangan dalam lingkungan yang aman, otak akan belajar bahwa kondisi tersebut bukan ancaman.

Penutup

Merasa lebih nyaman dalam kekacauan bukan berarti seseorang menyukai penderitaan atau sengaja mencari masalah. Dalam banyak kasus, kondisi tersebut merupakan hasil dari pengalaman hidup, trauma, kebiasaan, dan cara otak beradaptasi terhadap lingkungan yang penuh tekanan.

Memahami penyebabnya dapat membantu kita bersikap lebih bijaksana, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Ketenangan adalah keterampilan yang bisa dipelajari. Seiring waktu, otak dapat belajar bahwa hidup yang damai bukanlah sesuatu yang perlu dicurigai, melainkan ruang yang sehat untuk bertumbuh, memulihkan diri, dan menikmati kehidupan.

Catatan: Artikel ini bersifat informatif dan berdasarkan konsep-konsep umum dalam psikologi. Kondisi setiap individu berbeda-beda. Jika perasaan cemas, dorongan mencari konflik, atau dampak trauma mengganggu fungsi sehari-hari, berkonsultasilah dengan psikolog atau profesional kesehatan mental untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore