Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Juli 2026 | 02.08 WIB

Jika Anda Menemukan 6 Pola Utama pada Sahabat Anda, Anda Mungkin Sedang dalam Persahabatan yang Toxic Menurut Psikologi

seseorang yang sedang dalam persahabatan yang toxic. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Persahabatan seharusnya menjadi tempat yang aman untuk berbagi cerita, mencari dukungan, dan tumbuh bersama. Sahabat yang baik akan membuat kita merasa diterima, dihargai, dan didukung dalam berbagai situasi kehidupan. Namun, tidak semua hubungan pertemanan memberikan dampak positif. Ada kalanya seseorang justru terjebak dalam hubungan yang melelahkan secara emosional tanpa menyadarinya.


Dalam psikologi, hubungan seperti ini sering disebut sebagai toxic friendship atau persahabatan yang tidak sehat. Hubungan ini bukan berarti setiap konflik atau perbedaan pendapat adalah tanda persahabatan yang buruk. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam setiap hubungan. Yang menjadi masalah adalah ketika pola perilaku negatif terjadi berulang kali hingga mengganggu kesehatan mental, harga diri, dan kualitas hidup seseorang.

Lalu, bagaimana cara mengenalinya?

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (18/7), terdapat enam pola utama yang sering ditemukan dalam persahabatan toxic menurut berbagai konsep psikologi hubungan interpersonal.

1. Mereka Selalu Membuat Anda Merasa Bersalah

Salah satu ciri paling umum dari persahabatan toxic adalah penggunaan rasa bersalah sebagai alat untuk mengendalikan orang lain.

Misalnya, ketika Anda tidak bisa menemani mereka karena sedang sibuk bekerja atau bersama keluarga, mereka langsung mengatakan bahwa Anda bukan sahabat yang baik. Mereka membuat Anda merasa bertanggung jawab atas perasaan mereka, meskipun Anda memiliki alasan yang masuk akal.

Dalam psikologi, perilaku ini dikenal sebagai bentuk manipulasi emosional. Pelaku sering kali memanfaatkan rasa empati korbannya agar selalu menuruti keinginannya.

Seiring waktu, Anda mungkin mulai merasa harus selalu mengutamakan kebutuhan mereka dibanding kebutuhan sendiri hanya agar tidak merasa bersalah.

2. Mereka Hanya Datang Saat Membutuhkan Anda

Persahabatan yang sehat berjalan dua arah. Kedua belah pihak saling memberi perhatian, dukungan, dan waktu.

Namun dalam hubungan yang toxic, sahabat biasanya hanya muncul ketika mereka membutuhkan bantuan. Saat mereka memiliki masalah, Anda menjadi orang pertama yang dihubungi. Tetapi ketika Anda sedang mengalami kesulitan, mereka sulit dihubungi atau bahkan menghilang.

Hubungan seperti ini menciptakan ketidakseimbangan emosional. Anda terus memberi, sementara mereka hanya menerima.

Psikologi menjelaskan bahwa hubungan yang sehat membutuhkan prinsip timbal balik (reciprocity), yaitu adanya keseimbangan dalam memberi dan menerima.

3. Mereka Sering Meremehkan atau Mengkritik Anda

Candaan memang menjadi bagian dari persahabatan. Namun, ada perbedaan besar antara bercanda dan merendahkan.

Sahabat yang toxic sering menyamarkan kritik sebagai humor. Mereka mengejek penampilan, pekerjaan, kemampuan, atau pencapaian Anda, lalu berkata, "Santai saja, kan cuma bercanda."

Jika candaan tersebut membuat Anda merasa malu, tidak percaya diri, atau terluka secara emosional, maka perilaku itu tidak bisa dianggap sepele.

Psikolog menyebut bahwa kritik yang terus-menerus dapat mengikis harga diri seseorang. Lama-kelamaan, Anda mulai meragukan kemampuan sendiri karena terlalu sering menerima komentar negatif.

4. Mereka Tidak Senang Melihat Kesuksesan Anda

Persahabatan yang sehat dipenuhi rasa bangga terhadap keberhasilan satu sama lain.

Sebaliknya, sahabat yang toxic justru menunjukkan tanda-tanda iri ketika Anda berhasil mencapai sesuatu. Mereka mungkin mengecilkan pencapaian Anda, mengubah topik pembicaraan menjadi tentang diri mereka sendiri, atau bahkan memberikan komentar sinis.

Misalnya, ketika Anda mendapat promosi kerja, mereka berkata, "Ah, itu cuma kebetulan."

Dalam psikologi sosial, perilaku ini dapat muncul akibat rasa tidak aman (insecurity) atau kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Alih-alih ikut bahagia, mereka merasa terancam oleh keberhasilan Anda.

5. Mereka Tidak Menghormati Batasan Pribadi

Setiap orang memiliki batasan (boundaries) yang perlu dihormati, baik dalam hal waktu, privasi, maupun kenyamanan.

Sahabat yang toxic sering kali mengabaikan batasan tersebut. Mereka memaksa Anda untuk selalu tersedia, menuntut balasan pesan secepat mungkin, atau mencampuri urusan pribadi tanpa izin.

Ketika Anda mencoba mengatakan "tidak", mereka justru marah atau membuat Anda merasa egois.

Menurut psikologi, kemampuan menghormati batasan merupakan salah satu indikator hubungan interpersonal yang sehat. Jika seseorang terus-menerus melanggar batas tersebut, hubungan akan terasa melelahkan dan menguras energi emosional.

6. Anda Selalu Merasa Lelah Setelah Bertemu dengan Mereka

Ini mungkin merupakan tanda yang paling mudah dirasakan.

Coba perhatikan bagaimana perasaan Anda setelah menghabiskan waktu bersama sahabat tersebut.

Apakah Anda merasa lebih tenang, bahagia, dan termotivasi?

Ataukah justru merasa lelah, cemas, kesal, atau bahkan kehilangan semangat?

Psikolog menjelaskan bahwa tubuh dan pikiran sering memberikan sinyal ketika kita berada dalam hubungan yang tidak sehat. Jika hampir setiap interaksi membuat Anda terkuras secara emosional, hal itu patut menjadi bahan refleksi.

Perasaan lelah yang terus berulang bisa menjadi tanda bahwa hubungan tersebut lebih banyak mengambil energi daripada memberikan dukungan.

Mengapa Sulit Mengakhiri Persahabatan Toxic?

Banyak orang bertahan dalam persahabatan yang tidak sehat karena berbagai alasan.

Mungkin hubungan tersebut sudah berlangsung sejak lama sehingga muncul rasa tidak enak untuk menjauh. Ada pula yang takut dianggap sebagai teman yang buruk atau khawatir kehilangan lingkaran pertemanan.

Selain itu, pelaku sering menunjukkan sisi baiknya di waktu-waktu tertentu sehingga korban berharap hubungan akan berubah menjadi lebih baik.

Fenomena ini membuat seseorang terus bertahan meskipun sebenarnya sering terluka secara emosional.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Jika Anda mulai menyadari beberapa pola di atas, bukan berarti harus langsung mengakhiri persahabatan. Langkah pertama adalah mengevaluasi hubungan tersebut secara objektif.

Cobalah berkomunikasi secara terbuka mengenai perasaan dan batasan Anda. Sahabat yang benar-benar peduli biasanya akan berusaha memahami dan memperbaiki sikapnya.

Namun, jika perilaku negatif terus berulang, manipulasi semakin sering terjadi, dan hubungan tersebut mulai memengaruhi kesehatan mental Anda, menjaga jarak bisa menjadi pilihan yang sehat.

Ingatlah bahwa menjaga kesehatan emosional bukanlah tindakan egois. Anda berhak berada di lingkungan yang membuat Anda merasa dihargai, didukung, dan diterima apa adanya.

Kesimpulan

Persahabatan yang sehat tidak berarti tanpa konflik, tetapi selalu dilandasi rasa saling menghormati, kepercayaan, empati, dan dukungan.

Jika Anda menemukan enam pola berikut pada seorang sahabat—sering membuat Anda merasa bersalah, hanya datang saat membutuhkan, gemar meremehkan, tidak senang melihat kesuksesan Anda, tidak menghormati batasan pribadi, dan selalu membuat Anda merasa lelah secara emosional—bisa jadi Anda sedang berada dalam persahabatan yang toxic menurut perspektif psikologi.

Mengenali tanda-tanda tersebut bukan untuk menghakimi orang lain, melainkan sebagai langkah awal menjaga kesehatan mental dan membangun hubungan yang lebih sehat. Pada akhirnya, sahabat sejati bukanlah mereka yang selalu hadir dalam setiap momen, tetapi mereka yang membuat Anda merasa aman, dihargai, dan dapat berkembang menjadi versi terbaik dari diri sendiri.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore