Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Juli 2026 | 01.46 WIB

8 Alasan Mengapa Pria Menjauh dari Pasangan Saat Sedang Mengalami Kesulitan Menurut Psikologi

seseorang yang menjauh dari pasangan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Dalam sebuah hubungan, tidak sedikit wanita yang merasa bingung ketika pasangannya tiba-tiba menjadi lebih pendiam, sulit dihubungi, atau memilih menjaga jarak saat sedang menghadapi masalah. Perubahan sikap ini sering kali memunculkan berbagai pertanyaan, seperti, "Apakah dia sudah tidak mencintaiku?" atau "Apakah ada orang lain?"

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (18/7),menurut psikologi menjauh bukan selalu pertanda berkurangnya rasa cinta. Bagi sebagian pria, menarik diri justru menjadi mekanisme untuk menghadapi tekanan hidup. Cara ini memang tidak selalu sehat, tetapi cukup umum terjadi.

Setiap individu memiliki cara berbeda dalam mengatasi stres. Ada yang mencari dukungan dari orang terdekat, sementara yang lain memilih menyendiri hingga merasa siap kembali berinteraksi.

Lalu, apa saja alasan psikologis yang membuat pria cenderung menjauh saat sedang mengalami kesulitan?

1. Ingin Menyelesaikan Masalah Sendiri

Dalam psikologi, banyak pria dibesarkan dengan keyakinan bahwa mereka harus mampu menyelesaikan persoalan tanpa bergantung pada orang lain. Sejak kecil, mereka sering menerima pesan bahwa pria harus kuat, mandiri, dan tidak mudah mengeluh.

Ketika menghadapi masalah pekerjaan, keuangan, atau keluarga, sebagian pria lebih memilih fokus mencari solusi daripada membicarakan perasaannya. Mereka merasa perlu "menghilang sejenak" agar dapat berpikir lebih jernih.

Bukan berarti mereka tidak membutuhkan pasangan, tetapi mereka percaya bahwa menyelesaikan masalah sendiri adalah bentuk tanggung jawab.

2. Merasa Malu karena Tidak Bisa Memenuhi Harapan

Harga diri pria sering kali berkaitan dengan kemampuan memberikan rasa aman, stabilitas, atau memenuhi tanggung jawab tertentu. Ketika mereka gagal mencapai target atau mengalami kegagalan, muncul rasa malu yang cukup besar.

Psikologi menyebut kondisi ini sebagai ancaman terhadap harga diri (self-esteem). Perasaan tersebut membuat sebagian pria menghindari interaksi dengan pasangan karena takut dianggap lemah, gagal, atau mengecewakan.

Ironisnya, pasangan sering kali tidak menilai mereka sekeras itu. Namun, persepsi negatif terhadap diri sendiri membuat pria memilih menjaga jarak.

3. Mengalami Stres Berlebihan

Tekanan yang terus-menerus dapat menguras energi mental. Saat tingkat stres meningkat, seseorang biasanya mengalami penurunan kemampuan untuk bersosialisasi dan berkomunikasi.

Pria yang sedang berada dalam kondisi ini cenderung menjadi lebih pendiam, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, bahkan kehilangan minat melakukan aktivitas yang biasanya disukai.

Menjauh bukan selalu berarti menghindari pasangan, melainkan karena kapasitas emosional mereka sedang menurun.

4. Takut Membebani Pasangan

Sebagian pria percaya bahwa membicarakan masalah hanya akan membuat pasangan ikut khawatir. Mereka ingin melindungi orang yang dicintainya dari beban emosional.

Akibatnya, mereka menyimpan semuanya sendiri.

Dalam psikologi hubungan, perilaku ini dikenal sebagai bentuk protective buffering, yaitu kecenderungan menyembunyikan kekhawatiran demi melindungi pasangan dari stres tambahan.

Walaupun niatnya baik, kebiasaan ini justru dapat menciptakan jarak emosional karena pasangan merasa diabaikan.

5. Sulit Mengekspresikan Emosi

Tidak semua pria terbiasa mengungkapkan perasaan secara verbal. Faktor pola asuh, budaya, dan pengalaman hidup dapat membuat mereka kurang terampil mengenali maupun menjelaskan emosi yang dirasakan.

Psikologi menyebut kemampuan mengenali dan mengungkapkan emosi sebagai bagian dari kecerdasan emosional.

Ketika kemampuan ini belum berkembang dengan baik, pria lebih memilih diam daripada takut salah mengungkapkan isi hati.

6. Membutuhkan Waktu untuk Memproses Perasaan

Sebagian orang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami apa yang sebenarnya mereka rasakan.

Saat menghadapi konflik atau tekanan besar, pria mungkin belum siap berbicara karena masih mencoba mengurai pikiran dan emosinya sendiri.

Dalam proses ini, mereka cenderung mengurangi komunikasi sementara waktu. Setelah merasa lebih tenang dan mampu memahami situasi, biasanya mereka akan kembali membuka diri.

Karena itu, memberi ruang yang sehat sering kali lebih efektif dibandingkan terus-menerus mendesak mereka untuk segera bercerita.

7. Takut Menunjukkan Kerentanan

Banyak budaya masih mengajarkan bahwa pria harus selalu terlihat kuat. Akibatnya, menunjukkan kesedihan, ketakutan, atau kebingungan dianggap sebagai tanda kelemahan.

Padahal, menurut psikologi, kemampuan mengakui kerentanan justru merupakan bagian dari hubungan yang sehat.

Sayangnya, tidak semua pria merasa aman untuk memperlihatkan sisi rapuh mereka. Mereka khawatir pasangan akan kehilangan rasa hormat atau menganggap mereka tidak mampu.

Ketakutan inilah yang membuat sebagian pria memilih menjauh hingga merasa lebih kuat secara emosional.

8. Mengalami Burnout atau Kelelahan Mental

Kesulitan hidup yang berlangsung lama dapat menyebabkan burnout atau kelelahan mental. Kondisi ini tidak hanya dialami pekerja, tetapi juga siapa saja yang terus menghadapi tekanan tanpa waktu pemulihan.

Gejalanya meliputi kelelahan emosional, hilangnya motivasi, sulit menikmati aktivitas, hingga keinginan untuk menghindari interaksi sosial.

Dalam kondisi seperti ini, pria sering membutuhkan waktu untuk memulihkan energi sebelum mampu hadir secara emosional dalam hubungan.

Yang terpenting, burnout bukan berarti rasa cintanya hilang. Ia hanya sedang berusaha bertahan menghadapi tekanan yang dirasakan.

Bagaimana Sebaiknya Pasangan Menyikapi?

Ketika pasangan mulai menjauh karena sedang mengalami kesulitan, langkah terbaik bukan langsung berasumsi bahwa hubungan sedang bermasalah. Sebaliknya, cobalah memberikan ruang sambil tetap menunjukkan bahwa Anda siap mendukung ketika ia ingin berbicara.

Komunikasi yang tenang, tanpa tekanan atau tuduhan, biasanya lebih efektif dibandingkan terus-menerus menuntut penjelasan. Anda juga dapat mengatakan bahwa Anda bersedia mendengarkan kapan pun ia merasa siap.

Namun, penting juga membedakan antara kebutuhan akan ruang pribadi dengan pola menghindar yang berkepanjangan. Jika pasangan terus menutup diri selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan tanpa komunikasi yang jelas, hingga berdampak negatif pada hubungan, maka percakapan yang jujur atau bantuan dari konselor pasangan dapat menjadi langkah yang bijaksana.

Kesimpulan

Menurut psikologi, pria menjauh saat menghadapi kesulitan tidak selalu berarti cinta mereka telah berkurang. Sering kali, perilaku tersebut merupakan respons terhadap stres, rasa malu, tekanan, atau keyakinan bahwa mereka harus menyelesaikan masalah sendiri.

Memahami alasan di balik perubahan sikap ini dapat membantu pasangan menghindari kesalahpahaman dan membangun komunikasi yang lebih sehat. Hubungan yang kuat bukanlah hubungan tanpa masalah, melainkan hubungan di mana kedua belah pihak mampu saling memahami, memberikan ruang ketika dibutuhkan, dan tetap hadir sebagai sumber dukungan di masa-masa sulit.
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore