Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Juli 2026 | 02.21 WIB

Jika Anda Mulai Tidak Menyukai Pasangan dan Berusaha Mengakhirinya, Ingatlah 7 Kenangan Ini Menurut Psikologi

seseorang yang mulai tidak menyukai pasangan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Dalam setiap hubungan asmara, ada fase ketika segalanya terasa indah dan penuh harapan. Namun seiring waktu, tantangan mulai muncul. Kesibukan, konflik, perbedaan pendapat, hingga rutinitas yang monoton dapat membuat perasaan cinta terasa memudar. Tidak sedikit orang yang akhirnya berpikir bahwa mengakhiri hubungan adalah jalan terbaik.


Padahal, menurut berbagai kajian dalam psikologi hubungan, keputusan yang diambil saat emosi sedang memuncak sering kali berbeda dengan keputusan yang dibuat ketika pikiran sudah lebih tenang. Rasa kecewa yang besar dapat membuat seseorang hanya mengingat kesalahan pasangan, sementara kenangan baik yang pernah dibangun bersama menjadi terlupakan.

Hal ini bukan berarti setiap hubungan harus dipertahankan. Jika hubungan dipenuhi kekerasan, manipulasi, pelecehan, atau perilaku yang membahayakan kesehatan fisik maupun mental, mengakhiri hubungan bisa menjadi pilihan yang paling sehat. Namun apabila masalah yang terjadi masih berupa konflik yang dapat diselesaikan melalui komunikasi dan komitmen bersama, mengingat kembali perjalanan hubungan dapat membantu melihat situasi secara lebih objektif.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (18/7), terdapat tujuh kenangan yang layak diingat sebelum memutuskan untuk mengakhiri hubungan.

1. Ingat Kembali Alasan Mengapa Anda Memilihnya

Setiap hubungan memiliki titik awal. Ada alasan mengapa Anda jatuh hati kepada pasangan. Mungkin karena sifatnya yang perhatian, cara ia membuat Anda tertawa, dukungannya ketika menghadapi masa sulit, atau nilai-nilai hidup yang sejalan.

Psikologi mengenal fenomena yang disebut rosy retrospection, yaitu kecenderungan manusia mengingat pengalaman positif dengan lebih hangat setelah waktu berlalu. Sebaliknya, saat sedang marah, kita juga bisa mengalami bias yang membuat seluruh hubungan tampak buruk.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang membuat saya mencintainya dulu?
Apakah kualitas itu benar-benar hilang, atau hanya tertutupi oleh konflik saat ini?
Apakah saya masih menghargai sisi baik yang dimilikinya?

Pertanyaan sederhana ini dapat membantu melihat hubungan secara lebih seimbang.

2. Kenang Saat-Saat Ketika Kalian Berjuang Bersama

Hubungan yang sehat tidak dibangun hanya dari momen bahagia, tetapi juga dari perjuangan yang dilewati bersama.

Mungkin kalian pernah menghadapi kesulitan ekonomi, tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau tantangan lainnya. Jika pada masa-masa itu kalian mampu saling mendukung, berarti hubungan tersebut memiliki fondasi yang pernah terbukti kuat.

Psikolog menyebut pengalaman menghadapi tantangan bersama sebagai salah satu faktor yang dapat mempererat ikatan emosional karena kedua pihak belajar saling percaya dan bekerja sama.

3. Ingat Momen Ketika Pasangan Menjadi Tempat Paling Aman

Ada masa ketika Anda merasa bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi. Anda bisa menangis, bercerita, mengungkapkan rasa takut, atau membagikan impian kepada pasangan.

Rasa aman secara emosional merupakan salah satu ciri hubungan yang sehat. Ketika hubungan mulai dipenuhi konflik, rasa aman itu mungkin terasa memudar. Namun penting untuk membedakan apakah rasa aman tersebut benar-benar hilang atau hanya tertutup oleh masalah yang sedang terjadi.

Jika fondasi kepercayaan masih ada, hubungan sering kali masih memiliki peluang untuk diperbaiki.

4. Kenang Semua Hal Kecil yang Pernah Dilakukan Pasangan

Hubungan tidak hanya dibangun oleh hadiah besar atau liburan mewah. Justru perhatian kecil sering menjadi perekat hubungan.

Misalnya:

Mengingat makanan favorit Anda.
Mengirim pesan untuk memastikan Anda sudah makan.
Menemani saat sakit.
Mendengarkan cerita setelah hari yang melelahkan.
Memberikan semangat ketika Anda hampir menyerah.

Dalam psikologi hubungan, tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali memiliki dampak lebih besar terhadap kepuasan hubungan dibandingkan tindakan besar yang hanya sesekali dilakukan.

5. Ingat Bahwa Tidak Ada Pasangan yang Sempurna

Salah satu penyebab seseorang mudah ingin mengakhiri hubungan adalah munculnya harapan bahwa ada pasangan lain yang "lebih sempurna".

Padahal, setiap orang memiliki kekurangan. Hubungan jangka panjang bukan tentang menemukan orang tanpa cela, melainkan menemukan seseorang yang kekurangannya masih bisa diterima dan dihadapi bersama.

Psikologi menyebut adanya kecenderungan membandingkan pasangan dengan gambaran ideal yang sering dipengaruhi media sosial, film, atau pengalaman orang lain. Perbandingan yang tidak realistis dapat membuat hubungan sendiri terlihat kurang memuaskan, padahal sebenarnya masih sehat.

6. Kenang Semua Pertumbuhan yang Terjadi Selama Bersama

Hubungan yang baik sering kali membuat kedua orang berkembang menjadi pribadi yang lebih matang.

Mungkin Anda menjadi lebih sabar, lebih bertanggung jawab, lebih berani menghadapi tantangan, atau belajar memahami sudut pandang orang lain.

Begitu pula pasangan Anda. Ia mungkin telah berubah menjadi pribadi yang lebih dewasa karena hubungan yang dijalani bersama.

Mengingat pertumbuhan ini membantu menyadari bahwa hubungan bukan sekadar tentang kebahagiaan sesaat, tetapi juga tentang proses menjadi manusia yang lebih baik.

7. Bayangkan Kehidupan Tanpa Semua Kenangan Itu

Sebelum benar-benar mengakhiri hubungan, cobalah membayangkan hidup tanpa kebersamaan yang pernah ada.

Bukan sekadar kehilangan seseorang, tetapi juga kehilangan rutinitas, dukungan emosional, candaan, impian bersama, dan berbagai kenangan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Psikologi menunjukkan bahwa manusia sering kali baru menyadari nilai sesuatu setelah kehilangannya. Karena itu, memberi ruang untuk merenung sebelum mengambil keputusan dapat membantu mengurangi penyesalan di kemudian hari.

Kapan Mengakhiri Hubungan Tetap Menjadi Pilihan yang Tepat?

Mengingat kenangan bukan berarti memaksa diri bertahan dalam hubungan yang tidak sehat.

Apabila hubungan dipenuhi:

Kekerasan fisik atau verbal.
Manipulasi emosional.
Perselingkuhan yang tidak disertai komitmen untuk memperbaiki keadaan.
Pengendalian berlebihan.
Ancaman terhadap keselamatan atau kesehatan mental.

Maka mengakhiri hubungan bisa menjadi langkah yang lebih bijaksana demi melindungi diri sendiri.

Sebaliknya, apabila masalah utamanya adalah komunikasi yang buruk, kesalahpahaman, atau kejenuhan, pasangan mungkin masih dapat memperbaiki hubungan melalui komunikasi yang jujur, usaha bersama, atau bantuan konselor pasangan.

Penutup

Perasaan tidak suka kepada pasangan tidak selalu berarti cinta telah benar-benar hilang. Dalam banyak hubungan jangka panjang, emosi dapat naik turun seiring perubahan kehidupan. Yang terpenting adalah membedakan antara perasaan sesaat dengan masalah yang memang tidak dapat diselesaikan.

Sebelum mengambil keputusan besar untuk mengakhiri hubungan, luangkan waktu untuk mengingat kembali alasan kalian bersama, perjuangan yang pernah dilewati, dan momen-momen yang membangun kedekatan. Kenangan tersebut mungkin tidak selalu menjadi alasan untuk bertahan, tetapi dapat membantu Anda mengambil keputusan dengan lebih tenang, matang, dan tanpa penyesalan.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukanlah hubungan tanpa konflik, melainkan hubungan di mana kedua orang sama-sama bersedia belajar, memperbaiki kesalahan, dan bertumbuh bersama.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore