seseorang yang menua dengan senang. (Magnific)
Menjadi pribadi yang tetap ceria, mudah tertawa, dan menikmati hidup bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Itu adalah hasil dari kebiasaan yang dibangun selama bertahun-tahun. Sebaliknya, ada beberapa perilaku yang tanpa disadari justru membuat seseorang lebih mudah merasa kesepian, stres, bahkan kehilangan semangat hidup seiring bertambahnya usia.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (15/7), jika Anda ingin menua dengan hati yang ringan, pikiran yang damai, dan tetap memiliki selera humor, berikut enam perilaku yang sebaiknya mulai ditinggalkan sejak sekarang menurut berbagai temuan dalam psikologi.
1. Terlalu Memikirkan Penilaian Orang Lain
Salah satu penyebab utama seseorang kehilangan kebahagiaan adalah terlalu sibuk memikirkan apa yang dipikirkan orang lain.
Psikologi menyebut kecenderungan ini sebagai fear of negative evaluation, yaitu rasa takut dinilai buruk oleh lingkungan. Orang yang terus-menerus mencari validasi biasanya lebih mudah mengalami kecemasan, sulit mengambil keputusan, dan tidak menikmati hidup apa adanya.
Semakin bertambah usia, semakin penting untuk menyadari bahwa tidak semua orang harus menyukai kita. Hidup menjadi jauh lebih ringan ketika kita mampu menerima diri sendiri tanpa terus-menerus mengejar pengakuan.
Orang-orang yang menua dengan bahagia biasanya memiliki kemampuan untuk berkata, "Saya sudah melakukan yang terbaik," lalu melanjutkan hidup tanpa membebani diri dengan opini orang lain.
2. Menyimpan Dendam Terlalu Lama
Dendam sering kali terasa seperti hukuman bagi orang lain. Namun dalam kenyataannya, orang yang paling menderita justru adalah diri sendiri.
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa memendam kemarahan dalam waktu lama berkaitan dengan meningkatnya stres kronis, tekanan darah, serta risiko gangguan kesehatan mental.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan seseorang. Memaafkan adalah keputusan untuk tidak lagi membiarkan luka lama mengendalikan kebahagiaan hari ini.
Mereka yang mampu melepaskan dendam biasanya memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi serta hubungan sosial yang lebih sehat.
3. Terus Membandingkan Hidup dengan Orang Lain
Di era media sosial, membandingkan diri menjadi semakin mudah. Kita melihat pencapaian, liburan, rumah, atau kesuksesan orang lain setiap hari.
Menurut teori Social Comparison dari psikolog Leon Festinger, manusia memang memiliki kecenderungan alami untuk membandingkan diri dengan orang lain. Namun jika dilakukan secara berlebihan, kebiasaan ini justru memicu rasa iri, rendah diri, dan ketidakpuasan.
Orang yang menikmati masa tuanya umumnya lebih fokus pada perjalanan hidup mereka sendiri dibandingkan mengejar standar orang lain.
Setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda. Membandingkan bab pertama hidup kita dengan bab kesepuluh milik orang lain hanya akan menguras energi yang seharusnya digunakan untuk bertumbuh.
4. Menolak Perubahan
Perubahan adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan.
Sayangnya, sebagian orang memilih bertahan pada kebiasaan lama hanya karena merasa nyaman. Padahal, psikologi menunjukkan bahwa kemampuan beradaptasi merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan mental sepanjang hidup.
Orang yang terbuka terhadap pengalaman baru cenderung lebih optimis, lebih mudah belajar, dan memiliki fungsi kognitif yang lebih baik ketika memasuki usia lanjut.
Belajar teknologi baru, mencoba hobi baru, atau bertemu orang-orang baru bukan hanya membuat hidup lebih menarik, tetapi juga membantu menjaga otak tetap aktif.
5. Terlalu Keras terhadap Diri Sendiri
Banyak orang menjadi kritik paling tajam bagi dirinya sendiri.
Ketika gagal, mereka menyalahkan diri tanpa henti. Ketika melakukan kesalahan kecil, mereka merasa tidak cukup baik.
Psikolog Kristin Neff memperkenalkan konsep self-compassion, yaitu kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan yang sama seperti ketika kita menghibur seorang teman.
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki belas kasih terhadap diri sendiri cenderung lebih tangguh menghadapi kegagalan, memiliki tingkat stres lebih rendah, dan lebih puas dengan kehidupannya.
Menua dengan bahagia bukan berarti hidup tanpa kesalahan. Justru, itu berarti mampu menerima bahwa menjadi manusia memang berarti sesekali jatuh, lalu bangkit kembali.
6. Mengabaikan Hubungan dengan Orang-Orang Terdekat
Salah satu temuan paling terkenal dalam dunia psikologi berasal dari Harvard Study of Adult Development, penelitian yang berlangsung selama puluhan tahun.
Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan sosial yang hangat dan berkualitas merupakan salah satu prediktor terbesar kebahagiaan serta kesehatan di usia tua.
Bukan kekayaan, jabatan, ataupun popularitas yang paling menentukan kualitas hidup, melainkan hubungan yang dipenuhi kepercayaan, kasih sayang, dan dukungan.
Karena itu, jangan menunggu momen istimewa untuk menghubungi keluarga, mengunjungi sahabat, atau sekadar berbincang dengan orang yang Anda sayangi.
Tawa yang dibagikan bersama orang-orang terdekat sering kali menjadi obat terbaik untuk menjalani kehidupan.
***

Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Analisis Prediksi Bursa Inggris vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Albiceleste Sudah Teruji hingga 120 MenitÂ
Sesi Foto Bersama di Pemakaman Komedian Temon Terbelah Jadi 2 Kubu
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Kompak Turun, Berikut Daftar Harga Terbaru BBM Pertamina hingga Shell
Vicky Prasetyo Menunggu Detak Jantung Janin Sebelum Nikahi Fangfang Secara Siri
Daftar Pemain Cedera Prancis vs Spanyol di Piala Dunia 2026: Les Bleus Terancam Krisis Lini Tengah!
MA Kekurangan 1.600 Hakim, Lulusan Fakultas Hukum Ditawari Gaji Rp 50 Juta Per Bulan
Prediksi Skor Inggris vs Argentina di Piala Dunia 2026: Lionel Messi Cs Dijagokan Singkirkan Three Lions dan Lolos ke Final
