Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 Juli 2026 | 00.20 WIB

ika Anda Cenderung Terlalu Banyak Berpikir, Tiga Kebiasaan Ini Mengembalikan Ketenangan Anda Menurut Psikologi

seseorang yang terlalu banyak berpikir. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa pikiran terus bekerja tanpa henti, bahkan ketika tubuh sudah lelah? Satu masalah kecil berubah menjadi puluhan kemungkinan buruk. Satu percakapan sederhana diputar ulang berkali-kali di kepala. Semakin lama dipikirkan, semakin sulit menemukan ketenangan.

Fenomena ini dikenal sebagai overthinking atau berpikir berlebihan. Dalam psikologi, overthinking bukan sekadar kebiasaan memikirkan sesuatu secara mendalam, melainkan kecenderungan mengulang-ulang pikiran, kekhawatiran, atau penyesalan tanpa menghasilkan solusi yang nyata. Akibatnya, energi mental terkuras, kualitas tidur menurun, tingkat stres meningkat, dan seseorang menjadi sulit menikmati momen yang sedang dijalani.

Ironisnya, banyak orang mengira bahwa semakin lama mereka berpikir, semakin dekat mereka dengan jawaban terbaik. Padahal, penelitian psikologi menunjukkan bahwa berpikir berlebihan justru sering memperburuk kecemasan dan membuat seseorang semakin sulit mengambil keputusan.

Kabar baiknya, ketenangan bukan sesuatu yang hanya dimiliki orang-orang tertentu. Psikologi menunjukkan bahwa ketenangan dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Dilansir dari Hack Spirit pada Senin (13/7), terdapat tiga kebiasaan yang terbukti membantu mengurangi overthinking dan mengembalikan ketenangan batin.

1. Fokus pada Apa yang Bisa Dikendalikan

Salah satu penyebab utama overthinking adalah mencoba mengendalikan hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali kita. Misalnya, bagaimana orang lain menilai kita, apa yang akan terjadi minggu depan, atau kemungkinan-kemungkinan buruk yang bahkan belum tentu terjadi.

Psikologi menyebut kecenderungan ini sebagai "rumination", yaitu memikirkan masalah secara berulang tanpa menghasilkan tindakan yang bermanfaat.

Cara terbaik untuk menghentikan siklus tersebut adalah dengan bertanya kepada diri sendiri:

"Apakah ini bisa saya kendalikan?"

Jika jawabannya "ya", lakukan langkah kecil hari ini.

Jika jawabannya "tidak", belajarlah melepaskannya.

Sebagai contoh, Anda tidak bisa mengendalikan apakah seseorang akan menyukai hasil pekerjaan Anda. Namun, Anda bisa mengendalikan kualitas usaha, persiapan, dan sikap profesional Anda.

Mengalihkan fokus dari kekhawatiran menuju tindakan nyata membantu otak keluar dari pola berpikir yang melelahkan. Semakin sering dilakukan, semakin mudah pikiran kembali tenang.

2. Jadwalkan Waktu Khusus untuk Khawatir

Saran ini mungkin terdengar aneh. Bukankah kita justru ingin berhenti khawatir?

Namun, psikologi kognitif menemukan bahwa mencoba memaksa diri agar tidak memikirkan sesuatu justru sering membuat pikiran itu muncul lebih kuat.

Karena itu, beberapa terapis menggunakan teknik yang disebut "worry time" atau waktu khusus untuk khawatir.

Caranya sederhana:

Pilih waktu sekitar 15–20 menit setiap hari, misalnya pukul 19.00 malam.

Selama waktu tersebut, izinkan diri Anda memikirkan semua kekhawatiran yang muncul.

Di luar waktu itu, ketika pikiran negatif datang, katakan pada diri sendiri:

"Saya akan memikirkannya nanti saat waktu khawatir."

Teknik ini membantu otak memahami bahwa tidak semua kekhawatiran harus diproses saat itu juga.

Lama-kelamaan, intensitas overthinking biasanya berkurang karena pikiran belajar bahwa tidak setiap kecemasan membutuhkan perhatian langsung.

3. Latih Kesadaran Penuh pada Saat Ini

Overthinking hampir selalu berkaitan dengan masa lalu atau masa depan.

Kita menyesali apa yang sudah terjadi atau mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.

Sebaliknya, ketenangan muncul ketika perhatian kembali ke momen saat ini.

Inilah alasan mengapa latihan mindfulness menjadi salah satu teknik yang paling banyak direkomendasikan dalam psikologi modern.

Mindfulness bukan berarti mengosongkan pikiran, melainkan menyadari apa yang sedang terjadi tanpa langsung menghakimi.

Anda bisa memulainya dengan cara sederhana:

Tarik napas perlahan selama beberapa kali.
Rasakan udara yang masuk dan keluar.
Perhatikan suara di sekitar Anda.
Sadari posisi tubuh saat duduk atau berdiri.
Biarkan pikiran datang dan pergi tanpa harus diikuti.

Latihan singkat selama lima hingga sepuluh menit setiap hari dapat membantu mengurangi aktivitas pikiran yang berlebihan sekaligus meningkatkan kemampuan mengelola stres.

Mengapa Kebiasaan Kecil Lebih Efektif?

Banyak orang berharap perubahan besar terjadi dalam semalam. Padahal, otak manusia belajar melalui pengulangan.

Setiap kali Anda memilih bertindak daripada terus berpikir, setiap kali Anda kembali fokus pada napas, dan setiap kali Anda membedakan mana yang bisa dikendalikan dan mana yang tidak, Anda sedang membangun jalur kebiasaan baru di otak.

Seiring waktu, respons terhadap tekanan juga berubah. Hal-hal yang dulu memicu kepanikan perlahan terasa lebih mudah dihadapi.

Inilah alasan mengapa psikologi lebih menekankan konsistensi dibandingkan kesempurnaan.

Tanda-Tanda Overthinking Mulai Berkurang

Ketika kebiasaan-kebiasaan di atas mulai menjadi bagian dari rutinitas, Anda mungkin akan merasakan beberapa perubahan positif, seperti:

Lebih mudah mengambil keputusan.
Tidur menjadi lebih nyenyak.
Tidak lagi mengulang percakapan yang sama di kepala.
Lebih mampu menikmati aktivitas sehari-hari.
Tingkat kecemasan berkurang.
Emosi terasa lebih stabil saat menghadapi masalah.

Perubahan ini mungkin tidak muncul dalam satu atau dua hari, tetapi akan terasa jika dilakukan secara konsisten.

Penutup

Overthinking sering membuat seseorang merasa lelah, padahal sebagian besar energi habis bukan karena masalahnya, melainkan karena pikiran yang terus berputar tanpa henti.

Psikologi mengajarkan bahwa ketenangan bukan berasal dari hilangnya semua masalah, tetapi dari kemampuan kita merespons masalah dengan lebih sehat.

Mulailah dengan tiga kebiasaan sederhana: fokus pada hal yang bisa dikendalikan, jadwalkan waktu khusus untuk khawatir, dan latih mindfulness setiap hari. Langkah-langkah kecil ini mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten, dampaknya dapat membantu Anda membangun pikiran yang lebih jernih, emosi yang lebih stabil, dan hidup yang terasa jauh lebih tenang.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang memikirkan semua kemungkinan yang belum terjadi, melainkan menjalani setiap hari dengan kesadaran, keberanian, dan ketenangan.
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore