Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Juli 2026 | 04.05 WIB

Seni Menyederhanakan: 4 Stres yang Tidak Perlu Dihilangkan dari Hidup Anda Menurut Psikolog

seseorang yang tetap bahagia meski stres. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Di era yang serba cepat, stres sering dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Tuntutan pekerjaan, tekanan sosial, perkembangan teknologi, hingga ekspektasi pribadi membuat banyak orang merasa harus selalu sibuk, produktif, dan sempurna. Tidak mengherankan jika banyak orang mencari berbagai cara untuk mengurangi stres, mulai dari meditasi, olahraga, hingga liburan.


Namun, psikologi modern menunjukkan bahwa tidak semua stres berasal dari keadaan yang benar-benar sulit. Sebagian besar tekanan justru muncul dari cara kita berpikir, kebiasaan yang tidak sehat, dan ekspektasi yang kita ciptakan sendiri. Dengan kata lain, ada stres yang sebenarnya tidak perlu kita pelihara.

Konsep simplifying life atau seni menyederhanakan hidup bukan berarti menghindari tanggung jawab. Sebaliknya, ini adalah kemampuan untuk membedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya menguras energi tanpa memberikan manfaat berarti.

Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (7/7), terdapat empat jenis stres yang sebenarnya tidak perlu dipertahankan dalam hidup menurut berbagai temuan psikologi.

1. Stres Karena Ingin Menyenangkan Semua Orang

Salah satu sumber stres terbesar adalah kebutuhan untuk selalu mendapatkan persetujuan dari orang lain. Banyak orang merasa harus mengatakan "ya" pada setiap permintaan, takut mengecewakan teman, keluarga, atau rekan kerja.

Dalam psikologi, kecenderungan ini sering disebut sebagai people pleasing. Orang dengan kecenderungan tersebut biasanya menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan dirinya sendiri.

Awalnya, perilaku ini mungkin tampak sebagai bentuk kebaikan. Namun dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut justru meningkatkan kecemasan, kelelahan emosional, bahkan risiko burnout.

Mengapa hal ini terjadi?

Karena seseorang terus hidup berdasarkan ekspektasi orang lain, bukan berdasarkan nilai yang diyakininya sendiri. Setiap keputusan menjadi beban karena selalu muncul pertanyaan:

Apakah mereka akan kecewa?
Apakah mereka masih menyukai saya?
Apakah saya terlihat egois?

Psikolog menyarankan untuk mulai membangun batasan (boundaries) yang sehat. Mengatakan "tidak" bukan berarti menjadi orang yang buruk. Sebaliknya, itu merupakan bentuk penghargaan terhadap waktu, energi, dan kesehatan mental diri sendiri.

Semakin seseorang mampu menetapkan batas yang jelas, semakin kecil kemungkinan ia mengalami stres kronis akibat tekanan sosial.

2. Stres Karena Perfeksionisme

Perfeksionisme sering disalahartikan sebagai sifat positif. Padahal penelitian psikologi menunjukkan bahwa perfeksionisme yang berlebihan berkaitan erat dengan kecemasan, depresi, dan rasa tidak puas terhadap diri sendiri.

Perfeksionis bukan hanya ingin hasil yang baik.

Mereka merasa hasil yang "cukup baik" tetap dianggap gagal.

Akibatnya:

pekerjaan sulit diselesaikan,
keputusan terus ditunda,
kesalahan kecil terasa seperti bencana besar.

Fenomena ini dikenal sebagai analysis paralysis, yaitu kondisi ketika seseorang terlalu lama menganalisis hingga akhirnya tidak bergerak sama sekali.

Ironisnya, standar yang terlalu tinggi justru menghambat produktivitas.

Psikolog menyarankan untuk mengganti pola pikir "harus sempurna" menjadi "cukup baik untuk saat ini."

Prinsip ini bukan berarti menurunkan kualitas, tetapi memahami bahwa kemajuan lebih penting daripada kesempurnaan.

Dalam banyak situasi, pekerjaan yang selesai dengan kualitas baik jauh lebih bernilai dibanding pekerjaan sempurna yang tidak pernah selesai.

3. Stres Karena Terus Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Media sosial memperbesar kecenderungan manusia untuk melakukan perbandingan sosial.

Setiap hari kita melihat orang lain:

mendapat promosi,
membeli rumah,
menikah,
berlibur,
memiliki tubuh ideal,
membangun bisnis sukses.

Tanpa disadari, otak mulai membuat kesimpulan:

"Saya tertinggal."

Padahal yang kita lihat hanyalah potongan terbaik dari kehidupan seseorang.

Dalam psikologi, kondisi ini disebut sebagai social comparison. Perbandingan sosial memang merupakan mekanisme alami manusia, tetapi jika dilakukan secara terus-menerus dapat menurunkan kepuasan hidup dan meningkatkan stres.

Masalahnya bukan karena orang lain sukses.

Masalahnya adalah ketika keberhasilan mereka dijadikan ukuran nilai diri kita sendiri.

Setiap orang memiliki:

latar belakang berbeda,
kesempatan berbeda,
tantangan berbeda,
waktu yang berbeda.

Maka membandingkan perjalanan hidup secara langsung hampir selalu menghasilkan kesimpulan yang tidak adil.

Daripada fokus pada kemajuan orang lain, psikolog menyarankan membandingkan diri dengan versi diri kita di masa lalu.

Pertanyaan yang lebih sehat adalah:

Apakah saya hari ini lebih berkembang dibanding enam bulan yang lalu?

Pendekatan ini membantu membangun motivasi yang berasal dari dalam diri, bukan dari kompetisi yang tidak pernah selesai.

4. Stres Karena Berusaha Mengendalikan Hal yang Tidak Bisa Dikendalikan

Banyak energi mental habis untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali kita.

Misalnya:

opini orang lain,
kondisi ekonomi,
cuaca,
keputusan perusahaan,
masa lalu,
tindakan orang lain.

Semakin seseorang berusaha mengontrol sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, semakin tinggi tingkat frustrasi yang dirasakan.

Psikologi maupun berbagai pendekatan terapi seperti Acceptance and Commitment Therapy (ACT) menekankan pentingnya menerima bahwa tidak semua hal dapat kita ubah.

Bukan berarti menyerah.

Melainkan memusatkan perhatian pada hal-hal yang memang bisa dipengaruhi, seperti:

sikap,
usaha,
kebiasaan,
cara merespons masalah,
keputusan pribadi.

Perubahan fokus ini terbukti membantu mengurangi kecemasan karena energi tidak lagi dihabiskan untuk memikirkan kemungkinan yang tidak bisa dikendalikan.

Mengapa Menyederhanakan Hidup Membuat Kita Lebih Bahagia?

Otak manusia memiliki kapasitas perhatian yang terbatas.

Setiap keputusan, kekhawatiran, dan konflik kecil menghabiskan sumber daya mental yang dikenal sebagai cognitive load.

Semakin banyak beban yang sebenarnya tidak penting, semakin sedikit energi yang tersisa untuk hal-hal yang benar-benar bermakna.

Menyederhanakan hidup bukan berarti hidup tanpa ambisi.

Sebaliknya, kita sedang memilih dengan sadar:

apa yang layak dipikirkan,
siapa yang layak diperjuangkan,
pekerjaan mana yang benar-benar penting,
dan masalah mana yang memang pantas mendapatkan perhatian.

Orang yang mampu melakukan penyederhanaan psikologis biasanya memiliki tingkat kesejahteraan mental yang lebih tinggi karena mereka tidak terus-menerus bereaksi terhadap setiap tekanan kecil dalam kehidupan.

Cara Mulai Menghilangkan Stres yang Tidak Perlu

Perubahan tidak harus dilakukan sekaligus. Mulailah dari langkah-langkah sederhana berikut:

Berlatih mengatakan "tidak" tanpa merasa bersalah.
Tetapkan standar yang realistis, bukan sempurna.
Batasi waktu menggunakan media sosial jika mulai memicu perbandingan diri.
Tuliskan hal-hal yang dapat Anda kendalikan dan lepaskan sisanya.
Sisihkan waktu setiap hari untuk beristirahat tanpa merasa harus selalu produktif.
Fokus pada kemajuan kecil yang konsisten daripada hasil instan.

Kebiasaan sederhana yang dilakukan berulang kali sering kali memberikan dampak yang jauh lebih besar dibanding perubahan drastis yang hanya bertahan beberapa hari.

Kesimpulan

Stres memang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya dari kehidupan. Sebagian stres bahkan diperlukan untuk membantu kita tumbuh, belajar, dan menghadapi tantangan. Namun, banyak tekanan emosional sebenarnya berasal dari kebiasaan berpikir yang dapat diubah.

Keinginan untuk menyenangkan semua orang, perfeksionisme, kebiasaan membandingkan diri, serta dorongan mengendalikan hal-hal di luar kendali adalah empat sumber stres yang sering kali tidak perlu dipelihara.

Seni menyederhanakan hidup bukan tentang memiliki lebih sedikit, melainkan tentang memberi ruang yang lebih besar bagi hal-hal yang benar-benar penting. Ketika kita mulai melepaskan beban mental yang tidak perlu, kita memperoleh lebih banyak energi, ketenangan, dan kejernihan untuk menjalani hidup dengan lebih bermakna.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore