seseorang yang berolahraga di pagi hari. (Magnific)
JawaPos.com - Di tengah kesibukan, tekanan pekerjaan, tuntutan keluarga, dan derasnya arus informasi dari media sosial, banyak orang menganggap kebahagiaan sebagai sesuatu yang sulit diraih. Tak sedikit yang percaya bahwa kebahagiaan hanya datang ketika memiliki penghasilan besar, jabatan tinggi, rumah mewah, atau kehidupan yang terlihat sempurna.
Namun, psikologi modern menunjukkan fakta yang berbeda. Kebahagiaan ternyata lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari dibandingkan oleh pencapaian besar dalam hidup. Penelitian mengenai kesejahteraan psikologis selama beberapa dekade menemukan bahwa orang-orang yang merasa paling bahagia memiliki pola perilaku yang relatif konsisten. Mereka tidak selalu bebas dari masalah, tetapi mereka mampu membangun cara berpikir dan kebiasaan yang membuat kesehatan mental tetap terjaga.
Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (7/7), terdapat enam hal yang sering dilakukan oleh orang-orang paling bahagia setiap hari menurut psikologi.
1. Mempraktikkan Rasa Syukur
Rasa syukur merupakan salah satu faktor yang paling sering dikaitkan dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi. Dalam psikologi positif, bersyukur bukan berarti mengabaikan kesulitan hidup, melainkan melatih diri untuk tetap melihat hal-hal baik yang masih dimiliki.
Orang yang bahagia biasanya meluangkan waktu beberapa menit setiap hari untuk mengingat berbagai hal yang patut disyukuri. Hal itu bisa berupa kesehatan, keluarga, teman, pekerjaan, makanan yang tersedia, hingga momen kecil seperti menikmati secangkir kopi di pagi hari.
Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan menulis jurnal syukur secara rutin dapat meningkatkan emosi positif, memperbaiki kualitas tidur, serta mengurangi tingkat stres dan kecemasan.
Dengan bersyukur, seseorang mengalihkan fokus dari apa yang kurang menjadi apa yang sudah dimiliki. Pergeseran perspektif sederhana ini memberikan dampak besar terhadap kesejahteraan mental.
2. Menjaga Hubungan yang Berkualitas
Psikologi telah lama menemukan bahwa kualitas hubungan sosial merupakan salah satu prediktor terbesar kebahagiaan.
Orang-orang yang bahagia tidak selalu memiliki banyak teman, tetapi mereka menjaga hubungan yang bermakna dengan keluarga, pasangan, sahabat, atau rekan kerja.
Mereka meluangkan waktu untuk mengobrol tanpa gangguan, mendengarkan dengan penuh perhatian, memberikan dukungan ketika orang lain membutuhkan, dan tidak ragu mengungkapkan rasa terima kasih maupun kasih sayang.
Hubungan sosial yang sehat membantu seseorang merasa diterima, dihargai, dan memiliki tempat untuk berbagi ketika menghadapi kesulitan hidup.
Sebaliknya, kesepian yang berkepanjangan diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, bahkan berbagai penyakit fisik.
3. Bergerak dan Merawat Tubuh
Kebahagiaan tidak hanya dipengaruhi oleh pikiran, tetapi juga kondisi tubuh.
Aktivitas fisik mampu meningkatkan produksi endorfin, serotonin, dan dopamin, yaitu zat kimia otak yang berperan dalam menciptakan suasana hati yang lebih baik.
Menariknya, orang yang bahagia tidak harus berolahraga secara ekstrem. Banyak di antara mereka hanya melakukan aktivitas sederhana seperti berjalan kaki selama 20–30 menit, bersepeda santai, melakukan peregangan, yoga, atau aktivitas fisik ringan lainnya.
Selain berolahraga, mereka juga berusaha menjaga kualitas tidur, mengonsumsi makanan bergizi, dan memberikan waktu bagi tubuh untuk beristirahat.
Tubuh yang sehat menjadi fondasi penting bagi pikiran yang lebih tenang dan optimis.
4. Hidup dengan Penuh Kesadaran (Mindfulness)
Salah satu kebiasaan yang banyak dipraktikkan oleh orang-orang bahagia adalah hidup di saat ini.
Mereka tidak menghabiskan terlalu banyak energi untuk menyesali masa lalu ataupun mengkhawatirkan masa depan secara berlebihan.
Dalam psikologi, kemampuan ini dikenal sebagai mindfulness, yaitu kesadaran penuh terhadap pengalaman saat ini tanpa menghakimi.
Mindfulness dapat dilakukan melalui meditasi, latihan pernapasan, atau sekadar menikmati aktivitas sehari-hari dengan penuh perhatian.
Saat makan, mereka benar-benar menikmati makanan. Saat berbicara dengan seseorang, mereka hadir sepenuhnya dalam percakapan. Saat bekerja, mereka fokus pada tugas yang sedang dikerjakan.
Kebiasaan ini membantu mengurangi stres, meningkatkan konsentrasi, serta membuat seseorang lebih mudah menikmati momen-momen kecil dalam kehidupan.
5. Memiliki Tujuan yang Jelas
Psikologi membedakan antara kesenangan sesaat dan kebahagiaan yang lebih mendalam.
Orang yang benar-benar bahagia biasanya memiliki tujuan hidup yang memberikan makna terhadap aktivitas sehari-hari.
Tujuan tersebut tidak harus besar atau spektakuler. Bagi sebagian orang, tujuannya adalah membesarkan anak dengan baik. Bagi yang lain, mungkin membantu orang lain, membangun usaha, mengembangkan kemampuan, atau terus belajar sepanjang hayat.
Ketika seseorang memahami alasan di balik apa yang ia lakukan, ia cenderung lebih tahan menghadapi tekanan dan lebih mudah bangkit setelah mengalami kegagalan.
Makna hidup memberikan rasa arah yang membuat kehidupan terasa lebih bernilai.
6. Bersikap Baik kepada Orang Lain
Psikologi menemukan bahwa memberi sering kali sama membahagiakannya dengan menerima.
Orang-orang yang bahagia terbiasa melakukan tindakan kebaikan sederhana setiap hari, seperti membantu rekan kerja, memberikan pujian yang tulus, menyapa tetangga, menyumbang, atau sekadar mendengarkan seseorang yang sedang membutuhkan teman bicara.
Perilaku prososial seperti ini dapat meningkatkan rasa keterhubungan dengan orang lain sekaligus memicu munculnya emosi positif.
Selain membuat orang lain merasa lebih baik, tindakan kecil tersebut juga memberikan kepuasan batin bagi pelakunya.
Kebaikan yang dilakukan secara konsisten menciptakan lingkaran positif yang memperkuat kebahagiaan dalam jangka panjang.
Kebahagiaan Adalah Hasil Kebiasaan
Banyak orang menunggu kebahagiaan datang setelah mencapai target tertentu. Padahal, psikologi menunjukkan bahwa kebahagiaan justru sering muncul dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Mempraktikkan rasa syukur, menjaga hubungan sosial, merawat tubuh, hidup dengan penuh kesadaran, memiliki tujuan hidup, dan berbuat baik kepada orang lain merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar terhadap kualitas hidup.
Yang terpenting, kebahagiaan bukan berarti hidup tanpa masalah. Orang-orang paling bahagia tetap menghadapi tantangan, kegagalan, dan kesedihan seperti orang lain. Perbedaannya terletak pada bagaimana mereka merespons pengalaman tersebut melalui kebiasaan yang membantu menjaga keseimbangan emosi dan kesehatan mental.
Pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah tujuan akhir yang dicapai dalam semalam, melainkan hasil dari pilihan-pilihan kecil yang dilakukan setiap hari. Semakin konsisten seseorang membangun kebiasaan positif, semakin besar pula peluang untuk menjalani hidup yang lebih bermakna, sehat, dan penuh rasa syukur.
***