Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Juli 2026 | 23.00 WIB

Tak Perlu Menjadi Ibu yang Sempurna, Farah Qoonita Jelaskan Sosok Ibu yang Dibutuhkan Anak

Ilustrasi gambar dari pinterest @cassie mackell

 

 
JawaPos.com - Menjadi seorang ibu sering kali dipenuhi kebahagiaan sekaligus tantangan yang tak terlihat.
 
Di balik senyum saat mengasuh anak, banyak ibu bergulat dengan rasa lelah, kesepian, hingga tekanan untuk terlihat sempurna di mata orang lain.
 
Dalam episode #MomsCorner, Nikita Willy dan Farah Qoonita mengupas realita tersebut, sekaligus mengingatkan bahwa menjadi ibu bukan tentang memenuhi ekspektasi dunia, melainkan menjalankan tugas dengan penuh cinta dan keikhlasan.
 
Farah Qoonita menjelaskan bahwa dalam Islam, ibu merupakan madrasah pertama bagi anak.
 
Peran seorang ibu bukan sekadar mengurus kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi fondasi terbentuknya karakter, akhlak, dan keimanan anak.
 
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang ibu tidak ditentukan oleh kesempurnaan, melainkan oleh kasih sayang, rasa aman, dan nilai-nilai kebaikan yang ia tanamkan sejak dini.
 
Salah satu tantangan terbesar yang dibahas adalah fenomena mom guilt, yaitu rasa bersalah yang kerap menghantui ibu, baik yang memilih menjadi ibu rumah tangga maupun yang tetap berkarier.
 
Farah menegaskan bahwa setiap pilihan memiliki kemuliaannya masing-masing selama diniatkan sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Bahkan, bagi ibu yang bekerja sesuai syariat, penghasilan yang digunakan untuk keluarga dapat bernilai sedekah.
 
Tak hanya itu, banyak ibu juga mengalami kegelisahan dan merasa kehilangan ketenangan di tengah padatnya rutinitas.
 
Menurut Farah, ketenangan sejati bukan sesuatu yang bisa diciptakan sendiri, melainkan anugerah dari Allah.
 
Menjaga hubungan dengan-Nya melalui salat yang khusyuk dan ibadah yang tulus menjadi sumber kekuatan agar hati tetap tenang menghadapi berbagai ujian.
 
Perbincangan juga menyoroti pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental para ibu.
 
Melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna sering kali memicu kebiasaan membandingkan diri, sehingga muncul perasaan tidak cukup baik.
 
Farah mengingatkan agar media sosial dijadikan sebagai sarana belajar dan mencari inspirasi, bukan tempat mengukur nilai diri atau pelarian dari rasa lelah.
 
Di tengah derasnya arus informasi, ibu juga diajak untuk lebih bijak menentukan standar kebahagiaan.
 
Tidak semua yang terlihat indah di media sosial mencerminkan kenyataan. Fokus pada perjalanan keluarga sendiri jauh lebih penting daripada mengejar validasi dari dunia maya.
 
Menutup diskusi, Farah menyampaikan pesan yang menyentuh hati bahwa setiap pengorbanan seorang ibu memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah.
 
Rasa lelah, air mata, dan waktu yang dicurahkan untuk mendidik anak bukanlah sesuatu yang sia-sia, melainkan bagian dari amal yang bernilai pahala, bahkan diibaratkan sebagai perjuangan di jalan Allah.
 
Melalui obrolan hangat ini, Nikita Willy dan Farah Qoonita mengingatkan bahwa tidak ada ibu yang sempurna.
 
Yang dibutuhkan anak bukanlah sosok tanpa cela, melainkan seorang ibu yang hadir dengan cinta, terus belajar menjadi lebih baik, dan selalu menggantungkan kekuatannya kepada Allah dalam setiap langkah pengasuhan.
 
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore